Selasa, 01 Oktober 2013

Belajar (Karakter) Kung Fu

Film Kung Fu Panda 2 sudah mulai ditayangkan. Meskipun belum menonton, saya percaya film ini jugamemiliki nilai-nilai inspiratif seperti film sekuel sebelumnya, Kung Fu Panda. Tiba-tiba saja saya teringat tulisan yang pernah saya bikin tentang Kung Fu ini. Yuk simak….
Pagi ini saya mendengar talkshow di salah satu radio terkemuka di kota kota Semarang. Pembicara talkshow adalah Anthony Dio Martin (Managing Director HR Excellency,www.hrexcellency.com) yang juga dikenal sebagai penulis buku best seller dan trainer sukses di Indonesia. Topik talkshow adalah tentang “Kung Fu Emosi”. Pak Anthony memang pakarnya topik emosi. Salah satu bukunya Emotional Quality Management pernah menjadi best seller.
Menarik sekali isi talkshow ini, meskipun saya cuma mendengarnya sekitar 15 menit. Bahasannya seputar esensi Kung Fu yang bisa diaplikasikan untuk mengelola emosi. Terinspirasi dari film Kung Fu Panda? Pasti iya. Toh dari film Kung Fu Panda banyak sekali pelajaran yang bisa kita peroleh.
Tulisan ini dibuat buat juga terinspirasi dari talkshow tersebut, yaitu esensi karakter Kung Fu untuk kehidupan kita.
Apa sih Kung Fu itu? Sebagian dari kita yang sudah menonton film Kung Fu Panda, bisa jadi langsung ingat dengan Po –si panda gemuk tanpa keahlian kung fu yang kemudian dinobatkan menjadi Pendekar Naga dan kemudian berhasil mengalahkan Tai Lung-
Kungfu (gong fu) artinya “ketrampilan”. Kung Fu adalah seni bela diri dari Tiongkok. Sebenarnya Kung Fu lebih dari sekedar seni bela diri. Kung Fu juga sarana untuk menjaga kebugaran jasmani, melatih dan membentuk karakter. Inti Kung Fu adalah pengenalan diri dan batas diri, kemudian melampauinya. Dalam skala yang lebih luas, Kung Fu adalah “way of life”. Kenapa disebut “way of life”? karena tujuan akhir yang dapat dicapai setelah mempelajari Kung Fu adalah menaklukan diri sendiri.
Karakter yang dibentuk dari belajar Kung Fu adalah :
 1. Loyalitas
Mahir dalam Kung Fu tidak bisa diperoleh dalam hitungan jam atau hari. Loyalitas dan kesabaran-lah yang dapat membuat orang bertahan untuk bisa mahir menguasai seni Kung Fu ini. Demikian juga dalam kehidupan. Loyalitas membuat kita memiliki passionmemiliki harapan dan memiliki keinginan untuk mencapai yang lebih baik. Loyalitas tidak semata diukur dari durasi tahun atau keberadaan secara fisik. Lebih dari itu, loyalitas adalah apa yang kita berikan selama waktu yang dilalui. Meliputi segala upaya, karya dan pemikiran kita yang terbaik yang kita berikan dengan penuh ketulusan.

2. Kepercayaan
Guru Kung Fu akan memberikan kepercayaan kepada murid yang belajar Kung Fu agar kepercayaan diri si murid terbentuk. Demikian pula kepercayaan terhadap diri sendiri dan tujuan belajar Kung Fu akan menambah keyakinan terhadap manfaat Kung Fu.Kepercayaan memang tidak mudah dibentuk, namun bisa diruntuhkan dalam hitungan detik. Menjadi orang yang bisa dipercaya adalah usaha yang sama dengan memberi kepercayaan bagi orang lain, untuk mereka yang sulit menaruh kepercayaan. Kepercayaan membuat kita semakin optimal karena kita tahu bahwa yang ada dalam diri kita dapat memberikan rasa aman dan keyakinan bagi orang yang memberi kepercayaan.
3. Hormat kepada yang lebih senior
Murid belajar Kung Fu dari yang sudah mahir dan sudah banyak pengalaman. Tanpa rasa hormat, bisa jadi setelah kita banyak belajar dan mumpuni, kita menjadi lupa diri, lupa bahwa segala yang telah kita miliki adalah hasil dari kebaikan hati dan ketulusan dari senior kita yang sudah mengajarkan kita segalanya. Yang sederhana dari pelajaran karakter ini adalah : hormatilah orang lain seperti kita ingin dihormati. Kitapun akan menjadi yang ‘senior’ kelak.
4. Melindungi dan bertanggung-jawab terhadap yang lebih yunior
Yunior yang masih belum mahir, patut untuk dilindungi dan dijaga dari segala bahaya. Yang senior melindungi yang yunior, sebaliknya yunior menghormati senior. Ada beberapa bagian dari kehidupan yang tidak membedakan antara yunioritas dan senioritas ini. Bagaimanapun juga, yang masih lemah dan belum bisa berdiri diatas kaki sendiri perlu dilindungi dan dijaga, sembari dilatih untuk menjadi mandiri.
5. Sopan santun
Kalau kita lihat di film-flm Kung Fu, cara menunjukkan rasa hormat adalah dengan membungkukkan badan, atau memberikan salam hormat dengan kedua telapak tangan disatukan di depan wajah. Sopan santun dan rasa hormat akan menjaga kita untuk selalu bisa menahan diri lebih baik dan lebih baik lagi. Sopan santun tidak diartikan sebagai sebuah kekakuan sikap. Namun sebuah kebebasan (untuk menjadi diri sendiri) yang tetap mengingatkan kita untuk bisa menahan diri.
6. Rendah hati
Makin tinggi ilmu Kung Fu yang dikuasai bisa membuat murid menjadi sombong dan merasa sudah pintar segalanya. Kerendahan hati dalam belajar ilmu Kung Fu diperlukan untuk membentuk pola pikir bahwa ‘diatas langit masih ada langit’. Rendah hati memotivasi kita untuk selalu belajar banyak hal, mengasah potensi dan mengetahui bahwa masih banyak talenta dari diri kita yang bisa dikembangkan.
7. Memiliki rasa malu (bila berbuat salah)
Kung Fu tidak mengajarkan rasa malu ketika kalah. Namun ketika berbuat salah.Kesalahan membuat kita belajar bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki. Selalu ada kesempatan untuk mengubah kesalahan yang pernah kita perbuat.  Rasa malu untuk membuat kita sadar, bukan untuk menarik diri, apalagi membatalkan niatan diri untuk menjadi lebih baik lagi.
Selain karakter diatas, dan bisa jadi masih banyak lagi karakter yang bisa digali dari filosofi belajar kungfu, sejatinya dalam Kung Fu ada point of view yang menarik.Kemenangan sejati tercapai apabila kita dapat merubah dan atau menghilangkan keinginan lawan untuk berkelahi. Apabila kita berhasil menghilangkan keinginan musuh untuk berkelahi, kemenangan yang hakiki sudah kita miliki.
Mungkin kita tidak ada waktu untuk tidak belajar Kung Fu. Tapi belajar dan mempraktikkan karakter Kung Fu niscaya membuat kita menjadi pemenang (hidup) sejati.
Selamat berlatih (karakter) Kung Fu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The World Its Mine