Selasa, 04 Oktober 2016

Hijrah dan Pesan Perubahan ..

Hijrah
Hijrah

Oleh: Ahmad Sastra

Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya menegaskan bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing. Ada dua kata asing dalam penggalan hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Kitab al-Kabir ini. Kata asing yang pertama berkaitan dengan kedatangan Islam di tengah sistem kehidupan jahiliyah.

Kehidupan jahiliyah adalah seburuk-buruk sistem kehidupan pada masa itu. Seluruh puncak kemaksiatan manusia muncul pada zaman ini. Pada zaman ini akal dan wahyu sudah tidak dijadikan sebagai timbangan perilaku manusia. Seluruh perilaku kehidupan hanya dilandasi oleh naluri dan hawa nafsu juga mengabaikan nilai-nilai etis agama serta nilai-nilai rasionalitas.

Era jahiliyah diwarnai munculnya permusuhan antarmanusia karena kepentingan hedonistis.  Berbagai tindak pembunuhan, tradisi mabuk-mabukan, perjudian, perzinaan, bahkan perbudakan terjadi begitu masif dan meluas. Seluruh perilaku buruk ini telah mendarah daging dalam kehidupan mereka, sulit untuk diubah.

Dalam bidang akidah, pada era jahiliyah, Allah tidak lagi dijadikan sesembahan. Mereka terjebak pada keyakinan nenek moyang yang penuh kemusyrikan dan kekufuran. Berbagai bentuk patung dan benda-benda lainnya dijadikan sebagai tuhan yang disembah. Istilah jahiliyah bukan berkaitan dengan tingkat kecerdasan otak, melainkan berkaitan dengan tidak berfungsinya akal dan akhlak manusia.

Dalam keadaan puncak kerusakan manusia inilah, Allah lantas mengutus seorang Rasul yang bernama Muhammad SAW untuk melakukan perbaikan pada seluruh kerusakan sistem kehidupan. Rasulullah dengan lantang dan tegas menyampaikan kesalahan akidah, pemikiran, serta perilaku mereka. Rasulullah menyampaikan, hanya Allah-lah yang berhak disembah seraya mengajak mereka untuk memeluk agama Islam.

Tampaknya kedatangan Rasulullah dengan dakwahnya ini mengusik keyakinan dan menyulut emosi kaum jahiliyah. Sebagai sosok orang Arab, Rasulullah sendiri bukanlah orang asing, melainkan ajaran-ajaran Islam yang disampaikan beliaulah yang dirasakan asing. Dalam titik inilah, Islam dianggap asing oleh kaum jahiliyah.

Kata asing kedua berkaitan dengan masa setelah Rasulullah. Pada era ini, kehidupan kembali dikuasai oleh sistem kehidupan jahiliyah. Kehidupan modern yang kini sedang dirasakan manusia akhir zaman adalah kehidupan yang tidak jauh kondisinya dengan zaman jahiliyah masa kenabian. Bahkan, bisa dikatakan lebih jahiliyah lagi sebab seluruh perilaku kemaksiatan pada zaman nabi kini terjadi lebih masif dan lebih luas.

Meski dianggap asing, Rasulullah melanjutkan sabdanya bahwa beruntunglah orang-orang yang dianggap asing. Para sahabat bertanya kepada Beliau SAW, "Siapakah orang-orang asing itu?" Rasulullah menjawab, orang asing itu adalah mereka yang melakukan perbaikan ketika kehidupan manusia sudah mengalami kerusakan. Jawaban Rasulullah ini sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah pada zaman itu. Rasulullah adalah orang yang diutus Allah untuk melakukan perbaikan kerusakan hidup jahiliyah.

Kata idza (ketika) dalam lafaz yuslihuuna idza fasada an-naas, menurut al-Ausat dan al-Shagir, menunjukkan masa yang akan datang. Dalam hadis ini terdapat petunjuk bahwa kerusakan tersebut terjadi setelah masa sahabat. Artinya, jika merujuk pada kehidupan hari ini, masa kerusakan salah satunya adalah pada masa kita hidup sekarang.

Jahiliyah modern adalah kehidupan yang di dalamnya akal dan wahyu tidak lagi dijadikan rujukan serta timbangan pola pikir dan pola sikap manusia. Sebaliknya, orientasi sekularitas duniawilah yang dijadikan sebagai timbangan kehidupan manusia. 

Orang beruntung pada saat ini adalah orang yang senantiasa berdakwah amar makruf nahi mungkar, mengubah kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan Islam yang sejalan dengan wahyu Allah. Risikonya, ia akan dianggap sebagai orang asing. Keuntungannya adalah orang asing yang mendapatkan keberuntungan dari Allah, yakni mendapatkan ridha dan surga-Nya kelak di akhirat. Untuk mengenang momentum tahun baru Hijriyah tahun ini, jadilah orang asing yang mengubah kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan Islami.

Sehatkah Diet Berpantang Nasi? ..


 
 
Ada banyak jenis diet yang tersedia di dunia ini. diet rendah lemak, rendah gula, diet Paleo, diet Mediterania, diet rendah kalori atau karbohidrat dan lain sebagainya.
 
Di negara kita, salah satu yang paling terkenal adalah diet rendah karbo. Pelaku diet ini, pantang atau sangat membatasi konsumsi nasi atau sumber karbohidrat lainnya. Beberapa di antara pelakunya, tetap menjalankan olahraga intensitas tinggi.

Pertanyaannya, amankah menerapkan pola diet seperti ini? Inilah jawaban dari Dr. Mike Roussell, Ph.D., ahli diet dan nutrisi dari AS.

Anda bisa memotong konsumsi karbohidrat dan mengandalkan lemak saja untuk sumber energi dan itu benar-benar aman. Tapi ingat, nutrisi tertentu sangat penting untuk Anda perhatikan asupannya. Misalnya, konsumsilah jenis lemak yang berbeda, beberapa jenis asam amino, dan banyak vitamin dan mineral.
Supaya tetap bisa beraktivitas tanpa karbohidrat, tubuh Anda akan melakukan tugasnya mencari sumber energi alternatif. Sebagai contoh, ketika secara drastis Anda mengurangi atau menghilangkan karbohidrat, tubuh Anda mampu membuat gula untuk disimpan sebagai glikogen.

Karena membutuhkan banyak energi, otak kita terkenal sangat menyukai gula. Tetapi meskipun demikian, otak lebih cinta dengan kelangsungan hidup.

Akibatnya, ketika tak ada gula yang masuk, otak akan memenuhi dirinya sendiri dengan keton (produk sampingan hasil dari pemecahan lemak yang berlebihan). Bahkan, mungkin otak Anda akan beralih ke sumber bahan bakar alternatif ini tanpa Anda menyadarinya jika Anda pernah memiliki pola makan sangat rendah karbohidrat atau melakukan diet ketogenik, di mana 60 sampai 70 persen kalori Anda berasal dari lemak dan hanya makan 20 sampai 30 gram karbohidrat perhari.

diet ini sangat efektif untuk menghilangkan lemak, mengurangi faktor risiko tertentu terhadap penyakit jantung, membantu mengatasi kondisi diabetes dan epilepsi.

Jadi, jika Anda ingin, Anda bisa benar-benar sangat mengurangi konsumsi karbohidrat, mengandalkan kekuatan tubuh Anda kepada lemak dan tetap berolahraga intenstas tinggi.

Tapi pertanyaannya adalah: Apakah itu benar-benar perlu? Dari sudut pandang saya, yang dimaksud dengan diet sangat rendah karbohidrat adalah membatasi asupan karbo menjadi sebanyak 20, 30, atau bahkan 50 gram karbohidrat dan itu bukan jumlah yang banyak. Anda bisa hanya makan jamur, asparagus, dan bayam.
Berikut ini adalah pendekatan diet rendah karbo yang akan membuat tubuh Anda lebih mengandalkan lemak. Hirarki karbohidrat ini dibuat sebagai panduan yang bersahabat untuk membatasi karbohidrat berdasarkan kebutuhan individu.

Hirarki sederhana ini dibuat berdasarkan pada kenyataan bahwa tidak semua karbohidrat diciptakan sama. Makanan di bagian atas daftar, lebih padat kalori dan mengandung nutrisi yang lebih sedikit.
Sedangkan di bagian bawah daftar adalah jenis makanan yang kurang padat kalori, namun mengandung lebih banyak nutrisi. Yang di bagian bawah adalah yang lebih layak Anda jadikan pilihan.
1. Makanan yang mengandung gula tambahn
2. Biji-bijian olahan
3. Pati atau biji-bijian utuh
4. Buah
5. Sayuran
6. Sayuran hijau

Cobalah untuk mengurangi dan/atau menghilangkan dua posisi teratas. Jika Anda masih merasa perlu untuk lebih menguranginya lagi, atau untuk lebih mengontrol kadar gula darah, hilangkan atau kurangi juga makanan di nomor berikutnya.

Adopsi pendekatan ini untuk membatasi karbohidrat sambil tetap menjaga kebutuhan nutrisi Anda sesuai dengan kebutuhan sehari-hari Anda.

Anak Belajar Norma Lewat Interaksi dengan Orangtua ..


 
 
Anak yang kebanjiran informasi akan lebih mudah terpapar hal negatif. Tanpa pendampingan orangtua, kondisi ini mengakibatkan anak akan kesulitan memilah informasi. Karenanya, peran orangtua untuk berinteraksi dengan anak dan mendampinginya menjadi penting.

Menurut para pakar, minimnya pendampingan orangtua berdampak pada rendahnya pengendalian diri anak. Faktor ini berkaitan dengan terjadinya kasus pembunuhan Ade Sara oleh teman terdekatnya yang masih berusia remaja.

“Interaksi yang terbatas menyebabkan anak hanya mendapat sedikit pendampingan orangtua. Padahal anak sangat perlu pendampingan di era kemudahan akses informasi ini,” kata psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), Indri Savitri, kepada Kompas Health.

Memilah hal positif dan negatif
Menurut Indri, tanpa pendampingan dan interaksi dengan orangtua, anak cenderung menerima informasi negatif sebagai sesuatu yang wajar. Anak juga akan menganggap wajar bila ia menerapkan hal negatif yang dipahaminya tersebut kepada orang lain.
“Interaksi dan pendampingan yang minim mengakibatkan anak tidak mendapat pemahaman yang baik tentang norma dan berbagai hal positif lain, termasuk pengendalian diri. Akibatnya saat beranjak dewasa anak hanya berfikir seputar dirinya, tanpa memikirkan dampak perbuatannya pada orang lain,” kata Indri.
Berkaca dari kasus Ade Sara, Indri menyarankan orangtua sedapat mungkin mendampingi masa tumbuh kembang anak-anaknya. Pendampingan ini terus berlangsung hingga remaja saat anak memerlukan teman diskusi. Orangtua dan anak yang sering berdiskusi berdampak pada timbulnya pemahaman dalam diri anak mengenai nilai positif. Lewat komunikasi yang baik, anak akan menanamkan nilai positif tersebut yang berdampak pada pembentukan karakternya.

Belajar berkomunikasi yang baik
Pendampingan orangtua, lanjut Indri, juga diperlukan anak dalam menjalin relasi dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini termasuk cara berbicara, berkomunikasi, dan menyampaikan ketidaksukaan. Cara mengekspresikan diri sangat penting supaya anak tidak menyebabkan orang lain tersinggung.

“Cara berkomunikasi ini sangat penting apalagi sekarang tak perlu bertemu wajah untuk berbicara. Penggunaan kata harus diatur sebaik mungkin sehingga anak bisa mengekspresikan dan membaca perasaan orang lain, terutama dalam berbagai media sosial. Anak juga harus bisa mengendalikan diri dalam forum maya seperti itu,” kata Indri.
Menyelesaikan masalah lebih objektif
Hal lain yang bisa diperoleh dari pendampingan adalah kemampuan anak memandang masalah secara objektif ketika dewasa. Dengan penanaman karakter dan norma yang kuat, anak akan berusaha menghadapi berbagai masalah dengan pikiran jernih ketika dewasa. Anak akan terbiasa fokus mencari jalan keluar, menemukan penyelesaian masalah yang tidak semata mengumbar emosi.

Dengan mengetahui pentingnya pendampingan, Indri berharap orangtua tidak lagi meremehkan interaksi dengan anak. Bagaimanapun orangtua harus menyediakan waktu untuk mendampingi anak terutama dalam menanggapi berbagai informasi yang beredar. Harapannya, tidak ada lagi kasus Ade Sara berikutnya.

Pengendalian diri
Kasus Ade Sara membuktikan rendahnya kontrol diri pada remaja akibat minimnya pendampingan dan interaksi orangtua.

“Kalau dilihat dari caranya melakukan pembunuhan, pelaku kemungkinan hanya ingin membalas dendam. Namun, di tengah jalan, emosi memuncak dan terjadi hal yang di luar perkiraan. Seandainya kontrol diri lebih baik maka pembunuhan mungkin bisa dihindari,” kata psikolog forensik, Reza Indragiri.

Ini Akibatnya jika Memaksa Anak Belajar Tak Sesuai Gayanya ..


 
 
Masing-masing anak ternyata punya gaya belajar tersendiri untuk mudah memahami pelajaran. Ada yang lebih mudah menyerap informasi secara visual, seperti melihat gambar. Ada yang cenderung auditori atau mendengar, dan kinestetik atau menyerap informasi sambil bergerak.

Untuk itu, sebelum menuding anak lambat menyerap informasi, kenali dulu gaya belajarnya. Jangan paksa anak memahami sesuatu menggunakan cara yang tak sesuai dengan gaya belajarnya.

Psikolog anak dan remaja dari TigaGenerasi, Putu Andita, mengungkapkan, jika anak dipaksa belajar tak sesuai dengan gayanya, informasi yang akan terserap menjadi tidak optimal.

"Misalnya anak auditori, belajar dua jam secara visual, jadi cuma terserap 30 persen. Jadinya pas mengerjakan ulangan enggak bisa optimal," ujar Putu dalam acara talkshow di Mother & Baby Fair, Balai Kartini, Jakarta, Kamis (29/9/2016).

Salah satu alasan anak malas belajar juga bisa jadi karena ia tak suka dengan metode belajar yang digunakan.
Ada anak yang bisa duduk tenang sambil membaca buku, tetapi pada anak yang memiliki gaya belajar kinestetik, justru akan sulit memahami informasi dengan duduk diam.
Pada anak yang secara kinestetik lebih menonjol, bisa belajar sambil bermain. Anak auditori lebih suka belajar sambil bercerita dan anak visual lebih suka memahami sesuatu melalui gambar-gambar. Putu mengatakan, jika metode tidak sesuai, proses belajar pun akan menjadi beban.

"Apa pun gaya belajarnya, kalau enggak menyenangkan, anak tertekan enggak bisa menyerap informasi dengan baik," kata Putu.

Begini Cara Mengetahui Gaya Belajar Anak ..


 
 
Secara umum, ada tiga gaya belajar anak, yaitu visual (penglihatan), auditori (pendengaran), dan kinestetik (gerak). Agar anak belajar dengan optimal, sebaiknya menyesuaikan dengan gaya belajarnya. Lantas, bagaimana mengetahui anak memiliki gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik?

Psikolog anak dan remaja dari TigaGenerasi, Putu Andita mengatakan, mengenali gaya belajar lebih mudah saat anak mulai memasuki TK.

"Kalau masih terlalu kecil belum kelihatan bagaimana gaya belajarnya. Saat TK, anak kan mulai lebih banyak interaksi dan eksplorasi, jadi lebih mudah dikenali,"terang Putu dalam acara talkshow di Mother & Baby Fair, Balai Kartini, Jakarta, Kamis (29/9/2016).

Putu memaparkan, anak yang memiliki gaya visual akan lebih mudah mengerti jika diberikan gambar, video, atau film. Tanda-tandanya, anak juga mudah terganggu jika ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya.

"Misalnya lagi belajar di kelas, lalu ada orang lewat. Dia akan terdistraksi (terganggu)," jelas Putu.

Sementara itu, anak yang memiliki gaya belajar auditori atau pendengaran cenderung mudah terganggu jika ada suara berisik. Sebab, anak dengan gaya belajar auditori lebih mudah menyerap informasi melalui pendengarannya. Anak ini akan lebih mudah memahami sesuatu ketika dibacakan cerita, dibanding ia membacanya sendiri tanpa suara.

Untuk anak dengan gaya belajar kinestetik, biasanya akan merasa terganggu jika ada yang menyentuhnya.
Untuk belajar dengan baik, anak ini tidak bisa hanya duduk manis saja. Saat membaca, anak dengan gaya belajar kinestetik akan lebih mudah mengerti jika membaca sambil menunjuk huruf di buku.
Anak mungkin saja memiliki ketiga gaya belajar tersebut. Tetapi, umumnya ada satu gaya belajar yang lebih menonjol.

Pendiri TIgaGenerasi Noella Adriyanti Rilantono atau yang akrab disapa Ui Birowo menambahkan, untuk mengenali gaya belajar anak, orangtua harus sering menghabiskan waktu dengan anak. Orangtua perlu mengobservasi anak dan lebih peka.

Metode Belajar untuk Anak yang Terbiasa Main Gawai ..


 
Gawai saat ini sudah menjadi benda sehari-hari yang dipegang oleh anak. Kebiasaan itu tentu akan berdampak pada proses belajar anak. Karenanya dibutuhkan metode belajar yang tepat agar anak mudah menangkap materi pelajaran.
 
Psikolog Ajeng Raviando mengatakan, anak-anak yang akrab dengan gadget memerlukan metode active learning atau pembelajaran aktif.

"Active learning mengajak anak belajar aktif. Anak sekarang kan terbiasa dengan gadget, tinggal klik saja. Jadi yang aktif gadget-nya, bukan anaknya," kata Ajeng dalam talkshow di Mother & Baby Fair, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam metode pembelajaran aktif, anak tidak hanya diajak membaca buku, tetapi juga mendengar topik pelajaran melalui cerita, melihat gambar atau video, kemudian anak tersebut ikut membahas materi hingga mempraktekkannya.

Lewat metode tersebut, anak tak hanya dipandang sebagai peserta didik yang menerima pelajaran, tetapi juga ikut terlibat aktif dalam memecahkan suatu masalah atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan diajak berdiskusi mengenai pembelajaran yang ia terima.

"Kalau enggak aktif, penyerapan informasinya bisa berkurang," lanjut Ajeng.

Ia menambahkan, umumnya anak kesulitan mengingat dan mengerti jika hanya mendengarkan guru di sekolah menjelaskan materi panjang lebar. Tetapi, jika disertai media visual, anak akan mulai bisa mengingat. Kemudian, jika ditambah pembahasan lebih lanjut oleh anak itu sendiri, mereka akan lebih mudah mengerti.
"Pembelajaran aktif bertujuan untuk mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki anak," ujarnya.

Ajeng mengatakan, stimulasi aktif bisa dimulai sejak usia 1 tahun, yakni saat orangtua mengajari anak untuk belajar berbicara. Sementara di usia balita, anak diajak belajar memilah warna sambil bermain.

Dengan metode pembelajaran aktif, anak usia TK dapat diajak belajar mengenal huruf tidak hanya dari tulisan di buku. Tetapi bisa dengan kegiatan mencari huruf yang di tempel di ruang kelas. Intinya anak tidak pasif sebagai penerima materi.

"Untuk anak SD contohnya praktek langsung mengenai magnet. Misalnya penggaris besi digosok-gosokkan di rambut nanti bisa menarik potongan kertas kecil," papar Ajeng.

Agar Mata Tetap Sehat meski Sering Menatap Layar Komputer ..


 
 
Tak sedikit perempuan usia produktif mengalami masalah pada indera penglihatannya sehingga sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena itu, bila sudah muncul gejala masalah pada mata, sebaiknya tidak dianggap sepele.

Menurut dr Kantika Prinandita, SpM dari RS Hermina Bogor, ada beragam masalah pada mata yang sering dialami orang dewasa, terutama di usia produktif.

“Gangguan yang sering terjadi antara lain mata lelah (astenopia), Computer Vision Syndrome (CVS), gangguan refraksi dan mata kering (dry eye).”

Lalu, bagaimana cara menjaga kesehatan mata untuk usia produktif ini? Berikut beberapa hal yang penting diperhatikan:

1. Tidak melakukan pekerjaan dekat secara terus-menerus. Pada saat melakukan pekerjaan dekat, mata akan berakomodasi. Akomodasi pada mata yang terjadi secara terus-menerus akan mengakibatkan mata menjadi cepat lelah.

2. Sebaiknya setiap 30 menit melakukan pekerjaan dekat (seperti membaca, menjahit atau menatap layar monitor) diselingi dulu dengan aktivitas melihat jauh (lebih dari 6 m). Bisa diselingi dengan melihat ke pojok-pojok ruangan atau melihat keluar jendela.

Bisa juga diterapkan aturan 20-20, yaitu 20 menit menatap obyek dekat dan diselingi 20 detik beristirahat melihat obyek jauh dengan jarak lebih dari 6 meter.

Tidak perlu meninggalkan tempat duduk atau layar monitor, hanya memalingkan pandangan sejenak untuk mengistirahatkan mata dan untuk mencegah terjadinya gangguan pada mata.

3. Pada saat beristirahat mata (melihat ke obyek yang jauh), bisa dilakukan senam ringan untuk peregangan otot-otot bahu dan leher untuk mencegah terjadinya computer vision syndrome.

4. Pada saat sedang bekerja di depan monitor, maka secara tidak sadar refleks berkedip akan berkurang. Hal ini menyebabkan mata menjadi kering. Oleh karena itu, sebaiknya dibiasakan untuk berkedip secara teratur. Atau dapat juga menggunakan artificial tears untuk menghindari terjadinya mata kering.

5. Penggunaan layar komputer/laptop, menonton televisi atau bahkan gadget sebaiknya dibatasi maksimal 2 jam sehari.

6. Begitu pun jarak pandang mata ke ponsel atau gadget juga harus diperhatikan. Jarak yang baik antara mata dengan gadget adalah sekitar 30-40 cm. Usahakan juga agar posisi gadget lebih rendah dari posisi mata, yaitu membentuk sudut sekitar 15?.

7. Pencahayaan layar komputer/laptop/gadget sebaiknya tidak terlalu terang. Pasalnya, pencahayaan yang terlalu terang dapat mempercepat timbulnya mata lelah.

8. Pencahayaan ruangan juga harus diatur sedemikian rupa agar tidak terlalu kontras dengan pencahayaan dari layar laptop/komputer/gadget. Ruangan yang terlalu redup akan menyebabkan kontras yang berlebihan sehingga akan membuat mata menjadi tidak nyaman.

9. Pada saat anak sedang berkonsentrasi menggunakan laptop, refleks berkedip akan berkurang. Hal ini menyebabkan mata menjadi kering. Oleh karena itu, jangan lupa untuk berkedip secara teratur saat sedang menggunakan perangkat kerja Anda.

10. Apabila Anda menonton televisi usahakan tidak terlalu dekat dengan layarnya. Jarak yang baik untuk menonton televisi adalah sekitar 4-5x diagonal tv.

11. Tak kalah penting, hindari membaca sambil tiduran, hindari membaca di tempat gelap, istirahat yang cukup, serta rajin mengonsumsi sayur dan buah karena baik untuk kesehatan mata.

12. Senam mata cocok dilakukan pada penderita insufisiensi akomodasi, yaitu pada penderita yang memiliki kelainan akomodasi. Senam mata yang dilakukan dengan menggerak-gerakkan bola mata ini sebenarnya masih bersifat kontroversial.

13. Pemijatan pada daerah di sekitar mata juga dapat dilakukan untuk mengurangi mata lelah. Dengan memijat di daerah sekitar mata, aliran darah di sekitar mata akan menjadi lancar dan mata menjadi segar kembali.
(Hilman Hilmansyah)

The World Its Mine