Kamis, 03 November 2016

7 Cara Mencegah Perut Kembung ..

Perut kembung sudah pasti bikin tak nyaman. Berikut ini tujuh cara mudah mengatasi perut kembung :

1. Makan semangka
Makan buah seperti semangka, nanas, melon dapat mencegah kembung. Ini berkat kandungan air dan potasium yang bermanfaat mengeluarkan kelebihan garam di tubuh kita.

2. Meneguk air sedikit demi sedikit
Minum air sedikit-sedikit tetapi konsisten seharian dapat menjaga kadar air yang normal dalam tubuh. Tak minum tapi lantas minum banyak sebenarnya membuat syok tubuh kita dan bikin tubuh jadi bengkak.

3. Makan porsi kecil dan sering
Makan sering dalam porsi kecil mengontrol kadar gula darah kita dan mengurangi perasaan penuh di perut. Makanan kecil yang sehat juga menjaga agar tak terlalu kelaparan sehingga kita jadi memilih makanan yang lebih bergizi.

4. Mengulum permen
Mengunyah permen karet adalah cara cerdas untuk mengontrol keinginan menyantap makanan manis. Namun, mengunyah permen karet justru menciptakan kantong-kantong udara di perut dan menyebabkan kembung. Daripada permen karet, pilihlah permen peppermint bebas gula yang ternyata merilekkan perut secara alami.

5. Minum kopi hitam
Kafein dalam secangkir kopi hitam membuat usus berkontraksi dan membersihkan sisa-sisa makanan. Minumlah kopi hitam tanpa tambahan krim dan susu karena zat tambahan ini justru membuat perut kembung.

6. Minum jus cranberry
Jus cranberry termasuk zat diuretik yang menyebabkan sering buang air kecil. Kelebihan air pun dibuang dalam bentuk urin.

7. Olahraga
Bergerak menyebabkan peredaran darah lancar. Bahkan gerakan ringan seperti jalan kaki sebenarnya membantu mencegah perut jadi kembung.

Selain untuk Melihat, Mata Juga Cerminan Emosi Jiwa ..

 

Ketika sedang sedih atau khawatir, orang akan mengerutkan kening mereka, yang membuat mata terlihat lebih kecil. Namun ketika sedang ceria, alis akan terangkat dan pupil mata membesar, dan kita menyebutnya mata orang itu terlihat lebih besar dan lebih terang.

Jika mata adalah jendela jiwa, pupil (secara harfiah) adalah pintu yang terbuka ke dalam mata. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Current Directions in Psychological Science, psikolog Sebastiaan Mathôt dan Stefan Van der Stigchel berpendapat, bahwa fungsi pupil bukan hanya sebagai pengatur cahaya yang masuk ke mata. Tapi lebih dari itu, ukuran pupil adalah cerminan emosi dan niat dari pemiliknya.

Menurut para peneliti, respon cahaya pupil bukan hanya reaksi mekanik semata. Saat kita menggeser pandangan dari satu tempat ke tempat lain, ukuran pupil akan menyesuaikan dengan jumlah cahaya di tempat-tempat pandangan kita berlabuh.

Respon cahaya hanya satu alasan mengapa pupil berubah ukuran. Pupil juga akan membesar ketika pemiliknya sedang terangsang. Tubuh memiliki jaringan alarm yang disebut sistem saraf otonom yang mempersiapkan kita untuk merespon situasi di sekitar kita.

Saat kita berjalan di tengah hutan rimba, sistem saraf otonom akan terus waspada. denyut jantung dan nafas Anda meningkat, Anda mulai berkeringat, otot menegang dan pupil mata membesar.

Hal yang sama terjadi, saat kita bertemu lawan jenis yang menarik perhatian dengan gaya yang menggoda. Detak jantung dan napas kita akan semakin cepat, seraya ukuran pupil membesar.

Psikolog mengatakan, pelebaran pupil adalah isyarat yang jujur untuk kepentingan seksual atau sosial pemiliknya. Itu karena ukuran pupil tidak di bawah kontrol sadar kita. Mulut kita bisa tersenyum palsu, namun pupil tidak bisa diperintah untuk membesar atau mengecil sesuka Anda.

Psikolog juga mengatakan, bahwa ukuran pupil memiliki dua fungsi yakni eksplorasi dan eksploitasi. Ketika kita sedang menjelajahi lingkungan yang masih asing, pupil membesar untuk mencari kemungkinan, adanya ancaman dan peluang yang baik. Ini disebut fungsi eksplorasi.

Kemudian pupil mulai bekerja mengamati benda-benda di sekeliling kita dengan lebih detail untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi visual. Inilah fungsi eksploitasi. Dua fungsi ini menempatkan emosi kita pada tahap berjaga, sehingga pupil akan membesar.

Sekali lagi, pupil bekerja bukan hanya karena sebab mekanik semata, membesar dan mengecil sesuai jumlah cahaya. Tapi, pupil menyesuaikan ukurannya sesuai dengan emosi dan harapan kita. Dengan demikian, pepatah yang mengatakan bahwa mata adalah jendela jiwa, bukanlah isapan jempol. Sains telah membuktikannya.

Saat Menilai dengan Emosi ..

Oleh M Zaid Wahyudi

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Hanya karena satu masalah yang dianggap tak patut atau berbeda dengan pandangan masyarakat, sirna sudah semua kebaikan yang dimiliki seseorang.

Sosok yang sebelumnya dimuliakan tiba-tiba menjadi pribadi yang dianggap hina. Ditinggalkan raganya, diabaikan keberadaannya, bahkan direndahkan harkatnya.

Hal itu dialami sejumlah tokoh yang dikenal sebagai figur yang mempromosikan nilai-nilai moral dan kemuliaan jiwa di masyarakat. Mudahnya masyarakat mengagumi dan mengagungkannya, semudah itu pula mereka meninggalkannya.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media massa, kasus terbaru ialah masalah yang dihadapi seorang motivator terkemuka. Kasus serupa pernah dialami seorang penceramah agama kondang saat berpoligami. Demikian pula kondisi sejumlah orang yang mengaku sebagai guru spiritual.

Masyarakat Indonesia ialah masyarakat emotif. Cara berpikirnya amat didominasi perasaan. Mereka cenderung enggan menalar atau mengolah informasi memakai akal karena proses itu rumit dan melelahkan bagi otak. Mereka lebih suka menerima sesuatu yang menyenangkan saja bagi dirinya.

"Akibatnya, mereka cepat menilai dan membuat kesimpulan. Pengambilan keputusan tak didasari penilaian lengkap dan valid," kata Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi, Manado, Taufiq Pasiak, Kamis (15/9).
Dominannya emosi membuat bagian otak yang jadi pusat pengatur emosi atau limbik membajak korteks prefronal, bagian otak pengendali proses berpikir rasional.

Cara berpikir itu membuat penilaian atas moral didasari atas apakah penilaian itu memuaskan atau tidak bagi dirinya, bukan soal benar atau salah. Paparan media sosial yang amat besar kian membuat orang malas mengklarifikasi informasi yang beredar. Padahal, pengecekan informasi itu bisa dilakukan dari telepon seluler yang sama, yang digunakan untuk menjelajahi media sosial.

Psikolog sosial yang khusus meneliti relasi sosial dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Avin Fadilla Helmi, menjelaskan, masyarakat Indonesia, sama dengan warga Asia lain, suka membangun relasi. Relasi jadi kebutuhan sehingga mereka tak suka berbeda pendapat, apalagi berkonflik. "Mereka selalu menginginkan kondisi harmonis," katanya.

Jika dalam berelasi itu, termasuk dengan sosok yang dikagumi, muncul masalah, mereka akan menjauh, melepaskan ikatan relasinya. Namun, dalam banyak kasus, pelepasan ikatan itu hanya sementara. Meski sempat ditinggalkan, sosok idola itu bisa kembali menjadi panutan masyarakat meski penerimaannya tak akan bisa sama seperti sebelumnya dan butuh waktu.

Namun, agar bisa diterima kembali, sosok itu harus melakukan introspeksi dan transformasi diri. "Transformasi diri itu ditangkap masyarakat dan warga bisa memaafkan," ujarnya.

Taufiq menambahkan, mudahnya masyarakat memaafkan dan melupakan kesalahan yang dibuat sosok sebelumnya adalah buah dari cepatnya mereka menilai dan mengambil putusan. Pola penilaian didasari perasaan bersifat jangka pendek, mencuat sesaat, dan cepat dilupakan.

Tak belajar

Cara berpikir emotif itu pula yang membuat kelompok pendukung (lover) dan penentang (hater) calon presiden pada Pemilu 2014 tetap ada meski pemilu telah lewat lebih dari dua tahun. Setiap pendukung membela mati-matian calon yang pernah didukung tanpa melihat apa yang dilakukannya benar atau salah.

Meski terjadi berulang, masyarakat tak cukup mengambil pelajaran dari setiap masalah yang terjadi. Kebiasaan berpikir memakai rasa itu disuburkan dengan sistem pendidikan di sekolah yang tak mengajarkan berpikir kritis karena lebih mengutamakan hapalan.

Pola pikir emotif itu juga didukung karakter masyarakat yang memahami agama bukan dengan cara berpikir, tetapi menerima begitu saja. "Itu adalah ciri masyarakat emotif, menerima apa adanya, dan enggan berpikir. Akibatnya, masyarakat amat sensitif dengan hal-hal berbau agama," tutur Taufiq.

Masyarakat emotif juga amat dipengaruhi simbol. Dalam beragama, mereka cenderung ritualistik dan memaknai agama secara hitam-putih. Meski manusia Indonesia dinilai munafik, permisif dan hipokrit, hal-hal berbau religius masih jadi perhatian. Mereka sensitif dengan hal-hal yang dianggap baik, termasuk agama, tetapi tak sensitif dengan sesuatu yang buruk.

Mereka juga menjadikan agama sebagai simbol belaka, tak termanifestasikan dalam perilaku. Karena itu, meski mereka memiliki ritual bagus, agama tak jadi bagian dalam pengambilan keputusan.
Walau mereka menangis saat ikut doa bersama atau mengikuti pelatihan motivasi, hanya sebagian nilai agama yang membekas setelah acara selesai.

"Kondisi itu membuat mereka yang dinilai religius atau menyosokkan diri religius akan dianggap melakukan pelanggaran lebih berat dibandingkan mereka yang tak menonjolkan sisi religiusnya meski bobot kesalahannya sama," ujarnya. Itulah yang membuat penyanyi yang pernah terlibat kasus pornografi bisa diterima, bahkan kembali disukai warga.

Kemampuan bernalar

Avin menambahkan, dengan kemampuan menalar rendah, masyarakat menilai seseorang berdasar informasi permukaan atau citra visualnya saja. "Nalar yang terbatas membuat kita mudah tertipu citra," katanya.

Selain itu, landasan moral masyarakat dipengaruhi norma sosial. Media sosial kian mendukung norma sosial itu. Meski orangtua menanamkan integritas moral sebaik apa pun, saat dihadapkan norma sosial yang tak mendukung integritas moral itu, mayoritas warga memilih mengikuti norma sosial masyarakat.

"Meski orangtua mengajarkan kejujuran, karena sebagian birokrasi menciptakan ketidakjujuran tak apa-apa, lebih banyak orang memilih tak jujur," ucapnya.
Mengikuti pola lingkungan tak jadi soal jika berpengaruh positif. Di Indonesia, tak semua lingkungan sosial kondusif membuat orang berbuat baik atau menjaga moral.

Cara berpikir yang mengedepankan rasa hingga mudah menilai, membuat masyarakat mudah diprovokasi dan dibenturkan. Warga cenderung melihat perbedaan, bukan persamaan. "Jika tak dibenahi, bangsa Indonesia rentan terpecah belah oleh hal sepele," kata Taufiq.

Pada beberapa suku bangsa di Indonesia, pola pikir mengutamakan rasa itu amat kuat. Belum lagi kekayaan alam melimpah membuat tak perlu usaha besar demi mendapat sesuatu. Penjajahan Belanda selama 350 tahun yang tak membangun pendidikan umum, hanya bagi elite tertentu, memperparah kondisi itu.

Hal itu membuat bangsa Indonesia tak terbiasa mengolah pikiran, apalagi berpikir bebas. Cara pikir pendek juga membuat bangsa Indonesia sulit berpikir kritis dan kreatif sehingga kurang mampu berinovasi.

Meski demikian, kondisi itu bisa diubah, seperti yang dilakukan negara-negara Asia lain yang pola relasinya sama. "Pendidikan ialah teknologi yang bisa mengubah manusia berpikir lebih baik," ujar Taufiq.

Pendidikan yang mengajarkan daya pikir berdasar olah pikir akan membuat manusia Indonesia bisa mengendalikan emosi sehingga bisa mengambil tindakan berdasarkan pemikiran matang.

Tanda-tanda Banyak Racun dalam Mental Kita ..

Bukan hanya tubuh, mental atau jiwa seseorang juga bisa dipenuhi oleh racun. Marah, cemas, sensi, iri, benci, hingga minder merupakan bentuk-bentuk racun dalam mental.

Lalu, apa tanda-tandanya jika mental kita sudah dipenuhi oleh racun? Ketua Program Studi S1 Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Dr. Yohana Ratrin Hestyanti, Psi, mengatakan tanda-tandanya bisa dilihat dengan cara mengidentifikasi emosi kita ketika menghadapi sesuatu.

"Misalnya, menghadapi tekanan sedikit saja langsung gampang marah, sensitif, atau gampang sedih," kata Yohana di sela-sela seminar Mental Detoxification di Unika Atma Jaya, Rabu (2/11/2016).

Seseorang harus lebih bisa menyadari bagaimana pola perilakunya selama ini. Jika perilaku lebih sering ke arah negatif, maka perlu introspeksi diri. Kita juga bisa mengenali tandanya dengan melihat bagaimana hubungan sosial bersama teman, kerabat, atau keluarga.

"Apakah di relasi membuat kita jadi dimusuhi banyak orang? Berarti sudah ada sinyal ini enggak nyaman. Berarti kan ada yang harus dibersihkan. Ada sesuatu yang harus diproses lebih dalam lagi tentang pikiran kita, sikap kita," jelas Yohana.

Racun dalam mental itu bisa terus terbentuk dari pikiran yang selalu negatif. Berawal dari pikiran yang negatif itu, akhirnya bisa menjadi perilaku yang negatif pula.

Menurut Yohana, ketika muncul tanda-tanda mental sudah dipenuhi racun, sebaiknya mencari tahu dulu apa yang menyebabkan pikiran maupun perilaku selalu negatif.

Menyingkirkan racun dalam mental bisa dilakukan sendiri maupun meminta bantuan orang lain. Jika racun-racun tersebut terus dibiarkan, tentu bisa mengganggu kesehatan mental dan kehidupan menjadi tidak positif.

Ada “Racun” di Kantor Anda, Dia adalah Rekan Kerja Tidak Kompeten ..

Karyawan yang tidak kompeten dan kasar pada rekan kerja bisa memberikan pengaruh buruk, yakni membuat karyawan lainnya bersikap serupa.

Studi dari Michigan State University menyimpulkan bahwa karyawan tidak kompeten dan kasar merupakan racun yang bisa membahayakan perusahaan semakin jauh dari target dan sukses.

Sebab, karyawan yang demikian praktis tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dan hanya bisa mengalihkan pekerjan pada orang lain.

Russel Johnson, salah satu penulis studi dan profesor manajemen di Michigan State University, mengatakan bahwa karyawan yang berperilaku buruk dan tidak kompeten bisa menular pada rekan kerja lainnya.
“Orang yang terus menerus menghadapi dan mendapatkan perilaku tidak baik dari rekan kerja akan merasa lelah sepanjang waktu. Kelelahan itu bak bola salju yang membuat karyawan pun berperilaku kasar pada orang lain,” jelas Johnson.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Psychology menemukan bahwa perilaku ofensif dan kasar meliputi komentar negatif, menjatuhkan orang lain, sarkastik, dan hobi menunda pekerjaan.
Ternyata, karyawan dengan perilaku tidak baik berpengaruh pada biaya produksi perusahaan yang membengkak.

Sebab, mempertahankan karyawan tidak kompeten dan kasar membuat orang lain tidak betah sampai dengan memutuskan berhenti.

Nah, biaya rekrutmen dan pelatihan karyawan baru bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam satu tahun.
“Ketika karyawan secara emosional letih, maka sangat sulit untuk mereka berkonsentrasi pada penyelesaian kerja. Sulit untuk karyawan menyeimbangkan emosi agar tenang dan stabil,” imbuhnya.

Perilaku karyawan yang buruk, kata Johnson, memberikan efek buruk jangka panjang pada karyawan yang baik dan kompeten.

Menjadi Haji Sempurna ..

Haji

Oleh: Nur Faridah

Alkisah, Asy-Syibli, seorang ulama sufi besar, sepulang dari ibadah haji menemui gurunya, Ali Zainal Abidin, putra Husein cucu Nabi. Asy-Syibli pun ditanya, "Apakah kamu benar-benar sudah menunaikan ibadah haji?" "Sudah," jawab Asy-Syibli.

Ia kembali ditanya, "Apakah ketika berhenti di miqat kamu menguatkan niat dan menanggalkan semua pakaian maksiat kemudian menggantinya dengan pakaian ketaatan?" "Tidak," jawab Asy-Syibli.

Asy-Syibli kembali ditanya, "Saat kamu menanggalkan pakaian yang terlarang itu apakah kamu sudah menghilangkan perasaan riya, munafik, dan semua syubhat (yang diragukan hukumnya)?" Asy-Syibli menjawab, "Tidak."

Ia kembali ditanya, "Ketika berada dalam ibadah haji yang terikat dengan ketentuan-ketentuan haji (manasik haji), kamu telah melepaskan diri dari segala ikatan duniawi dan hanya mengikatkan diri pada Allah?" "Tidak," jawab Asy-Syibli. "Kalau begitu, kamu belum membersihkan diri, belum berihram, dan belum mengikat diri kamu dalam beribadah haji," kata gurunya.

Ali Zainal Abidin kembali bertanya, "Ketika tawaf, apakah kamu berniat untuk lari menuju ridha Allah?" Asy-Syibli menjawab, "Tidak." "Jika demikian, kamu belum tawaf," ujar gurunya.

Sang gurunya bertanya lagi, "Apakah saat kamu melakukan sai antara Safa dan Marwah, kamu mencurahkan semua harapan untuk memperoleh rahmat Allah dan bergetar tubuhmu karena takut akan siksaan-Nya?" Asy-Syibli menjawab, "Tidak." "Kalau begitu, kamu belum melakukan sai di antara keduanya," kata gurunya.

Asy-Syibli kembali ditanya, "Ketika kamu wukuf di padang Arafah, apakah kamu benar-benar menghayati makrifat akan keagungan Allah? Apakah kamu menyadari hakikat ilmu yang dapat mengantarkanmu kepada-Nya? Apakah kamu menyadari dengan sesungguhnya bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatan, perasaan, dan suara nurani?" "Tidak," jawab Asy-Syibli. "Kalau begitu, kamu belum wukuf di Arafah," kata gurunya lagi.

Ali Zainal Abidin melontarkan pertanyaan lagi, "Ketika kamu kembali ke Makkah untuk melakukan tawaf ifadhah, apakah kamu berniat untuk tidak mengharapkan pemberian dari siapa pun, kecuali dari karunia Allah, tetap patuh kepada-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya?"

"Tidak," jawab Asy-Syibli. "Jika demikian, kamu belum melaksanakan manasik. Kembalilah ke Makkah sebab kamu sesungguhnya belum menunaikan ibadah haji," kata gurunya menegaskan. Asy-Syibli pun menangis dan berharap tahun depan bisa berhaji lagi dengan sempurna.

Dialog di atas dikutip dan diringkas dari kitab hadis Al-Mustadrak karya Imam al-Hakim. Dari dialog tersebut tergambarkan bahwa haji selain menunaikan manasik haji dengan benar juga perlu diiringi penjiwaan atau pemaknaan terhadapnya. Jadi, haji tidak sekadar aktivitas yang menguras fisik, tetapi tanpa efek baik terhadap individu ataupun masyarakat secara luas sepulang dari haji.

Umat Islam dari berbagai penjuru bumi telah selesai menunaikan ibadah haji dan umrah di Tanah Suci. Setiap jamaah tentu berharap bisa menunaikan rukun Islam kelima itu dengan baik, yakni menjadi haji mabrur (diterima Allah). Nabi SAW bersabda, "Haji mabrur itu tiada balasan pahala bagi pelakunya kecuali surga." (HR Bukhari).

Namun, tidak semua mendapatkan predikat yang mulia tersebut. Semua bergantung pada perilaku individu pelaku haji selama dalam rangkaian manasik haji tersebut. Haji yang sempurna atau mabrur adalah haji jiwa raga yang berefek nyata dalam kehidupan: dalam ucapan, perilaku, dan hati. Wallahu a'lam.

Sedekah Kebajikan ..

Oleh: Sukron Abdillah

Suatu ketika, Rasulullah SAW didatangi para sahabat yang terdiri atas fakir miskin, kalangan sahabat yang tak berharta. Mereka memprotes kepada baginda Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, tapi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya."

Dengan bijaksana Rasulullah bersabda, "Bukankah Allah SWT telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, dan pada setiap tahlil ada sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah." (HR Muslim).

Istilah sedekah dalam hadis di atas artinya tidak hanya sebatas membagikan harta bendawi sehingga bisa dimonopoli kalangan berada (aghniya). Dalam bahasa lain, sedekah adalah upaya berbagi kebaikan dengan mengoptimalkan kemampuan diri agar seseorang merasa lega telah berbagi kebahagiaan.

Secara teoretis, al-birr (kebajikan) dalam Islam terdiri dari dua jenis, yakni: al-birr  terkait dengan Allah SWT, dan al-birr terkait dengan sesama. Al-airr terkait dengan Allah SWT yakni beriman kepada-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Sementara, al-birr terkait dengan sesama adalah husnulkhuluq, yakni banyak bederma dan tidak mengganggu sesama atau menampakkan kemuliaan pribadi.

Sedekah ialah ajaran sosial dalam Islam, yang mampu menghidupkan agama ini hingga melewati masa 1.500 tahun. Doktrin Islam mengajarkan bahwa setiap sendi dari jasad kita harus disedekahi, salah satunya, dengan bekerja keras mengeluarkan diri dari keterpurukan juga dapat disebut sebagai sedekah.

Karena itu, bagi orang fakir, miskin, dan tak berdaya sekalipun, Islam memberikan kesempatan untuk bersedekah karena seperti yang diungkapkan dalam hadis Nabi bahwa setiap perilaku kita bernilai sedekah bila hal itu memuat nilai kebaikan bagi kehidupan.

Jadi, kita tidak usah protes bila ada orang kaya yang dermawan, hidup sebagai filantropis, rajin melaksanakan ibadah, dan rajin bederma. Sebab, sedekah itu bukan hanya berkaitan dengan harta bendawi, melainkan terkait dengan langgengnya nilai kebaikan dalam setiap laku lampah kita.

Ada banyak lapangan hidup yang bisa kita jadikan ladang untuk menuai pahala dari Allah, bila sedekah dikabarkan akan diganjar pahala berlipat; bahkan bagi orang yang suka bersedekah disediakan oleh Allah pintu surga bernama "Shadaqah". Bila kita tidak berharta, tak punya uang, dan minim akses ekonomi, bersedekahlah dengan perbuatan, bersedekahlah dengan akal-pikiran, dan bersedekahlah dengan tenaga untuk kemajuan Islam.

Jangan pernah merasa iri, dengki, apalagi memprotes keadilan takdir Allah karena menjadikan kita sebagai kaum tak berpunya, kaum yang tak berdaya, dan kaum yang selalu menerima, tetapi tak pernah memberi.

Rasulullah SAW bersabda, "Setiap ruas tulang manusia harus disedekahi setiap hari selagi matahari masih terbit. Mendamaikan dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, menolong orang hingga ia dapat naik kendaraan atau mengangkatkan barang bawaan ke atas kendaraannya merupakan sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah kaki yang engkau ayunkan menuju ke masjid adalah sedekah dan menyingkirkan aral (rintangan, ranting, paku, kayu, atau sesuatu yang mengganggu) dari jalan juga merupakan sedekah." (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu a'lam.

The World Its Mine