Minggu, 15 Desember 2013

Kontrak Toko Menghabiskan Modal Usaha

Tanya :
Sekarang saya berdagang dengan mengontrak toko selama dua tahun. Jadi saya selalu menyisihkan uang setiap hari untuk kontrak tersebut hingga dua tahun yang akan datang. Padahal ada barang yang harus saya beli tunai. Mohon sarannya. Terima kasih. 
Jawab :
Menggeluti apa yang telah dimulai ya pak. Bahwa dalam kondisi dimana kesulitan usaha adalah merupakan bagian dari perjalanan bisnis itu sendiri, maka yang perlu diperkuat adalah upaya dan inovasi dalam strategi pengembangan bisnis yang ditekuni.
Hal terpenting yang perlu dievaluasi secara mendalam adalah:
    Apa efek signifikan dari penggunaan toko tersebut?
    Apakah keberadaan toko mendongkrak penjualan langsung?
    Berapa biaya kontrak sewa toko dan bagaimana cara pembayaran?
Beberapa hal tersebut penting dalam melihat keberadaan biaya sewa toko sebagai komponen biaya dalam usaha anda. Ketika dapat dievaluasi, maka tentu bisa diperbandingkan misalnya:
Apakah perlu mencari lokasi baru dengan biaya yang lebih murah dan pembayaran yang sesuai dengan kemampuan pembayaran secara angsuran? Kemudian apakah bisa diimprovisasi melalui toko virtual lewat website dan penjualan retail melalui jejaring media sosial.
Selain hal itu, maka dalam hal ini, tentu yang harus dikembangkan adalah pemasaran dan penjualan produk yang akan menjadi sumber pembayaran atas kewajiban penyisihan atas biaya sewa dan kontrak toko. Logikanya, bila kemudian penjualan menjadi lebih besar, maka rasio angsuran toko tentu secara proporsional menjadi lebih kecil.
Memang tidak mudah, dan itu harus disesuaikan dengan pencermatan atas konsumen dll, sehingga mekanisme pemasarannya sesuai dengan sasaran yang dituju. Termasuk diantaranya adalah kemungkinan untuk memilih lokasi yang sesuai dengan kapasitas usaha yang telah terbentuk. Sehingga memang harus disesuaikan based on kondisi keuangan riil yang dimiliki.
Termasuk bernegosiasi dengan suplier yang telah lama berlangganan untuk memberikan tempo pembayaran. Sehingga dengan begitu, arus kas akan dapat lebih terjaga dan dapat dikelola sesuai dengan kapasitas kemampuan keuangan atas usaha tersebut.
Demikian yang dapat disampaikan, tetap semangat dan salam entrepreneur. (EK)

Ery Kasman, SE, Msi
Direktur Entrepreneur Institute

Empat Masalah Hadang Calon Pemimpin Masa Depan

Presiden Direktur XL Axiata, Hasnul Suhaimi mengungkap empat masalah mendasar yang tengah dihadapi Indonesia dalam menyiapkan dan mencetak pemimpin masa depan.

Empat masalah yang dihadapi Indonesia adalah kurangnya karakter building yang menyebabkan terjadinya penurunan integritas. Masih kentalnya budaya 'Malu' yang menyebabkan semangat kompetesi menjadi rendah karena rendah hati. 

Tidak menggunakan life skills. Serta ada ketidakcocokan pengajaran bahasa Inggris. ''Bahasa Inggris tidalk digunakan untuk hal-hal yang praktis,'' kata Hasnul saat membuka program XL Future Leader di Jakarta, Rabu (6/6).

Bahasa--utamanya bahasa Inggris--, memiliki peranan kunci. ''Dari 190 negara di dunia sebanyak 129 negara menggunakan bahasa Inggris,'' papar Hasnul.

Ia kemudian menunjuk jargon Better English, Better Income. Jargon ini disebut Hasnul banyak benarnya. Negara-negara maju disebut Hasnul adalah negara yang tingkat kemampuan bahasa Inggris warga negaranya tinggi. ''Kita berada di peringkat 134, Brasil 31 sementara Malaysia peringkat 9, '' katanya memberi contoh.

Empat persoalan itu, papar Hasnul, masih diperparah dengan adanya gap pendidikan dibandingkan dengan negara-negara lain. ''Ini persoalan yang kita hadapi dan harus segera dicarikan jalan keluarnya agar kita mampu menjadi negara yang maju di masa depan,'' kata Hasnul.

Dalam hal ini, Hasnul mengingatkan perlunya kita fokus pada tiga hal untuk menyiapkan pemimpin masa depan, yakni leadership, kreativitas dan kompetisi tinggi serta kemampuan berbahasa Inggris. ''Tiga aspek ini setidaknya telah saya alami sendiri sebagai seorang CEO,'' katanya.

Kepemimpinan, misalnya, banyak dihadapi kalangan fresh graduate. ''Mereka hanya belajar dan terus belajar. Mereka lupa berorganisasi. Seorang pemimpin harus bisa memimpin rapat. Kalau memimpin rapat saja tidak bisa, bagaimana mereka bisa mengatur atau mengarahkan orang lain,'' katanya memberi contoh.

Terkait dengan hal itu, Hasnul menyatakan bahwa program XL Future Leader diharapkan bisa memberi kontribusi bagi penyiapan pemimpin di masa depan. Melalui program ini, peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa akan mendapatkan tiga bekal.

Pertama, komunikasi efektif yang antara lain mencakup penguasaan Bahasa Inggris dan menyusun presentasi, kemahiran berdebat yang baik, dan berpikir secara terbuka.

Kedua, inovatif dan jiwa kewirausahaan, antara lain mencakup Berpikir kreatif dan mampu memecahkan masalah, berpikir global dengan sudut pandang lokal dan global, mengidentifikasi peluang dan menyusun rencana untuk meraih sukses, serta mengembangkan sikap yang berfokus ke masa depan, didasari pertimbangan sejarah dan budaya bangsa.

Ketiga, antara lain mengelola perubahan, meliputi memotivasi dan menilai kemampuan diri sendiri, memimpin dan mengelola tim, identifikasi  peluang dan perencanaan masa depan, tanggung jawab sosial dan empati terhadap lingkungan.

Jika Usaha Dililit Piutang

Tanya :
Saya punya usaha konveksi seragam sekolah dengan pegawai 5 orang. Permasalahannya pelanggan saya banyak yang membeli secara berutang dan membayar secara dicicil, bahkan sampai beberapa tahun tidak lunas dan ambil banyak barang tapi bayar separuhnya. Bahkan saat ditagih lebih galakan mereka! Pertanyaannya, apakah saya stop menjual kepada yang berutang lebih dari 1 tahun tidak lunas? 
Jawab :
Pada prinsipya penjualan berjangka dengan menggunakan termin bayar adalah sebuah bentuk fleksibilitas untuk mempertahankan pelanggan, dan hanya diberikan kepada para pelanggan yang terpercaya dengan kriteria pembayaran yang baik dan tepat waktu.
Secara proporsional, pola pembayaran berjangka dengan termin kredit dilakukan dalam rasio 60% cash dan 40% kredit. Sehingga kapasitas kelola keuangan masih dapat terbantu dengan penjualan cash, terlebih pemberian termin kredit dilakukan secara selektif dan sifatnya tertentu saja.
Melihat kasus yang dialami, maka wajar bila kemudian atas penjualan yang sudah tidak lagi prospektif maka perlu dilakukan stop penjualan. Langkah tersebut dapat dijalankan bersamaan dengan penarikan stok tidak terjual ataupun permohonan pelunasan atas barang yang telah diorder.
Dalam hal tersebut, tentu secara teknis perlu lebih didalami. Kalau pembeli galak, asalkan dibayar adalah hal yang wajar. Nah dalam catatan keuangan barang yang terjual tetapi pembayaran belum diterima juga akan menjadi piutang tak terbayar dengan batas waktu 3 bulan waktu tagih.
Sebaiknya, mulai sekarang pilih dan pilah secara spesifik calon pembeli yang hendak diberikan termin kredit. Selain itu, dalam komitmen jual beli bertermin sebaiknya lakukan perjanjian hitam putih yang mengatur hak dan kewajiban. Ditambah dengan jangka waktu pembayaran diatur jangan terlalu lama untuk cut loss bila terjadi tunggakan tak berbayar, saya sarankan 30 hari saja.
Hal mendasar yang terutama adalah kita wajib mengenali klien atau cistomer kita, karena hal tersebut menjadi kunci untuk membina hubungan bisnis secara saling mendukung dan berkelanjutan. Demikian yang saya dapat sarankan, tetap semangat. Salam Entrepreneur. (EK)

Ery Kasman, SE, Msi
Direktur Entrepreneur Institute

Sering Bisnis Tapi Rugi Melulu

Tanya :
Saya sudah mencoba berbagai bisnis dan bermacam jenisnya. Tapi lebih sering rugi daripada untungnya. Dan satu hal setiap saya sudah mulai menjalankan bisnis, dalam waktu yang cukup singkat saya merasa jenuh, bosan, dan ingin beralih ke bisnis yang lain. Selalu seperti itu. Pertanyaan saya, bagaimanakah menemukan jenis wirausaha yang sesuai dengan karakter kita, dan terapi apakah agar saya bisa tahan banting dan bisa menekuni usaha yang saya jalankan. 
Jawab :
Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan. Tentu semua dilakukan dengan proses mengalami serta melalui berbagai kondisi tertentu. Tidak mudah memang menemukan karakter yang bersesuaian atas bisnis yang kita akan jalani. Sebagian pebisnis juga berjalan dengan alur yang terlihat alamiah, tetapi sebenarnya tidak demikian kenyataannya.
Banyak yang menyebutkan bahwa bisnis yang ditekuni dengan hati Anda adalah yang terbaik untuk dikembangkan menjadi sebuah hobi bernilai bisnis. Karena dengan senang hati, maka hal itu membuat kita tidak mengalami tekanan maupun pemaksaan. Bahkan pada beberapa aspek tertentu dapat mengembangkan inovasi dan berimprovisasi guna melakukan pengembangan.
Kerugian adalah hal yang wajar dalam bisnis karena ada probability kegagalan, namun yang terpenting adalah memetik pelajaran dari apa yang telah terjadi, serta bangkit untuk mempersiapkan strategi yang lebih sesuai dengan kondisi yang aka dijalani.
Kondisi yang dialam, merupakan hal yang perlu diperbaiki karena fokus dalam pendalaman usaha adalah hal terpenting untuk dapat melakukan pengembangan bisnis itu sendiri. Tertarik secara aktif diawal namun kemudian bosan adalah kegagalan untuk memberikan semangat pada diri sendiri akan peluang masa depan dari bisnis yang dikelola.
Sebaiknya sebelum memulai usaha, lakukan pencermatan dan analisa serta membuat skema bisnis yang sederhana dari product sampai delivery ke konsumen dan pemasaran. Karena dengan demikian, akan terdapat banyak aspek yang bisa diimprovisasi setiap waktu dan hal itu dipastikan tidak akan membuat Anda bosan, terlebih bila pilihan bisnis itu dijalankan dengan kesesuaian serta kematapan hati.
semoga dapat memahami yang telah diuraikan. Demikian, tetap semangat dan salam Entrepreneur. (EK)

Ery Kasman, SE, Msi
Direktur Entrepreneur Institute

3 Jurus Anak Pintar Atur Duit

Berikut tips mengajarkan pendidikan kecerdasan keuangan untuk anak :
1. Buat daftar Need (kebutuhan) dan Want (keinginan) sesuai usia si anak
Yang terpenting dari kebutuhan anak Anda adalah mengajarkannya untuk mandiri secara finansial.  Misalnya, anak minta dibelikan barang-barang yang harganya cukup mahal. Nah, orangtua bisa mengajarkan anak untuk tidak selalu meminta uang pada orangtua setiap kali mereka punya keinginan. Banyak sekali anak yang, bila keinginannya tidak dituruti, menggunakan tangisnya sebagai senjata agar orangtua mau mengabulkan keinginannya. 
Ajarkan pada anak bahwa ia bisa membeli sendiri barang yang diinginkannya, tanpa meminta uang pada orang tua. Caranya adalah dengan menyisihkan dari uang sakunya. Cara ini bisa diterapkan secara bertahap. Misalnya minta anak untuk mengumpulkan sebagian dananya lebih dulu, baru kemudian Anda menambahkan kekurangannya. Secara bertahap, Anda dapat mengurangi partisipasi Anda dan menambah proporsi andil anak, sampai akhirnya anak bisa membeli dengan uangnya sendiri barang yang ia inginkan. Jika ini terus-menerus diajarkan, anak akan terbiasa memiliki sikap dan sifat mandiri. 
 2. Jika sudah bisa diajak berbicara, rencanakan kebutuhan belanja anak
Bagaimana agar kita tahu apa saja kebutuhan si anak? Cara pertama, Anda survei ke teman anak Anda, yang kedua Anda langsung tanyakan kepada anak Anda. Keterbukaan dan komunikasi yang baik, akan membuat anak Anda merasa dihargai.
3. Uang saku untuk anak agar tergantung dari penghasilan atau pendapatan orang tua, paling tidak 10% dari pendapatan.
Karena bersifat rutin, benar-benar Anda hitung secara cermat yang disesuaikan dengan jumlah anak Anda. Agar jangan sampai, antara keinginan mengajarkan melek finansial kepada anak Anda, Anda dan suami malah harus tekor tiap bulannya.
Selamat mengajarkan pendidikan kecerdasan keuangan untuk anak Anda! 
oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas).

Agar Kelak Anak Cerdas Mengelola Uang

Tanya :
Bagaimana caranya agar saya bisa mendidik anak saya untuk melek keuangan dan berapa usia yang pas untuk mulai mengajarkannya?
Jawab :
Kapan waktu yang pas untuk mengajarkan anak Anda agar melek finansial (financial literacy)?
Pada dasarnya, anak belajar dengan 3 cara yang disebut dengan modalitas belajar , yakni :
1. Modalitas secara visual, itu ‘mengalami’ dunia melalui mata
2. Modalitas secara auditori, itu ‘mengalami’ dunia melalui telinga
3. Modalitas secara kinestetik, itu ‘mengalami’ dunia melalui sentuhan, bau, pengecapan atau rasa serta gerakan.
Bahkan dalam bukunya yang fenomenal, How to teach your baby to read dan How to teach your baby to math (bagaimana mengajar bayi Anda matematika sambil bermain), Prof. Glenn Doman dari The Institute for the Achievement of Human Potential di Philadelphia menganjurkan anak-anak dikenalkan membaca dan angka-angka sejak dari bayi.
Itu artinya dengan mengajarkan dan mengenalkan angka dan uang sedini mungkin itu semakin baik.
Untuk melek finansial atau melek keuangan memang perlu proses dan kesabaran, seperti proses anak Anda balajar merayap, merangkak, berjalan hingga berlari. Dan perlu ibu ajarkan dengan cara bercerita layaknya lagi mendongeng kepada anak agar anak tertarik. 
Mulai dari sejarah uang (untuk materinya, bisa ibu ambil dari www.wikipedia.org) dari prosesi barter, uang dari kerang-kerangan, uang bi metal (emas/dinar dan perak/dirham) dan uang perunggu, uang kertas, uang kartu hingga uang digital dst dan fungsi uang.
Yang tidak kalah pentingnya, ada 2 sumber dasar cara orang mendapatkan uang, yakni :
1. Bekerja yang mendapatkan gaji/upah/honor
2. Usaha yang mendapatkan keuntungan dari selisih harga barang.

Ketika anak sudah mulai paham dengan fungsi uang, bisa ibu gunakan rumus WF 19 yakni :
1. Modal Kerja 30%
Jika anak Anda tertarik kepada bidang usaha, alangkah baiknya untuk ‘memutar’ uang yang Anda berikan kepada hal yang produktif. Misalkan dia suka buku cerita, kenapa tidak mulai menyewakan buku-buku yang sudah dia punyai (tentu untuk tahap awal, Anda yang harus menyediakan bukunya antara 1-5 Exp buku cerita), nanti Anda bisa bagi hasil dengan dia sebagai ‘Owner’ dari Bisnis Penyewaan Buku Cerita.
Selalu lakukan di awal dengan memberi jatah dari uang yang diperoleh untuk sedekah atau berbagi untuk anak lain/orang lain, agar hidupnya jadi berkah.
 2. Investasi 30%
Bahwa kita hidup tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga buat esok hari, kenalkan istilah simpanan (buat sehari-hari dalam hitungan pekanan), tabungan (menyisihkan buat hari esok dalam hitungan bulan hingga tahunan) dan investasi (uang yang kita tanamkan, terus bertumbuh untuk biaya pendidikannya kelak).  Dari hal yang kecil, nominal kecil hingga terbentuk good money habit (kebiasaan mengelola keuangan yang baik)
 3. Konsumsi 40%
Baru setelah itu buat belanjanya sehari-hari. Mengenai nominal atau besarannya, sangat tergantung dari usia anak, penghasilan orang tua, gaya hidup dan aktivitas anak. Jika di bawah umur 9 tahun, biasanya untuk uang cemilan/makan/minum di sekolah dan ongkos kendaraan umum, bagi  yang tidak di antar.
Disini Anda bisa mengajarkan ‘menabung’ ketika anak Anda membawa bekal dari rumah, dengan catatan uang yang seharusnya untuk makan/minum di sekolah bisa digunakan dengan rumus 334 di atas. Jika di atas 10 tahun, usahakan sudah mulai merancang keuangan sendiri, bisa dalam bentuk pekanan (7 hari) dan bulanan serta uang pulsa (jika Anda membelikannya gadget) serta ‘uang gaul’ buat bersosialisasi.
Selalu di setiap kebutuhan si anak, katakanlah untuk membeli buku misalkan, tekankan dengan menunda keinginan paling tidak setiap 15 hari (2 pekan), baru setelah hari-H nya, ajak ke toko buku tersebut, sebagai sebuah pelajaran untuk mendapatkan dream atau keinginannya tersebut.
oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas).

Imam Tak Sekadar Memimpin Shalat

Oleh; Ferry Kisihandi
Masih banyak imam hanya berdasarkan usia dan main tunjuk saja.

Para imam tak sebatas pemimpin shalat. Mereka bisa menjelma menjadi aktor perubahan sosial. Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, imam yang juga bergerak di ranah sosial telah mewujud di Aljazair.

Di sana, imam masjid adalah seorang pegawai negeri sipil. Pelan-pelan, mereka menguasai jamaah masjid-masjid yang dianggap radikal. Hingga, akhirnya Aljazair menjadi lebih stabil karena pertikaian antargolongan yang semula marak kemudian mereda.

Para imam di negeri tersebut melangkah lebih maju. Selain memimpin shalat, mereka mampu mengubah kondisi sosial. Karena itu, Nasaruddin tak sepakat dengan anggapan masjid hanya sebagai tempat rukuk dan sujud.

Masjid dan pengelola, termasuk imam di dalamnya, harus bisa melibatkan masyarakat. “Jadi, jangan dibalik, masyarakat yang memberdayakan masjid, tapi masjid yang memberdayakan masyarakat. Ini mirip, tapi berbeda,” katanya, Kamis (12/12).

Untuk membentuk imam seperti itu perlu sosialisasi dan peningkatan kapasitas mereka. Ada kalanya, lembaga pendidikan, seperti Perguruan Tinggi Ilmu Alquran Indonesia memfasilitasi itu. Caranya, dengan membina lulusan yang memiliki kualifikasi sebagai imam.

Namun, kata Nasaruddin, lulusan lembaga pendidikan itu hanya 300 orang per tahun. Jumlah tersebut tak cukup untuk memenuhi kebutuhan imam di seluruh Indonesia. Ia menjelaskan, selain bacaan dan hafalan Alquran yang baik, seorang imam harus bertabiat baik.

Soal kebutuhan imam masjid, kondisi setiap daerah di Indonesia beragam. Papua, Ambon, dan Sulawesi menjadi daerah yang memerlukan banyak imam masjid berkualitas dan profesional. Dalam konteks ini, pemerintah harus mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruquthni mengaku, imam masjid di Indonesia masih belum mampu memberikan dampak besar bagi lingkungannya. Padahal, perubahan di masyarakat juga menjadi tanggung jawab imam masjid.

Ia mengusulkan agar imam masjid dibekali keterampilan, baik dalam mengelola jamaah, maupun komunikasi publik. Menurut Imam, kualitas imam masjid di tingkat provinsi sudah cukup baik. Tapi, untuk tingkatan di bawahnya, masih perlu banyak pembekalan.

Keterampilan dasar mereka, yaitu baca Alquran dan fikih juga perlu ditingkatkan. Selama ini, masih banyak imam yang dipilih berdasarkan usia dan main tunjuk saja. Sehingga, tak terkontrol bagaimana kemampuan mereka di dua bidang itu.

Bacaan Alquran yang kurang baik, kata Imam, bisa mengurangi kekhusyukan shalat. Bahkan, ada yang sampai menganggap tidak sah shalatnya. Untuk mengatasinya, ia mengusulkan adanya sertifikasi bagi imam masjid.

Sertifikasi dapat menjadi alat ukur seberapa baik bacaan dan pemahaman agama seorang imam. Ia menyarankan, sertifikasi lebih baik dilakukan lembaga tersendiri di luar pemerintah. “Bisa perguruan tinggi atau lembaga yang berkompetensi,” kata Imam.

Terlalu panjang urusannya kalau sertifikasi diserahkan kepada pemerintah. Lebih baik, pemerintah membantu perbaikan bangunan maupun pendanaan masjid saja. Tidak perlu pemerintah mengurusi masalah internal masjid.

Menurut dia, standardisasi imam juga mungkin baru bisa dilakukan di masjid tingkat provinsi atau kota yang sudah memiliki imam tetap. Ia menambahkan, belum ada data pasti jumlah imam tetap masjid seluruh Indonesia.

Ia memperkirakan, ada sekitar 300 ribu imam masjid di Indonesia. Itu pun imam bergantian dan belum termasuk imam mushala perkantoran serta mushala di fasilitas umum.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) Irfan Safruddin memandang peran imam masjid, bergantung negara yang memfungsikannya. Tapi, dari literatur Islam, fungsi awal imam memang sebagai pemimpin shalat.

Peran lebih besar justru di masjid sebagai lembaga. Di sana, imam masjid bisa menjadi ketua dewan keluarga masjid atau organisasi yang dibina masjid. Di sini, imam jadi memainkan dua peran, sebagai imam dan pengelola kegiatan masjid.

Peran sosial sebenarnya lebih banyak dilakukan pengurus masjid. Banyak masjid tidak memiliki imam khusus. Bahkan, ada fenomena imam masjid bergantian di antara pengurus DKM. Harusnya, ada imam tetap, ungkap Irfan.

Imam yang berada di bawah ormas atau lembaga tertentu sudah relatif tertata. Irfan menyambut baik jika memang ada mekanisme sertifikasi imam. Tapi, harus juga diperhatikan dampak yang bisa diberikan oleh imam tersertifikasi terhadap lingkungannya, kata dia.

Pihak yang menyertifikasi bisa gabungan dari pemerintah, MUI, dan ormas Islam. Seperti, sertifikasi pembimbing haji yang belakangan sudah dilakukan. Jika pun ini dilakukan, kualifikasinya harus disesuaikan dengan imbalan bagi para imam.

Tingkat pendidikan imam masjid saat ini umumnya lulusan dari pondok pesantren, perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Ada juga lulusan universitas milik ormas-ormas Islam. Sayangnya, mereka baru mencukupi untuk kalangan ormas saja, bukan masyarakat.

Pengetahuan agama imam masjid di masyarakat menjadi catatan untuk melakukan perbaikan kualitas. Ini penting dilakukan. Sebab, kata Irfan, imam masjid sering dijadikan tempat mengadu dan mencari solusi oleh masyarakat. 

Saling Mendoakan

Oleh Ustaz Yusuf Mansur

Jika kita ingin meminta kebahagiaan, kesehatan, kesenangan, rezeki berupa uang, pekerjaan, rumah tangga, anak-anak keturunan yang saleh salehah, lagi sehat-sehat, panjang umur, maka mintalah bukan hanya untuk diri kita.
Tapi juga untuk semua manusia di jagad alam ini. Kalo perlu, ketika bicara rezeki, minta buat seluruh penghuni alam semesta.

Ya, hanya dengan menambahkan sedikit kalimat, kita bakal menangguk kebaikan yang bukan main banyaknya. Energi doa buat yang lain, baliknya segede, seluas, sebanyak, sebaik, doa-doa yang kita panjatkan untuk yang lain.

Apalagi Islam memberi penilaian spesial, pahala dan kebaikan tambahan. Bahwa di setiap doa untuk semua mukmin mukminah, muslim muslimah, maka tiap satu orang tersebut, dihitung sebagai sedekah. Sedang setiap sedekah, diganjar 10 kali hingga 700 kali lipat.

Bayangkan ketika kita mendoakan dua milyar penduduk muslim? Itu akan bertambah-tambah, misalnya, ketika kita menyebut doa kita untuk semua muslim muslimah di semua zaman hingga akhir zaman. Masya Allah jumlahnya. 

Ditambah lagi jika mau memohonkan kebaikan untuk semua manusia, misalnya untuk kesehatan, keamanan,  keselamatan, yang tentunya boleh, plus bagi semua makhluk di muka bumi. 

Allahu akbar. Untuk pepohonan, dedaunan, pasir, air, udara... Bisa juga kita doakan, agar misalnya, amal tasbih penghuni alam diterima.

Malaikat-malaikat, yang pastinya diterima tasbih dan zikirnya, bisa juga kita doakan agar diterima Allah amal-amalnya. Para nabi, para rasul, para alim ulama, hingga ulama-ulama akhir zaman, kita doakan pula. 

Allahu akbar, betapa dahsyatnya kebaikan yang kembali buat kita. Secara kita doakan saja Rasul kita, Nabi kita, Muhammad shalla 'alaih, udahnggak keruan banyaknya kebaikan, ini semua nabi.

Ya, pokoknya saat berdoa, lebarin, luasin, panjangin, banyakin, buat orang lain dan alam, di luar diri kita dan keluarga kita.

Hingga satu pagi, santri-santri Daarul Qur'an, ketika ditanya, "Gimana ananda berdoa saat mau mengerjakan ujian di hari ujian?". Jawabannya, menggembirakan. Buah dari pengajaran dan pengasuhan ustadz ustadzah di pondok.

Jawabannya, "Yaa Allah, ampuni saya, dan semua santri di Daarul Qur'an, berikut semua pengasuh, pengurus, pesantren, dan keluarga besarnya kami semua. Ampuni seluruh keluarga besar pesantren lain sedunia-Mu. Mudahkan saya, dan kawan-kawan sepesantren Daarul Qur'an, dan seluruh pesantren di seluruh dunia-Mu. Berikan kebaikan buat yang bikin soal, yang ngawasin, yang mereksa, yang nilai. Dan berikan kemudahan dan kesuksesan ujian dan penyelenggaraan ujian, di ujian-ujian berikutnya, dari santri-santri yang datang setelah kami hingga akhir zaman nanti..."

Subhaanallaah... Terasa kepedulian dan kebersamaannyan bahkan ketika masih berwujud doa. Mudah-mudahan juga nanti di amal-amal salehnya, di rizkinya, juga bukan untuk dirinya sendiri saja. Tapi untuk alam semesta dan seisinya.

Kiranya, mulai sekarang, kalau minta sembuh dari flu, batuk, doanyadilebarin, diluasin, dipanjangin... "Sembuhkanlah flu saya, dan flunya mereka-mereka yang flu. Juga flunya yang flu yang menimpa orang-orang kemudian...". 
Hingga bila flu itu menimpa orang lain, maka kebaikan mengalir buat beliau yang flu, dan mengalir balik ke kita. Bayangkan itu. Kembangkan lagi di semua urusan doa dan mendoakan.

Pandai Bersyukur

Oleh: Ustaz Ahmad Dzaki, MA 
Allah SWT berfirman dalam Alquran yang artinya, “Jika kalian bersyukur atas nikmat-Ku, maka Aku akan tambahkan nikmat tersebut kepada kalian, dan jika kalian kufur maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Mensyukuri nikmat Allah SWT adalah keharusan yang dilakukan manusia, karena sangatlah banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia.

Biasanya kita bersyukur kepada Allah SWT kalau dapat uang, kita pun mengucapkan Alhamdulillah. Atau tatkala jabatan di kantor naik, barulah kita mengucap syukur kepada Allah SWT. 

Sangat disayangkan, hingga saat ini yang ada dalam benak kita, rezeki Allah itu identik dengan harta, jabatan, kedudukan dan hal-hal materi lainnya.

Bahkan ada seorang hamba Allah yang merasa sangatlah miskin karena tidak punya uang, tidak punya kendaraan dan tidak punya rumah mewah. Dia merasa sangatlah miskin.

Setiap hari yang ia lakukan adalah mengeluh atas kondisinya. Yang dia inginkan adalah harta, uang, kekayaan dan lain sebagainya. Baginya, rezeki itu adalah uang, harta dan kekayaan.

Suatu malam dia bermimpi bertemu orang kaya. Dia meminta sejumlah uang. Orang kaya itu pun berkata, “Baiklah, saya akan berikan kepadamu Rp 50 juta, tapi kamu harus memotong dan menyerahkan kepada saya tangan kananmu.” 

Mendengar itu, si miskin menjawab, “Saya tidak mau. Buat apa saya punya uang Rp 50 juta tapi tangan saya buntung.”
Orang kaya itu menaikkan tawarannya, “Baiklah kalau kamu tidak mau, saya akan beri kamu uang Rp 100 juta tapi kamu harus memotong kakimu sebelah kiri dan menyerahkannya kepada saya.”  

Si miskin dengan tegas menjawab, “Saya tidak mau. Buat apa punya uang Rp 100 juta tapi kaki saya buntung?”
Mendengar jawaban si miskin, orang kaya itu pun menaikkan tawarannya “Baiklah, saya naikkan tawaran saya, kamu akan saya beri uang Rp 200 juta, tapi congkel kedua matamu dan serahkan kepada saya.” 

Mendengar itu, lagi-lagi si miskin berkata, “Buat apa saya punya uang Rp 200 juta tapi mata saya buta? Saya tidak mau,“ kata si miskin tegas.

Setelah tiga tawaran yang diajukan, orang kaya itu berkata, “Lantas, untuk apa kamu mengeluh terus menerus, tidak punya uang, tidak punya harta dan kekayaan? Bukankah dalam dirimu sudah kaya sekali? Bersyukurlah kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan.” 

Mendengar penjelasan tersebut, si miskin terbangun dari tidurnya. Ia langsung beristighfar menyadari akan kekeliruannya selama ini.

Nikmat yang Allah berikan kepada umat manusia sangatlah banyak. Mulai dari nikmat sehat, nikmat iman dan nikmat islam. Semuanya itu jika dihitung, tidak akan pernah bisa dihitung.

Cobalah sejenak kita hitung dan renungkan berbagai nikmat Allah SWT mulai dari nikmat bangun tidur, nikmat bisa melaksanakan shalat Subuh berjamaah di masjid, nikmat membaca Alqur’an di pagi hari, nikmat bisa menghirup udara segar dan nikmat bisa melihat matahari pagi.

Juga nikmat bisa berolahraga, nikmat sarapan pagi, nikmat berangkat ke kantor, nikmat mengendarai kendaraan, nikmat selamat sampai di kantor, nikmat bisa kembali ke rumah dengan selamat, nikmat memiliki istri dan anak-anak yang shaleh.

Nikmat dan karunia yang Allah SWT berikan kepada kita, tidak selalu berupa uang, melainkan berupa hal-hal lain yang nilainya sangat mahal. 

Perbanyaklah bersyukur kepada Allah SWT agar kita semua menjadiabdan syakuro (hamba yang pandai dan selalu bersyukur) atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Amin. Wallahu 'alami bish shawab.

Para Orientalis Barat Salah Memahami Alquran

Oleh DR M Masri Muadz MSc (Penulis BukuParadigma Al-Fatihah)

Alquran adalah Firman Allah SWT yang memiliki ciri-cirinya sendiri sebagai teks suci. Yang berbeda dengan ciri-ciri umum sebuah buku karangan manusia. Di antara ciri-ciri yang hanya dimiliki Alquran antara lain:
 
Pertama, Alquran menggunakan bahasa Arab, yang tidak hanya menulis alphabetnya dari kanan ke kiri, tapi juga menulis angka numeriknya dari kiri ke kanan.
 
Kedua, Alquran mengatur penulisan teksnya, tidak berdasarkan urutan turunnya ayat atau surahnya, tetapi berdasarkan perintah langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW Utusan-Nya.
 
Ketiga, Alquran menggunakan kata ganti untuk Diri Allah SWT, tidak hanya menggunakan kata ganti Saya (Ana), tapi juga menggunakan kata ganti Kami (Nahnu)  dan Dia (Huwa).
 
Keempat, Alquran menggunakan gramatika bahasa, yang dalam struktur kata atau ayatnya, tidak hanya bisa merujuk pada makna kata atau makna ayat sebelumnya (di belakangnya), tapi juga bisa merujuk kepada makna kata atau ayat sesudahnya (di depannya).
 
Kelima, Alquran menyampaikan pesan tauhid sebagai pesan intinya, tidak hanya menggunakan pendekatan deskriptif, tapi juga pendekatan matematis dalam struktur bangunan ayat dan surahnya.

Keenam, Alquran menyampaikan keseluruhan deskripsi kandungan isinya, tidak hanya  dalam 114 surah, tapi juga menyampaikan deskripsi keseluruhan isinya dalam  kapsulasi satu surah.
 
Ketujuh, Alquran dalam menguraikan pesan  tauhid, tidak hanya dengan menggunakan sebanyak 323.671 huruf, tapi juga menyampaikan pesan tauhid itu dalam kondensasi satu huruf.

Kedelapan, Alquran tidak hanya dapat dibaca dan dipahami makna ajaran yang dikandungannya, tapi juga dapat dihafal keseluruhan teksnya yang terdiri dari 114 surah, yang dicetak dalam sekitar 700 halaman.
 
Kesembilan, Alquran tidak hanya dapat dilombakan dalam penguasaan kandungan maknanya, tapi juga dapat dilombakan dalam penguasaan keindahan nada bacaannya.
 
Kesepuluh, Alquran bila dipelajari dengan niat yang tulus dan jujur, tidak hanya akan memperoleh pemahaman tentang makna  pesan-pesan yang dikandungnya, tapi juga akan mendapatkan hidayah keimanan, sehingga menjadi Muslim setelah memahaminya.

Kesebelas, Alquran tidak hanya memerintahkan manusia untuk berpikir tentang keseluruhan sistem kehidupan ciptaan-Nya, tapi juga memberikan contoh pendekatan sistem dalam menguraikan detil pesan-pesannya.

Itulah di antara ciri-ciri yang khas dimiliki Alquran, firman Allah SWT, sebagai petunjuk bagi kehidupan seluruh umat-Nya. Karena itu, siapa saja yang ingin mempelajari Alquran secara serius dan mendalam, perlu menyadari terlebih dahulu bahwa Alquran adalah sebuah Buku Bacaan yang khas (unik) dilihat dari pengaturan penulisan, bahasa, komposisi, ketelitian, tema, isi, penyampaian, keaslian, kesucian dan dampak yang ditimbulkannya. 

Sehingga, perlu menyadari sejak awal, bahwa berpegang pada konsep sebuah buku biasa yang dipahami selama ini, tidak akan menolong. Bahkan boleh jadi akan menghambat, untuk pencapaian pemahaman yang utuh dan benar tentang kandungan Alquran. 

Dan di sinilah letak kesalahan mendasar dari para orientalis Barat dalam memahami makna Alquran, selama ini. Mereka (para orientalis) mempelajari Alquran sebagai sebuah buku biasa, dengan ciri-ciri buku pada umumnya yang mereka pahami. Maka, hasil studi mereka sudah dapat diduga, bukanlah suatu pemahaman yang benar tentang kandungan Alquran. 

Bahkan sangat disesalkan, tanpa mereka sadari dan mau mengerti, apa yang dihasilkan para orientalis adalah kesimpulan-kesimpulan dan kritik-kritik yang salah, sehingga menyesatkan orang banyak tentang Alquran. 
           
Maka, untuk mempelajari dan memahami kandungan makna Alquran, perlu diawali dengan pendekatan dan niat yang tulus dan jujur. Ketulusan dan kejujuran dalam berusaha memahami secara optimal ilmu dan hikmah yang dikandung Alquran, dengan memosisikan Alquran secara benar, yaitu sebagai kitab suci, firman Allah SWT. Karena tidak ada yang mengetahui secara persis kandungan ilmu dan hikmah Alquran, selain Allah SWT sendiri. 

Tugas kita adalah berupaya optimal agar pemahaman kita bisa mendekati makna yang sesungguhnya. Dengan tujuan agar ilmu dan hikmah Alquran yang kita pahami, dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas zikir dan syukur, shalat dan doa kita, sehingga dapat semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya. 

Allah ‘Alamu Bishshawab

Bersiap Menjadi Pemimpin

oleh: Ustaz Arifin Ilham
Beruntung orang yang beriman. Tapi, jika hanya iman jelas tidaklah cukup. Karena itu, cukupkanlah dengan amal saleh. Tapi sayang, pesan Alquran dalam surah al-'Ashr, iman dan amal saleh masih dianggap belum cukup; kecuali diiringi dengan upaya saling mengingatkan kepada kebaikan dan kesabaran.

Pesan moral Alquran dalam surah ke-103 ini melandasi atas pentingnya nilai-nilai yang disebut di atas. Bahkan atas dasar itu, Allah SWT harus turut bersumpah dengan atas nama makhluk-Nya yang bernama 'waktu' (al-'Ashr). Ada hasrat Allah yang tersurat, yaitu ingin semua manusia berada dalam keberuntungan hidup bukan justru berkubang dalam sumur kerugiaan. 

Nah, untuk menyebut supaya kita tidak didera kerugiaan (lafii khusrin), upaya memupuk keimanan dan amal saleh harus juga disertai dengan usaha saling mengingatkan kepada kebaikan dan kesabaran. Mengapa harus iman? Karena, ia adalah fondasi; hal yang fundamental dalam membangun sikap keberagamaan manusia. 

Iman yang menyebabkan rasa aman, damai, dan tenang dalam menapak di planet kehidupan. Iman pula yang menghadirkan rasa tanggung jawab (amanah) dalam hidup. Karena iman, ia akan dipercaya (amin) dan dalam setiap rangkaian harap dan doa akan sangat didengar (amin). Ada keselamatan dan bimbingan keberuntungan hidup dengan kita beriman. 

Surah an-Nisa, ayat 138 menyebutkan, “Barang siapa yang tidak beriman (kufur) kepada Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, dan Hari Akhir maka ia tersesat dengan kesesatan yang jauh.” Lalu, mengapa kita harus beramal saleh dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran? Karena, di hampir semua ayat dalam Alquran kata iman selalu digandeng dengan kata amal saleh. 

Kalau iman banyak berhubungan dengan garis vertikal, amal saleh dan kebajikan lain lebih sering berkaitan dengan sesuatu yang horizontal. Kedua konsep ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu dari keduanya tiada maka kesempurnaan dari salah satunya akan berkurang. 

Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW, “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR Ath-Thabrani). Seperti dalam firman-Nya, “Dan, orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2]: 82).

Hal luar biasa adalah yang disebut dalam surah an-Nuur, bahwa Allah menjanjikan satu keadaan yang istimewa saat nilai keimanan dan amal saleh telah dihidupkan. Apalagi, sampai upaya luhur saling memberi nasihat kepada kebaikan dan kesabaran terus diciptakan. Pendeklarasian Allah, yaitu, “Bersiaplah untuk menjadi pemimpin di muka bumi!”

“Dan, Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan  yang beramal saleh, bahwa sungguh mereka akan 'memimpin' di muka bumi, sebagaimana orang-orang yang terdahulu sebelum mereka telah memimpin, dan sungguh Allah akan meneguhkan kedudukan agama mereka yang telah diridai oleh Allah untuk mereka. Juga akan diubah keadaan mereka oleh Allah sesudah mereka merasa ketakutan menjadi aman sentosa ...” (QS an-Nuur : 55).

Subhanallah, langkah strategis saat 'syahwat' memimpin sedang menggelayuti kita. Tidak harus berburu apalagi saling sikut. Kita hanya cukup bersiap dengan upaya menanamkan iman, amal saleh, dan terus berupaya saling menasihati kepada kebaikan dan kesabaran. 

Ujian Hidup

Oleh: Ustaz Arifin Ilham
Dalam menghadapi kehidupan di dunia ini, manusia selalu berhadapan dengan dua keadaan silih berganti. Suatu saat merasakan suka, saat lain merasakan duka. Pada saat bahagia, terkadang manusia menjadi lupa. Sebaliknya, saat duka mendera, seringkali manusia berkeluh kesah.

Bagi hamba Allah SWT yang beriman, hidup adalah ujian. Selama hidup, selama itulah kita diuji Allah SWT. ''Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.'' (QS Al-Mulk [67]: 2).

Minimal ada tujuh ujian hidup yang wajib kita ketahui. Insya Allah, Allah SWT luruskan dari ujian-ujian-Nya, sehingga meraih gelar shobirin dan mujahidin. ''Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu.'' (QS Muhammad [47]: 31).

Pertama, ujian berupa perintah Allah, seperti Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT menyembelih putra tercintanya bernama Ismail. Kedua, ujian larangan Allah SWT, seperti larangan berzina, korupsi, membunuh, merampok, mencuri, sogok-menyogok, dan segala kemaksiatan serta kezaliman.

Ketiga, ujian berupa musibah. ''Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.'' (QS Al-Baqarah [2]: 155). Keempat, ujian nikmat, sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Kahfi ayat 7. ''Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami uji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.''

Kelima, ujian dari orang zalim buat kita, baik kafirun (orang yang tidak beragama Islam), musyrikun (menyekutukan Allah SWT), munafiqun, jahilun (bodoh), fasiqun (menentang syariat Allah), maupu hasidun (dengki, iri hati). Keenam, ujian keluarga, suami, istri, dan anak. Keluarga yang kita cintai bisa menjadi musuh kita karena kedurhakaanya kepada Allah SWT. Ketujuh, ujian lingkungan, tetangga, pergaulan, tempat dan suasana kerja, termasuk sistem pemerintahan/negara.

Subhanallah, Allah SWT amat sayang kepada kita. Allah SWT tunjukkan cara menjawab ujian itu semua. ''Dan minta pertolonganlah kamu dengan kesabaran dan dengan shalat, dan sesungguhnya shalat sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk tunduk jiwanya.'' (QS Al-Baqarah [2]: 48). Semoga kita dijadikan Allah SWT, hamba-Nya yang lulus dari ujian. Amin ya mujibas sailin.

Manajemen Pengendalian Diri

Oleh Muhbib Abdul Wahab
Pada suatu hari Khalid bin al-Walid, Bilal bin Rabah, Abu Dzarr al-Ghifari, dan Abdurrahman bin 'Auf  berdiskusi mengenai strategi perang. 

Diskusi yang tidak dihadiri Nabi Muhammad SAW ini meruncing, karena masing-masing tidak dapat mengendalikan diri, saling emosi dan ngotot mempertahankan pendapatnya. Usulan Abu Dzarr dinilai salah oleh Bilal. 

Abu Dzarr tidak terima dan menyatakan: "Hai Negro, engkau telah berani menyalahkan pendapatku!". Bilal pun marah dan bersumpah akan mengadukan penghinaan Abu Dzarr itu kepada Nabi SAW.
    
Bilal kemudian meninggalkan tempat menuju rumah Nabi SAW. “Wahai Rasulullah, aku baru saja menerima perlakuan diskrimitif dari Abu Dzarr. Aku dibilang negro,” tutur Bilal kepada Nabi SAW. Seketika wajah Nabi SAW tampak memerah mendengar pengaduan itu. 

Berita pengaduan ini pun akhirnya sampai kepada Abu Dzarr, sehingga ia bergegas menemui Nabi SAW di masjid Nabawi. "Wahai Abu Dzarr, engkau telah melakukan diskriminasi dengan menghina ibunya (Bilal). Sungguh dalam dirimu masih tertanam sifat jahiliyah," kata Nabi kepadanya. 
     
Mendengar nasehat Nabi SAW tersebut Abu Dzarr menangis, dan memohon kepada Nabi SAW agar memintakan ampun kepada Allah SWT. Ia menyesali tindakan diskriminatifnya. Ia berjanji di hadapan Nabi SAW untuk tidak mengulanginya, dan segera  memohon maaf kepada Bilal. 
    
Setelah itu, Abu Dzarr keluar dari masjid menemui Bilal sambil merangkak menempelkan pipinya di tanah. "Wahai Bilal, aku tidak akan mengangkat pipiku sebelum aku mencium kakimu. Engkau sungguh mulia, akulah orang yang terhina," seru Abu Dzarr sambil sesunggukan.
     
Melihat sikap penyesalan Abu Dzarr, Bilal pun menitikkan air mata, lalu mengulurkan tangannya kepada tangan Abu Dzarr agar berdiri. Keduanya kemudian berpelukan dan saling menangis: menyesali apa yang telah terjadi. 
    
Kisah tersebut sarat dengan pesan moral mengenai pentingnya manajemen pengendalian diri, terutama berinteraksi dengan sesama dan dalam situasi penuh perbedaan pendapat. 

Sebab, jika tidak dikelola dan dikendalikan dengan baik, seseorang akan mudah marah. Marah yang berlebihan dapat menyebabkan kehilanganakal sehat dan cenderung bertindak bodoh: menghina, diskriminasi, caci maki, anarki, dan sebagainya.
     
Karena itu, ketika ada seseorang menemui dan meminta wasiatnya, Nabi SAW menyatakan: "Janganlah engkau marah". Orang itu mengulangi lagi permintaannya sampai beberapa kali, Nabi SAW tetap menjawab sama: "Jangan marah!" (HR. al-Bukhari dan Muslim). 

Ketidakmampuan mengendalikan diri berupa kemarahan itu ibarat bara api yang menyala dalam hati. Jika tidak dipadamkan, maka bara itu akan membakar dan menjerumuskan orang yang marah itu dalam kenistaan dan kehinaan.
      
Manajemen pengendalian diri dapat diaktualisasikan dengan beberapa tuntutan Nabi SAW berikut. Pertama, ketika mulai emosi dalam menghadapi suatu masalah atau kondisi, ucapkanlah a'udzu billahi minasy syaithanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)

Kedua, sabda Nabi SAW: "Apabila salah seorang di antara kamu marah, segeralah berwudhu karena marah itu ibarat api." (HR Abu Daud). "Marah itu karena setan, sedangkan setan itu diciptakan dari api. Api hanya bisa dipadamkan dengan air. Karena itu, jika engkau marah, berwudhulah."(HR Abu Daud). 

Ketiga, menurut riwayat Abu Hurairah, jika Nabi SAW marah dalam posisi berdiri, beliau lalu duduk. Ketika marah dalam posisi duduk, beliau kemudian berbaring, maka hilanglah marahnya." (HR. Ahmad dan at-Turmudzi). 

Keempat, seperti dilakukan oleh Abu Dzarr, segerahlah beristighfar kepada Allah dan memohon maaf kepada yang dimarahi atau dihina, agar bara emosi itu padam, dan pengendalian diri menjadi lebih stabil, tenang, dan menjadi pribadi yang menyenangkan.

Kelima, pembiasaan puasa sunnah untuk lebih dapat mengendalikan diri, menstabilkan emosi, dan meredam gejolak nafsu amarah yang berlebihan. Karena puasa merupakan salah satu solusi pengendalian diri yang paling efektif. Wallahu a’lam bish-shawab! 

Ringan Memberi

Oleh: Ali Farkhan Tsani

Suatu hari, seorang lelaki datang meminta-minta ke rumah Rasulullah SAW. Tidak berapa lama, Rasul keluar untuk memberi bekal kepada orang tersebut. Keesokan harinya, laki-laki peminta-minta itu datang lagi, Rasulullah juga memberinya lagi.

Keesokan harinya, datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya lagi. Keesokan harinya, ia datang kembali untuk meminta-minta. 

Kali ini Rasulullah berkata, “Aku sudah tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku akan membayarnya.

Melihat kedermawanan tersebut, sahabat Umar bin Khattab lalu berkata, “Wahai Rasulullah, janganlah memberi di luar batas kemampuan engkau.” Rasulullah rupanya tidak terlalu menyukai perkataan Umar tadi.

Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari sahabat Anshar menghampiri Rasulullah sambil berseru, “Wahai Rasulullah, janganlah engkau takut untuk terus memberi sedekah. Janganlah engkau khawatir dengan kemiskinan.” 

Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah tersenyum, seraya berkata kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku.” (HR Turmudzi).

Begitulah, Rasulullah merupakan figur makhluk termulia, manusia paling dermawan, paling pemaaf, murah senyum, dan penuh kasih sayang terhadap umatnya. 

Telapak tangannya dipenuhi curahan kebaikan. Air kedermawanan mengucur dari bukit kebaikannya. Beliau suka memberi, sosok insan yang gemar bersedekah tanpa pernah takut akan kefakiran dan kemiskinan menimpa dirinya.

Apalagi, ketika Ramadhan tiba. Kecepatan beliau dalam bersedekah melebihi kecepatan embusan angin. Begitu cepatnya dan begitu seketika tanpa perhitungan lagi. Wusss … begitu ada yang minta, kasih. Begitu ada yang memerlukan, beliau beri.

Begitu ada yang perlu pertolongan, beliau bantu. Bahkan, sebelum meminta pun beliau begitu perhatian dan penuh kepedulian.
Hingga, sahabat Anas bin Malik memberikan kesaksiannya, “Rasul belum pernah menolak permintaan seseorang demi tegaknya Islam.” (HR Muslim).

Sahabat Jabir bin Abdullah pun berujar, “Sekali saja tidak pernah Rasulullah mengatakan tidak untuk menolak permintaan orang.” (HR Bukhari Muslim). Rasul adalah pemimpin rumah tangga yang senantiasa menyediakan hidangan di rumahnya untuk dhuafa, tetangga, dan tamu.

Beliaulah yang mengajari kita memperbanyak kuah sayur untuk berbagi dengan sesama tetangga. Pantaslah kalau beliau mengingatkan kita dalam sabdanya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia muliakan tetangganya dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pada hadis lainnya, beliau mengatakan, "Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah, Dia mencintai akhlak yang tinggi dan membenci akhlak yang rendah.” (HR Baihaqi).

Kita saja yang kadang atau malah sering kali terlalu sayang memegang uang, sehingga lupa berbagi kepada yang meminta atau memerlukan. Kita berangapan harta itu milik kita pribadi. Padahal, hakikatnya itu titipan Allah yang dipercayakan kepada kita.

The World Its Mine