Senin, 07 Desember 2015

Anda Ingin Mie Instan Sehat? Ini Rahasia Cara Memasaknya ..


Anda Ingin Mie Instan Sehat? Ini Rahasia Cara Memasaknya 
Dream - Mie instan. Inilah menu yang sangat karib dengan masyarakat di Indonesia. Makanan ini disajikan dalam berbagai rupa. Mulai camilan hingga menjadi menu utama.
Ya, mie instan memang jadi menu populer. Lihatlah laporan World Instan Noodles Association pada Mei silam. Dalam setahun, penduduk Bumi menghabiskan 102,7 miliar bungkus mie instan.
Dan Indonesia menjadi negara ke dua paling banyak mengonsumsi mie instan dalam setahun, yaitu 13,4 miliar bungkus. Indonesia berada di bawah China yang menghabiskan 44,4 miliar bungkus pertahun. Di bawah Indonesia ada Jepang, India, Vietnam, dan Amerika Serikat.
Tapi banyak ulasan menyebut jika terlalu banyak mengonsumsi mie instan buruk untuk kesehatan. Mie instan dituding sebagai pemicu kanker, tekanan darah tinggi, meningkatkan kadar kolesterol, dan sebagainya. Mengerikan bukan?
Jangan khawatir dulu. Presiden Masyarakat Gizi Malaysia, Dr Tee E Siong, punya tips khusus bagaimana mengonsumsi mie instan dengan sehat.
“Banyak orang berpikir makan mie instan adalah beracun dan bahaya, tapi ini tidaklah benar. Beberapa orang berlebihan dan menyalahgunakan ini. Ini bukan berarti makan mie instan lima kali sehari,” ujar Siong, sebagaimana dikutip Dream dari The Straits Times, Sabtu 5 Desember 2015.
Menurut dia, makan mie instan sama dengan mengonsumsi roti. Mie instan kaya akan karbohidrat, lemak, sedikit protein, serat, mineral, dan vitamin, sehingga harus dikonsumsi dengan menu lainnya.
Lantas bagaimana membuat mie instan yang sehat? Menurut Siong, “Jangan menambahkan semua bumbunya.” Ya, jangan menuang semua bumbu ke dalam mie instan. Secukupnya saja!
Selain itu, juga tambahkan bahan lain ke dalam menu mie instan. Sehingga dalam sekejap, mie instan Anda menjadi menu sehat. “Untuk membuatnya bergizi seimbang, tambahkan sayuran segar, telur, daging cincang atau sarden.”
Nah, dengan demikian setidaknya mie instan yang kita konsumsi akan punya gizi lebih jika dibandingkan kita hanya merebus dan langsung memakannya tanpa menambah bahan lain.
“Kita perlu asupan gizi sepanjang hari. Berapa banyak Anda makan, bagaimana Anda makan, dan bagaimana makanan itu dimasak menjadi hal penting,” tambah Siong.
Lantas, bagaimana dengan kandungan monosodium glutamat (MSG) dalam mie instan? Tidkakah bahan ini berbahaya sebagaimana adikhawatirkan banyak orang?
Siong tak yakin MSG akan memperburuk kesehatan manusia. “Jika Anda melihat badan pengawas makanan di dunia, tak ada ysng mrlsrsng MSG,” kata dia.
“Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa MSG jelek untuk kesehatan. Orang Jepang menggunakan ini selama berabad-abad dan mereka sehat-sehat saja,” tambah Siong.
Dia bahkan menganjurkan masyarakat untuk menggunakan MSG dengan bijak. MSG sebenarnya tidak memiliki rasa. “Itu hanya penambah rasa yang memiliki natrium kurang dari garam ,” ujar dia.

Hindari Terlalu Sering Makan Mie Pakai Nasi

Sebagian dari kita ada yang menanggap bahwa belum makan kalau  belum menyantap nasi. Dan kadang ada juga yang menyantap nasi yang dicampur dengan mie instan. Rasanya memang enak. 
Nah, masalahnya tahukah kita bahwa di balik menyatunya dua makanan sumber karbohidrat dan kalori cukup tinggi ini dan ternyata kurang bagus bagi kesehatan, bila terlalu sering dan terus menerus.
Dalam beberapa kemasan mie, ada yang mengandung 310 kalori atau setara dengan satu porsi nasi ukuran sedang lengkap dengan lauk pendukung.  Tapi ada juga beberapa mie yang kadar kalorinya di bawah jumlah itu.  Jadi jika satu porsi mie yang kalorinya tinggi ditambah dengan seporsi nasi, maka asupan kalori dalam tubuh dapat mencapai 600-700 kalori, meski kebutuhan kalori harian manusia 2000, jika terlalu sering bisa bikin tubuh melar.
Rasanya yang enak dan tekstur kenyalnya memang membuat banyak orang jatuh hati pada mie. Mungkin ada baiknya mulai saat ini jangan terlalu sering, memeriksa apakah mie itu sesuai dengan standar SNI atau tidak,  atau mengganti 'pendamping' mie instan dengan sumber protein, serat dan vitamin lain seperti sayuran, telur hingga daging. 
Kandungan garam dan MSG yang sangat tinggi membawa pengaruh yang kurang baik bagi kesehatan tubuh. Jika memang ingin mengkonsumsi mie baiknya dibatasi satu atau dua minggu sekali saja atau dikombinasi dengan sayur-saruan. 
Sejumlah peneliti di Amerika Serikat juga pernah melakukan penelitian soal efek kurang baik bagi kesehatan jika mie dikonsumsi terlalu sering, sekitar 3 hingga 4 kali sepekan.
Pemimpin penelitian ini, Dr Shin, kepada Daily Mail Kamis 14 Agustus 2014, menyebutkan bahwa konsumsi yang sering itu dapat menaikkan resiko sindrom kardiometabolik. Karena selain pengawet, katanya, " Mie itu memiliki unsur kimia yang disebut sebagai bisphenol A."
Unsur itulah yang menganggu cara kerja hormon. Karena itu dia mengimbau agar tidak terlalu sering mengkonsumi mie.

Ini yang Terjadi di Perut Saat Konsumsi Mie Instan

Makanan mie instan kini semakin populer saja. Selain karena bombardir iklan yang seperti tidak ada habisnya, makanan jenis ini sangat membantu mereka yang tidak punya banyak waktu untuk memasak.
Selain murah, mie instan adalah andalan mahasiswa jika mereka belum mendapat kiriman uang.
Namun di balik itu semua ada temuan menarik tentang mie instan saat masuk ke dalam saluran pencernaan kita.
Untuk pertama kalinya, Braden Kuo dari Massachusetts General Hospital melakukan percobaan untuk mengetahui kondisi pencernaan saat mie instan masuk ke dalamnya.
Dengan menggunakan kamera pintar seukuran pil multivitamin, Kuo sangat tercengang dengan reaksi saluran pencernaan saat diberikan mie instan.
Kamera cerdas tersebut telah memberikan Kuo gambaran keadaan di dalam, mulai dari perut hingga ke usus kecil selama 32 jam yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Sebelum uji klinis ini, kamera tersebut hanya digunakan untuk mempelajari bagian dalam seseorang ketika perut mereka kosong.
Kuo mengatakan dalam video terlihat perut bolak-balik berkontraksi seperti mencoba untuk menggiling mie instan.
Sebagai perbandingan, subjek penelitian juga makan mie buatan sendiri di hari yang berbeda.
Bila dilihat berdampingan, hasilnya berbeda secara signifikan.
"Hal yang paling mencolok tentang percobaan kami adalah masalah waktu yang dibutuhkan (agar mie hancur), katakanlah satu atau dua jam. Kami melihat mie instan sulit diproses dibandingkan dengan mie buatan sendiri," kata Kuo.
"Saya menyadari bahwa video tersebut sangat provokatif", kata Kuo, yang menambahkan studi ini masih terlalu dini untuk menghasilkan sebuah kesimpulan tentang apa pun.
Namun dia dan timnya berencana akan melakukan penelitian lebih dalam.
Ia berharap studi ini bisa mengungkapkan apakah pencernaan yang lambat memengaruhi jumlah nutrisi yang diserap tubuh.
"Saya pikir makanan olahan masih perlu diteliti lebih lanjut."

Hasil Penelitian Tentang Mie dan Perempuan

Setelah makanan berbahan tepung ini dianggap kurang cocok dimakan bersama nasi, kini sejumlah ahli menyebutkan bahwa beberapa mie instan tak baik untuk kesehatan wanita, jika terlalu sering. Tapi penelitian ini hanya untuk mie yang beredar di negara-negara yang menjadi obyek penelitian ini. 
Para peneliti dari Universitas Harvard seperti dikutip Dream.co.id dari laman New York Times, Sabtu, 22 Agustus 2014 menyatakan, konsumsi mie instan dua kali seminggu bisa mengundang penyakit tekanan darah tinggi, peningkatan gula darah, dan kolesterol tinggi.
Para peneliti menemukan, perempuan berisiko 68 persen lebih tinggi terkena sindrom metabolisme. Sindrom ini tak ditemukan pada pria yang memakan mie instan dengan porsi yang sama.
Penelitian dilakukan terhadap 10.711 perempuan dewasa dimana setengahnya dilakukan di Korea Selatan.
"Memakan mie instan terkait dengan naiknya prevalensi sindroma metabolis pada perempuan, dengan pola makan utama yang bebas," ungkap hasil penelitian tersebut.
Kaum perempuan yang mengonsumsi mie instan dua kali dalam seminggu kurang bagus bagi kesehatan daripada mereka yang makan nasi, ikan, daging, dan gorengan dalam jumlah besar. Semakin sering memakan mie instan, risiko terkena penyakit juga semakin tinggi.
Terkait temuan tersebut, guru besar nutrisi dan epidemiologi dari Universitas Harvard, Frank Hu mengatakan kemungkinan perempuan memberikan jawaban lebih akurat ketimbang pria. Perempuan juga mungkin lebih peka terhadap pengaruh karbohidrat, lemak dan garam.
Untuk menyiasati kegemaran para pengonsumi mie instan, Hu menyarankan agar makanan ini hanya dikonsumsi satu atau dua kali dalam sebulan. 
 

Hindari Pakai Air Rebusan Mie

"Kalau masak mie itu kan saat merebusnya air tidak jernih. Itu residunya (ampas atau endapan bahan kimia). Saat kita buka kemasan mie itu masih ada tepung-tepungnya gitu air rebusan pertama yang menyerapnya, jadi jangan dipakai. Sajikan dengan air panas yang masih bersih," kata Lucky Andreono, juara masterchef Indonesia 2012.

Lucky menambahkan saat merebus mie sebaiknya biarkan air benar-benar mendidih, supaya mie benar-benar matang. "Habis mendidih biarkan setidaknya 3 atau 10 menit," kata pria kelahiran Malang,16 April 1980 ini kepada Dream.co.id, Senin, 22 September 2014.

Untuk mencampur bumbu dan mie goreng, Lucky mengatakan perlu menambahkan air panas satu sendok makan. "Campurkan satu sendok makan air panas pada bumbu mie goreng agar matang dan mudah mencampurnya dengan mi goreng," kata Lucky.

Saat masak mie menurut Lucky harus membaca labelnya. Teliti kandungan lemaknya dan semuanya. Cara penyajiannya yang benar juga perlu diperhatikan. "Semua itu biasanya ada di label," ujarnya.

Lucky membenarkan bahwa mie bisa membuat berat badan bertambah. "Semua karbohidrat memang begitu, tidak hanya mie," katanya. Dia menyebut selain mie juga nasi, kentang atau sumber karbohidrat lainnya. "Terpenting itu food combining. Misalnya saat masak mie campurkan juga dengan sayuran," kata Lucky. 
General Manager Marketing Noodles Division ICBP, Julia Atman menjelaskan bahwa penjualan mi pun mengalami peningkatan.
"Saat ini penjualan untuk mi sendiri sudah sampai 16 juta pack, membuktikan banyak sekali yang mengonsumsi mi. Produk kami yang paling banyak pemintaannya itu mi goreng," kata Julia.
Julia menyarankan untuk orang yang ingin mengonsumsi mi, namun memiliki masalah di lambung atau maag, sebaiknya konsultasi dengan dokter.
"Kalau mi ini memang ada campuran lada sama cabainya, kalau ingin mengonsumsinya coba konsultasi dengan dokter dulu. Kalau produk Indomie sudah melewati proses produksi yang sesuai dengan standar mutu dan keamanan pangan yang berlaku di Indonesia," kata Julia. 
Bagi penggemar mie instan, sebaiknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Berikut diantaranya: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The World Its Mine