Selasa, 05 Agustus 2014

Tak Cukup Hanya Minta Maaf dan Selesai

DALAM sebuah kegiatan seminar, ada seorang ibu yang menceritakan bahwa anaknya di-bully di sekolah. “Bu, anak saya memakai kursi roda, sekolahnya di  SD negeri, setiap pulang di tubuhnya terdapat luka lebam. Suatu hari ada orangtua murid yang melihat kejadian ketika seorang anak dengan keras secara sengaja mendorong kursi roda, anak saya terjatuh ke lantai,” tuturnya. “Apa yang harus saya lakukan dengan hal ini?”

Suatu hari, keponakan saya mengalami hal yang sama di sekolahnya. “bVsok saya mau datang ke sekolah Pia, ingin marah rasanya. Pia kepalanya dipukul oleh 2 anak ketika pelajaran PAI,” tutur bundanya.

Kemudian saya bertanya kepada Pia, “Teteh apa yang terjadi tadi di sekolah?”
Ia pun menjawab, “Aku kan suka di suruh-suruh, tadi aku gak mau, eh tangan teman-teman dorong kepala aku.”

“Lalu Teteh bagaimana?” saya kembali bertanya.

“Ya, nangis lah,” jawabnya.

Saya pun berkata “Kalau ada teman yang berbuat tidak baik, Teteh bicara katakan ‘Aku tidak suka kamu berbuat seperti itu’.”

Keesokan harinya bunda Pia mendatangi sekolah untuk berbicara dengan guru. Setelah diskusi agak lama, guru tersebut menyampaikan bahwa salah satu siswa pelaku bully terhadap Pia sedang diterapi oleh psikolog. Sang gurun menyampaikan bahwa anak pendiam yang sering jadi korban, oleh sebab itu anak kita harus diberi pemahaman agar bisa membela diri atau mempertahankan diri. Seolah-olah guru menyetujui anak untuk melawan anak lain. Jika ada yang memukul maka pukul saja lagi. Begitu seterusnya.

Kalau guru mempelajari bagaimana Rasulullah bersikap terhadap orang yang menyakiti tentu saran seperti ini tidak akan pernah disampaikan kepada orangtua.

Jika seorang anak membully temannya di sekolah, maka yang patut dipertanyakan pertama kali adalah gurunya. Di mana guru pada saat kejadian berlangsung? Apa yang guru lakukan sehingga anak melakukan hal itu? Bagaimana guru mengajarkan kebaikan kepada anak didiknya?. Menjadi guru anak usia dini mau tidak mau  pendampingan penuh harus dilakukan. Memang bukan hal yang mudah, guru yang memiliki 2 mata harus mengawasi 30, 40 bahkan 50 siswa dalam satu kelas.

Mengapa guru yang salah? Karena di dalam Islam tidak ada kesalahan bagi anak usia dini. Apa pun yang dilakukan anak di atas bukan kesalahannya melainkan kesalahan orangtua atau gurunya dalam mendidik. Apa yang terjadi pada anak tersebut merupakan sebuah keterlambatan perkembangan.

Anak kelas 1 SD, seharusnya bisa berbicara ketika menginginkan sesuatu. Memukul  teman karena keinginan tidak terpenuhi adalah perbuatan anak toddler atau anak di bawah tiga tahun. Mereka belum mampu menyampaikan pesannya dengan bahasa verbal. Artinya ada kesenjangan antara tahap perkembangan usia biologis dengan usia kronologisnya.

Guru seharusnya mampu mendeteksi dan memahami tahapan perkembangan anak ini. Sehingga bisa mengevaluasi diri apa program yang harus diberikan bagi anak dengan kebolongan seperti ini.  Kemudian menyampaikan hal ini kepada orangtua. Agar kedua belah pihak bekerja sama membantu anak menaikan tahap perkembangan usia biologis sama dengan usia kronologisnya. Bukan sekadar menyuruh anak meminta maaf, lalu menganggap masalah selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The World Its Mine