Senin, 05 Januari 2015

Paus: Natal Bukan 25 Desember

Kejadian menghebohkan dunia Kristen baru saja terjadi, setelah ada pengungkapan jujur dari tokoh besar Kristen yakni Paus Benedictus XVI. Ia menulis sebuah buku, ‘Jesus of Nazareth: The Infancy Narrative’ yang diluncurkan Rabu (21/11/2012). Ia membongkar beberapa fakta yang mengejutkan seputar kelahiran Yesus Kristus. Antara lain menurutnya,
  • Kalender Kristen salah. Perhitungan tentang kelahiran Yesus yang selama ini diyakini adalah keliru. Kemungkinan, Yesus dilahirkan antara tahun 6 SM dan 4 SM.
  • Materi-materi yang muncul dalam tradisi perayaan Natal, seperti rusa, keledai dan binatang-binatang lainnya dalam kisah kelahiran Yesus, menurutnya sebenarnya tidak ada. Alias hanya mengada-ada.
  • Paus Benediktus XVI juga mempermasalahkan tempat kelahiran Yesus, menurutnya, Yesus bukan lahir di Nazareth sebagaimana yang diyakini secara umum.

Kata Sumber Kristen tentang Natal?
a.      Catholic Encyclopedia edisi 1911 bab “Christmas” : Natal bukanlah upacara gereja yang pertama … melainkan ia diyakini berasal dari Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.
b.      Encyclopedia Britannica edisi 1946 : Natal bukanlah upacara gereja abad pertama. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bibel juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.
c.       Encyclopedia Americana edisi 1944 : Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut … Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus mulai diresmikan pada abad ke-4 Masehi. Pada abad ke-5 Masehi Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari”. Sebab tidak seorangpun mengetahui hari kelahiran Yesus.
d.      New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge, Christmas :
Adat kepercayaan pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat akrab di masyarakat Roma diambil Kristen ... Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu Kristen Mesopotamia yang menuding Kristen Barat (Katholik Roma) telah mengadopsi model penyembahan kepada Dewa Matahari.
Bibel Mengutuk pohon Natal
Tidak ada perayaan Natal tanpa pohon Natal. Padahal sebagaimana dapat dibaca dari buku-buku sejarah, perayaan Natal dan pohon Natal sudah ada semenjak zaman dahulu kala, jauh sebelum Yesus dilahirkan. Perayaan Natal ini sesungguhnya merupakan tradisi lama dari para penganut penyembah berhala (paganisme).
Nimrod atau Raja Namrudz adalah salah satu tokoh yang diyakini dalam paganisme yang tetap hidup abadi meski jasadnya telah tiada. Semiramis ibunya menjadikan pohon evergreen (cemara) yang bisa tumbuh dari kayu yang sudah mati sebagai simbol kehidupan baru Nimrod setelah mati. Dan Nimrod dianggap selalu ada di pohon tersebut tiap hari kelahirannya tiba, sehingga sering dihiasi dengan aksesoris yang gemerlap dan di bawahnya sering diletakkan aneka bingkisan.  Mari kita telaah terlebih dahulu Yeremia 10: 2-5,
Beginilah firman Tuhan: “Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan goyang. Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun. Tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab ia tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baik pun ia tidak dapat.
Dalam kitab Yeremia (bagian dari Perjanjian Lama) tersebut begitu jelas bahwa Bibel menentang adanya pemberhalaan terhadap pohon kayu.
Natal Menjadi Budaya
Natal sesungguhnya adalah perayaan penyembah berhala atau kaum paganis yang telah di “baptis” oleh Gereja. Namun mengapa umat Islam kok malah ikut-ikutan?
Dalam “Pesan Natal Bersama Tahun 2012” yang ditandatangani Ketua Umum dan Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)”, dinyatakan sebagai berikut:
“Saudara-saudari terkasih, setiap merayakan Natal, pandangan kita selalu terarah kepada bayi yang lahir dalam kesederhanaan, namun menyimpan misteri kasih yang tak terhingga. Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Inilah perayaan penuh suka cita atas kedatangan Tuhan. Dialah Sang Juruselamat yang menjadi manusia....”
Jelaslah bahwa Natal bukan urusan duniawi, sosial dan seremonial semata, tapi perayaan doktrin ketuhanan Yesus yang sungguh sangat berlawanan dengan aqidah Islamiyah.
 

Akar Kebencian Kristen Terhadap Islam

Count Henri Decastri, seorang pengarang Perancis menulis dalam bukunya yang berjudul 'ISLAM' tahun 1896: "Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh kaum Muslimin jika mereka mendengar cerita-cerita di abad pertengahan dan mengerti apa yang biasa dikatakan oleh ahli pidato Kristen dalam hymne-hymne mereka. Semua hymne kami bahkan hymne yang muncul sebelum abad ke 12 berasal dari konsep yang merupakan akibat dari Perang Salib. Hymne-hymne itu dipenuhi oleh kebencian kepada kaum Muslimin dikarenakan ketidakpedulian mereka terhadap agamanya. Akibat dari hymne dan nyanyian itu, kebencian terhadap agama itu tertancap di benak mereka, dan kekeliruan ide menjadi berakar, yang beberapa di antaranya masih terbawa hingga saat ini. Tiap orang menganggap Muslim sebagai orang musyrik, tidak beriman, pemuja berhala dan murtad. Lalu dari mana dasar bahwa Kristen bisa menjalin hubungan baik dengan Islam?”

Kebencian Kristen kepada Islam bukanlah hal yang mengada-ada. Walau sudah demikian jelas faktanya, para pengikut ajaran Kristen malah sering balik menuduh bahwa pengungkapan fakta itu dianggap provokatif.

Tidak tanggung-tanggung, seorang Paus pun tak segan menebarkan kebencian kepada Islam.  Pada 12 september 2006, sehari setelah peri-ngatan serangan 11 september, alih-alih mengambil simpati umat Islam, Paus Benediktus XVI—pemimpin tertinggi umat Katholik di dunia—dalam  pidato ilmiahnya di Universitas Regensburg di Jerman, kembali mengulangi penghinaan terhadap Islam untuk ke sekian kalinya.

Paus berpidato dengan tema “korelasi antara iman dan logika dan pentingnya dialog antar peradaban dan agama”. Namun isinya melenceng. Paus Benedict XVI mengutip pernyataan Kaisar Byzantium abad ke-14 Kaisar Manuel II Palaeologus yang merupakan hinaan dan kecaman terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW. Ini berarti Paus Benediktus XVI setuju dengan penghinaan terhadap Islam seperti yang ia kutip dari dialog tersebut. Bahkan menurut Paus, pemahaman perang suci atau jihad bertentangan dengan tabiat Tuhan.

Pidato itu jelas menimbulkan kecaman luas kaum Muslim. Beberapa hari kemudian Paus Benediktus XVI menyata-kan umat Islam salah memahami konteks ucapannya. Seolah-olah umat Islam di-anggapnya bodoh dan tidak paham konteks sebuah pembicaraan.

Sebuah Alquran palsu dengan nama "The True Furqan", dicetak di Amerika oleh dua perusahaan percetakan; 'Omega 2001' dan 'Wine Press'. Judul lain buku ini 'The 21st Century Quran', yang berisi lebih dari 366 halaman baik bahasa Arab dan Inggris.

Buku ini ditujukan sebagai pemal-suan Kitab Suci Alquran. Berbagai surah dinamai dengan surat-surat Alquran seperti An Nur, Al Fatihah, dll. "Bismillah" pada setiap surat diganti dengan "Bismil Abi, Wal Ibni, Waruuhil Quds" (dengan nama bapak, anak dan roh qudus).

Tahun 1999, The True Furqan sudah pernah menyerbu masyarakat. Edisi yang diterbitkan WinePress Publishing dengan mudah bisa dibeli di toko-toko buku di Amerika. Bahkan di dunia maya (internet) The True Furqan ini bisa diakses dengan sangat mudah. Ini menunjukkan adanya keseriusan dalam kampanye pemalsuan Alquran.

Dan mereka sendiri mengakui bahwa, "Tujuan The True Furqan adalah sebagai alat penyebaran agama Kristen," kata Al Mahdy kepada Baptist News. Menurut Al Mahdy, sejauh ini kaum evangelis (pengabar Injil) belum berhasil menemukan terobosan penting untuk bisa menaklukkan dunia Islam.
Tak hanya dari kalangan rohaniawan bahkan tokoh politik barat pun membenci Islam. Masih sangat segar di ingatan kita, bahwa George W Bush dengan lantang mengajak dunia untuk memerangi siapapun yang berusaha menegakkan syariah Islam.

Hingga Karen Armstrong, mantan biarawati yang banyak menulis buku tentang Islam, Yahudi, dan Kristen menulis dalam bukunya, "Orang-orang Eropa mudah menyerang Islam, walaupun mereka hanya tahu sedikit tentang Islam."

Konsep Tauhid dalam Islam = Akar Permusuhan


Kartun-Kartun Penghinaan Media Barat Terhadap Rasulullah

Sebenarnya akar permusuhan Kristen terhadap Islam bukan disebabkan oleh kesalahpahaman umat Islam terhadap agama itu, atau oleh karena luka lama Perang Salib. Ketidaksukaan orang Kristen terhadap Islam lebih fundamental dari itu, yakni karena penolakan Alquran secara tegas tentang penyaliban Nabi Isa dan konsep trinitas. Penolakan ini berarti juga pengingkaran/pengabaian terhadap keyakinan yang selama ini dipegang erat oleh kaum Kristen. Jadi akarnya terdapat di dalam Alquran.

Para ulama terdahulu menulis karya-karya yang mengkritik keyakinan Kristen tersebut. Al-Ghazzali misalnya menulis Al Radd al-Jamil li Ilahiyati Isa bi Syarh al-Injil, Ibnu Taymiyyah juga menulis Al-Jawab al-Shahih Liman Baddala Din al-Masih. Tulisan mereka bukan propaganda tapi penjelasan kembali tentang apa yang disampai-kan oleh Alquran. Tidak banyak orang Kristen yang mengerti bahwa di antara rukun iman dalam Islam adalah meyakini kenabian Isa as dan kitab yang dibawanya, dan bahwa Nabi Isa as itu bukan Tuhan atau anak Tuhan. Jika kitab Injil yang asli dapat dibaca pada hari ini tentu tidak ada pertentangan dengan Alquran.

Kaum orientalis tidak mungkin bisa menoleransi dengan menerima kebenaran Alquran. Karena di dalam Alquran banyak sekali kecaman-kecaman terhadap doktrin-doktrin/pokok-pokok keyakinan agama Kristen. Contoh, surah Al-Maaidah ayat 17, Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam." …

Lihat surah Al-Maaidah: 72, 73; Al-Maaidah: 73; An-Nisaa': 157, dan berbagai ayat lainnya.

Kandungan Alquran yang mengecam ajaran Yahudi dan Kristen seperti itu telah dan akan menuai reaksi balik dari orang-orang Yahudi dan Kristen sepanjang masa. Kaisar Bizantium, Leo III yang hidup pada tahun 717-714 M, artinya 85 tahun sepeninggal Rasulullah SAW, me-nuduh Al-Hajjaj Ibn Yusuf Al-Tsaqafiy, seorang Gubernur di zaman kekhalifahan Abdul Malik ibn Marwan (684-704M) telah mengubah Alquran.

Peter, pendeta di Maimuma, pada tahun 743, menyebut Rasulullah SAW sebagai nabi palsu. Yahya Al-Dimasyqiy atau dikenal juga sebagai John of Damascus pada tahun 740 M, menulis dalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-kristus. John of Damascus ber-pendapat bahwa Muhammad adalah seorang penipu kepada orang Arab yang bodoh.

Ia juga mengatakan Nabi Muhammad menikahi Khadijah ra karena ingin mendapatkan kekayaan dan kesenangan. Ia bahkan menuduh dengan sangat keji bahwa Rasulullah menderita epilepsi terbukti dengan peristiwa menerima wahyu dari Jibril, dan hobi berperang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan (Daniel J.Sahas, John of Damascus on Islam: “The Heresy of the Ishmaelites”, Leiden: E.J. Brill, 1972, hlm.67-95).

Fitnah-fitnah dan sikap permusuhan sengit terhadap Islam tersebut terus berlanjut dan rupanya itu menjadi rujukan tulisan-tulisan modern para orientalis seperti yang terkenal saat ini, Robert Mo-rey dengan bukunya The Islamic Invation yang menyebar di negeri ini dan membuat keresahan Muslim di Indonesia pada tahun 2003.

Image buruk terus dilanjutkan, hingga Snouck Hurgronje (1857-1936) pernah mengatakan: “Pada zaman skeptik kita ini, sangat sedikit sekali yang lepas dari kritik, dan suatu hari nanti kita mungkin akan mengharapkan untuk mendengar bahwa Muhammad tidak pernah ada”. Snouck Hurgronje datang ke Aceh dengan meng-aku sebagai mualaf yang bernama Abdul Ghafar.

Pemikiran Snouck dituangkan dalam sebuah artikel pada tahun 1930 yang ditulis oleh Klimovich dengan judul, “Did Muhammad ever exist?”. Dalam artikel tersebut Klimovich menggiring pada suatu penyimpulan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Muhammad adalah buatan belaka.
Jelas sekali bahwa orientalis klasik maupun kontemporer mempunyai kebencian yang sama terhadap Islam. Hanya mungkin berbeda dari cara dan stra-teginya saja. Namun pada intinya mereka menolak kenabian Muhammad saw dan kebenaran Alquran.


by Hj. Irena Handono.



Maha benar Allah dengan segala firman-Nya yang menyatakan bahwa orang Kristen dan Yahudi tidak akan berhenti hingga Muslim mengikuti millah mereka (QS 2: 120).
Di surah yang lain Allah SWT berfirman: “…Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyi-kan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (Qs. Ali Imran: 118).

Demikianlah fakta dendam kesumat dan rasa benci orang Kristen dan Yahudi kepada Islam. Dan peringatan Allah tentang hal ini dalam Alquran sudah demikian jelasnya.

Bagaimana Islam Memandang Soal Pernikahan Beda Agama?

Polemik yang muncul tentang pernikahan beda agama, sebenarnya menyeruak tidak pada beberapa bulan terakhir ini saja. Parahnya, banyak pula ummat Islam yang berusaha mereka-reka apa hukum bagi pernikahan beda agama, dan banyak yang langsung mengiyakannya tanpa mencermati bagaimana aturan Allah tentang hal ini, dan dampak yang akan timbul dalam keberlangsungan rumah tangganya.
Apakah belum jelas ayat Allah yang sedemikian tegasnya mengatur tentang pernikahan beda agama ini?
"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka. sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran."(Al-Baqarah: 221).
Maka kemudian muncul dalih, "bukankah Kristen itu Ahli Kitab?"
Ketahuilah, bahwa saat ini, tak ada Ahli Kitab (atau Ahlul Kitab) yang sama pada masa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Yahudi dan Kristen merupakan pengingkaran dari tauhid yang diajarkan nabi-nabi terdahulu, sehingga tidak bisa disamakan dengan Ahli Kitab.

Dan yang menyedihkan adalah, dampak bagi keberlangsungan hidup berkeluarga dalam pernikahan beda agama adalah, "TIDAK TERWUJUD KELUARGA SAKINAH, MAWADDAH, WARAHMAH".

Dalam Islam, pernikahan merupakan salah satu pelaksanaan dari syariat Islam, sehingga tunduk pada aturan Allah yang jadi Tuhan kita satu-satunya. Pernikahan merupakan  tahap awal pembentukan keluarga Islami yang selanjutnya membentuk masyarakat yang Islami.

Yang perlu diingat, jika seorang wanita Muslim menikah dengan laki-laki non Muslim, status pernikahannya tidak sah dan dipandang sebagai zina seumur hidup karena gerbang awalnya (aqad pernikahan) sudah jelas tidak sah. Hal buruk lain yang mengikuti pernikahan beda agama adalah rusaknya nasab (garis keturunan) sang anak dengan orangtuanya. Jika ibunya Muslim sedangkan ayahnya non Muslim maka terputuslah hak perwalian dan hak waris dari ayah tersebut kepada anaknya. Ini adalah hal yang sangat mengkhawatirkan dan meresahkan.

Dengan demikian, pernikahan tidak semata-mata mempertemukan seorang laki-laki dengan seorang wanita, tapi memiliki tujuan jangka panjang, tidak hanya di dunia ini saja, tapi sampai ke akhirat nanti, sejalan dengan visi atau tujuan jangka panjang perjalanan hidup kita. Karena itu, maka dalam pernikahan diperlukan laki-laki dan wanita yang menjadi suami dan isteri yang satu visi hidup. Ketika seseorang masih memiliki komitmen keislaman, tidak mungkin ia menikah dengan non-Muslim, sebab dalam Islam, jangankan memilih non-Muslim, memilih yang muslim saja harus yang taat pada aturan Allah.

Rasulullah bersabda: “Wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, kemuliaannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, pilihlah karena agamanya maka engkau akan beruntung.“
( HR Bukhari dan Muslim )


Masih memutuskan untuk mendebat hukum Allah dengan topeng "pernikahan beda agama"?
 
by Hj. Irena Handono

Bersyukurlah...


Bersyukurlah karena kita tidak memiliki semua yang kita inginkan, karena jika iya, apalagi yang hendak kita cari? 
Bersyukurlah saat kita tidak mengetahui sesuatu, karena itu memberi kita kesempatan untuk belajar. 
Bersyukurlah atas masa-masa sulit yang kita hadapi, karena selama itulah kita akan tumbuh dewasa. 
Bersyukurlah atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, karena itu memberi motivasi untuk menjadi lebih baik.
Hidup ini terlalu sia-sia jika mesti dihabiskan hanya untuk khawatir atas beberapa hal tentang hidup. Untuk berbahagia, hanya perlu yakin kemudian memutuskan. Gagal dan sukses hanyalah satu sisi diantara dua yang pasti.
“Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)

Pesan Itu Dari Langit, Hasan Al Bashri


Suatu hari, Hasan al-Bashri memberikan nasihat kepada para orang tua, “Wahai orang yang sudah lanjut usia. Apa yang ditunggu dari tanaman yang sudah tua?” Mereka pun serentak menjawab, “Panen raya!” Beliau pun lalu mengingatkan para pemuda yang ada di sekitarnya dengan nasihat, “Wahai para pemuda. Ketahuilah bahwa terkadang tanaman yang masih muda pun bisa rusak dan mati karena terkena hama sehingga ia tidak bisa sampai ke masa panen raya.”

Pesan dari Hasan al-Bashri sangat jelas, malaikat maut dapat muncul tiba-tiba ke hadapan Anda, tak ada jaminan menunggu usia di atas enam atau tujuh puluh. Perjalanan hidup kita sesungguhnya penuh dengan pesan-pesan dari langit. Tengoklah perjalanan hidup kita. Bukankah lima belas tahun di antaranya adalah masa kanak-kanak dan remaja dan masa kebodohan? Lalu masa tiga puluh sampai tujuh puluh jika kamu mencapai usia itu, adalah masa kelemahan fisik. Bukankah sebagian besar umur itu dihabiskan untuk tidur, sebagian lagi untuk makan, minum, dan mencari nafkah? Dan bukankah hanya sisanya dan hanya sebagian kecil waktu yang tersisa kita gunakan untuk beribadah?Tahukah kamu bahwa setiap satu rambut yang sudah berubah putih akan berkata kepada rambut yang berada di sampingnya, “Saudaraku, sesungguhnya kematian telah dekat, bersiap-siaplah kamu untuk menghadapinya?” Tahukah kamu bahwa setiap salah satu organ tubuh kamu sakit, maka ia menasihati organ tubuh yang lainnya, “Wahai saudaraku, inilah tanda-tanda yang pasti bahwa pesan dari langit telah disampaikan kepada sang pemilik organ tubuh?” Sadarkah kamu bahwa uban dan penyakit adalah utusan Allah kepada kita, yang bertugas memberitahukan bahwa ajal telah dekat?Karena itu Imam Ibnu al-Jauzi berkata, “Wajib bagi setiap orang, tatkala usianya mencapai empat puluh tahun, untuk memusatkan perhatiannya pada persiapan bekal menuju akhirat dan menyadari sepenuhnya apa yang akan dihadapinya di hari akhirat. Setiap hari, hendaknya ia selalu siaga untuk melakukan perjalanan panjang.”
 Hai orang orang  yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (QS.59:18) -Islamsunnah-

Bila Pejabat Menjadi Pencuri dan Perampok


Seorang pria memangku jabatan tinggi di beberapa instansi penting, karena ada kepentingan pribadi maka dia tidak melakukan kebaikan maupun mencegah kejahatan. Dia juga tidak mengetahui tugas dan fungsinya kecuali hanya sebagai “mandor”. Saya memprotes dengan kritikan pedas dan menghukuminya dengan keras.
Tetapi seseorang berkata kepada saya,” Kadang kadang saya melihat dia keluar masuk masjid.” Lalu saya langsung mengemukakan sebuah hadis yang masyur,”Tidak dikatakan beragama bagi orang yang tidak amanah dan tidak dikatakan beragama bagi orang yang tidak memenuhinya.” Kemudian orang itu bertanya lagi,” Apa hubungan hadis tersebut dengan kelalaian orang itu dalam jabatannya?” Lalu saya menjawab,” Masa kita orang muslim tidak tahu apa itu pemenuhan janji dan apa itu amanah. Itulah akibat kita tidak mau memperhatikan apa yang telah ditetapkan oleh Allah tentang hakikat iman dan akibat kita tidak pernah memperdulikan firman Allah :

Dan orang orang yang memelihara amanat amanat yang dipikulnya dan janjinya (QS Al Mukminun :8)
Tugas jabatan, di lembaga manapun. Harus dipenuhi baik terhadap Negara maupun masyarakat, dengan cara melaksanakan pekerjaan sesuai dengan batas batasnya serta mematuhi peraturan yang telah ditetapkan.
Seseorang tidak berhak mendapatkan gaji kecuali jika telah menunaikan pekerjaan yang telah menjadi tanggung jawabnya. Maka apa alasan dia menghalalkan pengambilan gaji jika tidak memenuhi kewajibannya? Jika orang itu malas, menyulitkan orang lain dan perusahaan, benci terhadap pekerjaannya, melampaui batas hak haknya serta memperlambat tugasnya dalam mengatur urusan dengan menampakkan wajah muram, maka dialah orang yang berkhianat dan melanggar janji serta memakan barang barang yang  haram. Ketahuilah setiap daging yang tumbuh dari barang barang yang haram adalah paling berhak untuk hidup di neraka.

Tidak ada yang namanya birokrasi memandulkan rencana rencana besar dan merusak instansi instansi penting, kecuali jika moral penghianat pegawainya tersebar sampai ke sudut sudut negeri.
Muhammad Rasulullah SAW mengangkat para pegawai yang amanah dan mengharapkan dari mereka yang mampu dan sadar untuk mengawasinya. Serta meminta kepada orang orang lemah untuk tidak menuntut dan menghalanginya. Selain itu beliau juga memperhatikan pertanggungjawaban yang besar, yang ada konsekwensi dunia dan akhiratnya. Bahkan lebih dari itu, paman beliau Hamzah Ra dan juga sahabatnya Abu Dzar Ra pernah mengatakan, “Sungguh seorang laki laki telah mendekat untuk mengharapkan kejatuhan harta, padahal dia tidak menolong manusia sedikitpun.”

Jabatan yang tinggi atau yang rendah jangan menjadi alat untuk mengangkat dan menyenangkan sebagian orang. Jabatan merupakan sarana untuk kelangsungan sebuah Negara, baik sekarang atau pun masa akan datang. Orang yang mankir dari sebuah pekerjaan dan tidak memenuhinya tergolong pencuri dan perampok. Mereka adalah bencana bagi dunia dan akhirat. – Syeikh Muhammad Al Ghazali-

Negeri ini Punya Kelainan, Ketika Selalu Mendukung para Pembohong

1 1
oleh Alm Rahmat Abdullah

“Tidak ada nikmat  apapun yang lebih besar dalam diriku sesudah hidayah Allah karuniakan kepadaku, lebih daripada kejujuranku terhadap Rasulullah SAW” (Kaab Bin Malik)

Seorang miskin, tak berkelas. Seorang kaya, bangsawan dan bermartabat. Seorang perempuan, tersisih atau tersanjung. Rohaniawan, pendeta, filsuf, bahkan agnotis dan atheis, semua dapat bertemu di satu titik : ‘Iman’ , bila bertolak dari shidq (kejujuran) . Shidq adalah titik tolak (munthalaq) yang menjamin sampainya perjalanan ke tujuan. Shidq adalah kunci pembuka hati yang tiada tara bandingannya. “Seandainya shidq diletakkan di atas luka, niscaya luka itu langsung sembuh.” Demikian perkataan Imam Ahmad bin Hambal. Dan Shidq-lah menurutnya, yang menyelamatkannya dari pedang Al Mu’tashim.

Tak ada bangsa yang takut akan bangkrut karena kejujurannya, tak ada bangsa yang cukup sabar untuk dibohongi berulang-ulang. Mungkin negeri ini yang menyimpan kelainan ketika selalu mendukung ‘Pembohong’, lalu menyumpahinya dan kemudian mendukung pembohong lain. Lemah atau bodoh itu tak lagi penting, masalahnya para pembohong itu memonopoli begitu banyak luas ruang loyalitas. Publik tak mampu membedakan mana induk kejahatan dan mana cabang rantingnya.

Ketika ditanya,”Mungkinkah muslim mencuri, atau berzina?” Rasulullah SAW menjawab, “ Mungkin.” Ketika ditanya,” Mungkinkah muslim berdusta ?” beliau menjawab , Tidak, demi Allah, tak akan (tak ada kamusnya) muslim berdusta !” Nanti terbukti, bahwa shidq akan sangat menjaga seorang hamba dari pencurian dan perzinahan, karena dosa semua ini lahir dari ketidakjujuran. —-

Kunjungilah Saudaramu Yang Sakit


Saya pernah sakit beberapa hari, kemudian saya pulang kampung. Saya ingin sekali dikunjungi teman teman yang saya rindukan. Saya menunggu dering telepon atau ketukan pintu dari teman teman tercinta. Saya membayangkan puluhan di antara mereka yang ingin sekali saya melihatnya. Tetapi semua itu sia sia belaka.
Saya sempat berfikir tentang penyebabnya seraya bergumam,”Barangkali mereka mengira bahwa dokter melarang mengunjungiku. Atau, barangkali mereka mengira sudah banyak yang mengunjungiku sehingga tidak ingin mengganggu.: semuanya itu husnudzhon!.

Dengan satu kejadian ini menunjukkan bahwa ternyata banyak ikhwah yang tidak menunaikan kewajibannya. Padahal kewajiban itu tidak dapat gugur karena husnudzhon belaka. Setiap orang punya tanggung jawab pribadi, sehingga tidak menjadi keharusan untuk datang sendiri, bila ada udzhur. Barangkali cukup lewat telepon, surat atau lewat orang lain.

Berapa banyak orang sakit semakin parah sakitnya karena tidak bertemu teman atau saudaranya. Kalau berkunjung dalam kondisi seperti ini akan wajib hukumnya. Rasul SAW bersabda,”Bila ia sakit, maka jenguklah.”

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda bahwa sesungguhnya Allah swt di akherat nanti akan berfirman,

“Wahai bani Adam, Aku sakit, apakah engkau tidak menjengukKu?” Manusia bertanya,” Ya Rabb, bagaimana saya menjengukMu padahal Engkau adalah Rabbul Alamin? Allah menjawab,”Tidaklah kamu tahu bahwa hambaKU si fulan sakit, tidakkah kamu menjenguknya, kamu akan dapati Aku disampingnya!… (HR Muslim)

Seorang penjenguklah yang harus berusaha mendatangi rumah saudaranya dengan motivasi ukhuwah dan cinta serta kesadaran pribadi yang muncul dari kerinduan hati. Maka tidak wajar kalau yang sakit memohon saudaranya agar datang mengunjunginya. Karena ziarah atau kunjungan adalah kewajiban syar’i (agama). Tidak ada ziarah atau kunjungan akan berpengaruh pada rusaknya hubungan pribadi, dapat memadamkan api cinta, melemahkan semangat, dan mengubah karakter jiwa serta membalik kesedihan yang ringan menjadi perasaan yang penuh kepahitan. Justru dengan kunjungan itu dapat membuat rasa cinta, optimisme , tingkatkan kasih sesamanya dan semua itu akan dirasakan, baik oleh yang sakit maupun keluarganya, di tengah ujian yang mendadak ataupun ujian yang dirasakan di sepanjang perjalanan hidupnya.
Maka kunjungilah saudaramu, janganlah menunggu … – Abbas As Siisiy-

Tanamkan Benih Melalui Tanganmu, Sekalipun Engkau Takkan Mengecap Hasilnya

muhammad natsir 
M. Natsir
 
Ada satu amanat yang Rasulullah Muhammad sampaikan kepada kita , dimanapun kita, dan apapun jabatan yang kita pegang, Rasulullah berkata , “Bila tiba saatnya kiamat, sedangkan pada tangan seorang di antaramu ada sebuah anak batang kurma, lalu dia masih sempat menanamnya sebelum kiamat terjadi, maka hendaklah dia tanam anak batang kurma itu. Untuk itu ia mendapat pahala”. (Shahih Jami no 1424)

Jangan terganggu oleh was was yang berkata,”apa gunanya kita menanam bibit ini, toh juga tidak akan berhasil, toh tidak akan berubah, toh kita tidak akan melihat buahnya”. Jangan turuti pikiran yang demikian, jangan was was, walaupun rasanya harapan itu tipis akan berhasil atau menurut taksiran tak terjangkau oleh umur kita untuk melihat hasilnya.

Menentukan hasil bukan wewenang kita, wewenang kita hanyalah melaksanakan tugas.
Ini titik tolak hidup dari Rasulullah SAW yang dipesankan kepada kita sebagai umatnya. Berpeganglah kamu pada titik tolak hidup ini. Jangan berbuat kebaikan dengan perhitungan lantaran kita hendak melihat hasil, sebab menghasilkan itu di luar kemampuan kita sebagai manusia. Yang ada kemampuan kita adalah melakukan tugas.

Kalau seseorang mempunyai titik tolak dalam beramal sedemikian itu, maka dia tidak akan sangat terganggu oleh bermacam macam was  was.

Itu tidak berarti seseorang tidak boleh memperhitungkan, semuanya boleh kita menghitungnya. Yang diperhitungkan itu hal hal yang terkait resikonya, yang kita perhitungkan bagaimana caranya sebaik baiknya agar hasil itu sebaik mungkin. Perlu juga diperhitungkan bagaimana cara cara yang efektif, dengan tenaga yang efektif. Akan tetapi semua perhitungan itu tidak berarti bahwa kita hanya mau melangkah kalau kita sudah yakin bahwa itu akan berhasil, dan kita juga ingin melihat hasilnya sewaktu masih hidup. Jangan begitu !
Tanamkan juga benih melalui tanganmu, sekalipun engkau takkan mengecap hasilnya. Begitu pesan rasulullah SAW.

Menunda Pekerjaan…adalah Tipu Muslihat Syetan

Seringkali timbul dalam diri kita malas untuk melakukan suatu aktivitas positif. Kita selalu berfikir…Ah, masih ada hari esok…tunda saja tidak ada salahnya.  Muhammad Al Ghazali seorang syaikh dari Mesir menasehati kita, “Penundaanmu atas berbagai pekerjaan yang seharusnya kamu kerjakan saat kamu sedang dalam kelonggaran menandakan kebutaan jiwa…”

Menunda-menunda pekerjaan merupakan bentuk tipu daya hawa nafsu terhadap jiwa yang lemah dan Azzam (tekad) yang rendah.  Karena barang siapa yang tidak mampu menguasai hari ini, maka ia tidak akan dapat memiliki masa depannya.

Biasanya sikap menunda-nunda pekerjaan berangkat dari adanya pikiran usang yang harus segera dijauhkan sejauh-jauhnya dan adanya keserakahan hawa nafsu yang harus disingkirkan dan tidak boleh didiamkan  oleh setiap muslim. Terlebih jika dia seoerang pejuang di medan fisik,  maka besarnya hawa nafsu seorang  pejuang dalam medan perang adalah tanda akan lemahnya kekuatan untuk dapat memenangkan peperangan..( Subhanallah, teringatlah kita akan perjuangan para mujahidin di beberapa tempat jihad Islam yang menceritakan  jarangnya  mereka menyantap  makanan yang ‘layak’ tapi sekedar mengganjal perut saja , sementara apa yang mereka perjuangkan sungguh berat dan sejatinya memerlukan banyak ‘asupan gizi, tapi mereka membuang jauh ingatan nya kepada minuman dingin menyegarkan dan makanan hangat berselera .. ) Salah satu yang ada dalam benak para pejuang adalah secepatnya menyingkirkan semua rintangan yang dihadapinya dalam waktu yang sesingkatya dan tidak menunggu-nunggu datangya hari esok. Tidak salah kalau syahid dalam medan jihad adalah satu buah amal terbaik ..

Menunda pekerjaan  sejatinya tidak akan bermanfaat apapun kecuali hanya akan memperpanjang umurnya dalam kejelekan dan memperpendek  umur dalam menjalan kan kebaikan di dunia ini. Mari kita cermati perjalanan nasib manusia yang telah ditetapkan Allah berikut ini :
“ Pada hari ketika tiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkan (kehadapannya) begitu pula kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu masa yang jauh dan Allah memperingatkan kamu terhadap diei (siksa)Nya. Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hambaNYa…Q.S. Ali Imran :30.

 Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya …QS Al Qiyamah : 13

Dalam sebuah hadits disebutkan :“ Dua nikmat Allah yang kebanyakan manusia sering lalai di dalamnya : kesehatan dan kesempatan (waktu luang)…HR. Al Bukhari

Wallahu’alam..Ayo Sahabat bergegas jika tidak ingin setan mengganduli kaki kita dalam beramal. Semoga akitivitas kita hari ini bernilai ibadah disisiNYa. – Muhammad Al Ghazali

Jangan Mengklaim Kelompok Mereka Saja Yang Masuk Surga, Ini Pangkal Perpecahan

Di antara rintangan yang dihadapi oleh gerakan islam modern adalah pengelompokan dan perpecahan, yang dapat kita saksikan secara jelas di antara beberapa bagian gerakan islam saat ini.

Perpecahan terjadi bila setiap jamaah memandang bahwa hanya dirinya satu satunya jamaah kaum muslimin dan bukan salah satu jamaah dari kaum muslimin. Bahwa seluruh yang haq ada padanya, sedangkan jamaah yang lain tidak lebih dari kesesatan, bahwa untuk masuk ke surga dan terhindar dari api neraka adalah dengan bergabung ke dalam jamaahnya. Seakan akan jamaah inilah satu satunya kelompok yang berhasil, sedangkan jamaah yang lain rusak semua.

Sekalipun di antara mereka tidak mengatakan secara lisan, namun mereka berkata dengan bahasa keadaan. Kondisi inilah yang sering dikeluhkan oleh para pengikut setia pergerakan yang ikhlas serta memiliki semangat yang kuat untuk menyukseskan amal islami dan meluruskan jalannya.

Saya berkeyakinan antar jamaah hanya bisa dilakukan upaya pendekatan (taqaarub) , saya mengatakan “Taqaarub” (pendekatan) dan bukan “Wahdatun” (persatuan), karena saya tidak dapat memungkiri banyaknya jumlah jamaah yang berperan aktif untuk Islam. Saya juga tidak terlalu menginginkan jamaah jamaah itu tergabung menjadi satu jamaah dibawah satu kepemimpinan. Sekalipun itu angan angan yang sangat indah, akan tetapi tanpa upaya mewujudkannya, sungguh suatu hal yang sangat sulit dan tidak mudah digapai, kecuali jika manusia berubah menjadi para malaikat .

Coba bayangkan jika semua jamaah saling mengerjakan tugasnya masing masing, dan masing masing jamaah melakukan pendekatan terhadap jamaah yang lainnya..Indah…sangat indah

Coba bayangkan, Bila jamaah pertama, me-spesialkan diri dalam bidang pembebasan akidah dari berbagai penyimpangan dan kesyirikan, serta menjelaskan akidah kaum muslimin yang benar sesuai dengan ajaran Al Quran dan As Sunnah.

Jamaah kedua, me-spesialkan aktif dalam mengoreksi ibadah, dan mensucikannya dari berbagai bid’ah dan cacat serta menanamkan masyarakat pada agamanya.

Jamaah yang ketiga, memelihara keselamatan wanita dan keluarga, menyerukan mereka memakai hijab yang ditetapkan syariat.

Jamaah keempat, memiliki kepedulian dalam pendidikan dan kerja sosial.

Jamaah kelima, berkonsentrasi dalam perjuangan menentang kezaliman, nahi munkar dan sebagainya.
Besar kemungkinan kesemua jamaah tersebut dapat saling bekerja sama dengan melibatkan masyarakat.
Ya sangat indah, bila kesemua gerakan Islam saling mendekati satu sama lainnya dan berkoordinasi dalam amal Islami.

Bagimana bila mereka melakukan persatuan gerakan di bawah satu koordinasi kepemimpinan? kadang inilah yang menjadi penyakit baru. yaitu pengelompokkan /munculnya pembentukkan kelompok baru. Terkadang salah satu penyebab terjadinya pengelompokkan ini adalah keinginan yang sangat tinggi untuk bersatu. Bila salah satu jamaah berupaya keras melaksanakan berbagai metode perubahan dalam amaliah harokah berdasarkan asasnya, maka ia dituduh mendominasi gerakan dan berarti mereka dipaksa mengundurkan diri atau keluar dari barisan, atau dituduh sebagai penyebab terpecahnya persatuan dan berbagai tuduhan lainnya, yang kesemuanya itu tidak akan membuat gerakan semakin tertib kecuali akan membuat kelompok kelompok baru yang semakin banyak, sementara hati hati para aktifisnya  pun akan semakin jauh.  DR Yusuf Qaradhawy

Mewah , Pangkal Jatuhnya Jiwa

Pada dasarnya tidaklah terlarang hidup mewah, karena dengan demikian kita dapat juga menyatakan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Allah senang sekali apabila hambaNya menunjukkan bekas nikmatNya atas dirinya. Tetapi haruslah digali dalam jiwa apa yang mendorong untuk minat  hidup mewah tersebut?
Kebanyakan orang hidup mewah bukanlah karena mensyukuri nikmat Allah, tetapi hanya menunjukkan kelebihan daripada orang lain, hatinya menjadi kasat kasar, sebab dia lupa bahwa disamping hidupnya yang berlebih lebihan itu ada makhluk Ilahi lainnya yang masih diselubung kemiskinan, kadang kadang makan, kadang kadang tidak.
Selanjutnya kemewahan menyebabkan seseorang tidak lagi dapat menguasai harta bendanya yang dimilikinya, melainkan dia sendiri-lah yang diperbudak oleh kemewahan harta benda, selalu merasa belum cukup, selalu hendak tinggi dibanding orang lain, hingga ujung batas kehendak kemewahan itu tidak pernah ada…
Banyak orang menyangka bahwa nilai kehidupan ditentukan oleh rumah yang indah, mobil model terakhir, tambahan villa yang nyaman, simpanan dana besar di Bank, dan banyaknya pelayan di rumah. Tidak dipedulikan lagi nilai nilai kebenaran dan pegangan hidup. Bahkan untuk kemewahan inilah orang hendak berebut kekuasaan, sebab kekuasaan adalah kesempatan yang luas untuk berbuat mewah dan sekehendak hati.
Keruntuhan sebuah bangsa apabila ketika kemewahan sudah amat berlebihan, sehingga tidak ada lagi orang yang berada di tengah di antara kaum kaya dan kaum miskin. Nilai kebenaran diabaikan orang. Di masyarakat hanya ada lambung melambungkan, puji memuji, perkataan yang kosong nilai, amal dan usaha sedikit, tapi reklame dan propaganda menjadi banyak. Si miskin yang berkeringat, si tani yang menanam dan mengeluarkan hasil, menghilang, karena mereka tidak termasuk orang yang mewah. Namun orang yang mewah mendapatkan tumpukan pujian dan hormat, lantaran itu kian lama pintu menerima kata yang benar tertutup ke dalam hati mereka. Akhirnya apabila musibah datang, si mewah tidak dapat bertahan, hanya si miskin yang tetap menjadi kurban sejarah.
Kejatuhan bangsa Yunani dan Romawi kuno ialah kala kemewahan telah merusak jiwa, dan  orang Islam pun pernah mendapat giliran kuasai dunia , mencapai Eropa , seperti Spanyol hingga 700 tahun lamanya. Spanyol pernah menjadi kemegahan Islam dengan nilai seni yang tinggi tak ternilai, dan fikirannya yang sesuai dengan tauhid. Tetapi mereka akhirnya terusir dari negerinya karena tidak dapat lagi melepas jiwanya dari kemewahan, seketika terjadi peperangan , tentara tentara Islam telah tampil ke medan perang dengan pakaian warna warni, sutera, pelana kuda yang bertahtakan emas, sedangkan pasukan Kristen saat itu tampil ke medan perang dengan pakaian dan topeng dengan bahan besi dan bukan sutera.
Kala itu pasukan Nasrani berperang dengan gagah perkasa, sedang pihak Islam berperang laksana pasukan perempuan yang bersolek berhias. Peperangan ini dikenal dengan “Pertempuran Thibirnah”. Meskipun pasukan Islam terbilang banyak jumlahnya, mereka terkalahkan. Maka bersyairlah seorang penyair kala itu :
“Mereka memakai pakaian besi ke medan perang, dan kamu memakai pakaian sutera beraneka warna. Alangkah indahnya kamu, dan alangkah buruknya mereka…”
Kemewahan meracun jiwa, mengerdilkan semangat dan memadamkan semangat perjuangan, orang akan menjadi takut mati, karena terbelit oleh akar akar kemewahan…

Oleh : HAMKA

Resep Bahagia Dunia-Akhirat : Janganlah Kau Diremukkan oleh Masalah yang Remeh

Aidh bin Abdullah Al Qarni kali ini berbicara tentang berapa banyak orang yang menderita lahir bathin atau menderita’kesusahan’ karena disebabkan masalah yang kecil dan sepele.
Al Mutanabbi mengatakan :
Hal-hal kecil serasa besar…, Di mata orang–orang kecil
Dan hal-hal besar serasa kecil…, Di mata orang-orang besar
Orang-orang yang kerap mendapat julukan ‘munafik’ seringkali terlihat dari semangat yang rendah dan cita-cita yang lemah. Perhatikan ungkapan-ungkapan ini :
“ janganlah kamu pergi perang dalam keadaan panas terik ini”(QS at Taubah : 81)
“ berilah saya ijin tidak pergi berperang dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah”.  (QS at-Taubah : 49)
“Kami takut akan mendapat bencana” (QS  Al-maidah : 52)
Betapa naifnya ungkapan-unngkapan   tersebut  dan betapa rusaknya jiwa ini.
Semangat mereka hanya untuk perut, piring, rumah dan Istana. Mereka enggan mendongak kepala mereka ke langit keutamaan. Mereka tidak mau melihat bintang-bintang kemuliaan. Perhatikanlah bagian malam yang terus menghantui mereka pagi dan sore hari hanya karena berselisih dengan istri , anak atau teman.Kita juga sering bersedih hanya karena mendengar ungkapan remeh atau kejadian sepele. Inilah musibah yang selalu dialami orang-orang seperti ini, bagaikan lingkaran setan yang tidak berujung. Mereka tidak memiliki tujuan mulia yang dapat menyibukkan mereka.
Jadi, pikirkanlah dengan jernih masalah yang sebenarnya menyusahkan dan mencemaskan anda. Perlukah mendapat penanganan dan perhatian sampai seperti itu ? Itu berarti anda telah memberinya  otak, daging, darah, kenyamanan dan waktu Anda. Perlukah seperti itu?
Berikanlah perhatian pada masalah yang anda hadapi secara proporsional, jangan pernah berbuat kezaliman dengan cara melakukan hal yang bukan pada tempatnya, juga jangan melakukan hal yang sia-sia.  Rangkaikanlah dengan firman Allah .
” Sesungguhnya  Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu  (QS Ath Thalaq: 3)
Buanglah jauh-jauh hal-hal sepele jika itu hanya berurusan dan janganlah menyibukkan diri dengan mengurusinya. Uruslah persoalan yang besar dan berharga sehingga anda akan mendapati bahwa sebagian besar kesusahan Anda telah sirna. Hal besar itu adalah ikutlah dalam upaya menegakkan Dien Agama Allah ini, pertolongan Allah akan datang bagi siapa saja yang menolong agamaNya…Walaupun tentunya Allah Yang Maha Kuasa akan tetap menegakkan dien ini , dengan atau tanpa ‘pertolongan’ hambaNya. Para sahabat yang mulia telah meletakkan cita-cita hidup dibawah pohon ketetapan janji dengan bai’at; mereka lalu mendapatkan keridhaan Allah. Sementara ada seorang laki-laki di antara mereka yang disibukkan oleh ontanya hingga ketinggalan berbai’at. Ia harus menebusnya dengan memperoleh kebencian.
-Aidh AlQarni-

Sayyid Qutb : Berbakti-lah Kepada Orang Tua

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’ Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (QS Al-Isra’ [17]: 23-25)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia…”
Ini adalah perintah untuk mengesakan Sesembahan, setelah sebelumnya disampaikan larangan syirik. Ini adalah perintah yang diungkapkan dengan kata qadha yang artinya menakdirkan. Jadi, ini adalah perintah pasti, sepasti qadha Allah. Kata qadha memberi kesan penegasan terhadap perintah, selain makna pembatasan yang ditunjukkan oleh kalimat larangan yang disusul dengan pengecualian: “Supaya kamu jangan menyembah selain Dia…” Dari suasana ungkapan ini tampak jelas naungan penegasan dan pemantapan.
Jadi, setelah fondasi diletakkan dan dasar-dasar didirikan, maka disusul kemudian dengan tugas-tugas individu dan sosial. Tugas-tugas tersebut memperoleh sokongan dari keyakinan di dalam hati tentang Allah yang Maha Esa. Ia menyatukan antara motivasi dan tujuan dari tugas dan perbuatan.
Perekat pertama sesudah perekat akidah adalah perekat keluarga. Dari sini, konteks ayat mengaitkan birrul walidain (bakti kepada kedua orangtua) dengan ibadah Allah, sebagai pernyataan terhadap nilai bakti tersebut di sisi Allah:
“Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”
Dengan ungkapan-ungkapan yang lembut dan gambaran-gambaran yang inspiratif inilah Al-Qur’an Al-Karim menggugah emosi kebajikan dan kasih sayang di dahati anak-anak.
Hal itu karena kehidupan itu terdorong di jalannya oleh orang-orang yang masih hidup; mengarahkan perhatian mereka yang kuat ke arah depan. Yaitu kepada keluarga, kepada generasi baru, generasi masa depan. Jarang sekali kehidupan mengarahkan perhatian mereka ke arah belakang..ke arah orang tua..ke arah kehidupan masa silam..kepada generasi yang telah pergi! Dari sini, anak-anak perlu digugah emosinya dengan kuat agar mereka menoleh ke belakang, ke arah ayah dan ibu mereka.
Kedua orang tua secara fitrah akan terdorong untuk mengayomi anak-anaknya; mengorbankan segala hal, termasuk diri sendiri. Seperti halnya tunas hijau menghisap setiap nutrisi dalam benih hingga hancur luluh; seperti anak burung yang menghisap setiap nutrisi yang ada dalam telor hingga tinggal cangkangnya, demikian pula anak-anak menghisap seluruh potensi, kesehatan, tenaga dan perhatian dari kedua orang tua, hingga ia menjadi orang tua yang lemah jika memang diberi usia yang panjang. Meski demikian, keduanya tetap merasa bahagia!
Adapun anak-anak, secepatnya mereka melupakan ini semua, dan terdorong oleh peran mereka ke arah depan. Kepada istri dan keluarga. Demikianlah kehidupan itu terdorong. Dari sini, orang tua tidak butuh nasihat untuk berbuat baik kepada anak-anak. Yang perlu digugah emosinya dengan kuat adalah anak-anak, agar mereka mengingat kewajiban terhadap generasi yang telah menghabiskan seluruh madunya hingga kering kerontang!
Dari sinilah muncul perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dalam bentuk qadha dari Allah yang mengandung arti perintah yang tegas, setelah perintah yang tegas untuk menyembah Allah.
Setelah itu konteks surat menuangi seluruh suasana dengan keteduhan; dan menggugan emosi dengan kenangan-kenangan masa kecil, rasa cinta, belas kasih dan kelembutan.
“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu..”
Usia lanjut itu memiliki kesan tersendiri. Kondisi lemah di usia lanjut juga memiliki insprasinya sendiri. Kata عندك yang artinya “di sisimu” menggambarkan makna mencari perlindungan dan pengayoman dalam kondisi lanjut usia dan lemah. “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka…” Ini adalah tingkatan pertama di antara tingkatan-tingkatan pengayoman dan adab, yaitu seorang anak tidak boleh mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kekesahan dan kejengkelan, serta kata-kata yang mengesankan penghinaan dan etika yang tidak baik. “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Ini adalah tingkatan yang paling tinggi, yaitu berbicara kepada orang tua dengan hormat dan memuliakan.
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan…” Di sini ungkapan melembut dan melunak, hingga sampai ke makhluk hati yang paling dalam. Itulah kasih sayang yang sangat lembut, sehingga seolah-olah ia adalah sikap merendah, tidak mengangkat pandangan dan tidak menolak perintah. Dan seolah-olah sikap merendah itu punya sayap yang dikuncupkannya sebagai tanda kedamaian dan kepasrahan. “Dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’”
Itulah ingatan yang sarat kasih sayang. Ingatan akan masa kecil yang lemah, dipelihara oleh kedua orang tua. Dan keduanya hari ini sama seperti kita di masa kanak-kanak; lemah dan membutuhkan penjagaan dan kasih sayang. Itulah tawajuh kepada Allah agar Dia merahmati keduanya, karena rahmat Allah itu lebih luas dan penjagaan Allah lebih menyeluruh. Allah lebih mampu untuk membalas keduanya atas darah dan hati yang mereka korbankan. Sesuat yang tidak bisa dibalas oleh anak-anak.
Al Hafizh Abu Bakar Al Bazzar meriwayatkan dengan sanadnya dari Buraidah dari ayahnya:
“Seorang laki-laki sedang thawaf sambil menggendong ibunya. Ia membawa ibunya thawaf. Lalu ia bertanya kepada Nabi SAW, “Apakah aku telah menunaikan haknya?” Nabi SAW menjawab, “Tidak, meskipun untuk satu tarikan nafas kesakitan saat melahirkan.”
Oleh karena emosi dan gerak dalam konteks ini terhubung dengan akidah, maka Al-Qur’an mengulangnya dengan mengembalikan semua urusan kepada Allah yang mengetahui niat, dan mengetahui apa yang ada di balik ucapan dan perbuatan.
“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (25)
Nash ini hadir sebelum melanjutkan bahasan tentang taklif, kewajiban dan adab selanjutnya. Ia hadir untuk mengambalikan setiap ucapan dan perbuatan kepada Allah; untuk membuka pintu taubat dan rahmat bagi orang yang berbuat keliru atau teledor, kemudian kembali dan mengoreksi kekeliruan dan keteledoran tersebut.
Selama hati baik, maka pintu ampunan tetap terbuka. Orang-orang awwab (yang bertaubat) adalah mereka yang setiap kali berbuat keliru maka mereka kembali kepada Tuhan mereka sambil meminta ampun.
Sayid Qutb

Sampaikanlah Kepada Kaum Non Muslim bahwa Agama Mereka Sesat !

Abdullah Azzam

“ Dia-lah yang telah mengutus RasulNya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas segala agama agama meskipun orang orang musyrik membencinya.” (QS Ash Shaff 9).

Tiada petunjuk ataupun Dien  yang benar kecuali dien ini. Jadi kita adalah satu satunya umat di muka bumi ini -Alhamdulillah- yang berpegang kepada Dien yang benar dan hak. Seluruh umat manusia beribadah di atas kesesatan, kendati pun mereka lebih banyak beribadah daripada kita…, orang orang Budha, orang orang Hindu , dan orang orang Nasrani lebih banyak mengerjakan ibadah daripada kita, bahkan mereka tidak kawin…Betapa penatnya para rahib rahib itu dalam menyiksa diri mereka sendiri??? Betapa payahnya mereka ??? Alangkah kerasnya mereka memperlakukan diri mereka sendiri , kendatipun mereka melakukan itu , mereka insyaAllah akan kekal di dalam neraka Jahanam !

Suatu ketika seorang rahib menemui Umar bin Khattab ra, Umar menangis tatkala melihat wajah sang rahib yang pucat lesu karena banyak melakukan ibadah, maka para sahabat bertanya,”Apa yang membuat anda menangis wahai Amirul Mukminin?” Ia menjawab,”Aku menangis karena melihat rahib itu, aku jadi teringat ayat Allah SWT :
88:3
88:4
“Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka)” (QS Al Ghaasyiyah 3-4)
Jika kalian mengikuti bagaimana aktifitas para misionaris di Afrika, jika kamu mengamati aktifitas para juru rawat eropa di Afghanistan, lihatlah ! betapa payah kehidupan mereka? Bagaimana mereka harus menahan derita dan kepayahan, meneguk pahitnya kesusahan, dan menghadapi ancaman maut di tengah tengah kaum yang membenci kebangsaannya, membenci dien mereka, membenci bahasa mereka, membenci penampilan mereka, dan membenci warna mata mereka. Sekedar melihat mata mereka yang biru dan rambut yang pirang, maka itu sudah cukup membuat tubuh orang Afghan bergetar karena kebencian. Meski demikian mereka orang orang rahib eropa itu tetap saja masuk ke sana. Untuk apa? Untuk menyebarkan misi dien mereka !. dan kendatipun mereka bersusah payah demikian, mereka kelak insyaAllah tetap masuk dalam neraka jahanam.

Sedangkan kamu, wahai kaum Muslimin, pergimu di pagi hari atau sore hari untuk berjihad fi sabilillah saja lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Sementara mereka berpayah payah selama puluhan tahun namun tak mendapatkan manfaat apapun darinya. Musibah apalagi yang lebih besar daripada ini?

Kadang kamu temui salah seorang pendeta diantara mereka sepanjang hidupnya tidak pernah menikah, untuk apa? Untuk membuat ridho sang Al Masih, dan mengharapkan meraih surganya. Biarawati tidak menikah sepanjang hidupnya , tapi kamu lihat mereka selalu mengenakan cincin, mengisolir di dalam biara dan tidak bercampur gaul dengan masyarakat ramai…ada apa dibalik semua itu? Ia mengatakan ,”Demi Allah, saya telah meminang Al Masih, dan akan menikahinya di Surga.”

Ya begitulah keadaan para biarawati , padahal seorang mukmin yang mentauhidkan Allah, dan walau hanya bekerja sedikit dan Allah menerima amalnya,  maka itu sudah cukup menjadikan Allah memasukkannya ke dalam surga, ini adalah nikmat yang amat besar dari Allah, yang dikaruniakan kepada umat Islam ini. -Dz-

Cara Mencari Rezeki, Dunianya Sama, Tapi Akhirat Berbeda Tempat

Dua jenis manusia  itu sama sama berusaha mengais rezeki masing masing berupaya, awalnya mencukupi kebutuhan dasar yang paling pokok bagi diri sendiri dan keluarga. Dan, jika kebutuhan pokok itu sudah terpenuhi, mereka mulai mencari kemewahan kemewahan, agar seumur hidupnya dapat dijalani dengan kelimpahan, kemudahan, aman, tenteram, damai dan seterusnya.

Semua umat manusia, yang mukmin maupun yang kafir, agaknya nyaris sepakat dengan pola hidup seperti ini. Hanya , ada perbedaan mendasar dalam kesadaran dan cara berfikir diantara keduanya.
Orang kafir mengabdi pada kehidupan dunia an sich. Baginya, kebahagiaan dunia adalah tujuan puncak; dunia adalah kesempatan yang apabila terlewatkan, hilanglah segalanya.

Baginya, kehidupan hanyalah rentang waktu yang berlangsung di atas bumi ini saja. Ia tidak percaya bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan ini. Ia juga tidak yakin bahwa ada rumah tinggal lain setelah rumah tinggal (bumi) ini hancur.

Sedangkan orang mukmin, mereka memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan pemahaman orang orang kafir. Orang mukmin percaya bahwa terdapat kehidupan lain yang lebih nyata, lebih agung, di mana manusia akan tinggal kekal di dalamnya.

Bagi orang mukmin, kehidupan dunia adalah perjalanan menuju kehidupan berikutnya. Jadi di sini saatnya menanam, di sana kita akan menuai, di sini kita berlomba, di sana kita akan mendapatkan nilai.
Dunia, jika tidak dijadikan kendaraan menuju akhirat, akan menjelma menjadi fatamorgana yang penuh tipu daya dan kepalsuan.

Perbedaan kedua kelompok di atas sangat mendasar dan jelas, meskipun keduanya berjalan beriringan, sama sama bekerja keras mencari makan. Mereka berbeda pada motif, yang satu makan untuk hidup, yang lain hidup untuk makan.

Diakui memang, daya pikat dunia sangat luar biasa. Dan, persaingan keras kehidupan pun sangat menguras tenaga, menyita kesadaran dan fikiran yang tidak ringan. Sehingga banyak yang tertipu oleh capaian capaian dunia  yang sifatnya sementara, lebih memilih yang fana ketimbang yang abadi. Disinilah agama menciptakan ajaran ajarannya untuk menangani sekaligus dua wilayah yang sama sama penting.

-Muhammad Al Ghazali -

Melangkahlah…Dan Allah Berikan Rezeki dari Arah yang Tiada Disangka-Sangkanya

At Tanukhi dalam bukunya Al Faraj Ba’dasy Siddah, menuliskan cerita, ada seorang lelaki yang sedang buntu, semua pintu rezeki tertutup baginya. Bahkan suatu hari dia dan keluarganya hingga tidak bisa makan karena tidak ada apa apa di rumahnya. Katanya,” Pada hari pertama, saya dan keluarga kelaparan. Pada hari kedua, juga sama. Tatkala matahari hamper tenggelam isteri saya berkata kepada saya,”Pergilah kamu, pergi dan carilah rezeki buat kami atau apa saja yang bisa dimakan, sebab kali ini kita hamper mati”.
 
Saya pun teringat kepada seorang wanita kerabat dekat saya. Saya ceritakan perihal yang sedang kami alami, wanita itu berkata,” Tapi dirumah ini tidak ada apa apa juga kecuali ikan yang sudah membusuk.” Kata saya, “Berikan itu kepada kami , karena kami hampir mati kelaparan.”

Lalu ikan itu saya bawa, dan membelah perutnya. Ternyata didalam perut ikan itu terdapat mutiara. Dan mutiara itu saya jual dengan 1000 dinar. Hal itu, kemudian saya beritahukan kepada kerabat wanita saya tadi. Katanya, “ Saya tidak akan mengambil apa apa kecuali bagian saya.” Setelah itu saya menjadi lapang. Rumah saya lengkapi dengan perabotan, kehidupanku mulai membaik, dan jalan rezekiku menjadi semakin lapang, ini semua adalah kebaikan Allah Subhanallah wa Ta’ala, tidak lain.

Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu , maka dari Allah lah datangnya (QS An Nahl :52)
Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb mu, lalu diperkenankanNya bagimu…(QS Al Anfal :9)
(Aidh Al Qarni)

Orang Yang Paling Pantas Meraih Kemenangan adalah Orang Yang Telah Berjuang Keras dan Meredam Berbagai Kesulitan.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah, Yang akan menimpa kami hanyalah apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami (QS At Taubah : 51) .

Dan , dalam membuat ketetapan, Allah memiliki kebebasan penuh. Ia juga berfirman, “Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS 94:5)
“Bersabarlah (wahai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan berkat pertolongan Allah.” (QS An Nahl :127)

“Siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya” (QS an Naml :62)

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik baik pelindung.” (QS Ali Imran :173)
Ketetapan ketetapan universal agama tersebut adalah simpul simpul keyakinan kepada Allah SWT yang dipegang kaum mu’min saat mereka tertimpa musibah dan digelapkan oleh kesulitan. Sebab, mereka tahu, semua kejadian telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya, sehingga yang dapat mereka lakukan hanyalah berserah diri kepadaNya;

Kekuasaan memilih hanya milik Allah, sehingga tak ada yang dapat mereka lakukan selain percaya bahwa pilihanNya pasti baik; kemudahan mengiringi kesulitan, sehingga mereka menanti pertolonganNya, obat terbaik saat bencana menimpa adalah kesabaran, sehingga mereka berobat dengan cara kembali kepadaNya; Allah pasti mengabulkan doa, sehingga mereka pun mengangkat telapak tangan memohon kepadaNya.

Dan mereka tahu bahwa pertolongan Allah membuat mereka tidak perlu kepada pertolongan siapapun selainNya, sehingga mereka bertawakal kepadaNya. Obat musibah ini adalah husnudzon, keyakinan yang tidak goyah oleh keputus asaan dan kehilangan harapan, kesabaran yang tidak kalah oleh kecemasan, optimisme yang tidak tersentuh kekecewaan, dan kepasrahan yang tidak ternodai penentangan.
Musibah menjadi ringan apabila balasannya disebut sebut, ganjarannya diperlihatkan, waktu hilang dan berlalunya dapat ditunggu dan diperkirakan, terhibur dengan banyaknya orang yang terkena musibah, dan terbesarkan hati dengan upah dan kesenangan yang akan diterima dari Allah, karena musibah itu datang dari Tuhan sekalian alam.

Orang yang paling pantas mendapatkan kemenangan adalah orang yang telah berjuang keras. Orang yang paling layak memperoleh keamanan adalah orang yang telah meredam pelbagai kesulitan. Orang yang patut menerima kedekatan dengan Allah adalah orang yang telah menelan pelbagai kesedihan. Dan, orang yang paling berhak mendapatkan sambutan dari Allah adalah orang yang telah bersabar mengetuk pintuNya.
Segala sesuatu ada harganya, dan harga mutiara adalah kesulitan menyelam di dasar lautan. Segala sesuatu ada nilainya, dan nilai kemenangan adalah kesakitan oleh luka luka dalam perang kehidupan. Segala sesuatu yang disukai ada harganya, dan harga keberhasilan adalah air mata yang panas, darah yang tumpah, kelopak mata yang letih karena kekurangan tidur, badan yang lemah karena lelah bekerja, dan hati yang pedih karena banyak menderita.

Umur bencana lebih pendek daripada umur kesenangan, tapi pahalanya lebih besar daripada pahala kesehatan, pengalamannya lebih berharga daripada pengalaman kehidupan, dan kegunaanya lebih besar daripada kegunaan keselamatan. Di dalam bencana terdapat pelajaran, peringatan, dan kewaspadaan, dan bersamanya terdapat tabungan, pujian dan catatan sejarah.

-Syeikh Aidh Al Qarni-

Ini Bukan Pertarungan Politik, Bukan juga Ekonomi…Tapi ini Pertarungan Aqidah

Puncak pertarungan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir adalah pertarungan aqidah,selain itu sama sekali tidak ada. Sedang musuh-musuh itu tidak akan mendendam kepada orang-orang mukmin, melainkan karena iman semata. Mereka pun tidak murka, melainkan karena masalah aqidah.
 
Ini bukan pertarungan politik, bukan pertarungan ekonomi, bukan pula pertarungan golongan. Jika itu yang menjadi pangkalnya, yang mudah sekali di selesaikan, mudah pula di carikan jalan keluarnya. Tetapi puncaknya ialah aqidah, imam kufur, imam iman, imam jahiliyah dan imam Islam.

Pembesar-pembesar musyrik dulu pernah menawarkan harta, pangkat dan kemewahan hidup kepada nabi Muhammad Saw. Dengan satu imbalan saja, yaitu: kiranya nabi Muhammad mau berhenti dari perjuangan aqidah dan supaya ia lunak dalam persoalan ini. Seandainya ketika itu nabi Muhammad saw. Mengiyakan apa yang mereka kehendaki itu, niscaya tidak akan ada lagi peperangan mereka dengan nabi Muhammad Saw.

Perjuangan tersebut adalah perjuangan aqidah dan persoalan aqidah dan masalah aqidah. Inilah yang harus diyakini benar oleh setiap orang mukmin ketika mereka menghadapi musuh mereka itu. Pihak musuh tidak akan memusuhi orang-orang mukmin melainkan karena persoalan aqidah ini: ”Melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Dzat yang Maha Gagah, Maha terpuji”, serta mengikhlaskan ketaatan dan tunduknya itu semata-mata kepada-Nya.

Sedang musuh-musuh kaum muslimin itu dalam perjuangannya adalah mengalihkan dan berusaha untuk menaikkan bendera selain bendera aqidah. Mereka akan menaikkan bendera ekonomi, bendera politik dan bendera golongan, untuk mengelabui orang mukmin akan hakekat perjuangannya, lalu aqidahnya yang bernyala-nyala itu akan dipadamkan.

Oleh karena itu salah satu kewajiban orang-orang mukmin ialah: hendaknya mereka tidak terpedaya, dan kiranya mereka juga mengetahui, bahwa ini adalah pengaburan untuk tujuan tertentu. Orang yang mengubah bendera perjuangan itu tidak lain, hanya karena hendak menipu kaum muslimin supaya mereka itu tidak lagi menggunakan senjata kemenangan yang hakiki itu, kemenangan dalam bentuknya yang puncak, baik kemenangan itu datang dalam bentuk kebebasan rohani seperti yang di alami Ash-habul Ukhdud, atau kemenangan dalam bentuk pemeliharaan yang timbul dari kebebasan rohani itu – sebagaimana yang di alami oleh generasi pertama dari kalangan sahabat islam.

Kami juga mencatat beberapa contoh dari pengaburan bendera itu dalam ulah Sabilisme Internasional pada hari ini, yang akan menipu kita dari hakekat perjuangan dan akan mengulangi sejarah. Lalu mereka menuduh kita, bahwa perang salib itu adalah berselubung penjajahan. Tidak….! sekali lagi tidak ! Penjajahan yang kemudian datang itulah sebenarnya yang berselubung Salibisme yang tidak bisa di tutup-tutupi sebagaimana yang telah terjadi pada abad pertengahan. Sedang golongan mereka yang pernah di patahkan di atas batu aqidah dengan pimpinan kaum muslimin yang terdiri dari berbagai unsur , misalnya: Shalahudin Al Ayoubi Al Kurdi, Turan Syah Almamluki, – unsur-unsur yang mereka lupa akan kebangsaannya, yang diingat hanya aqidahnya saja , maka mereka itu akhirnya memperoleh kemenangan di bawah bendera aqidah,

Benar kata Allah:
“Mereka tidak mendendam orang-orang mukmin, melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada allah Dzat yang Maha Gagah, Maha Terpuji”.
Maha benarlah Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar, dan dusta musuh-musuh yang penuh dengan penipuan dan penyelewengan! – Sayyid Qutb -

Konsep Nafkah dalam Rumah Tangga

Sample Image
Assalamu'alaikum
Ustadzah, sebenarnya bagaimana konsep nafkah dalam Islam? Saya sudah lama tidak diberi nafkah oleh suami yang bekerja di sebuah perusahaan. Untungnya saya membuka usaha toko sembako yang saya kelola sendiri, labanya saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak.
Memang, saat membangun usaha, separuh modalnya dari suami, sisanya uang saya. Namun di kemudian hari, modal yang telah diberikan itu dijadikan alasan suami untuk tidak memberi nafkah.
Saat saya menanyakannya, suami malah menyerang balik, “Apa nafkah itu artinya sesuatu yang harus dikasih tiap bulan? Kan, sudah dikasih modal usaha.” Saya bingung dengan kondisi ini, mohon pencerahannya, Ustadzah. Terima kasih.
Wassalamu'alaikum
ti GARUT
Wa'alaikumussalam
Rina yang dirahmati Allah, Islam mewajibkan suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memberi nafkah istrinya selama ikatan suami istri masih berlangsung dan istri tidak durhaka terhadap suami. Kewajiban menafkahi ini berdasarkan:
1.Surat Ath-Thalaq ayat 7, “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.”      
2.An-Nisa ayat 5, “Berikanlah kepada mereka belanja dan pakaian dari hasil harta itu...
3.Al-Baqarah ayat 228, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya dengan cara yang makruf.
4.Sabda Rasulullah saw, “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah di dalam urusan perempuan karena sesungguhnya kamu telah mengambil mereka dengan kalimat Allah. Kamu telah menghalalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah, mereka berhak mendapatkan nafkah dari kamu dan pakaian dengan cara yang makruf,” (HR Muslim)
Ulama sepakat, sebagaimana yang disampaikan Ibnu Qudamah, bahwa memberi nafkah kepada istri adalah kewajiban suami kecuali jika istri menolak (mengikhlaskan diri tidak dinafkahi suami) atau istri berbuat durhaka sehingga suami tidak berkewajiban menafkahinya.
Lalu bagaimana kadar nafkah yang diwajibkan bagi para suami kepada istrinya? Para fuqaha berbeda pandangan. Mazhab Maliki berpandangan, besar nafkah dilihat dari kondisi istrinya, sedangkan menurut mazhab Hanafi dan Syafi'i harus dilihat dari kondisi ekonomi suami. Dalam mazhab Hambali, besar nafkah ditentukan menurut kondisi kedua suami istri tersebut.
Namun mereka bersepakat bahwa ukuran yang wajib diberikan sebagai nafkah adalah yang makruf (patut dan wajar). Mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali membatasi, yang wajib adalah yang mencukupi kebutuhan sehari-hari dan itu tergantung pada kondisi suami dan istri tersebut.
Jika ada perselisihan dalam hal ini, maka hakimlah yang memutuskannya berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 233, “Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
Ukuran yang makruf tersebut adalah ukuran standar bagi setiap orang dengan memperhatikan kebiasaan yang berlaku—berbeda menurut zaman, tempat, dan keadaan individu. Ketika seorang suami tidak memberikan nafkah yang telah menjadi kewajibannya, maka Islam mengizinkan kepada orang yang berhak menerima nafkah itu (istri) mengambil apa yang mencukupi keperluannya.
Dalam hadis riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Nasa’i, Aisyah ra menjelaskan bahwa Hindun bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan (suamiku) seorang laki-laki yang kikir, dia tidak memberikan kepadaku apa yang menjadi keperluanku dan anakku dalam kehidupan sehari-hari kecuali aku mengambil sendiri dari hartanya tanpa sepengetahuannya.”
Kemudian Rasulullah saw menjawab, “Ambillah apa yang mencukupi keperluan kamu dan anak kamu dengan cara yang makruf (wajar/patut).”
Dalam hadits ini Rasulullah membenarkan tindakan istri yang mengambil harta suami tanpa sepengetahuannya, dengan ukuran yang makruf, yaitu yang wajar dan sekiranya cukup untuk kebutuhan sehari-hari—tentu saja kecukupan itu berbeda-beda menurut perbedaan kondisi suami dan istri.
Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah menjelaskan, nafkah itu boleh ditentukan misalnya dengan makanan, lauk pauk, pakaian atau berupa barang-barang tertentu. Juga boleh ditentukan dengan sejumlah uang sebagai ganti dari harga barang-barang yang diperlukan istri. Diberikannya pun boleh tahunan, bulanan, mingguan atau harian, dengan kelapangan suami.
Jika suami tak mau memberi nafkah yang menjadi tanggungannya tanpa alasan yang benar, ia dianggap berutang kepada istrinya, kecuali istri mengikhlaskan dan membebaskan utang suaminya.
Dalam masalah yang saudari Rina alami ini, terjadi perbedaan persepsi terhadap modal usaha, suami menganggap separuh modal usaha yang ia berikan adalah nafkah yang menjadi tanggungannya. Ini bisa diselesaikan dengan musyawarah untuk mencari titik temu dan kesepakatan bersama.
Yang penting adalah menyamakan persepsi terhadap tujuan berumah tangga antara Anda dan suami. Seperti, visi misi berkeluarga, pendidikan anak-anak yang diinginkan, dan apakah keluarga yang dibentuk ini juga menginginkan bersama-sama kelak dikumpulkan di surga-Nya. Jika semua sepakat, maka masalah ekonomi bisa dikompromikan.
Uang yang selama ini Anda keluarkan untuk membiayai keluarga, yang sebenarnya bukan kewajiban Anda, merupakan infak Anda dan tentu saja Anda mendapat pahala dari Allah swt. Wallahu a’lam.

Semuanya pun Akan Mati, Mari Buat Indah Dengan Seni Kematian

Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmatNya lebih baik dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan (QS Ali Imran 157-158)
Kematian adalah seni, terkadang seni yang indah dapat dirasakan meskipun pahit. Bisa jadi ia adalah seni terindah apabila dikreasi oleh tangan tangan yang mahir. Al Quran telah memaparkannya bagi orang orang mukmin dengan pemaparan yang mulia membuat mereka rindu untuk menggapainya, lebih mencintainya dibandingkan orang yang mencintai kehidupan. Setiap orang berbeda memperlakukan apa yang dirindukannya.

Kaum muslimin saat ini, tidak akan menjadi lebih baik dari kondisi sekarang kecuali jika mereka kembali kepada Al Quran tentang masalah kematian, menghadapinya sebagai sebuah seni, bahkan sebagai suatu seni yang sangat indah.
Al Quran memaparkan tentang kematian kepada kaum mukminin sebagai akhir kehidupan yang pendek lagi fana dan melelahkan ini. Kematian menyambut kehidupan yang tenang penuh kebahagiaan,kesejahteraan dan kenikmatan. Didalamnya terdapat apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terlintas dalam benak manusia berupa kenikmatan dan kemuliaan. Semua itu disediakan bagi orang yang mengetahui bagaimana berbuat baik dengan ilmunya dalam kehidupan, juga bagi orang yang berbuat baik dalam memilih metode kematian.
Al Quran lalu memaparkan bahwa kematian adalah takdir yang telah ditentukan, lari dan hati hati tidak akan menyelamatkan darinya. Tak seorangpun yang akan dapat lari. Setiap orang akan mati menurut ketentuan Allah yang telah Dia takdirkan. Tetapi mereka semua berbeda cara kematiannya.
Orang orang mukmin generasi pertama telah memahami hakikat seni ini. Mereka mencintai kematian, karena itu mereka dianugrahi kehidupan. Hal ini tercermin dalam ungkapan abadi Abu Bakar Ra, “ Wahai Khalid, bersungguh sungguhlah mencari kematian, niscaya engkau dianugrahi kehidupan.”
Hal ini juga tercermin dalam ungkapan Ali bin Abi Thalib Ra,”Demi Allah, sungguh putra Abu Thalib lebih mencintai kematian dibandingkan bayi yang mencintai susu ibunya.”
Wahai kamum muslimin ! saat ini kalian berada di gerbang tahun baru. Sekiranya anda sambut jiwa jiwa yang berada di antara rusuk anda saat ini, mencintai dunia dan takut mati, lari dari medan jihad, maka anda tidak akan sampai kepada apapun jua.
Sekiranya kalian mengubah jiwa kalian, mengganti sifat pengecut dan lemah yang bercokol di hati kalian, lalu berubah menjadi cinta kematian di jalan kebenaran, menggunakan seni dalam sarana dan metode kematian, maka anda tidak diragukan dapat sampai dengan izin Allah SWT pada kemenangan dunia dan abadi di akherat.
- Syeikh hasan Al Banna -

Mandi Wajib, Sudah Benarkah Kita Melakukannya?

Sahabat, Islam mengajarkan kita untuk mencintai kebersihan, selalu menghindarkan diri dari hal najis dan membersihkan diri dari hadats kecil maupun besar. Namun sayangnya, banyak di antara umat Islam yang masih belum paham cara membersihkan diri sesuai tata cara serta ajaran Rasulullah, padahal itu menjadi salah satu syarat sah nya shalat kita.
Terutama mengenai mandi besar atau mandi wajib, setiap wanita yang sudah selesai haid, laki-laki yang mengalami mimpi basah, pasangan suami istri yang melakukan hubungan intim, seseorang yang baru saja masuk Islam, semuanya diwajibkan untuk mandi, namun bukan sembarang mandi, ada tata cara dan sunah-sunahnya.
Dikarenakan pentingnya perkara wajib ini, semoga para suami mau menerangkan pada istrinya, para ibu mau menerangkan pada putra-putrinya yang akan baligh, berikut ini pembahasannya, semoga bermanfaat:

Berniat mandi wajib
Jangan sekadar mandi tanpa didahului niat untuk membersihkan hadats besar! Cukup banyak orang melakukan kesalahan karena tidak mendahului dengan niat yang tepat. Mandi wajib tidaklah sama dengan sekadar mandi biasa, meskipun sama-sama membasahi seluruh rambut dan tubuh.
Dalam hadits dari ‘Umar bin Al Khattab, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (Riwayat Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

 Rukun Mandi
Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.
Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam,
"Dahulu, jika Rasulullah SAW. hendak mandi janabah (junub), beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk salat. Lalu beliau mengambil air dan memasukkan jari - jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau mengguyur seluruh badannya. Kemudian beliau membasuh kedua kakinya." (HR. Muslim)

Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu beliau bersabda,
أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى
“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (Riwayat  Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)
Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,
Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (Riwayat Muslim no. 330)
 Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.
Adapun berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.

Tata Cara Mandi yang Sempurna
Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna.
Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah,  Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (Riwayat Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)
 Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.
 Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran … Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”
 Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.
 Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun. An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (cebok/ membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”
 Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.
Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”
Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci? Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.
Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.
Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.”
Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.
 Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.
 Ketujuh: Menyela-nyela rambut.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha disebutkan,
“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.” (Riwayat  Bukhari no. 272)
Juga ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengatakan,
Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (Riwayat Bukhari no. 277)

Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.
Dalilnya adalah dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”  (Riwayat  Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)
Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Bagaimanakah Tata Cara Mandi pada Wanita?
Tata cara mandi junub pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas, sedikit tambahan untuk mandi wajib setelah haid:
Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.(Riwayat  Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)
Dalam mandi junub tidak disebutkan “menggosok-gosok dengan keras”. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.
Ketiga: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.

Perlukah Berwudhu Seusai Mandi?
Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,
Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (Riwayat Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar,
Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?(Riwayat Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauqu])
 Abu Bakr Ibnul ‘Arobi  berkata, “Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.” Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.
Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu.

Mukjizat Allah yang Mencengangkan Para Ilmuwan Barat







download (25)

Pada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari sebagian tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada.

Para ilmuwan selama hampir 3 tahun meneliti fenomena yang mencengangkan ini berhasil menganalisis denyutan atau detak suara tersebut sehingga menjadi isyarat-isyarat yang bersifat cahaya elektrik (kahrudhoiyah ) dengan sebuah alat canggih yang bernama Oscilloscope. Akhirnya para ilmuwan tersebut bisa menyaksikan denyutan cahaya elektrik itu berulang lebih dari 1000 kali dalam satu detik!!!
Prof. William Brown yang memimpin para pakar sains untuk mengkaji fenomena tersebut mengisyaratkan setelah dicapainya hasil bahwasanya tidak ada penafsiran ilmiah atas fenomena tersebut. Padahal seperti diakui oleh sang profesor bahwa pihaknya telah menyerahkan hasil penelitian mereka kepada universitas-universitas serta pusat-pusat kajian di Amerika juga Eropa, akan tetapi semuanya tidak sanggup menafsirkan fenomena bahkan semuanya tercengng tidak tahu harus berkomentar apa.
Pada kesempatan terakhir, fenomena tersebut dihadapkan dan dikaji oleh para pakar dari Britania, dan di antara mereka ada seorang ilmuwan muslim yang berasal dari India. Setelah 5 hari mengadakan kajian dan penelitian ternyata para ilmuwan dari Inggris tersebut angkat tangan. Sang ilmuwan muslim tersebut mengatakan: “Kami umat Islam tahu tafsir dan makna dari fenomena ini, bahkan semenjak 1.400 tahun yang lalu!”
Maka para ilmuwan yang hadir pun tersentak dengan pernyataan tersebut, dan meminta dengan sangat untuk menunjukkan tafsir dan makna dari kejadian itu.
Sang ilmuwan muslim segera menyitir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا (٤٤)
“…Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra`: 44)
Tidaklah suara denyutan halus tersebut melainkan lafazh jalalah (nama Allah) sebagaimana tampak dalam layar.
Maka keheningan dan keheranan yang luar biasa menghiasi aula di mana ilmuwan muslim tersebut berbicara.
Subhanallah, Maha suci Allah! Ini adalah salah satu mukjizat dari sekian banyak mukjizat agama yang haq ini! Segala sesuatu bertasbih mengagungkan nama Allah. Akhirnya orang yang bertanggung jawab terhadap penelitian ini, yaitu profesor William Brown menemui sang ilmuwan muslim untuk mendiskusikan tentang agama yang di bawa oleh seorang Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) sebelum 1.400 tahun lalu tentang fenomena ini. Maka ilmuwan tersebut pun menerangkan kepadanya tentang Islam, setelah itu ia memberikan hadiah al-Qur`an dan terjemahnya kepada sang profesor.
Selang beberapa hari setelah itu, profesor William mengadakan ceramah di Universitas Carnich – Miloun, ia mengatakan: “Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam al-Qur`an. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan syahadatain: “Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya!”
Seorang profesor ini telah mengumumkan Islamnya di hadapan para hadirin yang sedang terperangah.
Allahu akbar! Kemuliaan hanyalah bagi Islam, ketika seorang ilmuwan sadar dari kelalaiannya, dan mengetahui bahwa agama yang haq ini adalah Islam!

The World Its Mine