Senin, 28 September 2015

Benci dalam Adil Menilai ..

BANNER YUSUF MAULANA
“Crane Timpa Ratusan Jamaah di Makkah, saat Jokowi Mendarat di Jeddah”
“Itu Raja Arab Bukan Akhwat!”
JUDUL berita sebuah laman dikutip seorang rekan yang dikenal publik getol mengkritik Presiden RI. Meski tidak bersimpati pada penguasa, dan terutama orang di lingkaran pembisiknya, saya menilai penyebaran berita dengan judul asosiatif dua kejadian berbeda sebagai kausalitas (sebab-akibat) amatlah rentan. Hanya akan hadirkan kebencian meski sorak dukungan dari kawan sang rekan juga berlimpah. Tapi percayalah, selain ada soal etika, kita sebarkan berita macam itu hanya undang simpati pada figur yang disinisi.
Prinsip propaganda: menyerang lawan harus jeli melihat psikologis publik yang netral. Jangan sampai serangan ke lawan hadirkan simpati pada yang bersangkutan. Kita tanpa sadar malah jadi pemasar popularitasnya dengan menempatkan diri sebagai “korban” kekejian.
Serupa itu, meme soal jabatan tangan Presiden kita dengan Raja Arab hanya bakal hadirkan pemopuleran. Kekocakan di balik foto itu justru bakal undang simpati. Permakluman lebih bisa diterima. Kita malah jadikan canda yang untungkan lawan. Tidak tahu bahwa ini semacam perangkap buat perolok kita karena kegaduhan angle foto dari kejadian yang tidak sepenuhnya demikian.
Memang, sebagian teman sang rekan membela begini: “Dia kan hanya mengutip laman berita, tapi kok kenapa yang di-bully malah dia?” Betul, rekan saya itu hanya menyalin apa adanya berita Merdeka. Tapi berita itu sarat jebakan. Jebakan pertama, untuk menarik keingintahuan pembaca beritanya, khususnya dari kalangan pembenci Presiden. Jebakan kedua, berita itu malah memerangkap sang rekan untuk siap “dihajar” dengan beberapa berita yang “sebetulnya”. Jadilah rekan saya itu yang sekadar menyalin berita malah disangka tukang fitnah.
Banyak di antara kita lupa bagaimana simpati personal begitu mudah diberikan rakyat negeri ini ketimbang menyeriusi ketidakbecusan kebijakan. Nah, ketika soal personal dieksplorasi besar-besaran, yang terjadi malah mengundang simpati pada sang figur. Seolah dia dianiaya, ditindas, dizalimi, tidak diberikan kesempatan bertindak, dan prasangka baik lainnya.
Saya tidak suka Presiden RI saat ini bukan karena personalnya. Dia lemah, memang. Tapi semua ini bisa diatasi kalau orang-orang yang mendukungnya juga disadarkan. Paling tidak diajak untuk mengingatkan atas putusannya menempatkan sosok tidak tepat sebagai penguasa negeri. Para penyokong, pemuja fanatik penguasa, adalah kalangan yang harus diajak sadar. Bukan melulu dengan fakta sebenarnya menurut versi kita. Kadang juga cukup dengan akhlak kita. Sebab, kalangan penyokong penguasa sebetulnya sudah sejak awal idap penyakit sosial yang dengan sendirinya terkuak, yakni senantiasa memungkiri suara hati.
Karena itu, menyerang mereka jangan sampai masuk pada personal subjek idolanya. Ini kontraproduktif dan bahkan hanya lahirkan kecintaan menggebu. Belum lagi rakyat awam yang salah tangkap bahwa penguasanya “dianiaya” oleh orang-orang macam rekan saya. Dalam hal ini, para penyokong taat penguasa adalah piawai memoles duka dan aib menjadi citra kebaikan. Kiranya pengalaman lampau perlu jadi pelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The World Its Mine