Senin, 28 September 2015

Kopiah Kang Emil ..


banner yusuf
SUDAH lama simbol orang-orang berilmu tidak mendarat di kepala tepat. Kalaupun masih ada yang memakai, sayang, hanya orang baik selaku rakyat. Bukan pemangku jabatan yang bisa bikin orang lain hidup bergeliat. Yang sering terjadi, si simbol acap jadi ajang pamer para pengkhianat amanat, atau pura-pura lupa akhirat.
Akhirnya, secara karikatural sosial, kopiah melekat kuat di kepala Emil, alias Ridwan Kamil. Mendarat gara-gara lakon tertukar yang jadi bahan canda di jagat maya. Kopiah, bersama kacamata, lebih menjiwai di lingkaran Emil bak penguasa negeri sesungguhnya. Amat jauh bila disandangkan kepada petugas partai, yang bahkan saat memakai aksesori bergaya sunan pun, miskin karisma.
Ah, mungkin orang Jerman yang terlampau jujur menilai itu masuk ke Bandung tanpa screening Revolusi Mental. Gara-gara kepolosannya bercuap, 60 persen orang Indonesia yang kadung sumpek dengan perilaku petugas partai jadi mesem-mesem pahit. Dapat bahan inspirasi mengolok penguasa, sekaligus berasa dapat penguasa mumpuni dengan kopiah kejujurannya. Bukan kopiah besutan petugas mesin citra, yang kini sedang asyik berpesta menikmati hasil memoles Paduka.
Emil, gara-gara lelaki arsitek andal ini, kopiah—fokus: kopiah hitam—jadi bermartabat lagi. Semuanya berkopiah, tapi kopiah tanpa makna. Tidak ada ilmu, yang ada gadungan bentukan para alim intelektual pendamba kuasa.
Kopiah seperti ditinggikan marwahnya kini. Dijadikan kehormatan pada anak muda yang ke depan siap memimpin negeri. Sudah lama kita mencari pemakai kopiah yang tidak hanya berani bercuap saat mengincar kekuasaan. Yang juga dibutuhkan ada pemakai kopiah berilmu dan jujur dalam bersikap.
Soekarno muda gagah dengan kopiahnya; sayang era 1950-an mulai beringas pada kaum sarungan, kecuali yang mendukung ide Nasakomnya. Tapi kita bersyukur ada para alim nan ikhlas dengan kopiah lusuhnya: Natsir, Prawoto, Hamka. Para pengguna kopiah pendusta banyak, bahkan yang berjas palu-arit sekalipun
Era berikutnya, kopiah malah jadi tren di pejabat, bahkan meski bukan dari kalangan Islam. Kopiah hitam, alias peci dan songkok kadung, dianggap busana nasional. Baiklah, tapi jangan lupa akar sosio-historis lahirnya tudung kepala ini. Sayang, Suharto malah perolok kopiah dengan perilaku korupsinya. Ulama juga tidak segan membela kekuasaan dengan kopiahnya.
Era Habibie, kopiah sebenarnya punya harapan. Di kepala lelaki jenius dan kebangsaan baik, kopiah dapat tempat baik. Sayang, ia tak lama di kursi kekuasaan gara-gara banyak kesumat dari para radikalis-sekuler, termasuk yang seagama dengan Habibie di Partai Beringin. Brutus Habibie juga dari para lelaki berkopiah di partai ini.
Kopiah di kepala cucu Kiai Besar punya asa. Tapi, berwibawa di kalangan tertentu saja dan kaum minoritas. Para islamis sering diabaikan oleh si pemakai kopiah, terlebih kopiah yang di bawah disandingkan dengan kippah, peci milik Yahudi. Sebuah simbol ambisinya merapatkan Jakarta ke Tel Aviv.
Kopiah nyaris istirahat di kekuasaan anak Soekarno. Hanya dipakai para penjual aset negara apa pun latar agamanya. Lagi-lagi kopiah terpuruk dalam politik simbol. Kopiah tak lebih omong kosong jargon busana bangsa.
Di lelaki gagah itu, kopiah memang tampak sepadan. Awal yang baik, sayang di tengah dan akhir kuasa, banyak para lelaki berkopiah—termasuk sang penguasa—malah hinakannya. Orang baik terjerembab harta dan tahta hingga membuat olok-olok partai-partai bersendi Islam.
Para pengolok itu kini berhimpun dalam jamaah di bawah imam pemakai busana sunan, yang oleh si turis Jeman pekan lalu dianggap bukan siapa-siapa.
Kopiah, ke depan, semoga jauh lebih pas; sepas amatan turis Jerman. Tidak perlu bergegas mengharap Kang Emil mengisi potret yang dipampang di ruang sekolah, kantor, hingga kantor kedutaan kita. Yang paling penting adalah mulai sekarang menjadi kopiah betul-betul sesuai makna filosofinya: melindungi kepala si empu agar tidak berlaku besar kepala. Di kepala yang tepat, kopiah tidak semata hadirkan karisma; yang lebih penting lagi adalah serasinya dengan tindakan. Maka, mari doakan ke depan para pemakai kopiah nomor satu di negeri ini adalah figur yang konsisten jujur, berkata baik, amanat, dan hanya menyampaikan kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The World Its Mine