Selasa, 05 Agustus 2014

Mandi dan Kecerdasan Anak

BEBERAPA waktu lalu, saya melihat adik saya  memandikan anak pertamanya. Usia anaknya 1 tahun lebih.  Bayinya tertawa menikmati dinginnya air. Namun ibunya teramat fokus menggosok badan anaknya dengan sabun. Lalu membilasnya dengan air tanpa berkata-kata sedikitpun.

Setelah keduanya keluar kamar mandi saya pun bertanya, “Dek, apa yang baru saja kamu lakukan?”
Ia pun menjawab, “Oh tadi itu, habis mandiin Azam.” Azzam itu nama anaknya.

“Dikira sedang mencuci baju,” tukas saya.

Ia pun berlalu menuju kamarnya.

Ba’da maghrib setelah anaknya tidur, saya bicara dengan adik. Saya sampaikan bahwa kegiatan mandi bisa membuat anaknya cerdas. Memang tidak sedikit para ibu yang belum memahami hal ini. Kebanyakan mereka merasa ingin cepat-cepat menyelesaikan satu kegiatan bersama anak karena pekerjaan rumah tangga lain menunggu

Usia 0-2 tahun disebut sebagai jendela kesempatan oleh neuroscientist. Karena pada usia inilah terjadi proses tahap awal penyambungan antar sel otak. Jika pada usia ini ada sel yang tidak tersambung, maka sel tersebut akan hilang melalui program penghapusan.Itulah mengapa kehidupan seorang anak setelah dewasa tergantung pada masa golden age-nya.

Dalam setiap kegiatan rutin yang dilakukan ibu dan bayinya terdapat banyak kesempatan untuk membangun sambungan sel-sel otak. Orangtua perlu memverbalkan apa kegiatan yang dilakukan dengan bayi. Bayi mendapat pengetahuan melalui semua inderanya. Maka dengan membahasakan semua yang dilakukan, bayi akan menerima pengetahuan melalui semua inderanya dengan lengkap.

Saat mandi misalnya, diawali dengan membantu bayi membuka baju. Ibu atau ayah yang membantu bayi harus bicara. “Anakku sayang, kegiatan mu sekarang adalah mandi. boleh ya ibu/ayah bantu buka bajunya. Bismillahirrahmanirrahiim. “ Ibu/ayah membuka baju anak perlahan-lahan tanpa berhenti bicara.

Kita katakan pertama yang dibuka kancingnya, lalu tangan kanannya dan seterusnya. Setelah bajunya di buka, ibu terus bicara bahwa sekarang sedang bergerak menuju kamar mandi, bisa ditambah dengan menghitung langkah kaki ibu dari kamar tidur menuju kamar mandi. Setelah siap di depan pintu kamar mandi, orangtua tetap tak berhenti bicara, sampaikan bagaimana Islam mengajarkan adab masuk kamar mandi disertai do’a  sebelum masuk kamar mandi.

Setelah anak masuk bak mandi, tetap orangtua harus bicara. Satu-persatu anggota tubuhnya disebutkan. Tak lupa fungsi-fungsi setiap bagian tubuhnya. Sampaikan benda-benda yang ada di kamar mandi. Dingin atau hangatnya air yang dipakai. Benda-benda yang sedang digunakannya. Usapan disertai pijitan lembut dan  hangat di tubuhnya akan membuat sambungan semua sel otaknya.

Hingga selesai bilasan terakhir orang tua tetap tidak boleh berhenti bicara. Kemudian ulang seperti diawal kita sampaikan adab keluar kamar mandi. Lalu terus bicara bergerak kemana setelah keluar dari sana.

Satu kegiatan rutin mandi saja akan membuat sambungan yang banyak pada sel-sel otaknya. Rangsangan dari semua inderanya membuat anak kita menjadi anak yang cerdas. Bisa kita bayangkan berapa sambungan yang akan terlewatkan ketika orangtua tidak mendampingi anaknya.

Kita tidak bisa memilih dilahirkan dari orangtua yang cerdas atau biasa saja. Tapi kita bisa memilih untuk menjadi orangtua yang cerdas bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The World Its Mine