Senin, 09 November 2015

“Aku Ingin Seperti Mereka, Bu ….”


anak perempuan kecil
Oleh: Rizqiyati
PAGI yang cerah, seperti biasa kulangkahkan kaki memasuki kelas taman kanak-kanak tempatku mengajar.
Hey, lihatlah itu. Senyum malaikat menyapaku di antara deretan bangku mungil warna-warni. Ah, ini yang selalu kunikmati tiap hari dari pemilik wajah-wajah polos nan suci ini.
“Hey, siapa yach yang bisa bantu ibu untuk bercerita di depan kelas.?” Aku mulai memancing mereka untuk memasuki pelajaran hari ini.
“Celita apa, Bu gulu…?”
“Cerita tentang ibu kalian dong, gimana? kayaknya seru nih ….”
“Aku, aku bisa, Bu ….”
Suara- suara itu terdengar riuh berbalut rona bahagia. Satu-satu mulai bercerita tentang ibu mereka dengan ciri khas anak-anak. Aku hanya bisa mengulum senyum melihat ekspresi mereka ketika bercerita. Ah, anak-anak ini selalu saja memberiku lipat bahagia.
Di antara senyum-senyum surgawi itu, tiba-tiba ekor mataku menangkap sesosok mungil tengah tertunduk di pojok bangku paling belakang, kuhampiri ia seraya mengelus kepalanya penuh kasih.
“Nuri, kenapa sayang …? kok mukanya ditekuk gitu, entar cantiknya hilang lho. Ayo, sekarang giliran kamu yang cerita.”
Wajah ayu itu hanya menggeleng pelan menunduk.
“Kok gitu? jadi Nuri gak mau cerita sama ibu nih …, ibu ngambek ah.”
Kemudian wajah itu mulai terdongak, namun dengan lelehan air mata yang sudah membentuk garis berliuk di kedua pipi tembemnya.
“Nuli gak bica celita, Bu. Nuli kan gak punya ibu kayak meleka.”
Suara itu sesenggukan, terdengar patah-patah. Seketika kutaruh tubuh mungil itu di pangkuanku, membiarkannya merasakan dekap kasihku, meski mungkin tak sehangat pelukan kasih ibunya.
Tiba-tiba suara itu mengeluarkan deretan kata-kata kerinduan untuk sosok yang selama ini tak pernah dikenalnya.
“Nuli juga mau cepelti meleka, dicuapi kalau makan, dimandiin kalau mau belangkat cekolah, diajak colat ke mejjid pakai mukenah bagus, diantal cekolah tiap hali, tapi Nuli gak bica, Bu ….”
Aliran bening itu tak dapat lagi kutahan. Hanya belaian kasih sebagai jawab atas semua keinginan Nuri.
Ya, Allah …, kasihan sekali anak ini. Di usianya yang masih hijau bahkan ia tak pernah merasakan pelukan ibunya.
“Nury, sayang …, kamu gak boleh gitu. Kan ada ibu yang bisa tiap hari nemenin Nury, kalau Nury mau, ibu juga bisa ngajak Nury sholat dengan mukenah bagus. Ngajarin Nury, ngajak Nury main, gimana? Nury mau.?”
“Benelan, Bu gulu …? yeee, asyik. Kalau gitu Nuli cekalang bica celita tentang ibu, makacih, Bu gulu.”
Senyum malaikat itu akhirnya kembali terlukis di bibir mungilnya, diiringi kecupan hangat di pipi. Kuusap lelehan bening itu dengan kasih sayang.
Semoga aku bisa benar-benar menghapus segala kesedihan Nury, hari ini dan seterusnya. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The World Its Mine