Senin, 02 April 2018

Menutup Aurat ..

Aurat (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Nur Farida

Suatu ketika, Rasulullah ditanya oleh seorang laki-laki, "Wahai Rasulullah, apa yang seharusnya kami lakukan dan apa yang harus kami jauhi dari masalah aurat?" Mendengar pertanyaan ini, Rasulullah SAW kemudian menjawab, "Peliharalah auratmu kecuali kepada istri-istrimu dan para budak yang ada dalam penguasaanmu."

Laki-laki itu bertanya lagi, "Lalu, bagaimanakah jika antara dua orang laki-laki?" Rasulullah menjawab, "Kalau engkau mampu untuk tidak melihatnya (melihat auratnya) maka lakukanlah." Laki-laki itu bertanya lagi, "Lalu, kalau ia dalam keadaan sendiri?" Untuk yang terakhir kalinya Rasulullah menjawab, "Kalau demikian, maka Allah lebih berhak untuk dimalui." (HR at-Tirmidzi).

Dalam kitab Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, aurat diartikan sebagai anggota badan yang tidak boleh ditampakkan dan diperlihatkan oleh laki-laki atau perempuan kepada orang lain. Islam sangat menekankan agar aurat ditutup dan tidak diumbar ke khalayak umum. Selain untuk menjaga kehormatan, juga bentuk proteksi terhadap orang bersangkutan dari hal-hal buruk.

Allah berfirman, "Katakanlah kepada orang laki-laki beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.' Katakanlah kepada wanita beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka atau wanitawanita Muslim atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.'" (QS an-Nur [24]: 31).

Dalam hadis lain, Rasulullah pernah menegur Asma binti Abu Bakar ketika beliau datang ke rumah Nabi dengan mengenakan busana yang agak tipis. Beliau pun memalingkan mukanya sambil berkata, "Wahai Asma! Sesungguhnya, wanita jika sudah baligh maka tidak boleh tampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan)." (HR Abu Dawud dan al-Baihaqi).

Inilah pesan yang ingin disampaikan oleh Rasulullah kepada seluruh umat manusia untuk berperilaku dan berbuat dalam kehidupan sosialnya sebagai manusia yang bermoral, bukan manusia yang tidak mengenal sama sekali apa itu adab, apa itu moral, yang dipikirkan hanya bagaimana untuk makan dan kejayaan walaupun itu ditempuh dengan cara-cara yang amoral. Atau, demi kebanggaan yang sesungguhnya membahayakan dirinya sendiri. Allah menyuruh laki-laki menahan pandangan dan pada saat yang sama menyuruh wanita untuk menutup aurat. Inilah keadilan dan keindahan Islam agar tercipta kemaslahatan bersama dan terhindar dari kemudaratan.

Oleh karena itu, sangat mengherankan ketika ada yang melarang perempuan Muslimah untuk menutup aurat, baik itu dengan kerudung, hijab, cadar, atau yang lainnya, sementara pada saat yang sama malah menoleransi penampilan vulgar atau transparan.

Menutup aurat adalah ajaran Islam, tidak hanya sebagai bentuk ibadah terhadap Allah, tetapi juga akhlak, adab, atau etika dalam kehidupan sosial. Menutup aurat sejatinya menjaga orang bersangkutan dari hal-hal buruk atau negatif, baik itu yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Ada prinsip yang mengatakan, mencegah lebih baik daripada mengobati. Menutup aurat adalah salah satu upaya preventif yang efektif. Wallahu a'lam.

Karakter Pemimpin Ideal ..

Ilustrasi Pemimpin

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Syukur

Muhammad bin Amru bin Ash, putra Amru bin Ash, pernah mencambuk seorang warga Mesir seraya berkata, “Terimalah ini, saya adalah anak keturunan orang-orang mulia.” Amru bin Ash selaku gubernur Mesir terpaksa memenjarakan warga Mesir yang dipukul anaknya agar tidak melapor kepada Amirul Mukminin Umar.

Namun, orang itu melarikan diri dari penjara dan pergi ke Madinah untuk menemui Umar. Setelah bertemu Umar, orang itu disuruh menunggu oleh Umar sampai Amru bin Ash dan anaknya yang didatangkan dari Mesir tiba di Madinah.

Sesampainya di Madinah, Amru dan anaknya langsung dihadapkan ke sidang pengadilan tindak pidana setelah keduanya masuk ruang sidang. Umar memerintahkan orang Mesir yang menjadi korban kekerasan itu untuk mengambil cambuk, “Ambil cambuk dan cambuklah anak keturunan orang mulia itu!”

Orang Mesir itu pun mencambuk Muhammad bin Amru sampai kelelahan, tetapi Umar tetap menyuruhnya, “Cambuklah anak keturunan orang mulia itu!” Setelah selesai memukul Muhammad bin Amru, orang Mesir itu mendekati Umar hendak mengembalikan cambuk, tetapi Umar berkata kepadanya, “Lingkarkan cambuk itu di atas kepala Amru yang botak, karena kedudukannyalah anaknya berani memukul Anda!” Saat itu Amru berkata, “Amirul Mukminin, sudah Anda penuhi dan sudah Anda balas sepuas-puasnya.”

Orang Mesir itu kemudian berkata, “Amirul Mukminin! Orang yang memukul saya sudah saya pukul.” Amru berkata dengan lirih, “Sungguh, jika Anda pukul dia, saya tidak akan menghalanginya sebelum Anda sendiri yang meninggalkannya.”

Umar lantas menoleh kepada Amru dan berkata, “Amru! Sejak kapan Anda memperbudak orang lain, padahal ibunya melahirkannya sebagai orang merdeka?”

Ketegasan dan keberanian seperti yang dimiliki Umar ini pantas menjadi pelajaran dari kisah ini, bahwa masing-masing warga negara tidak boleh dianiaya oleh siapa pun, termasuk oleh pemimpinnya sendiri. Dan merupakan hak mereka untuk mendapatkan keadilan yang sama di hadapan hukum.

Pelajaran lainnya adalah bahwa pemimpin tertinggi suatu pemerintahan harus berani bertanggung jawab terhadap semua tindak tanduk anak buahnya, bahkan harus tegas dan berani menghukum mereka ketika mereka melakukan pelanggaran hukum.

Seorang pemimpin akan menjadi tegas bila memiliki beberapa syarat. Di antaranya, pertama, melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar sehingga tidak akan ada celah bagi kawan maupun lawan untuk menentang perintah dan keputusannya.

Kedua, tidak takut kecuali kepada Allah SWT. Orang yang hanya takut kepada Allah tidak akan takut kepada siapa pun, baik kepada anak buahnya, rakyatnya, bahkan instansi lain yang bisa menanggalkan jabatannya.

Ketiga, seorang pemimpin bisa tegas jika ia tidak takut kehilangan jabatannya. Pemimpin seperti ini bisa memutuskan perkara sesuai dengan standar kebenaran dan bisikan hati nuraninya, bukan berdasarkan kepentingan orang-orang dekatnya. Bukan pula berdasarkan intrik-intrik politik para elite yang ada di belakangnya.

Dalam momen mendekati pilkada seperti sekarang ini, kita perlu selektif mencari figur pemimpin yang benar-benar ideal, tegas, dan bertanggung jawab sebagaimana dicontohkan Umar bin Khattab.

Berkah dalah Keberlimpahan ..

Berbuat ikhlas agar umat Islam tidak menjadi umat penyembah berhala. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi

Sering kali manusia silau dengan apa-apa yang melekat dalam kehidupan seseorang, umumnya karena dua hal, yakni kekuasaan dan harta.

Lalu, Qarun lengkap dengan segala perhiasannya keluar rumah menemui kaumnya. Kala itu orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia terkagum-kagum dan berkata: 'mudah-mudahan kita diberi kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun, sejatinya ia adalah orang yang benar-benar mendapat keberuntungan besar'. (QS al-Qashas [28]:79).

Ayat di atas memberikan penjelasan penting bahwa manusia kerap salah mengorientasikan hi dup, rata-rata menilai harta kekayaan sebagai sum ber kebahagiaan. Karena itu, orang yang memiliki kekayaan banyak dinilai sebagai orang yang beruntung.

Adanya orang kaya itu perlu, tetapi menilai kekayaan sebagai keberuntungan itu jelas keliru. Pada dasarnya, keberuntungan hidup seorang Muslim bukan pada apa yang ada atau apa yang Allah titipkan kepadanya, melainkan apa yang ia kerjakan dalam kehidupan fana ini.

Jika harta kekayaan menjadikan seseorang bersikap seperti Khadijah ra, Abu Bakar ra, Utsman bin Affan ra, dan Abdurrahman bin Auf ra, insya Allah kekayaan sangatlah baik bahkan berkah. Tetapi, jika seperti Qarun, hidup semakin jauh dari keberkahan, bahkan Allah tenggelamkan ia bersama seluruh harta kekayaannya. (QS. 28: 81).

Lantas apa yang harus diupayakan oleh kaum Muslimin dalam kehidupannya, tidak lain adalah bagaimana mendapatkan hidup berkah. Secara bahasa, berkah berasal dari kata barakayabruku- burukan-wa barakatan, yang berarti kenikmatan dan kebahagiaan. Ibn Abbas ra menyatakan, berkah adalah keberlimpahan dalam setiap kebaikan. Tentu saja yang didasari iman dan takwa.

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada me reka berkah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa me re ka disebabkan perbuatannya.(QS al-A'raaf [7] : 96).

Dengan demikian, hidup berkah berarti hidup yang senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah, sehingga seseorang senantiasa diberi ke mam puan mengatasi masalah, hidup teratur dalam ibadah, mampu membangun keluarga sakinah, memberikan kemanfaatan bagi orang lain dan mendapatkan rezeki yang halal lagi baik (thayyiban).

Semua itu tidak akan diperoleh, kecuali oleh orang yang benar-benar beriman, bertakwa, dan beramal shaleh, serta tunduk dan patuh terhadap segala ketentuan-Nya.

Artinya, hidup berkah membuahkan jiwa tauhid yang kuat, akidah yang kokoh, senantiasa ikhlas dan ridha dengan apa yang Allah tetapkan dalam hidupnya, serta ia benar-benar yakin dan mantap menja lani kehidupan yang semata-mata berorientasi mendapatkan ridha-Nya.

Indikasi konkretnya dapat kita lihat dalam diri masing-masing, apakah kala diri semakin pintar, semakin cerdas, semakin bertambah kekayaan, kita menjadi diri yang kian rajin sujud, semakin bisa menghargai orang lain, bahkan lebih jauh apakah kita semakin peduli terhadap agama dan semakin terdepan dalam mengatasi berbagai problematika kehidupan umat manusia. Allahu a'lam.

Amal Butuh Modal, Apa Itu?

berinfak melalui kotak amal di masjid. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, -- Amal saleh sesungguhnya ada lah alam (nature) manusia. Menurut fitrahnya, manusia suka pada kebaikan yang merupakan alam manusia. Lawannya, yakni keburukan dengan sendirinya tidak bersifat manusiawi, dalam arti tidak berguna dan tidak sesuai dengan alam dan kemuliaan manusia. "Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, ada pun yang mem beri manfaat kepada manu sia, maka ia tetap di bumi.'' (QS ar- Ra'd: 17).

Amal saleh dikerjakan tidak untuk Tuhan, tetapi untuk ke baikan manusia itu sendiri baik di dunia maupun di akhirat. Orang yang sudah berbuat baik janganlah merasa sudah berbuat baik untuk Tuhan. Tak hanya itu, amal saleh juga disebut mendorong ter kabulnya doa. Prinsip ini didasar kan pada ayat berikut. "Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya. Kepa da-Nyalah naik perkataan-per kataan yang baik dan amal yang saleh dinaik kan-Nya.'' (QS Fa thir: 10).

Meski amal disebut sebagai fitrah, butuh niat dari hati yang bersih untuk melakukan itu se mua. Rasulullah SAW bersabda, setiap perbuatan bergantung pada niat nya. Setiap orang akan dibalas berdasar kan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hij rah nya karena Allah dan rasul- Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barang sia pa yang hijrah ka rena dunia yang dikehendaki atau wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya sebagaimana apa yang diniatkan.
Amal butuh modal berupa niat. Sebuah niat akan menentukan kualitas amal seseorang. Dalam fikih, niat bisa menentu kan kadar sah atau tidaknya iba dah seseorang. Ke tika seseorang memakai gelar haji se lepas pu lang dari Makkah, hukumnya bah kan bisa membuat suatu iba dah menjadi wajib, sunah, atau haram.

Tingkatannya sangat bergantung pada niat untuk apa ia me makai gelar haji tersebut. Niat dalam sudut pandang akhlak pe ngertiannya lebih menunjukkan getaran batin yang menentukan kuantitas sebuah amal. Shalat yang kita lakukan dengan jumlah rakaat yang sama, waktu yang sa ma, dan bacaan yang sama, penilaian bisa ber beda antara satu orang dan yang lain nya bergantung pada kualitas niatnya.

Begitu juga saat menjalankan ibadah ghairu mahdhah, semisal, menolong sesama manusia atau bersedekah. Niat kita yang ber bicara apakah pertolongan itu ikh las karena Allah atau hanya untuk ria. Tidak heran Allah SWT dalam Alquran berfirman: "Wahai orang-orang beriman, ja ngan sia-siakan pemberian sede kahmu dengan menyebut-nyebut dan melukai perasaan penerimanya." (QS al-Baqarah:264). Walla hu a'lam.

Lima Objek Berpikir ..

Aktivitas sederhana sekalipun dapat membuat orang bahagia karena teralihkan dari pikiran negatif (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Moch Hisyam

Berpikir merupakan pembeda antara manusia dan binatang. Binatang tidak dapat menggunakan otaknya untuk berpikir atau belajar dan menangkap kebenaran laiknya manusia. Perbedaan ini membuat manusia lebih mulia daripada binatang.

Namun, kemampuan berpikir ini tidak selamanya menjadikan manusia lebih unggul dan mulia dari binatang. Bisa jadi dengan pemikirannya pula seorang manusia bisa menjadi orang yang hina dan lebih sesat dari binatang.

Hal ini terjadi bila objek yang selalu dipikirkannya selaras dengan hawa nafsunya. Allah SWT berfirman, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka, apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” (QS al-Furqan [25]: 43-44).

Imam Ja’far As-Shodiq berkata, “Allah memberikan akal tanpa syahwat kepada malaikat. Dan memberi syahwat tanpa akal kepada binatang. Dan dia memberi akal dan syahwat kepada manusia. Maka, siapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya maka dia lebih mulia dari malaikat. Dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya maka dia lebih sesat dari binatang.”

Oleh karena itu, hendaknya kita memperhatikan objek yang kita pikirkan agar anugerah akal pikiran ini mampu menjadikan kita menjadi mulia dan menjadi orang yang lebih dekat dengan Allah SWT bukan malah menjadikan hina dan sesat yang membuat kita menderita dan di akhirat.

Dalam kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani disebutkan bahwa ada lima objek berpikir yang bila hal ini selalu kita lakukan akan mendatangkan berbagai kebaikan dan menjadikan kita mulia. Pertama, berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Kedua, berpikir akan segala nikmat Allah SWT. Ketiga, berpikir tentang berbagai pahala dan surga yang dijanjikan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beramal baik. Keempat, berpikir mengenai ancaman Allah. Kelima, berpikir mengenai sejauh mana ketaatan kepada Allah dan kebaikan Allah kepada diri kita.

Lima objek berpikir ini dapat mendatangkan kemuliaan dan berbagai kebaikan lainnya karena ketika kita selalu berpikir tentang tanda-tanda kebesaran Allah SWT akan menjadikan kita semakin bertauhid dan yakin kepada Allah SWT.

Ketika berpikir akan segala nikmat Allah SWT akan menumbunhkan rasa cinta dan syukur kepada Allah SWT. “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS 14: 7).

Begitu juga saat berpikir tentang berbagai pahala dan ancaman serta berpikir mengenai sejauh mana ketaatan kita kepada Allah akan menambah nilai kepribadian kita sehingga kita akan berakhlak lebih mulia, bertindak sedekat mungkin dengan apa yang dianjurkan Allah dan waspada terhadap maksiat.

Semoga Allah SWT selalu membimbing kita dan membantu kita untuk dapat menggunakan nikmat akal pikiran yang telah dianugerahkan kepada kita sehingga menjadikan kita mulia di dunia dan diakhirat serta tidak terjatuh kepada perilaku binatang yang hina lagi sesat. Amin. Wallahu a’lam

6 Pengalaman yang Wajib Dirasakan Sebelum 30 Tahun ..

REPUBLIKA.CO.ID, -- Setiap orang pasti akan mengalami sejumlah pengalaman. Seiring berjalannya waktu, akan banyak sekali perubahan yang tidak dapat terelakkan.

Banyak yang menginginkan masa depan yang indah, terlebih saat sudah memasuki usia 30 tahun. Namun, tidak kalah banyak juga yang belum mengambil langkah antisipasi agar tidak ada penyesalan di masa tua.
Sebagai orang muda, tentunya harus peka terhadap kebutuhan diri sendiri, termasuk persiapan menuju masa di mana Anda akan lebih tua. Berbicara mengenai persiapan di masa depan, khususnya saat nanti berusia 30 tahun, tentunya Anda menyadari bahwa akan semakin banyak tantangan yang dihadapi.

Karena itu, diperlukan didikan untuk diri sendiri yang berupa pengalaman agar nantinya tidak kalang-kabut menghadapinya. Mengingat pentingnya mempersiapkan diri agar tidak menyesal, berikut ini adalah pengalaman-pengalaman yang harus Anda rasakan sebelum memasuki usia 30 tahun.

Banyaklah Bergaul

Tidak bisa dimungkiri bahwa manusia sebagai makhluk sosial harus terus melatih dirinya dalam bergaul. Sejak sekarang Anda harus bisa “lebih dekat” dengan orang-orang di sekitar. Dunia pekerjaan tidak seharusnya membatasi ruang pertemanan Anda, justru harus memperluas.

Karena itu, hentikanlah kebiasaan segera pulang sehabis bekerja. Sempatkanlah untuk sekadar bercengkerama dengan rekan kerja Anda di tempat makan atau di mana pun itu.

Berbisnis
Biasanya jiwa-jiwa bisnis tumbuh di kalangan muda. Karena itu, selagi Anda berusia 20 tahunan, cobalah untuk mengembangkan sisi kewirausahaan. Tidak harus berbisnis dengan modal besar. Anda bisa membuka usaha online shop. Mulailah bisnis tersebut dengan teman Anda dan jalinlah komunikasi yang baik dengannya.

Hal ini agar hubungan Anda dengannya semakin erat dan dapat menemukan ide-ide baru dengan lebih cepat. Berapa pun profit yang Anda dapatkan adalah lebih baik daripada tidak sama sekali.

Merantau

Poin ini khusus bagi Anda yang hingga sekarang masih tinggal dengan orang tua. Mulailah untuk merantau dan carilah jati diri Anda. Mulailah menjadi seorang pemimpin dan pengambil setiap keputusan bagi diri sendiri. Dengan merantau, Anda akan melakukannya dengan sendiri dan tentunya menerima risiko atas keputusan sendiri.

Anda harus bisa menentukan mana yang baik untuk Anda dan mana yang buruk. Anda harus mampu menempatkan diri dan mampu untuk tetap termotivasi meskipun banyak hal yang membuat diri jatuh.

Hal tersebut yang harus Anda peroleh sebelum berusia 30 tahun. Bukankah aneh jika Anda masih meminta orang tua untuk mengambil keputusan bagi Anda saat Anda sudah 30 tahun? Pertimbangkanlah!

Perbanyak Pengetahuan

Tidak bisa dimungkiri bahwa di usia 20 tahunan Anda akan memiliki keingintahuan yang tinggi akan beberapa hal. Karena itu, pelajarilah. Tidak ada salahnya untuk mempelajari hal-hal baru, yang memikat Anda untuk mengetahuinya. Dengan begitu, ketika Anda telah berusia 30 tahun, Anda bisa menikmati pengetahuan tersebut.

Anda sudah kaya akan pengetahuan karena saat usia 20 tahunan Anda terbuka dengan beragam ilmu. Contohnya adalah bahasa Inggris. Tidak ada kata terlambat untuk sesuatu yang Anda gemari. Perdalamlah ilmu tersebut hingga ilmu tersebut bisa Anda kuasai saat berusia 30 tahun.

Travelling

Travelling adalah hal lain yang perlu Anda lakukan sebelum memasuki usia 30 tahun. Sebagai seorang muda, tentunya Anda perlu untuk mengetahui dunia luar, Anda perlu untuk mengetahui tempat-tempat yang indah.
Terlebih lagi sekarang Anda belum memiliki tanggungan seperti anak. Karena itu, gunakanlah kesempatan ini termasuk untuk sekadar merilekskan pikiran Anda yang sudah jenuh dengan pekerjaan yang monoton.

Hindari Berfoya-foya

Memang benar jika Anda harus menikmati masa-masa muda Anda untuk nantinya diceritakan kepada keturunan Anda. Akan tetapi, berfoya-foya bukanlah jalannya. Menghambur-hamburkan uang hanya akan membawa dampak buruk bagi masa depan Anda karena bisa menjadi sebuah kebiasaan.
Selain itu, Anda tentunya kehilangan uang yang seharusnya bisa digunakan untuk investasi masa depan. Pikirkanlah masa depan seperti apa yang Anda inginkan karena harus disadari bahwa Anda tidak selamanya menjadi seorang muda.

Belajarlah untuk Menguasai Diri

Menguasai diri berarti Anda mengerti kebutuhan diri dan bagaimana cara mendapatkannya. Kenali diri dan potensi diri Anda. Dengan begitu, ketika berusia 30 tahun, Anda tidak terkejut karena Anda sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Jangan terlalu menikmati masa muda hingga Anda lupa bahwa ada masa tua yang sudah menantikan.

Mendidik Anak dengan Kesalehan ..

Mendidik Anak (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Kosim

Suatu ketika, seorang ayah mengadukan kedurhakaan anaknya kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Khalifah Umar tidak langsung membenarkan pengaduan sang ayah, tetapi ia mengonfirmasi lebih dahulu kepada anaknya. Umar bertanya, "Apa yang menyebabkan engkau durhaka kepada ayahmu?" Si anak balik bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, apa hak anak atas bapaknya?" Umar menjawab, "Memberi nama yang baik, memilih ibu yang baik, dan mengajarinya Alquran."

Anak itu berkata mantap, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Etiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju'al (kumbang kelapa), dan ayahku belum mengajarkan satu huruf dari Alquran." Umar pun memberikan peringatan tegas kepada si ayah. "Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu."

Tidak jarang kenakalan remaja disebabkan lemahnya keteladanan orang tua dalam keluarga, atau malah orang tualah yang mengajarkan ke nakalan itu. Sebut saja potret orang tua yang jauh dari ajaran agama, mela kukan pekerjaan yang ilegal dan haram, suka mencaci dan menzalimi orang lain, hingga retaknya keharmonisan pasang an orang tua karena perselingkuhan, KDRT, dan kejahatan lainnya.

Setiap orang tua mukmin sejatinya memastikan dirinya berupaya menjadi pribadi yang saleh. Setelah itu, ia ber usaha menjaga lingkungan yang kondu sif untuk perkembangan kepribadian anaknya sekaligus memilih sekolah yang berkomitmen dalam mem bentuk kesalehan peserta didik, bukan ber orientasi pada kognitif saja. Singkatnya, untuk mewujudkan anak saleh mesti dididik dengan kesalehan orang tuanya.

Siapakah orang saleh itu? Muham mad Quraish Shihab dalam Tafsir al- Mishbah menjelaskan, shalih terambil dari kata shaluha yang dalam beberapa kamus bahasa Arab sering dijelaskan sebagai antonim dari kata fasid atau 'rusak'. Kata shalih diartikan sebagai 'tiadanya atau terhentinya ke burukan'. Shalih juga bermakna sesuai dan ber manfaat. Dengan demikian, orang tua yang saleh adalah mereka yang selalu berbuat baik dan membe rikan manfaat. Perkataan, tindakan, dan perbuatannya tidak menimbulkan keru sakan bagi diri, keluarga, dan masyarakatnya.

Dalam makna lain, setiap kita harus memiliki kesalehan ritual dan kesaleh an sosial. Jika orang tua memiiki ke salehan ritual dan sosial yang melekat pada pribadi dan karakternya secara konsisten, maka ia menjadi model utama dalam membentuk pribadi anak saleh.

The World Its Mine