Kamis, 03 November 2016

Lari kepada Allah ..



Allah/Ilustrasi

Oleh: Moch Hisyam

Sebagai Mukmin kita meyakini bahwa Allah itu Maha Kuasa atas diri kita dan meyakini bahwa tidak ada tempat untuk melarikan diri dan menyelamatkan diri kecuali hanya kepada-Nya.

Karenanya, lari kepada Allah merupakan bagian penting yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Sebab, tidaklah logis jika kita lari kepada pihak yang tidak bisa memberikan perlindungan, bergantung kepada pihak yang tidak mempunyai kekuasaan, dan menyerahkan diri kepada pihak yang tidak mempunyai daya dan upaya.

Lari kepada Allah SWT merupakan bentuk kesadaran dan keyakinan diri bahwa kita tidak akan mampu menghadapi gempuran kehidupan dunia yang penuh dengan fitnah ini, dan tidak akan mampu menghadapi serangan setan dan sekutunya, kecuali atas pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Itulah yang membuatnya lari kepada Allah SWT.

Di dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan kita untuk bersegera lari kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya, Maka segeralah berlari kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS adz-Dzariyat [51]: 50). Banyak hikmah dan mafaat yang dapat diraih bila kita lari kepada Allah SWT. Di antara hikmah dan manfaat yang paling besar adalah mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, Barang siapa yang memusuhi kekasih (wali)-Ku, maka Aku nyatakan perang kepadanya. Sesuatu yang paling Aku sukai yang dikerjakan hamba-Ku untuk mendekatkan diri kepada-Ku adalah amalan yang Aku wajibkan kepadanya. Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencintainya.

Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar; menjadi matanya yang dengannya ia melihat; menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku niscaya Aku mengabulkannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku niscaya Aku melindunginya. (HR Bukhari).

Hal ini didapatkan oleh orang yang lari kepada Allah SWT, karena orang yang lari kepada-Nya akan melaksanakan berbagai kewajiban dan menyuburkan hal-hal sunah yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.

Oleh karena itu, manifestasi dari lari kepada Allah SWT diwujudkan dengan melaksanakan dan berpegang teguh kepada Alquran dan sunah. Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunah Rasul-Nya. (HR Malik).

Bertawakal hanya kepada Allah SWT. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS al-Maidah [5]: 23).  Selain itu, direalisasikan hanya bermohon dan berdoa kepada-Nya. (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah). (QS al-An'am [6]: 41).

Untuk itu, mumpung masih ada kesempatan mari kita sesegera mungkin untuk berlari menghadap Allah SWT, menyerahkan seluruh persoalan kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya sebelum kesempatan itu hilang karena ajal telah lebih dahulu datang. Wallahu a'lam bisshawab.

Cara Menggapai Hati yang Bersih ..

Oleh: Nurul Lathiffah

Hidup di dunia ibarat menyinggahi kefanaan untuk menuju keabadian. Maka, tak ada yang layak dilakukan kecuali melakukan yang terbaik dan beramal saleh dalam upaya menyiapkan bekal akhirat. Tentu merugi jika di panggung kehidupan kita meluangkan waktu untuk sekadar mengalirkan kalimat-kalimat kasar, sikap yang menyakitkan, bahkan perasaan benci. Dalam panggung kehidupan ini, kita adalah aktor yang selalu berada dalam pengawasan-Nya. Jika ingin berakhir khusnul khatimah dan menjadi aktor yang kelak didekatkan bersama para kekasih-Nya, tak ada hal yang pantas kita lakukan kecuali menyediakan yang terbaik.

Menyediakan hati yang terbaik ketika beribadah kepada-Nya, hati yang suci dari penyakit jiwa, sungguh tak mudah. Pun, bagi hamba-hamba-Nya yang telah berupaya menyediakan diri terbaiknya untuk beribadah, Allah SWT membentangkan pahala, kemudahan, dan curahan rahmat. Orang-orang yang berhati bersih merupakan figur Muslim utama yang mencintai dan dicintai-Nya. Lantas, seperti apakah karakteristik orang yang berhati bersih?

Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, beliau berkata, "Rasulullah SAW pernah ditanya, 'Siapakah orang yang paling utama?' Beliau menjawab, 'Setiap orang yang bersih hatinya dan benar ucapannya.' Para sahabat berkata, 'Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?' Rasulullah SAW menjawab, 'Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya, serta tidak ada pula dendam dan hasad." (HR Ibnu Majah).

Hati yang bersih akan selalu memancarkan sikap dan perilaku yang suci. Orang berhati bersih akan selalu menyediakan kalimat yang tak membuat hati orang lain ternoda, apalagi terluka. Orang lain yang berinteraksi dengan pemilik hati yang bersih hanya akan dilimpahi kata-kata yang lezat dinikmati, menenteramkan, dan menyegarkan jiwa. Hati yang bersih hanya akan memberikan sikap santun, tulus, dan terpuji. Sungguh membahagiakan jika hidup disertai hati yang bersih. Segala hal yang dialami akan tampak nikmat karena dilimpahi dengan dua sikap, syukur dan sabar.

Menggapai hati yang bersih memerlukan upaya sepanjang waktu, tiada henti. Sebab, bisa saja orang lain (tak sengaja) mengotori hati. Dan, begitu sikap orang lain memantikkan emosi negatif, seyogianya kita harus buru-buru membersihkannya. Setiap Muslim dianjurkan membersihkan kotoran hati dengan membaca istighfar.

Allah SWT berfirman dalam Alquran surah Hud ayat 13, "Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan-keutamaannya (balasan). Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat."

Semoga kita diberi kemudahan untuk menjaga kebersihan hati, setidaknya dengan gemar membaca istighfar. Dan seiring itu, semoga limpahan ampunan dan nikmat-Nya semakin limpah, meruah, dan berkesinambungan di dunia hingga akhirat. Wallahu a'lam.

Pesona Wanita ..


Oleh: Siti Mahmudah

Wanita memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum pria. Sering kali seorang pria ketika hendak menikahi seorang wanita selalu mempertimbangkan pesona apa yang dimiliki seorang wanita.

Pesona bagi wanita itu adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nabi SAW. "Seorang wanita akan dinikahi (seorang laki-laki) karena empat hal: hartanya, kehormatannya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah wanita yang berkomitmen terhadap agamanya maka kamu akan beruntung." (HR Muslim).

Pertama, pesona harta. Seorang wanita hendaknya memiliki profesi yang sesuai dengan fitrahnya, untuk membangun kemandirian finansial dan kemampuan antisipasi terhadap berbagai problem keuangan, yang terjadi dalam kehidupan pribadi ataupun keluarganya pada kemudian hari.

Kedua, persona kehormatan. Kehormatan pada awalnya adalah garis keturunan dan hubungan kekerabatan. Jika lahir dari keluarga biasa, seorang wanita masih dapat memiliki kehormatan melalui peningkatan ketakwaan dan menghindari perbuatan tercela, yang dapat merusak reputasi dirinya.

Ketiga, pesona kecantikan. Kecantikan kadang dapat menjadi sumber fitnah. Karena itu, seorang wanita hendaknya melakukan perawatan diri melalui busana ketakwaan, yang dapat memancarkan kecantikan dan kesalehannya. Kecantikan fisik hendaknya diiringi dengan kecantikan sifat dan akhlak yang mulia.

Untuk itu, seorang wanita hendaknya dapat menata tutur kata dan tingkah lakunya, juga berdoa setiap kali berhias di depan cermin. "Ya Allah, Engkau telah mempercantik penciptaanku maka percantiklah akhlakku." (HR Ahmad).

Keempat, pesona keagamaan. Seorang wanita yang berkomitmen terhadap agama akan menjadi pesona tersendiri bagi pria yang saleh. Maka itu, seorang wanita hendaknya senantiasa melakukan peningkatan kualitas keistikamahan dalam beragama.

Selain itu, kaum wanita harus dapat meluruskan orientasi kaum pria dalam pernikahan. Sehingga, kaum pria benar-benar menjadikan aspek agama sebagai tolok ukur dalam memilih wanita yang akan dinikahinya.

Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, karena bisa jadi kecantikannya akan menjerumuskan dirinya. Janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya, karena bisa jadi kekayaannya akan menghancurkan dirinya. Akan tetapi, nikahilah wanita karena agamanya. Sungguh seorang budak wanita yang cacat telinganya, hitam kulitnya, tetapi bagus agamanya jauh lebih utama." (HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Baihaki).

Semoga Allah membimbing kita para kaum wanita agar dapat membekali diri dengan kesempurnaan agama. Begitu juga, kaum pria berorientasi agama sebagai standar dalam memilih wanita sebagai pendamping hidupnya. Amin.

Apa Kebenaran itu? ..

Kebenaran (ilustrasi).
Kebenaran (ilustrasi).
 
Oleh Imam Nawawi

Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah berkata, Tidak terkalahkan orang yang membawa kebenaran. Ungkapan tersebut merupakan penegasan bahwa siapa saja dari kalangan umat Islam yang memiliki komitmen tinggi terhadap kebenaran tidak akan pernah terkalahkan oleh apa dan siapa pun. Bahkan, kemuliaan terus mengharumkan dirinya sepanjang kehidupan manusia dari zaman ke zaman.

Demikianlah kehidupan para nabi dan rasul. Sekalipun di antara nabi dan rasul yang Allah utus ada yang terbunuh dan dianiaya oleh kaumnya, nama mereka tetap berkibar harum penuh kebanggaan sepanjang sejarah umat manusia.

Lantas, apa kebenaran itu? Imam Syafi'i berkata, Setiap orang yang berbicara berdasarkan Alquran dan sunah, maka (ucapan) itu adalah ketentuan yang wajib diikuti. Dan setiap orang yang berbicara tidak berlandaskan kepada Alquran dan sunah, maka (ucapannya) itu adalah kebingungan.

Sebab, orang yang menentang kebenaran telah mati mata hatinya. Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan min Mashoidisy Syaithan menjelaskan, Hati hidup dan sehat hanya apabila ia mengetahui, menghendaki, dan mengutamakan kebenaran.

Rasulullah memberikan keteladanan jiwa kesatria dalam memegang kebenaran. Kala ditawari beragam kemewahan dunia agar ada kompromi dalam masalah kebenaran, beliau berkata, Sekiranya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan perkara (kebenaran Islam)  ini, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku akan binasa karenanya.

Demikianlah tekat dan komitmen Rasulullah terhadap kebenaran yang diyakininya. Beliau tidak pernah bergeser satu senti pun, apalagi sampai mundur ke belakang hanya karena penentang kebenaran yang terlihat besar, kuat, dan hebat. Dalam hatinya menyala-nyala keyakinan bahwa dalam keteguhan hati memegang kebenaran, Allah yang akan memberikan pertolongan.

Sehingga, apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan datanglah kepada rasul itu pertolongan Kami (QS Yusuf [12]: 110). Demikianlah yang dialami oleh Nabi Nuh. Saat umatnya sudah keterlaluan dan tidak lagi ada daya untuk memenangkan kebenaran, beliau pun berdoa kepada Allah.

Maka dia mengadu kepada Tuhannya: 'Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu, menangkanlah (aku). Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan', (QS al-Qamar [54]: 10-12).

Saat itu pemegang kebenaran Allah menangkan dan mereka yang menentangnya ditenggelamkan seluruhnya tanpa sisa dengan sangat hina. Oleh karena itu, amat merugi siapa pun dari umat Islam yang mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya demi kesenangan dunia.

Sayyidina Ali berkata, Manusia yang paling merugi adalah manusia yang mampu mengatakan yang benar, tapi ia tidak mengatakannya. Padahal, yang benar itu jelas dan yang batil juga jelas.

Sedekah Terbaik Guru ..


Guru
Guru
 
Oleh: Asep Sapaat

Abdulah bin Umar RA menceritakan, ketika Rasulullah SAW sedang berkhutbah di atas mimbar menjelaskan perihal sedekah dan mencegah diri dari meminta-minta, beliau bersabda, "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas ialah tangan yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah ialah tangan yang meminta." (HR Muslim).

Sedekah itu panggilan jiwa. Pekerjaan hati yang ikhlas dan bahagia melihat orang lain merasa berbahagia.  Ada banyak aneka cara bersedekah.

Rasulullah SAW bersabda, "Bukankah Allah SWT telah memberi berbagai macam cara untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah. Setiap kalimat takbir adalah sedekah. Setiap kalimat tahmid adalah sedekah. Setiap kalimat tahlil adalah sedekah. Mengajak kepada kebaikan dan melarang kejahatan adalah sedekah. Bahkan pada kemaluanmu pun terdapat pula unsur sedekah." "Kalau begitu, apakah kami mendapatkan pahala jika kami memuaskan nafsu syahwat kami?" tanya para sahabat. Rasulullah SAW menjawab, "Kalau kalian melakukannya dengan cara yang haram, tentu kalian berdosa. Sebaliknya, apabila kalian lakukan dengan yang halal, kalian mendapatkan pahala." (HR Muslim).

Lantas, apakah sedekah terbaik guru untuk murid-muridnya? Pertama, tutur kata guru yang baik. Kata-kata yang terucap dari seorang guru hendaknya menggugah kesadaran, membangkitkan rasa percaya diri dan motivasi belajar pada murid, serta mendoakan hal-hal baik untuk kehidupan para muridnya.

Rasulullah SAW bersabda, "Peliharalah dirimu dari neraka walaupun dengan (bersedekah) sebelah buah kurma. Jika kamu tak sanggup, maka dengan tutur kata yang baik." (HR Muslim).

Kedua, sikap keteladanan guru. Contoh itu ada yang baik dan buruk. Namun, keteladanan sudah pasti baiknya. Keteladanan guru menginspirasi murid-murid untuk berperilaku baik secara konsisten dalam keseharian.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengerjakan baik dalam Islam, maka ia memperoleh pahala ditambah pahala orang yang mencontoh perbuatannya itu tanpa mengurangi pahala mereka masing-masing. Dan barang siapa melaksanakan pekerjaan jahat, maka ia akan mendapatkan dosanya, ditambah dosa orang-orang yang mencontoh perbuatan buruknya itu tanpa mengurangi dosa mereka masing-masing." (HR Muslim).

Ketiga, senyuman guru. Rasulullah bersabda, "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." (HR Tirmidzi). Wajah adalah ekspresi dari pancaran hati. Hati yang senantiasa mengingat Allah SWT, memancarkan wajah yang dipenuhi kesejukan dan senyum tulus.

Sebaliknya, hati yang dipenuhi dosa akan tampak dari wajah yang kusut masam. Guru yang murah senyum penuh ketulusan bisa menyenangkan hati para murid. Murid akan lebih terbuka dan senang berinteraksi dengan pribadi guru yang peduli dan ramah.

Keempat, harta kekayaan guru. Bagi guru yang dianugerahi harta yang cukup bahkan berlimpah, bersedekahlah! Jangan tunggu kaya untuk bisa bersedekah.

Abu Hurairah RA mengabarkan, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak seorang pun yang menyedekahkan hartanya yang halal di mana Allah menerima dengan baik, walaupun sedekahnya itu hanya sebutir kurma. Maka kurma itu akan bertambah besar di tangan Allah Yang Maha Pengasih sehingga menjadi lebih besar daripada gunung. Demikian Allah memelihara sedekahmu, sebagaimana halnya kamu memelihara anak kambing dan anak unta (yang semakin lama semakin besar)." (HR Muslim).

Di panggung dunia, seseorang bisa memainkan perannya sebagai guru. Namun, saat tirai kehidupan berakhir karena guru meninggal dunia, apakah gerangan yang bisa menyelamatkan guru di akhirat kelak?

Rasulullah SAW bersabda, "Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya." (HR Ahmad). Menjadi guru beriman yang rajin bersedekah adalah investasi terbaik untuk kehidupan akhirat kelak. Wallahu a'lam bishawab.

Ini Kisah Teladan Kesabaran Rasulullah yang Menakjubkan ..

Rasulullah
Rasulullah
 
Oleh: Imam Nur Suharno

Dalam diri Nabi Muhammad SAW selalu ada nilai keteladanan (QS al-Ahzab [33]: 21). Salah satunya teladan dalam kesabaran. Ketika Nabi disakiti, beliau tidak pernah membalasnya. Nabi menghadapinya dengan kesabaran.

Dikisahkan, setiap kali Nabi SAW melintas di depan rumah seorang wanita tua, Nabi selalu diludahi oleh wanita tua itu. Suatu hari, saat Nabi SAW melewati rumah wanita tua itu, beliau tidak bertemu dengannya. Karena penasaran, beliau pun bertanya kepada seseorang tentang wanita tua itu. Justru orang yang ditanya itu merasa heran, mengapa ia menanyakan kabar tentang wanita tua yang telah berlaku buruk kepadanya.

Setelah itu Nabi SAW mendapatkan jawaban bahwa wanita tua yang biasa meludahinya itu ternyata sedang jatuh sakit. Bukannya bergembira, justru beliau memutuskan untuk menjenguknya. Wanita tua itu tidak menyangka jika Nabi mau menjenguknya.

Ketika wanita tua itu sadar bahwa manusia yang menjenguknya adalah orang yang selalu diludahinya setiap kali melewati depan rumahnya, ia pun menangis di dalam hatinya, "Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjengukku."

Dengan menitikkan air mata haru dan bahagia, wanita tua itu lantas bertanya, "Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?" Nabi SAW menjawab, "Aku yakin engkau meludahiku karena engkau belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau telah mengetahuinya, aku yakin engkau tidak akan melakukannya."

Mendengar jawaban bijak dari Nabi, wanita tua itu pun menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya terasa tersekat. Lalu, dengan penuh kesadaran, ia berkata, "Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu." Lantas wanita tua itu mengikrarkan dua kalimat syahadat, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."

Demikianlah salah satu kisah teladan kesabaran Nabi Muhammad SAW yang sungguh menakjubkan dan sarat akan nilai keteladanan. Nabi SAW tidak pernah membalas keburukan orang yang menyakitinya dengan keburukan lagi, tetapi Nabi justru memaafkannya.

Dalam syair dikatakan, sabar memang pahit seperti namanya, tetapi akibatnya lebih manis dari madu. Masih banyak kisah tentang kesabaran Nabi lainnya yang hendaknya terus digali, lalu disosialisasikan, dan berikutnya diteladani.

Dengan demikian, jika nilai-nilai kesabaran ini dijadikan sebagai landasan dalam membangun bangsa dan negara, tidak menutup kemungkinan harmonisasi antarmasyarakat, masyarakat dengan pemimpin, dan antarpemimpin akan dapat terwujud. Wallahu a'lam.

Jangan Remehkan Doa ..

Oleh: Moch Hisyam

Seorang ahli bedah terkenal, Dokter Ishan, tergesa-gesa menuju bandara. Beliau berencana menghadiri seminar dunia dalam bidang kedokteran yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran.

Setelah pesawat yang ditumpanginya terbang sekitar satu jam, tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di bandara terdekat.

Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata kepada petugas di sana, "Saya ini dokter spesialis, tiap menit nyawa manusia bergantung pada saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?"

Petugas itu menjawab, "Wahai dokter, jika terburu-buru Anda bisa menyewa mobil. Tempat  tujuan Anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira tiga jam Anda bisa tiba di sana." Dia pun menyetujuinya. Selang lima menit, tiba-tiba cuaca mendung.

Disusul hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek. Setelah berlalu hampir dua jam, mereka tersadar bahwa mereka tersesat dan terasa kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya.

Dia pun menghampiri rumah tersebut dan mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang wanita tua, "Silakan masuk, siapa ya?" Terbukalah pintunya. Dia masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk beristirahat dan meminjam teleponnya.

Ibu itu tersenyum dan berkata, "Telepon apa, Nak? Apa Anda tidak sadar ada di mana? Di sini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan."

Dokter Ishan, mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu memakan hidangan. Sementara, ibu itu shalat dan berdoa, beliau mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak di atas kasur di sisi ibu tersebut, dan dia terlihat gelisah di antara tiap gerakan shalat.

Ibu tersebut melanjutkan shalatnya dengan doa yang panjang. Dokter mendatanginya dan berkata, "Demi Allah, Anda telah membuat saya kagum dengan kemuliaan akhlak Anda, semoga Allah menjawab doa-doa Anda."

Berkata ibu itu, "Nak, Anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan doa-doa saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu." Kemudian Dokter Ishan bertanya, "Apa itu?"

Ibu itu berkata, "Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada di sini. Mereka berkata kepada saya ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya. Katanya namanya Dokter Ishan, tetapi dia tinggal jauh dari sini. Makanya saya berdoa kepada Allah agar memudahkannya."

Menangislah Dokter Ishan dan berkata sambil terisak, "Allahu Akbar, Laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh doa ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Sayalah Dokter Ishan, sungguh Allah telah menciptakan, sebab seperti ini dengan doa Ibu. Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mengobati anak ini."

Sepenggal kisah yang bersumber dari Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia di atas, memberikan pelajaran penting kepada kita tentang kekuatan doa.

Doa mampu membuat pesawat rusak, mendatangkan hujan besar disertai petir dan membawa seseorang kepada orang yang membutuhkannya.

Hal itu terjadi karena ketika kita berdoa, Allah SWT menggerakkan alam semesta untuk memenuhi apa yang diminta oleh orang yang berdoa sebagai bentuk atas pengabulan doa dari-Nya. Karena itu, jangan berhenti berdoa dan jangan remehkan doa. Wallahu a'lam bisshawab.

The World Its Mine