Selasa, 05 Agustus 2014

Mandi dan Kecerdasan Anak

BEBERAPA waktu lalu, saya melihat adik saya  memandikan anak pertamanya. Usia anaknya 1 tahun lebih.  Bayinya tertawa menikmati dinginnya air. Namun ibunya teramat fokus menggosok badan anaknya dengan sabun. Lalu membilasnya dengan air tanpa berkata-kata sedikitpun.

Setelah keduanya keluar kamar mandi saya pun bertanya, “Dek, apa yang baru saja kamu lakukan?”
Ia pun menjawab, “Oh tadi itu, habis mandiin Azam.” Azzam itu nama anaknya.

“Dikira sedang mencuci baju,” tukas saya.

Ia pun berlalu menuju kamarnya.

Ba’da maghrib setelah anaknya tidur, saya bicara dengan adik. Saya sampaikan bahwa kegiatan mandi bisa membuat anaknya cerdas. Memang tidak sedikit para ibu yang belum memahami hal ini. Kebanyakan mereka merasa ingin cepat-cepat menyelesaikan satu kegiatan bersama anak karena pekerjaan rumah tangga lain menunggu

Usia 0-2 tahun disebut sebagai jendela kesempatan oleh neuroscientist. Karena pada usia inilah terjadi proses tahap awal penyambungan antar sel otak. Jika pada usia ini ada sel yang tidak tersambung, maka sel tersebut akan hilang melalui program penghapusan.Itulah mengapa kehidupan seorang anak setelah dewasa tergantung pada masa golden age-nya.

Dalam setiap kegiatan rutin yang dilakukan ibu dan bayinya terdapat banyak kesempatan untuk membangun sambungan sel-sel otak. Orangtua perlu memverbalkan apa kegiatan yang dilakukan dengan bayi. Bayi mendapat pengetahuan melalui semua inderanya. Maka dengan membahasakan semua yang dilakukan, bayi akan menerima pengetahuan melalui semua inderanya dengan lengkap.

Saat mandi misalnya, diawali dengan membantu bayi membuka baju. Ibu atau ayah yang membantu bayi harus bicara. “Anakku sayang, kegiatan mu sekarang adalah mandi. boleh ya ibu/ayah bantu buka bajunya. Bismillahirrahmanirrahiim. “ Ibu/ayah membuka baju anak perlahan-lahan tanpa berhenti bicara.

Kita katakan pertama yang dibuka kancingnya, lalu tangan kanannya dan seterusnya. Setelah bajunya di buka, ibu terus bicara bahwa sekarang sedang bergerak menuju kamar mandi, bisa ditambah dengan menghitung langkah kaki ibu dari kamar tidur menuju kamar mandi. Setelah siap di depan pintu kamar mandi, orangtua tetap tak berhenti bicara, sampaikan bagaimana Islam mengajarkan adab masuk kamar mandi disertai do’a  sebelum masuk kamar mandi.

Setelah anak masuk bak mandi, tetap orangtua harus bicara. Satu-persatu anggota tubuhnya disebutkan. Tak lupa fungsi-fungsi setiap bagian tubuhnya. Sampaikan benda-benda yang ada di kamar mandi. Dingin atau hangatnya air yang dipakai. Benda-benda yang sedang digunakannya. Usapan disertai pijitan lembut dan  hangat di tubuhnya akan membuat sambungan semua sel otaknya.

Hingga selesai bilasan terakhir orang tua tetap tidak boleh berhenti bicara. Kemudian ulang seperti diawal kita sampaikan adab keluar kamar mandi. Lalu terus bicara bergerak kemana setelah keluar dari sana.

Satu kegiatan rutin mandi saja akan membuat sambungan yang banyak pada sel-sel otaknya. Rangsangan dari semua inderanya membuat anak kita menjadi anak yang cerdas. Bisa kita bayangkan berapa sambungan yang akan terlewatkan ketika orangtua tidak mendampingi anaknya.

Kita tidak bisa memilih dilahirkan dari orangtua yang cerdas atau biasa saja. Tapi kita bisa memilih untuk menjadi orangtua yang cerdas bukan?

Tak Cukup Hanya Minta Maaf dan Selesai

DALAM sebuah kegiatan seminar, ada seorang ibu yang menceritakan bahwa anaknya di-bully di sekolah. “Bu, anak saya memakai kursi roda, sekolahnya di  SD negeri, setiap pulang di tubuhnya terdapat luka lebam. Suatu hari ada orangtua murid yang melihat kejadian ketika seorang anak dengan keras secara sengaja mendorong kursi roda, anak saya terjatuh ke lantai,” tuturnya. “Apa yang harus saya lakukan dengan hal ini?”

Suatu hari, keponakan saya mengalami hal yang sama di sekolahnya. “bVsok saya mau datang ke sekolah Pia, ingin marah rasanya. Pia kepalanya dipukul oleh 2 anak ketika pelajaran PAI,” tutur bundanya.

Kemudian saya bertanya kepada Pia, “Teteh apa yang terjadi tadi di sekolah?”
Ia pun menjawab, “Aku kan suka di suruh-suruh, tadi aku gak mau, eh tangan teman-teman dorong kepala aku.”

“Lalu Teteh bagaimana?” saya kembali bertanya.

“Ya, nangis lah,” jawabnya.

Saya pun berkata “Kalau ada teman yang berbuat tidak baik, Teteh bicara katakan ‘Aku tidak suka kamu berbuat seperti itu’.”

Keesokan harinya bunda Pia mendatangi sekolah untuk berbicara dengan guru. Setelah diskusi agak lama, guru tersebut menyampaikan bahwa salah satu siswa pelaku bully terhadap Pia sedang diterapi oleh psikolog. Sang gurun menyampaikan bahwa anak pendiam yang sering jadi korban, oleh sebab itu anak kita harus diberi pemahaman agar bisa membela diri atau mempertahankan diri. Seolah-olah guru menyetujui anak untuk melawan anak lain. Jika ada yang memukul maka pukul saja lagi. Begitu seterusnya.

Kalau guru mempelajari bagaimana Rasulullah bersikap terhadap orang yang menyakiti tentu saran seperti ini tidak akan pernah disampaikan kepada orangtua.

Jika seorang anak membully temannya di sekolah, maka yang patut dipertanyakan pertama kali adalah gurunya. Di mana guru pada saat kejadian berlangsung? Apa yang guru lakukan sehingga anak melakukan hal itu? Bagaimana guru mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya?. Menjadi guru anak usia dini mau tidak mau  pendampingan penuh harus dilakukan. Memang bukan hal yang mudah, guru yang memiliki 2 mata harus mengawasi 30, 40 bahkan 50 siswa dalam satu kelas.

Mengapa guru yang salah? Karena di dalam Islam tidak ada kesalahan bagi anak usia dini. Apa pun yang dilakukan anak di atas bukan kesalahannya melainkan kesalahan orangtua atau gurunya dalam mendidik. Apa yang terjadi pada anak tersebut merupakan sebuah keterlambatan perkembangan.

Anak kelas 1 SD, seharusnya bisa berbicara ketika menginginkan sesuatu. Memukul  teman karena keinginan tidak terpenuhi adalah perbuatan anak toddler atau anak di bawah tiga tahun. Mereka belum mampu menyampaikan pesannya dengan bahasa verbal. Artinya ada kesenjangan antara tahap perkembangan usia biologis dengan usia kronologisnya.

Guru seharusnya mampu mendeteksi dan memahami tahapan perkembangan anak ini. Sehingga bisa mengevaluasi diri apa program yang harus diberikan bagi anak dengan kebolongan seperti ini.  Kemudian menyampaikan hal ini kepada orangtua. Agar kedua belah pihak bekerja sama membantu anak menaikan tahap perkembangan usia biologis sama dengan usia kronologisnya. Bukan sekadar menyuruh anak meminta maaf, lalu menganggap masalah selesai.

Anak Kita Bukan Robot

“AYO sana masuk, tuh temen–temen udah masuk,” ucap seorang  mama pada anaknya.

“Gak mau ah, mau sama mama,”  jawab anaknya.

“Simpen sepatunya, ayo mama anter ke dalam,” tukas mama, seraya menarik tangan mungil anaknya masuk ke dalam ruang kelas.

“Simpen tasnya, kok malah digendong terus,” perintah mama kemudian ketika sang anak tidak member reaksi yang diharapkannya.

Anaknya menyimpan tas di kursi.

“Duduk sana,” seru mama.

Setelah anak duduk  mama berkata, “Mama pulang, nanti dijemput,”  seraya berlalu menuju pintu.

Kata seru atau kata perintah memang selalu terlontar di setiap tempat. Sekolah, rumah, supermarket, restauran atau tempat-tempat lain. Ambil, simpan, buang, angkat, dan banyak lagi kata perintah lain keluar dari mulut orang dewasa.

Seorang guru TK berkata kepada muridnya yang melempar plastik pembungkus makanan, “Buang sampahnya di sana”, sambil menunjuk ke arah tempat sampah.

Saat bel berbunyi ibu guru berteriak” beri salam”. Lalu semua murid mengucap salam dengan berteriak pula.
“Ambil bukunya di loker, sekarang kita akan mewarnai,” tukasnya kemudian.

Saat tiba waktu snack, ibu guru kembali berkata “Cuci tangannya di toilet, baca do’a masuk WC.” Perintah demi perintah diucapkan oleh guru hingga bel tanda sekolah berakhir dibunyikan.

Ketika yang keluar adalah perintah atau suruhan, artinya orang dewasa di sekitar anak seolah-olah Bos. Dalam benak bos tersimpan rumus, yang memerintah adalah atasan, yang diperintah adalah bawahan.

Wahai para orangtua juga guru, ingatlah bahwa anak kita bukanlah bawahan kita di rumah. Murid kita bukanlah bawahan kita di sekolah. Ketika kita menyuruh anak, artinya kita meminjam tangan anak untuk melakukan apa yang kita inginkan.

Orang tua dan guru yang bijak akan senantiasa menghindari perintah ketika berkomunikasi dengan anak-anak. Idealnya, ketika kita berharap anak menyimpan sepatu di rak sepatu, maka orang dewasa menjadi modelnya, lalu berkata, “Mama menyimpan sepatu di rak sepatu, papa juga menyimpan sepatu di rak sepatu, bagaimana denganmu? Sepatunya mau disimpan dimana?”, anak akan melihat lalu berpikir kemudian bergerak menyimpan sepatu nya di rak sepatu.

Begitupun di sekolah ketika guru mengharap anak menyimpan sampah pada tempatnya, maka guru menjadi modelnya terlebih dahulu. Guru menyimpan sampah pada tempatnya, lalu berbicara, “Ibu menyimpan sampah di tempat sampah. Semua ada tempatnya. Kamu mau menyimpan sampah di tempat yang mana? Tempat sampah yang di dalam atau tempat sampah yang di halaman?”, anak melihat lalu berpikir kemudian bergerak menyimpan sampah di tempat yang dipilihnya.

Pendidikan yang bermutu, memberikan stimulus kepada anak untuk berpikir sebelum berbicara, berpikir sebelum bertindak.

Anak yang terbiasa disuruh sejak kecil akan kehilangan inisiatif saat dia dewasa, mungkin akan selalu menjadi follower, bukan leader yang penuh ide. Layaknya sebuah robot akan bergerak jika diperintah dan tentu tidak bergerak jika tombol perintah tidak di pijit. Tanpa melihat sekeliling, tanpa berpikir, tanpa peduli dengan segala yang terjadi, jika tak ada perintah maka semua bisa diabaikan. Tentu anak kita bukan robot.

Beri Kesempatan Anak memilih

HARI itu saya bersyukur bisa dipertemukan dengan seorang ibu. Pengalaman beliau mendidik anak membuat saya semakin mantap bahwa betapa pentingnya belajar menjadi orangtua. Beliau mulai menceritakan bagaimana mendidik anaknya ketika kecil dulu.

“Bangun, Nak. Saatnya mandi.Ibu sudah siapkan baju gantinya”, ujar sang ibu. Anak pertamanya ini bangun lalu menuju ke kamar mandi. Setelah mandi, lantas anak ini berganti baju.

“Ayo makan, Ibu sudah siapkan nasi goreng,” seru ibu seraya mengambilkan piring untuk anaknya. Hal demikian terus dilakukan ibu sejak anak pertamanya kecil hingga dewasa. Tak ada pilihan yang ditawarkan pada anaknya. Keputusan sudah dibuat ibu dan bapak.

“Dari mulai bangun tidur sampai anak ibu yang pertama ini tidur lagi, semua kegiatannya sudah ibu urus sedemikian rupa. Memang sejak kecil anak pertama ibu ini adalah anak yang baik. Penurut sekali kepada orangtua,” dengan suara lirih ia melanjutkan cerita.“Semua yang ibu dan bapak katakan selalu dia turuti.

Namun, ibu baru menyadari ternyata setelah ia dewasa ibu malah semakin khawatir padanya.”

“Apa yang membuat Ibu khawatir?” saya bertanya padanya.

“Setelah dewasa anak ibu ini tetap penurut.Terhadap istrinya penurut.Dikantornya juga penurut baik kepada atasan maupun teman, kayaknya dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Sekarang ibu dan bapak menyesal ternyata ada yang salah dengan anak saya dan itu adalah kesalahan kami orangtua mendidik,” suaranya bergetar menahan kesedihan, penyesalan kepada anak pertamanya.

Begitulah. Orangtua dengan dalih begitu menyayangi anaknya, hingga segala sesuatunya orangtua yang pilihkan. Tanpa memberikan kesempatan kepada anak untuk bisa belajar menentukan pilihannya sendiri.

Sederhananya, memilih bajunya sendiri. Orangtua bisa menyiapkan beberapa baju, kemuadian keputusan baju mana yang akan dipakai diberikan kepada anak. Memilih makanan. Memang repot, orangtua mesti menyiapkan beberapa jenis makanan. Biarkan anak memilih makanan apa yang akan dimakan.

Memperlakukan anak sebagai human being itu penting. Jika sejak dini kita ajarkan pada anak mealui kegiatan hari-hari bahwa hidup adalah pilihan. Maka ketika dewasa ia akan belajar membuat keputusan mana pilihan yang akan diambilnya. Anak juga manusia. Bukan benda yang tidak tahu apa-apa. Sehingga semua keputusan ada ditangan orangtua. Anak bukan juga orang dewasa mini yang bisa bersikap sama sesuai keinginan orangtua.

Ketika orangtua memahami bahwa anak adalah manusia, maka orangtua akan memberikan informasi bahwa hidup kita ada aturannya. Anak boleh memilih segala sesuatu dalam hidupnya yang sesuai dengan aturan yang sudah disiapkan Allah Sang Maha Pencipta.

Anak akan memahami bahwa dengan aturan maka hidupnya akan aman dan nyaman. Aturan hidup bagi seorang muslim adala Al-Quran. Dari Abi Hurairah RA, Nabi SAW bersabda “Sesungguhnya kewajiban orangtua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni : pertama, memberi nama ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan Al-Quran dan ketiga mengawinkan ketika menginjak dewasa.”

Membiarkan anak untuk memilih sejak kecil adalah sebuah keharusan. Kita sebagai orang tua berada di garis belakang untuk terus melihat dan memberikan perspektif akan pilihan-pilihannya hingga ia sendiri yang akan menentukan sendiri; apakah pilihannya pas atau tidak untuk dirinya. Allahu alam,

Tak Perlu Malu Jika Tak Tahu

SUATU hari dalam kegiatan seminar, seorang ibu bertanya, “Ummi, anak saya bertanya tentang sesuatu, tapi saya tidak tau jawabannya, dia maksa saya harus jawab, ummi. Nah, saya harus bilang apa sama dia. Waktu itu untuk mengalihkan saya bilang, ih kenapa sih kamu nanya terus dari tadi, mama capek nih. Baru deh dia berhenti nanya, apa itu gak salah, Mi?”

saya tersenyum, lalu menjawab, “Bunda kasian anak bunda kalau jawaban kita seperti itu, sebaiknya kalau tidak tau, katakan saja sejujurnya, Bunda belum tau hal itu, nanti Bunda tanya dulu ke Bu guru atau ke Pak ustad.”

“Ummi, di badan Aa kan ada yang keras ini namanya apa?” tanya anak saya pertama.

“O, itu namanya tulang, Aa,” jawab saya seraya memegang tulang lengannya.

Kemudian ia bertanya lagi, “Kalau di dalam tulang ada apa, ummi?”

Saya terkejut sekali, tak ayal lagi otak berpikir apa jawabannya. Saya kuatir memberi jawaban yang salah, nanti membuat pemahaman ia pun salah. Akhirnya saya berkata, “Maaf Aa, Ummi harus cari dulu informasinya, jadi belum bisa jawab sekarang.”

“Cari dimana?” ia kembali bertanya.

“Ummi akan cari jawabannya di buku atau bisa juga cari di google”, jawab saya.

“Kapan?” ia terus memberondong saya dengan pertanyaan.

“Insya Allah, nanti malam setelah pekerjaan Ummi selesai, ya,” saya pun menjawab sambil menatapnya untuk meyakinkan. kemudian ia kembali bermain sepeda.

Sebagian orang beranggapan bahwa orang tua atau guru adalah orang yang serba tahu, sehingga seolah-olah menjadi sesuatu hal yang tabu atau hal yang memalukan saat anak maupun murid bertanya hal yang belum kita ketahui atau pernah tahu tapi lupa tidak diinformasikan keadaan yang sebenarnya. Malah untuk menutupi hal itu kadang menjawab semaunya.

Ada juga yang malah menyalahkan anak atau murid. Kenapa nanya yang aneh-aneh atau kenapa nanya yang gak sesuai tema, atau apalah dalih yang lainnya. Terkadang bisa juga memberikan jawaban yang asal. Alasannya, capai ditanya terus ah, asal anak diam dikasih jawaban ngarang juga beres. Padahal anak-anak akan berhenti bertanya kalau orang dewasa di sekitarnya mengatakan hal yang sebenarnya.

Dari ibnu Mas’ud Radiyallahuanhu, dari Nabi SAW, Beliau bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukan ke syurga dan sesungguhnya seseorang selalu berbuat jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur.dan sesungguhnya dusta itu menunjukan kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu menunjukan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang yang selalu berdusta maka dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang pendusta,” (Muttafaq’alaih).

Mengatakan hal yang sebenarnya tidak perlu malu, karena dengan demikian kita sebagai orang tua maupun guru sudah mengalirkan sikap jujur pada anak maupun murid kita. Mari, Abi-Ummi tak perlu malu mengatakan tidak tahu ketika anak-anak itu bertanya!

Bukan Uang yang Bicara

“MBAK Wid, kalau saya jadi orang kaya, mungkin anaknya gak akan dua,” seorang teman berkata demikian ketika saya berkunjung ke rumahnya.

“Lho, memangnya kenapa?”,saya bertanya keheranan.

“Iya lah, kalau saya kan ekonominya belum mapan, jadi kalau punya anak banyak repot. Kalau sudah mapan lebih baik banyak saja anaknya, gak usah dua,” imbuhnya.

Suatu hari, teman saya yang sangat kaya mengatakan bahwa anaknya ketika kelas 3 SD diberi hadiah ulang tahun mobil Mercy seharga Rp3 milyar oleh kakeknya.

Hingga beberapa waktu lalu, teman saya ini bercerita, “Mbak Wid, saya syok, selama ini saya sibuk ngurus perusahaan, ayahnya juga begitu, anak dijaga oleh baby sitter dan sopir. Kemarin saya baru tau kalau si kakak bolos sekolah sudah 2 bulan, padahal dia sekarang kelas 6 bentar lagi Ujian Nasional…”

“Lho kok bisa, anak bolos mbak gak dikabari oleh gurunya?” tanya saya.

“Nggak mbak, saya baru tau setelah saya nguntit anak saya seharian, ternyata dia bolos. Dia juga masuk ke klub malam, ngerokok, ah pokoknya saya syok. Udah gitu, pas nyampe rumah, saya tanya ke dia, berapa lama bolos, dia bilang udah 2 bulan. Ketika saya tanya, ‘Kenapa guru gak ngasih tau ke bunda bahwa kamu sering bolos?, ia menjawab, ‘Ya iya lah, orang aku kasih uang ama bingkisan,’ jawabnya gitu, Mbak,” tukasnya dengan suara parau menahan tangis.

Bagi sebagian orang di benaknya mungkin terlintas, oh alangkah bahagianya jadi orang yang kaya raya, anak-anak pasti bisa terurus dengan baik. Semua kebutuhan materi anak bisa terpenuhi, semua yang mereka inginkan bisa dibelikan. Mereka berpikir bahwa dengan uang bisa menyelesaikan semua masalah anaknya.

Memang betul bahwa manusia tidak akan lepas dari kebutuhan materi atau uang. Tetapi tidak semua masalah dapat selesai dengan uang, termasuk dalam mendidik anak. Bukan hanya uang yang berbicara jika kita ingin bahagia dalam mengurus anak-anak. Juga sebaliknya, bukan hanya uang yang berbicara untuk membuat anak-anak bahagia.

Mendidik anak tidak lah serta merta hanya dengan harta. Mendidik anak hendaklah dengan kekuatan cinta, bukan cinta pada kekuatan. Hal itu yang akan membuat anak maupun orangtua bahagia. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah dalam mendidik anak, seperti dijelaskan dalam hadis berikut: “Rasulullah saw shalat bersama sahabatnya, lalu beliau sujud. Ketika itu datanglah Hasan yang tertarik melihat Rasulullah saw sedang sujud, lalu naiklah Hasan ke punggung Rsulullah SAW yang mulia saat beliau sedang sujud. Rasul memanjangkan sujudnya agar tidak menyakiti Hasan. Usai shalat, ia meminta maaf kepada jamaah shalat dan mengatakan, “anakku tadi naik ke punggungku lalu aku khawatir bila aku bangun dan menyakitinya. Maka aku menunggu sampai ia turun.” (HR. An Nasai).

Rasulullah yang di-ma’sum dari kesalahan pun sangat khawatir akan menyakiti Hasan ra. Begitu kuatnya kasih sayang Rasulullah kepada cucunya, hingga beliau sangat hati-hati bersikap agar tidak menyakitinya.

Bagaimana dengan kita, Ayah-Bunda? Sesungguhnya semua pengalaman hidup anak yang kita berikan padanya lah yang akan membentuk karakter mereka. Hal itu yang akan menentukan arah perjalanan hidup mereka di masa yang akan datang.

Allah SWT sudah berfirman, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar,” (QS. At-Taghaabun:15). Ketika ayah bunda memahami ayat ini, maka akan mendidikanak-anaknya sebaik mungkin dan tentu dengan penuh kasih sayang, agar kelak di pengadilan akhirat lulus dengan nilai summacumlaude.

Jadi Bagaimana, Sekolah Anak (Anda) Menyenangkan?

“IBU, terima kasih ya aku sudah disekolahkan di Salsabila,” seorang anak berkata seraya memeluk ibunya.

“Oh, ya sama-sama Nis,” jawab sang ibu. “Apakah Nisa senang di sekolah?”

Mata si anak berbinar. Ia tersenyum. Kemudian berujar riang, “Aku senang sekali di sana, Ibu…”

“Ummi, hari ini sekolahnya pulang jam 3 aja ya,”seorang siswa tiba-tiba berkata pada saya.

“ Lho kenapa mau pulang jam 3, teman?” tanya saya.

“Mau main disini aja ah, seru!” tukasnya.

Beberapa waktu lalu, seorang teman datang melihat sekolah. Seraya melihat-lihat anak berkegiatan, ia pun bertanya, “Kalau disini pulangnya jam 13.00 ya, terus anak-anaknya gak bosen? Kalau murid-murid saya, jangankan sampai jam segitu, jam 10.00 aja udah pada nanya pulang jam berapa… Malah ada yang minta cepet pulang.”

Saat itu pukul 12.05. Anak-anak sedang bersiap shalat dzuhur. Saya pun menjawab, “Lihat saja bagaimana ekspresi mereka, apakah terlihat bosan, padahal ini sudah jam 12 lho …”

Mungkin bagi sebagian orangtua maupun guru lembaga PAUD merasa kurang percaya jika ada lembaga prasekolah yang jam belajarnya fullday. Permasalahannya adalah, guru maupun orangtua belum memahami bahwa anak usia dini belajar melalui bermain. Tentu saja bukan sekadar main atau belajar sambil bermain.

Jika anak belajar sambil bermain, maka yang dilakukannya hanya main-main saja tanpa mendapatkan pengetahuan yang sistematis, terstruktur, dan terukur.

Yang perlu dilakukan adalah guru membuat desain kegiatan main yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Guru menata lingkungan sebelum main. menyiapkan alat main yang bisa digunakan anak selama kegiatan berlangsung. Guru pun harus melakukan pendampingan penuh ketika kegiatan main berlangsung.

Selain itu, guru membangun terciptanya suasana yang menyenangkan sehingga anak belajar dalam keadaan bahagia. Anak-anak diberikan kesempatan untuk memilih teman maupun memilih kegiatan main yang akan mereka lakukan dari semua alat main yang sudah disiapkan guru.

Semua kegiatan bermain didesain sedemikian rupa dengan tujuan untuk membangun semua kecerdasan anak. Dalam kegiatan seperti ini, anak diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan, mencari jawaban, kemudian menarik kesimpulan melalui arahan dirinya sendiri. Guru bertugas sebagai fasilitator, bukan bos yang memberikan perintah ini dan itu.

Anak mendapat kesempatan belajar melalui main akan lahir menjadi anak yang cinta belajar. Setelah anak cinta belajar, semua pengetahuan yang diberikan padanya akan dilahapnya dengan seksama.

Mengapa hari ini banyak anak yang tidak senang belajar? Hal itu terjadi karena sejak dini mereka dipaksa belajar dalam keadaan tidak menyenangkan. Jadi, bagaimana, sekolah (anak) Anda menyenangkan?

Bergerak Itu Mencerdaskan, Lho!

“Ih, ini anak kok gak bisa diam sih?” seorang teman menggerutu seraya menggendong anak dua tahunnya yang bergerak lincah di halaman rumah.

“Kenapa digendong?” saya pun bertanya.

“Habis, ni anak lari-lari terus, saya takut dia jatoh, cape juga harus ngejar-ngejar,” jawabnya.

“Coba pakaikan sepatu, pake baju lengan panjang dan celana panjang supaya aman,” saya pun coba memberinya saran.

“Gak ah, nanti dia malah gak bisa diam, naik sana, lari sini pokoknya pusing deh, kalau digendong kan lebih aman…” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, ada seorang anak yang dibawa ayahnya ke kantornya. Tiba di kantor, sang ayah berkata kepada anaknya “Diam di sini, duduk, jangan kemana-mana sampai ayah kembali ke sini.”

Anaknya hanya menganggukan kepala. Saya memperhatikan anak ini, usianya 6 tahun lebih, dia diam tak bergerak sedikitpun sesuai dengan perintah ayahnya selama satu jam lima puluh menit.

Hal yang tak jauh beda juga terlihat di lembaga prasekolah. Ibu guru berteriak, “Diam, duduk yang rapi, tangannya dilipat diatas meja, mulutnya dikunci lalu kuncinya dibuang, hap…!” Jika ada anak yang tidak melakukan yang dikatakanya, maka guru mencapnya sebagai anak nakal.

Ada sebagian orang tua berkata bahwa anak yang baik itu adalah anak yang diam, tidak banyak tingkah. Sedangkan kebalikannya, anak yang banyak bergerak sering disebut anak nakal. Ungkapan ini tentu tidak benar, karena pada dasarnya bergerak adalah fitrah manusia, dan bagi anak kecil bergerak adalah salah satu ungkapan dari apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkannya.

Melalui bergerak anak juga bisa menolong dirinya sendiri, misal ketika menemukan hal yang menakutkan anak dengan refleks bergerak. Saat dikejar anjing ia akan berlari secepat mungkin untuk menghidarinya. Saat terpelest, ia berusaha mengantisipasinya dengan bergerak refleks, dan lain sebagianya. Dengan bergerak, anak akan membangun kesadaran tubuh dan konsep dirinya.

Dari perspektif medis, bergerak bagi anak adalah sangat baik bagi kesehatan tubuhnya, selain melatih otot-otot tubuhnya, juga akan melatih otot jantung agar kuat kelak sampai dewasanya.

Dari perspektif pendidikan, gerakan pada anak sangat penting untuk merangsang kecerdasannya.Howard gardner yang terkenal dengan teori Multiple Intelegence nya menjelaskan bahwa setiap anak harus dibangun bodily kinestetik intelegence-nya yaitu kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi, karena ada bagian otak yang mengurusi itu.

Latihan gerakan sangat penting bagi anak apabila dilatih dengan gerakan yang bermanfaat yang sesuai dengan tahap usianya sehingga organ-organ tubuh akan berfungsi dan berkembang secara sempurna.
Nah, Ayah-Bunda, yuk biarkan anak bergerak!

Ucapan Anda pada Anak adalah do’a

PAGI ini saya melihat seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah seraya berkata, “Sana masuk, tuh umminya sudah ada.”

Namun anaknya tidak segera bergerak malah memgangi rok sang bunda.

“Anak bandel, malah narik-narik rok mama, sana cepat masuk,” dengan nada suara yang meninggi sang bunda berkata lantas mendorong putranya supaya bergerak.

Setelah anaknya didepan pintu kemudian sang ibu beranjak meninggalkan halaman sekolah.

Tak lama kemudian datang seorang anak bersama bundanya. Tiba di gerbang sekolah, sang bunda berkata, “Kakak, tuh lihat ummi sudah di menyambut, mama peluk dulu.”

Kemudian bunda memeluk anaknya lantas tangan bunda memgang kepala sang anak seraya membacakan Surat al-Fatihah. “Sayang teman ya, bersikap yang baik, bunda pulang dulu, assalamu’alaikum daahh,” ucapnya sambil tersenyum lalu berlalu.

Ucapan seorang ayah atau ibu kepada anak juga merupakan do’a. Namun sering para orangtua tidak menyadari hal ini. Dalam kehidupan seorang muslim serangkaian kegiatan yang dilakukan dari bangun tidur hingga tidur lagi selalu diawali dan diakhiri dengan do’a.

Menurut Wismiarti (2010), dalam bukunya “Mengapa surga di bawah telapak kaki ibu” dikatakan bahwa: Apapun yang kita lakukan di dunia ini tergantung kepada dua hal yaitu niat dan do’a. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Kazuro Murakami, Ph.D dengan judul “The Devine Massage of DNA”yang dikutip oleh wismiarti (2010) menjelaskan bahwa disetiap rantai DNA ada tombol-tombol positif dan negatif.

Tombol positif dan negatif setiap orang tidak sama. Lebih banyak tombol positif atau tombol negatif pada masing-masing orang juga berbeda. Hal itu merupakan blue print tiap-tiap manusia di dunia. Memiliki komposisi tombol positif dan tombol negatif seperti apa merupakan takdir kita. Namun , kita bisa menyalakan tombol yang positif dan mematikan tombol yang negatif dengan do’a.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya : “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Jika dalam mengawali dan mengakhiri sebuah kegiatan, kita berdo’a, maka kehidupan kita selalu dipenuhi dan diisi dengan do’a. Artinya tombol positif akan menyala dan tombol negatif tidak. Tombol mana yang menyala itulah yang menentukan arah hidup kita. Kekuatan berpikir akan membuat hidup kita berjalan kearah do’a-do’a kita. Berkata, bersikap dan mendampingi anak penuhi dengan do’a maka tombol positif pada anak kita lah yang akan menyala dan menentukan arah hidupnya kelak. Hati-hatilah berbicara dengan anak ayah atau bunda, karena itu adalah do’a.

Berbicaralah “Dengan” Anak, Bukan “Kepada” Anak

“BUNDA, gambarnya besar lho…” seorang anak 9 tahun berbicara kepada ibunya.

“Iya,” ibunya merespon ucapan si anak.

“Bunda, gambar jeruknya besar, warnanya kuning,” kembali anaknya berkata.

Sambil memegang handphone-nya sang ibu kembali berucap, “iya.”

“Bunda, asal iya kan? Dari tadi Bunda cuma ‘iya-iya’ aja. Bunda, kenapa asal iya aja?” tiba-tiba nada suara anak ini meninggi lalu histeris menangis.

“Iya, maksudnya, Bunda sudah lihat gambarnya,” sang bunda mencoba menjelaskan namun anak ini tidak juga menghentikan tangisannya.

***
“Mama pergi ya, cepet bangun,” teriak seorang mama ketika anaknya mogok berjalan di sebuah tempat rekreasi.

Bukan mendengar perintah mamanya, anak yang usianya 4 tahun itu malah berguling-guling sambil menangis di pelataran parkir.

“Pokoknya mama pergi ya,” kembali sang mama menegaskan ancaman pada anaknya.

Datanglah gurunya menghampiri seraya berkata “Kenapa? Amar cape?”. Sambil jongkok, sang guru mengelus tangan si anak dan mengusap kepalanya kembali melanjutkan bertanya, “ Perlu istirahat?”

Tak hanya itu, sang guru menatap hangat sang anak, lalu berujar, “Bu Deva peluk dulu ya?” Lantas bu guru memeluk sambil berbicara padanya. Tak lama kemudian anak ini tenang dan mau berjalan menuju mobilnya.

Orang tua pada umumnya berbicara “kepada” anak-anak. Komunikasi seperti ini berlangsung satu arah.
 Dalam hal ini, orangtua mencoba berkomunikasi “kepada” anak. Namun sayangnya,Kkmunikasi yang terjadi dalam situasi ininegatif. Orangtua tidak membangun suasana yang nyaman ketika berbicara “kepada” anak-anak mereka. Berbeda jika orangtua maupun guru berbicara “dengan” anak.

Seperti yang terjadi diatas, ibu guru berbicara “dengan” anak bukan “kepada” anak. Komunikasi seperti ini berlangsung dua arah. Ibu guru tidak mengambil posisi berdiri ketika berbicara “dengan” anak, tapi memposisikan tubuhnya sejajar dengan tinggi tubuh sang anak. Menatap, mengusap kemudian memeluk dan berbicara dengan suasana hangat. Maka komunikasinya yang terjadi dalam situasi positif.

Komunikasi yang positif baru bisa dilakukan oleh orangtua atau guru jika orang tua atau guru menyediakan waktu cukup untuk berkomunikasi “dengan” anaknya. Bukan sekedar berkata “iya!” seraya berlalu.
 Komunikasi yang terjadi bersifat timbal balik atau dua arah, saling mendengarkan.Bukanhanya anak yang harus mendengar tapi orangtua juga mendengar dengan sungguh-sungguh ketika anak berbicara. orangtua memberikan tanggapan atas apa yang dikatakan anak bukan mengabaikan atau malah memberikan ancaman. Sehingga diantara keduanya betul-betul terjalin hubungan yang baik, hubungan saling menyayangi antara orangtua dan anaknya.

Berbicaralah“dengan” anak, bukan berbicara “kepada” anak yang harus dilakukan para orangtua maupun guru. Sehingga lahir anak-anak yang bahagia dalam berbagai kesempatan dan bangga memiliki orangtua maupun guru seperti kita. Mereka lahir menjadi anak-anak yang penuh rasa percaya diri, penuh kasih sayang, penuh kebahagian yang melebihi materi. Berdasarkan hasil penelitian para neuroscientist, anak-anak akan belajar banyak pengetahuan yang diberikan padanya dalam keadaan bahagia. Jika kemampuan komunikasi positif ini dibangun sejak dini, anak akan lahir menjadi pribadi yang menyenangkan dihadapan semua orang.

Kembali Menjadi Pemenang


Ketupat, simbol kebahagian dalam Idul Fitri
Ketupat, simbol kebahagian dalam Idul Fitri

Idul Fitri berarti kembali pada kesejatian diri atau diri sejati. Di antara kesejatian diri itu adalah keberadaan manusia sebagai pemenang (the winner). Itu sebabnya, Idul Fitri dinamai Hari Kemenangan.

Menurut fitrahnya, manusia ingin menang, tidak ingin kalah. Setiap anak manusia yang terlahir ke dunia, sejatinya  pemenang, lantaran dalam proses pembuahan dalam rahim, ia telah mengalahkan ribuan saudara-saudaranya yang lain.

Pada kenyataannya, secara faktual, tidak semua orang bisa menjadi pemenang. Sebab, untuk meraih kemenangan, diperlukan persyaratan-persyaratan yang tidak ringan, berupa kualitas-kualitas, kompetensi, track record, dan yang tidak kalah pentingnya, keterampilan memilih strategi pemenangan.

Secara konsep, untuk meraih kemenangan, diperlukan beberapa atribut yang mesti dimiliki. Pertama, kecerdasan atau kekuatan (power).

Dalam psikologi modern, kecerdasan atau kekuatan itu meliputi kecerdasan fisik (physical quotient), kecerdasan intelektual (intelligence quotient), kecerdasan emosi/moral (emotional quotient), dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient).

Kedua, keberanian (syaja`ah), berarti kesiapan tampil atau maju dalam situasi yang menakutkan atau membahayakan disertai kesediaan berkorban dan menanggung risiko.

Berkorban berarti sedia memberikan sesuatu yang berharga untuk sesuatu yang lebih berharga lagi. Menanggung risiko (risk taker) berarti siap menerima akibat, nyawa sekalipun, untuk mencapai tujuan dan cita-cita mulia.

Tak ada kemenangan tanpa keberanian. Semua cerita kemenangan, sejatinya adalah cerita keberanian. Orang bijak berkata: “Ketahuilah, semua kesulitan tak akan bisa dihilangkan, dan semua kemuliaan tak pernah bisa dicapai, kecuali hanya dengan keberanian.”

Ketiga, kejuangan (jihad), berarti mengerahkan segala potensi dan kemampuan untuk mencapai kemenangan.
Jihad juga bermakna masuk ke gelanggang pertarungan dengan menjadi pelaku atau pemain, bukan menjadi penonton, apalagi pengacau atau perusuh pertandingan. Hal ini, karena pemenang atau gelar juara diberikan hanya kepada pemain. Lain tidak!

Terakhir, selain tiga hal di atas, kemenanangan memerlukan ketahanan  (determinasi) dan kegigihan (persistent) dalam perjuangan.

Firman Allah SWT: “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (pemenang), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 139).

Ayat ini menggarisbawahi, sikap lemah dan kesedihan yang berkepanjangan (demoralisasi) merupakan penghambat kemajuan dan kemenangan.

Pakar tafsir Ibn Asyur, memandang al-wahan dan al-hazan sebagai penyakit jiwa (mental block) yang membuat manusia tak bisa melakukan perlawanan (tark al-muqawamah).

Al-hazn itu bisa dimaknai sebagai kondisi jiwa di mana seorang merasa dirinya tidak berharga (worthless) disertai perasaan putus asa (hopless) dan dengan begitu sulit diselamatkan (helpless). Al-Hazn tidak bisa bertemu dengan kemenangan, karenanya harus dijauhi.

Ibadah puasa menjadi penting, lantaran berfungsi mencegah penyakit-penyakit mental dan menumbuhkan sifat-sifat pemenang seperti telah disebutkan di atas.

Bahkan, ibadah ini menjadi istimewa, karena pada hakikatnya ia merupakan pusat restorasi rohani yang mampu mengembalikan manusia kepada jati diri (fitrah)-nya.

Maka, pada momen Idul Fitri ini, kepada orang-orang yang puasa pantas disampaikan ucapan selamat: Minal Aidin wa al-Faizin. Selamat Kembali menjadi Pemenang! Wallahu a`lam!

Takbir Fitri Gendang Jiwa

Langit menggemakan takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Gema takbir ini mestilah bukan hanya bersumber dari speaker-speaker masjid yang seadanya itu. Mestilah alam semesta raya turut bertakbir karena tidak putus-putus suara itu mengiang di telinga, bahkan merasuk jauh ke dalam kalbu.

Malam ini saya membayangkan seluruh planet bertakbir, matahari, bintang-bintang, galaksi, nebula semua penduduk langit bertakbir.
Bahkan, boleh jadi seluruh sel-sel dalam tubuh pun turut bertakbir, ya itulah jawaban kenapa ketika jeda suara takbir masjid, tapi seakan masih terdengar dalam jiwa bukan hanya lewat gendang telinga, tapi mungkin kalau boleh menamakannya dengan gendang jiwa.

Namun, di tengah takbir fitri yang agung, sebaliknya saya merasa kecil semakin kecil bahkan lebih kecil lagi.
Perasaan yang campur aduk, mengaduk rasa antara kegembiraan Ied Mubarok dan kesedihan Ramadhan yang berlalu. Pikiran yang agak lelah ini tercenung akan kalimat “minal aidin wal fa’idzin” kembali ke fitrah dan meraih kemenangan.

Mudah memang untuk melafazkannya, namun benarkah kita sudah benar-benar kembali ke fitrah. Bagaimana bisa meraih kemenangan jika tidak mencapai fitrah? Bagaimana ukurannya?
Bagaimana juga dengan hadis “barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”, apakah kita berhasil mendapatkannya? Seperti apa rasanya?

Astaghfirullah Ya Rabb, begitulah jika kita terjebak pada permainan pikiran dan permainan kata-kata, angka statistik, ukuran barometer, takaran yang selalu kita pikirkan. Karenanya gema takbir, ayat-ayat, hadis-hadis hanya berputar di kepala, terurut rapi dengan untaian kata namun seringkali tidak merasuk dalam jiwa.

Sudah saatnya kita mendengar bukan hanya dengan gendang telinga, namun dengan gendang jiwa. Kita hanya mesti fokus berupaya untuk selalu melakukan perubahan menjadi yang lebih baik setiap saat, menjadi manfaat di setiap waktu. Dan biarkan seluruh ukuran, takaran dan perhitungan hanya ada disisi Allah SWT.

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, “Ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal fa’izin, taqabalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Ya Rabb, jadikanlah kami semua manusia yang baru, yang Engkau ridhai. Kumpulkan kami di surga-Mu, Ya Rabb.

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.

Silaturahim Hati

Bulan rahmah dan maghfirah telah berlalu. Kepergiannya diiringi dengan berbagai sambutan dari para pecintanya; ada yang teramat menyesal dan bersedih karena merasa belum memaksimalkan bulan Ramadhan, ada pula yang bersyukur karena telah mampu menjalani serangkaian target yang telah disusun selama bulan Ramadhan.

Apa pun perasaan yang kita miliki, tetaplah kita harus mensyukuri bahwa Idul Fitri adalah momentum penyucian hati setelah sebulan lamanya kita dilatih untuk menahan dan menyucikan diri dari segala hasrat duniawi; makan, minum, termasuk mengelola emosi.  Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk sama-sama membuka hati, memberi dan meminta maaf, serta menebarkan sifat belas kasih.

Meski memaafkan dan meminta maaf tak sebatas hanya pada saat perayaan Idul Fitri, momen perayaan ini kerap dispesialkan untuk berbagi dan memohon maaf. Tak ayal, ucapan yang sering kita dengar atau bahkan sering kita lontarkan ialah, ‘Mohon Maaf Lahir dan Bathin’.

Tak salah memang, memberi maaf terlebih meminta maaf adalah perilaku terpuji. Tak hanya bermaaf-maafan, Idul Fitri menjadi momen berharga untuk kembali merajut silaturahim bersama rekan dan sanak saudara.

Silaturahim (menyambung kasih sayang), atau yang justru sering disebut dengan silaturahmi adalah perbuatan baik yang dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, hakikat silaturahim tak cukup dengan lahir (zahir/tampak), berupa berjabat tangan atau bertatap wajah. Hendaknya silaturahim bathin (hati) —yang sadar untuk meminta dan memberi maaf—benar-benar disadari, agar segala noda-noda di hati berupa iri, dengki, hasad, dendam, melebur hancur bersamaan dengan silaturahim tersebut.

Allah Swt berfirman, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun." (QS al-Baqarah: 263)

Secara tersirat, Allah menyebutkan dua tingkatan kebajikan dalam ayat ini, Pertama, perkataan yang baik. Berkata yang baik adalah salah satu usaha hifdz al-lisan (menjaga lisan) adalah hal yang benar-benar dianjurkan dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Berkatalah yang baik, atau (jika tidak bisa) lebih baik diam,’.

Dalam hadis ini Rasulullah mengajak umatnya untuk mampu berkata baik dan membuahkan manfaat bagi sesama, bukan perkataan penuh dusta, caci-maki, dendam dan amarah. Kedua, kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada kita, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Nah, yang terakhir inilah yang disadari maupun tidak, sulit dilakukan.

Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Terkadang pula, perasaan tinggi hati kerap merusak niat diri sehingga kita malu mengutarakan ‘maaf’ terlebih dulu, padahal, jika kita cermati bersama, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (HR Abu Dawud)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (HR Muslim)

Semoga kita tergolong menjadi hamba-Nya yang mampu menyambung tali kasih sayang ikhlas dari hati, sehingga mudah untuk memberi dan meminta maaf dengan tulus. Amin.

Manfaat Kurma dari Tinjauan Medis Modern

SEMUA hal kesehatan yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW, tak pernah ada bertentangan dengan alam dan ilmu pengetahuan di sepanjang zaman. Itu karena memang ucapannya merupakan wahyu. Termasuk juga soal kurma. Tentu, di zaman Nabi, tak ada penjelasan ilmiah mengapa kaum Musliminan harus ini atau tidak boleh melakukan itu atau dianjurkan minum dan makan itu-ini.

Ribuan tahun setelah Rasulullah SAW wafat, para ilmuwan dunia kemudian mencari-cari dari sudut ilmu pengetahuan. Dan untuk kurma ditemukan sebagai berikut:

1. Tamr (kurma kering) berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan membantu melancarkan saluran kencing (dengan cara merebusnya), karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim tatkala melahirkan.

Penelitian terbaru menyatakan bahwa kurma basah (ruthab) mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolenya (kontraksi jantung ketika dipompa ke pembuluh nadi)

2. Kurma basah (ruthab) juga mencegah terjadinya pendarahan pada wanita saat melahirkan dan mempercepat pengembalian posisi rahim seperti semula. Hal ini disebabkan adanya hormone oxytocine.

3. Dapat menenangkan sel-sel syaraf melalui pengaruhnya terhadap kelenjar gondok.

4. Buah kurma dapat mencegah stroke, karena mengandung unsur kalium yang tinggi yang dibutuhkan untuk mengatur denyut nadi jantung, mengaktifkan kontraksi otot dan membantu mengatur tekanan darah.

Para peneliti membuat postulat hanya dengan makan satu jenis ekstra kalium (minimal 400 mg/hari) dapat menurunkan resiko terkena stroke sampai 40%. Itu artinya sama dengan makan tamr sekitar 65 gram saja atau setara dengan lima butir kurma

5. Kurma juga mengandung salisilat yang dikenal sebagai bahan baku aspirin, obat pengurang rasa sakit dan demam, dan dapat mempengaruhi prostate gland (kelompok asam lemak hidroksida yang merangsang kontraksi otot, menurunkan tekanan darah).

6. Buah kurma mengandung banyak zat garam mineral yang menetralisasi asam, seperti kalsium dan potassium. Ia meninggalkan sisa yang mampu menetralisasi asam setelah dikunyah dan dicerna yang timbul akibat mengonsumsi protein seperti ikan dan telur.

7. Buah kurma mengandung vitamin A yang baik dimana ia dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolism lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit dan menenangkan sel-sel syaraf.
Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal yaa karim .. Shiyamana wa shiyamakum .. Kullu aamin wa antum bikhoirin. Minal 'aidin wal faidzin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir & batin. Dari kami Abi Omtez, Winda Dewiriantie, Daviq Razaq & Fadya Azkya. — di De Green Villa Mutiara Residence.

The World Its Mine