Senin, 18 Februari 2013

Ketika Pria Berperan Sebagai Ayah


Kelahiran bayi dalam sebuah keluarga menjadi anugerah. Peran ayah tak kalah penting dengan ibu dalam merawat dan mengasuhnya. Apalagi pada enam minggu pertama sejak kelahiran, saat bayi sangat membutuhkan bantuan dan perhatian ayah-ibunya.

Butuh kesabaran dan kerja keras dengan ketulusan dan suka cita untuk menjalani masa tak terlupakan ini, tentu saja dengan kondisi Anda dan suami memutuskan mengurus sendiri tanpa bantuan pengasuh bayi. Sudahkah suami Anda berperan besar membantu Anda mengurus bayi? Berikut tanda-tandanya:

Bangun di malam hari dan tidur lelap di sela waktu
Waktu tidur Anda dan suami berubah drastis saat mengalami masa menjadi orangtua untuk pertama kalinya. Bayi yang terbangun di malam hari, entah perlu berganti popok atau lapar dan haus, membuat Anda dan suami berganti peran mengurusnya. Jika suami menjalankan peran ini, beruntunglah Anda sebagai ibu dan istri. Dan maklumi saja jika, di siang hari atau saat ada waktunya di hari libur, suami memanfatkan waktu untuk tidur, bergantian dengan Anda tentunya. Baik Anda dan suami memang harus membiasakan diri untuk memanfaatkan kesempatan untuk tidur.
Menjadi egois
Menempatkan kebutuhan bayi sebagai prioritas utama adalah fokus Anda dan suami pada masa ini. Suami yang memainkan perannya sebagai ayah, akan dengan mudah mengatakan "tidak" kepada teman atau relasi yang mengajaknya berkegiatan saat energi sudah terkuras. Dia akan lebih memilih bersama Anda dan buah hati.

Siap sedia berurusan dengan popok
Bayi bergantung pada orangtuanya untuk makan, minum, mandi, berganti pakaian, dan berganti popok. Suami perlu terlibat memainkan perannya, dan harus siap berurusan dengan semua kebutuhan buah hati. Karena urusan ini juga menjadi tanggungjawab sebagai ayah, yang mendukung ibu paska melahirkan.
Filter informasi
Sebagai orangtua baru, Anda akan banyak menerima masukan dari teman dan keluarga. Maksud mereka tentu saja baik, berbagi pengalaman. Namun setiap keluarga memiliki karakter dan kebutuhan berbeda, termasuk seberapa besar peran ayah. Coba kenali peran suami, apakah dia rajin mencari informasi, atau bahkan mencari referensi bacaan untuk menjadi ayah? Jika iya, ajak juga diskusi karena semua informasi yang didapatkan perlu disaring sesuai kondisi keluarga Anda di rumah.

Tak lagi gengsi
Bayi Anda akan membutuhkan waktu bersama ibunya, untuk menyusui atau lainnya. Jika persediaan popok habis, suami yang belajar berperan sebagai ayah takkan sungkan mengambil peran. Misalnya berbelanja kebutuhan bayi di supermarket. Antre di kasir dengan tumpukan popok bukan hal yang membuatnya malu, justru bangga berperan sebagai ayah dari buah hatinya.

Menjalani peran tanpa beban
Suami tak terlalu menganggap serius, apalagi menjadikan peran ayah sebagai beban. Ini pertanda baik. Dia menyelipkan suka cita dan humor di dalam perannya sebagai ayah. Artinya suami menyenangi perannya, dan sepenuh hati menjalankan tanpa beban atau paksaan. Peran seperti inilah yang dibutuhkan, karena bagaimanapun peran lengkap dari ayah dan ibu di masa awal pertumbuhan anak akan mempengaruhi bagaimana buah hati bertumbuh nantinya. Suami menikmati peran sebagai orangtua muda, mengurus semua kebutuhan bayi bersama. Anda dan suami akan merindukan masa ini ketika anak sudah dewasa nantinya, saat mereka mandiri dan tak lagi bergantung kepada orangtuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

The World Its Mine