Senin, 28 September 2015

Renungan 5 ..

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh ....
Sahabat Fillah....
Perjalanan hidup, tak pernah ada yg tahu.
Inginnya seperti ini,
tapi malah kesitu.
Maunya nanti berakhir di pintu surga
tapi malah lupa berilmu.
.
.
Sesungguhnya aku kini sedang dalam proses,
kamu pun, kalian,
juga dia.
Kita sedang dalam proses menulis sebuah buku yang kelak akan kita baca jika telah tiba saatnya.

50.000 tahun sebelum ada kehidupan di dunia,
Alloh kita telah menuliskan suatu buku besar.
Ada semua benang merah perjalanan hidup seluruh manusia tergambar di dalamnya.
Bukan berarti Alloh pun mengatur
Si fulan masuk surga
Si fulanah masuk neraka.
Tidak.
Dia tidak pilih kasih dalam merancang akhir hidup hambaNya.
Maksudnya,
surga-neraka itu murni ada ditangan manusia.
Pilihan kita untuk menjadi hamba yg lupa karena segala tipu daya dunia
atau
hamba yg selalu ada di jalanNya,
menyadari dunia ini cuma tempat mencari bekal kematian sebanyak-banyaknya.
.
.
Engkau memang tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa engkau dilahirkan.
Tak bisa pula memilih siapa & seperti apa takdir yg menempel padamu.
Tapi,
engkau dapat memilih untuk menjadi apa dirimu.
Si pendosa yg kerap berenang didalam kubangan khilaf walau sudah tahu “kolam kesalahan” itu berbau,
hitam dan
mematikan.
Atau
Menjadi pendosa yg sadar akan segala salahnya, lalu segera beranjak ke kolam pensucian yang lebih bening & bersih airnya.
.
.
Sekali lagi,
Surga itu kita sendiri yg mengusahakan, Kawan.
Neraka itu kita sendiri yg menentukan, Sahabat.
Maka,
tulislah bab & sub bab bukumu dengan hal baik.
Jika sudah tertulis yg buruk dengan tinta permanen,
ikhlaskanlah.
Tuliskan kembali lembaran berikutnya dengan tinta emas dari hasil kebajikan & ketaqwaan.
Integrasikan buku tulisanmu dengan buku takdirNya.
Sambutlah Qadha & Qadarmu dengan keikhlasan sebagai seorang hamba.
“Tamat” kan tulisanmu dgn surga sebagai tujuannya.
.
Sadarilah.
Sesungguhnya dirimu sedang menulis sebuah buku kecil perjalanan anak Adam
dengan panduan Alloh sebagai pedoman & takdir sebagai batasan.
Betaqwalah.
Maka kelak engkau takkan termasuk jadi jiwa yg merugi setelah bukumu dibacakan dihadapan Hakim Teradil sepanjang masa,
Alloh Azza Wa Jalla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The World Its Mine