Kamis, 30 Juni 2016

Mengenal Karakter Orangtua dalam Mendidik Anaknya ..


-
Membahas tentang pertumbuhan dan perkembangan seorang anak tidak akan terlepas dari peran orangtuanya. Peran tersebut bukan hanya pada arti sempit seperti bagaimana dukungan orangtua untuk memberikan pendidikan terbaik dan fasilitas lengkap. Namun, cara hingga karakter orangtua dalam mendidik anak ternyata juga memiliki pengaruh yang penting.

Setiap orangtua pastinya memiliki cara dan metode tersendiri dalam mendidik anaknya. Biasanya cara dan metode tersebut sangat dipengaruhi dari karakter masing-masing. Berdasarkan penelitian yterhadap berbagai karakter orangtua dalam mendidik anaknya, karakter tersebut bisa dikategorikan menjadi empat:

1. Ambitious Commander 
Tipe orangtua ini adalah orangtua dengan karakter yang proaktif. Biasanya mereka akan mengupayakan semaksimal mungkin kemampuan anak mereka untuk mendapatkan hasil terbaik. Namun, saking ambisiusnya bahkan cenderung memaksa. Orangtua tipe ini mendominasi keputusan anak terhadap pendidikan mereka, baik dalam memilih sekolah, jurusan, karier, bahkan hal-hal seperti tempat kursus.

2. Silent Achiever
Tipe orangtua yang ini pada dasarnya masih memiliki karakter yang proaktif dan ambisius, namun berbeda dengan Ambitious Commander, tipe orangtua ini tetap memberikan kesempatan bagi anaknya untuk berpendapat. Tipe Silent Achiever ini cenderung lebih memberikan dorongan kepada anak secara diam-diam, dan tidak terkesan memaksakan kehendaknya. Mereka lebih mengawasi anaknya dari jauh tanpa melibatkan diri terlalu dalam.

3. Short-Term Worrier
Tipe yang ini lebih kepada tipe orangtua yang bertindak reaktif, yakni baru bertindak jika melihat ada sesuatu yang salah dengan anaknya. Misalnya, ketika anak mendapatkan nilai jelek dalam mata pelajaran bahasa Inggris, orangtua tipe ini baru mencarikan tempat les untuk anaknya. Tipe ini lebih banyak khawatir terhadap tantangan masa depan untuk anaknya.

4. Happy-Go-Lucky
Tipe terakhir merupakan tipe orangtua yang santai. Mereka melengkapi kebutuhan anak sesuai dengan kemampuan dan minat anak mereka, mereka juga tidak khawatir terhadap tantangan yang dihadapi anak di masa depan serta percaya terhadap kemampuan & talenta anaknya.

-

Manakah karakter yang baik untuk mendidik anak?
Tidak ada yang salah dengan keempat karakter orangtua tersebut. Karena, ada anak yang memang memerlukan dorongan yang lebih dari orangtuanya untuk sukses, namun ada juga yang malah menjadi tertekan apabila terlalu dipaksa. Pada dasarnya, semua kembali lagi dengan karakter sang anak. Dengan mengetahui yang mana tipe Anda sebagai orangtua dan mengetahui karakter anak Anda, Anda bisa mengetahui bagaimana menyeimbangkannya.

Menyadari besarnya peranan dari orangtua dalam pendidikan anak,  menggabungkan pembelajaran akademis di dalam kelas dengan pembelajaran di luar kelas yang menyenangkan melalui EFEKTA System dan guru yang profesional. EF juga melibatkan orangtua dalam setiap tahap perkembangan anak. Melalui aplikasi EF Parents. Aplikasi ini memungkinkan orangtua untuk bisa mengawasi anaknya ketika sedang belajar di kelas.

-
Apapun tipe Anda sebagai orangtua,  pastikan Anda memilih EF English First sebagai partner Anda membimbing anak untuk siap menghadapi tantangan masa depan mereka.

Kamis, 09 Juni 2016

Melatih Anak Agar Terbiasa Berpuasa di Bulan Ramadhan ..

Oleh: Farah Octavia, S.Psi*
Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Banyak di antara kaum muslimin dan muslimat yang menunggu dan merindukan kehadiran bulan suci yang penuh rahmat, berkah serta pengampunan dari Allah SWT. Salah satu ibadah khusus yang wajib dilaksanakan pada bulan ini adalah ibadah puasa. Menjalankan ibadah puasa bukanlah sesuatu aktivitas baru bagi orang dewasa. Namun bagi anak–anak butuh penyesuaian lebih bagi mereka untuk menjalani ibadah ini dengan jujur dan benar. Di beberapa sekolah biasanya akan ditemui program yang mendukung anak- anak untuk menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, seperti program pesantren kilat atau mengisi buku agenda di bulan Ramadhan. Akan tetapi tetap saja diperlukan motivasi dan kreativitas dari orang tua baik dalam mempersiapkan dan mendampingi anak selama pelaksanaannya agar anak – anak tetap bersemangat menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Mempersiapkan anak menyambut Ramadhan dapat dimulai dari beberapa hari menjelang Ramadhan.  Hal yang pertama dilakukan yaitu orang tua terlebih dahulu menguatkan kembali aqidah anak dengan menanamkan pikiran kepada anaknya bahwa Allah Sang Maha Pencipta akan ridho kepada hambaNya yang berpuasa, bahkan Allah menjanjikan 1 pintu surga khusus diperuntukkan bagi orang yang berpuasa dengan jujur dan benar yakni pintu surga ArRayyan. Orang tua juga dapat memberitahukan manfaat berpuasa untuk kesehatan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak.
Selanjutnya kegiatan lain yang bisa dilakukan dalam mempersiapkan jiwa anak agar termotivasi berpuasa di bulan Ramadhan yaitu dengan mengajak atau mendukung anak mengikuti pawai menyambut ramadhan (tarhib ramadhan) baik yang diadakan di mesjid lingkungan rumahnya maupun disekolahnya. Hiasi pula rumah dengan spanduk atau tulisan–tulisan yang dapat memotivasi mereka untuk dapat terus berpuasa selama Ramadhan. Dalam prinsip perkembangan anak, lingkungan (nurture) berpengaruh pada perilaku yang ditampilkan anak. Meskipun secara bawaan (nature) anak tersebut adalah anak yang cenderung suka mengkonsumsi makanan dan minuman, namun jika lingkungan di sekelilingnya mengkondisikan dan memotivasi untuk berpuasa maka anak akan cenderung dapat mempertahankan perilaku berpuasa. Hal penting lainnya adalah sebelum memotivasi anak berpuasa, orang tua juga harus meyakini dirinya sendiri terlebih dahulu bahwa anak–anaknya tetap akan sehat jika berpuasa. Dengan ada keyakinan tersebut dapat memotivasi orang tua untuk mengatur menu yang sehat untuk anaknya selama Ramadhan. Keyakinan orang tua yang kuat bahwa anaknya mampu berpuasa akan menularkan keyakinan yang kuat pula bagi anak–anaknya.
Dalam menjalankan ibadah puasa, orang tua dapat membiasakan anak–anak untuk latihan berpuasa dimulai dari usia 4 atau 5 tahun. Sebagai latihan, anak–anak dapat  diajak terlebih dahulu berpuasa sampai waktu zuhur saja. Saat memasuki pertengahan bulan Ramadhan, orang tua dapat memberikan tantangan kepada anaknya dengan menanyakan apakah si anak sanggup untuk berpuasa sampai waktu maghrib. Sebagai langkah awal, tantangan ini dapat diiringi dengan reward/hadiah  untuk keberhasilannya menjalani puasa “full”. Pada usia ini, anak- anak sudah memasuki tahapan kognitif preoperasional akhir dimana mereka sudah mampu menalar secara sederhana bahwa perbuatan baik akan mendapatkan balasan yang baik (reward). Reward yang diberikan bisa berupa ucapan selamat, memberikan menu favorit anak saat berbuka maupun sahur yang sehat atau membelikan barang yang diinginkan anak.
Ketika menjalani ibadah puasa, tak jarang anak akan mengeluh lapar dan haus kepada orang tua. Untuk mengalihkan rasa haus dan lapar anak ,orang tua bisa mengajak anak melakukan kegiatan asyik namun tidak melelahkan seperti mewarnai, bermain puzzle, membuat kreativitas, melibatkan anak membuat masakan dan minuman untuk berbuka, berbagi ta’jil kepada tetangga atau kaum dhuafa di lingkungan rumah, dll. Ajari pula anak untuk membedakan mana hal- hal yang dapat membatalkan puasa dan mengurangi nilai puasa (di antaranya: marah, berbohong, mengejek, menangis karena bertengkar) agar ia dapat menjalankan ibadah puasa dengan benar. Beritahukan kepada anak mengenai pesan Rasulullah saw bahwa banyak orang yang berpuasa akan tetapi tidak mendapatkan pahala apapun melainkan rasa lapar dan haus saja, agar ia turut menjaga perilakunya ketika berpuasa.
Melatih anak berpuasa pada hakikatnya melatih mereka untuk bersabar dan belajar mengendalikan hawa nafsunya. Anak yang sejak dini kita latih ini kelak akan tumbuh menjadi pemuda generasi penerus bangsa dan agama. Hal yang membuat miris yang terjadi dan mencuat di berbagai media dalam beberapa bulan terakhir ini yakni banyaknya penyimpangan sosial dan moral serta kriminalitas yang telah dilakukan baik oleh anak maupun remaja di  Indonesia. Penyimpangan tersebut dilakukan karena akal pikiran mereka tidak mampu mengendalikan hawa nafsu yang ditunggangi syetan sehingga berujung pada kejahatan. Kita semua berharap agar momentum ibadah puasa di bulan suci Ramadhan dapat menjadikan manusia khususnya para anak dan remaja muslim di Indonesia dapat lebih mengendalikan hawa nafsu, mengedepankan akal sehat dan mendengarkan hati nurani.

*Konsultan Psikologi Forum Sahabat Keluarga dan Rise Management & Consulting

Puasa, Sujud, dan Derajat Manusia ..

Yudi LatifOleh: Yudi Latif Saudaraku, bulan puasa berulang datang, memberi penggal waktu untuk jeda. Ibarat musim gugur memberi pepohonan kesempatan meranggas dan memudakan diri. Dedaunan jatuh pun luluh simpuh, gugur-tafakur, pulang ke akar, menjadi pupuk kehidupan.
Tradisi puasa seumur usia keagamaan. Saat panggilannya tiba, pedang disarungkan, api dendam diredupkan, ambisi kuasa diredam; memberi sela bagi salam perdamaian. Di dalam jeda, mata hati yang tertutup awan dendam, pongah kuasa, dan gelap kesadaran menemukan berkas sinar.
Puasa meninggikan kembali derajat manusia melampaui nilai kebendaan-kekuasaan. Bahwa nafsu menimbun harta, memperluas pengaruh, dan eksploitasi pengetahuan telah melalaikan manusia hingga membiarkan dirinya menjadi sekadar faktor produksi, budak kekuasaan, dan alat percobaan.
Dalam gravitasi syahwati ini, kehadiran agama yang mestinya pengemban misi keadilan, cinta kasih, dan kewarasan justru secara tragis menjadi pentasbih misi penindasan, penghancuran, dan pembodohan.
Di manakah berkah agama jika risalahnya sekadar konsumsi “go yang lidah” yang kedalamannya sebatas tenggorakan? Di manakah misi penyempurnaan akhlak jika agama hanya dijadikan kemasan pemasaran, pangkal pertikaian, dan dalih kekuasaan? Bukankah suatu ironi yang memilukan bahwa aktor utama dari “komedi omong” ini justru para pemuka agama sendiri? Di masa sulit ketika orang kecil menjerit, pemuka agama “menjual” ayat untuk menidurkan keresahan lantas memberi teladan akhlak dengan pamer kemewahan.
Agama pun tak henti dijadikan sengketa interpretasi dalam persaingan pendakuan kebenaran, sebagai mesiu dalam perebutan kuasa. Bahkan, mereka yang terlibat dalam pemberdayaan masyarakat pun hanyut dalam godaan kekuasaan. Bukan untuk memperbaiki keadaan, melainkan berhenti pada rebutan sumber daya kuasa.
Sedemikian rupa sehingga kita tak sempat menyaksikan perwujudan lain dari gairah keagamaan selain dari sekadar “budak nafsu”. Jika agama sebagai landasan kritik terhadap berhala dan korupsi kebendaan, kekuasaan, dan pengetahuan telah menjadi fosil; sementara orang kebanyakan belum menemukan sumber moralitas lain di luar itu, bagaimana bisa yakin bahwa segala percobaan reformasi politik bisa menuju husnulkhatimah.
Tengoklah demonstrasi demi demonstrasi, kerusuhan demi kerusuhan, diskusi demi diskusi, persidangan demi persidangan, penggulingan demi penggulingan. Semuanya berakhir sebagai “komedi omong”.
Elite politik lebih mengedepankan syahwat kepentingannya ketimbang kemaslahatan umum. Akrobat demi akrobat politik yang dipertunjukkan penguasa semakin jelas menunjukkan kebangkrutan moral kepemimpinan.
Sejarah bertubi-tubi menunjukkan, bilamana pusat pemerintahan sebagai pusat teladan tak bisa lagi dipercaya, kerusuhan dan gerakan-gerakan apokaliptik di wilayah pinggiran akan segera meledak.
Kebangkrutan moral ini terasa pilu justru berlangsung di tengah masyarakat religius. Bukankah misi sentral kenabian adalah penyempurnaan akhlak? Ketikqa sebagian besar masyarakat masih memandang agama sebagai sumber moralitasnya, namun kandungan moralitas agama itu sendiri telah menguap dari kepompongnya, pada saat itu masyarakat menjelma menjadi zombie.
Jeda Ramadhan memberi momen refleksi diri, memulihkan tenaga rohani untuk membakar benalu yang mengerdilkan moralitas agama. Ramadhan memberi kesadaran bahwa hasrat menimbun, berkuasa, dan berpengaruh tak pernah ada puasanya kecuali dengan puasa.
Pengendalian dirilah akar tunjang pengendalian sosial. Adapun ibadah puasa bak kawah candradimuka pelatihan kendali diri.
Sekiranya semua warga mampu berpuasa sungguhan, gumpalan lemak yang berlebih di satu kelompok bisa disalurkan menjadi energi hidup bagi kelompok lain, tidak menjadi kolesterol keserakahan yang memicu kelumpuhan sosial.
Seperti dedaunan yang jatuh di musim gugur bisa memupuk rerumputan di bawah dan sekelilingnya. Sesekali kita pun perlu meranggas; membiarkan keakuan terbakar, tersungkur sujud; menginsafi kefanaan yang menerbitkan hasrat untuk berbagi, membuka diri penuh cinta untuk yang lain.

Ini Alasan Mengapa Manusia Butuh Agama ..

 Mata pelajaran agama  (ilustrasi)
Mata pelajaran agama (ilustrasi)
 
Anggota DPD RI Nofi Candra mengatakan, banyak bukti orang-orang sukses ternyata tidak hanya memiliki kecerdasan spiritual yang bagus. Banyak pula yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi tapi tidak bisa mencapai sukses sebab keseimbangan kecerdasan spiritual dan intelektual sangat menentukanlah menentukan masa depan seseorang.

"Cara pandang di atas akhirnya memang membuktikan fitrah manusia membutuhkan kehadiran ajaran agama. Agama menjadi pengendalian dari kecerdasan akal yang memang membutuhkan tali kekang," kata Nofi, Sabtu, (4/6).

Seperti dikatakan Buya Hamka agama laksana tali kekang kuda bagi manusia. Dimana ajaran-ajaran agama dan ibadah yang mesti dilaksanakan menjadi alat bantu agar manusia tidak menggunakan akal untuk merusak kemanusiaannya.

Akal berkembang liar, nalar bisa cerdas menggali potensi dunia, bisa rakus jika bersanding dan bekerja sama dengan dengan hawa nafsu. Bisa membunuh dan merusak alam melebihi apapun juga. "Karena potensi akal memang bisa melakukan itu. Kehadiran agama, menjadi penjaga liarnya nalar," ujar Nofi.

Ibadah puasa, sebagai ibadah wajib kaum beriman, satu dari sekian banyak ibadah yang membuat akal, hawa nafsu, bisa ditundukkan dengan sikap tawaddu, pengendalian diri dari hal-hal yang merusak ibadah. Ini ibadah yang membangun pondasi kejujuran luar biasa.

Ibadah puasa di bulan suci Ramadhan yang setiap tahun dirindukan kedatangannya, tempat kita mengasah kecerdasan spiritual. Agar kita terjaga untuk membangun nilai-nilai luhur kemanusiaan, meningkatkan kebajikan atas kehidupan di sekitar kita.

Pengalaman di bidang bisnis, terang dia,  di mana tempat adu strategi berbisnis membutuhkan segala kecerdasan, tidak hanya kecerdasan intelektual dan  kecerdasan emosional semata. Tetapi juga harus dilengkapi dengan kecerdasan spiritual.

"Orang-orang bisnis yang sukses, senyatanya memang memiliki tiga kecerdasan itu secara baik dan seimbang. Banyak yang tersungkur karena tidak seimbangnya tiga hal tersebut, atau hanya mengedepan satu dari padanya," ujar Nofi.

Pemimpin Berkelas ..

Pemimpin yang adil dan menepati janji/ilustrasi
Pemimpin yang adil dan menepati janji/ilustrasi
 
Oleh: Rudi Agung (Pemerhati Persoalan Sosial)

''Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.'' (QS. asy-Sura: 38).

Saat kekhalifahan telah berpindah tangan dari anak Abdul Malik kepada Umar bin Abdul Aziz. Umar berkata: Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Beliau naik mimbar, bertatap muka pertama dengan rakyat, lalu mengatakan:''Duhai rakyat, sesungguhnya aku diuji dengan perkara kepemimpinan ini, tanpa dimintai pendapat, tak pernah ditanya, tak ada musyawarah dengan kaum Muslimin. Aku telah membatalkan baiat untukku, sekarang pilihlah seseorang untuk memimpin kalian.''

Serentak, rakyat menjawab,''Wahai Amirul Mukminin, kami telah memilihmu, kami menerimamu, silahkan pimpin kami dengan kebaikan dan keberkahan.'' Mendengar itu, Umar merasa tidak bisa lagi menghindar dari tanggung jawab kepemimpinan. Beliau terpaksa bersedia mengambil tanggung jawab menjadi khalifah.

Umar menyampaikan kebijakannya di podium:''Ketahuilah! Apa yang Allah halalkan adalah halal sampai hari kiamat. Aku bukanlah seorang hakim, aku hanyalah pelaksana. Tidak ada hak bagi siapapun untuk ditaati dalam kemaksiatan. Aku bukan orang yang terbaik di antara kalian, aku hanyalah laki-laki bagian dari kalian, hanya saja Allah Ta’ala memberiku beban yang lebih berat dibanding kalian.''

Umar menambahkan, kaum Muslimin,''Siapa yang mendekat kepadaku, hendaknya dia mendekat dengan lima perkara, jika tidak, maka janganlah mendekat. Pertama, mengadukan hajat orang yang tak kuasa, mengadukannya. Membantuku dalam kebaikan sesuai kemampuannya. Menunjukkan jalan kebaikan padaku sebagaimana aku dituntut meniti jalan itu. Tidak melakukan ghibah terhadap rakyat. Kelima, tidak menyangkalku dalam urusan yang bukan urusannya.''

Demikian kutipan kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz dalam buku ''Perjalanan Hidup Khalifah Yang Agung, Umar bin Abdul Aziz: Ulama dan Pemimpin yang Adil'' karya Syeikh Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi.

Saat didaulat menjadi pemimpin, Umar bin Abdul Aziz selalu memberi perhatiannya yang besar memperbaiki tatanan masyarakat, menciptakan peradaban yang adil, memperingatkan pentingnya kehidupan akhirat. Beliau juga berhasil mengentaskan kemiskinan, menciptakan kesejahteraan, melunasi orang-orang yang memiliki hutang.

Menyelesaikan masalah-masalah di bidang moneter. Memakdzulkan gubernur yang dzalim. Memiliki ketegasan, kesabaran dan keadilan yang luar biasa. Hal utama, ketakutannya yang besar hanya terhadap Sang Maha. Sungguh, sulit menggambarkan sosok dan pola kepemimpinannya yang mulia.

Al Hafidz Adz-Dzahabi memberi ilustrasi kedudukan Umar bin Abdul Aziz dalam ilmu. Dikatakannya, Umar bin Abdul Aziz seorang imam, ahli fikih, ahli ijtihad. Menguasai Sunnah, memiliki kedudukan mulia, penghafal hadits yang ulung, taat pada Allah, memiliki hidup lurus. Dalam menegakkan keadilan disetarakan dengan kakeknya Umar bin Khaththab, kezuhudannya disetarakan dengan Imam Hasan al-Bashri, dan ilmunya serupa dengan Imam az-Zuhri. Subhanallah.

Islam memiliki kegemilangan peradaban, sejarah, keilmuan, sumbangsih bagi dunia, dan tokoh-tokoh luar biasa. Mungkin tak berlebihan bila hari-hari seperti ini kita perlu kembali membuka buku-buku lawas tentang kejayaan Islam, merenunginya, dan mencoba mengaplikasinnya dalam kehidupan sehari-hari.

Di kala kehancuran segala lini menghantui masyarakat Indonesia saat ini, kita sangat butuh suplemen energi dengan kembali mengetahui, mempelajari sifat, sikap, dan kehidupan orang-orang terdahulu. Perlu pula kita menyelami bagaimana sejarah kejayaan dan sebab-sebab kehancuran peradaban terdahulu.

Lihatlah bagaimana pemimpin Islam menyikapi diberikannya tanggung jawab dalam memimpin. Mereka akan menolak karena takut tak mampu mengemban amanah itu. Mereka takut keangkuhan dan kesewenangan bersarang dalam dadanya. Mereka takut ketika nanti memberi jawaban pada Sang Maha, usai nyawa lepas dari jasadnya.

Sebaliknya, lihat pula bagaimana kejayaan Firaun tumbang dengan mudahnya. Akibat kecongkakan dan kedzalimannya, Firaun yang memiliki kekuasaan begitu dahsyat, mati di tengah laut saat ingin mengejar Nabi Musa As dan pengikutnya.

Begitu pula kehancuran kejayaan Raja Namrud yang membakar Nabi Ibrahim AS. Ia mati hanya dengan seekor nyamuk. Ketika nyamuk memasuki lubang hidung Namrud yang bertubuh sangat besar, nyamuk itu bergerak sampai ke otaknya. Bertahun-tahun Namrud tersiksa siang malam sampai akhirnya meninggal.

Teramat banyak sejarah yang mengisahkan kejayaan atau kehancuran masa lalu. Dari masa ke masa, sejarah itu terus berulang. Hanya berganti pemeran, waktu, dan tempat. Sekarang, masyarakat dijejali kenyataan kepahitan hidup akibat kebijakan penguasa. Semoga penguasa bisa belajar sejarah masa lampau, sebelum ajal menjemput mereka. 

Sebelum sesal datang seperti Firaun dan Namrud.
Sekarang, masyarakat juga dijejali pemberitaan seputar calon kandidat pemimpin DKI mendatang. Beragam cara dilakukan kandidat agar dirinya dipilih sebagai pemimpin. Menjual diri dengan aneka janji.

Padahal berkali-kali rakyat memiliki pengalaman didustakan penguasa. Bahkan calon kandidat tak segan saling menjatuhkan. Sungguh, sebuah cara yang bertolak belakang dengan sejarah kejayaan masa lalu. Namun, begitulah sistem yang ada di akhir zaman.

Saya teringat pembicaraan dengan salah satu petinggi sebuah parpol, belum lama ini. Tidak dipungkiri, parpol lebih fokus memikirkan urusan kalah menang dalam pemilu atau peraihan suara. Memikirkan urusan rakyat, entah urusan keberapa. Jadi, masih adakah parpol yang bisa dipercaya? Anda yang lebih tahu.

Kita yakin, calon kandidat mengetahui sejarah kedigdayaan tokoh Islam, kejayaan Islam serta kehancuran peradaban masa lalu.

Pertanyaannya: masih adakah calon pemimpin yang memiliki keinginan meneladani kepemimpinan seperti pemimpin era kejayaan Islam dan menghindari pola dan cara kepemimpinan yang membawa pada kehancuran? Masih adakah yang merealisasikan tampuk kepemimpinan sebagai amanah?

Di tengah kebobrokan sistem dan fitnah dajjal yang makin merangsek di akhir zaman ini, kita hanya bisa berdoa semoga calon pemimpin nanti masih memiliki aqidah kuat dan hati nurani. Semakin hari makin kita rasakan Islam kembali menjadi asing. Lalu, masih adakah pemimpin yang kita rindukan?

Jika belum ada, ingatlah: Kualitas pemimpin tergantung kualitas orang-orang yang dipimpinnya. Tak elok pula hanya mengharapkan pemimpin berkualitas, namun yang dipimpinnya enggan meningkatkan kualitas dirinya. Wallahu a’lammu. Allahumma shalli alaa Muhammad. 

Pejabat yang Terpenjara Sendiri ..

ilustrasi jiwa terbelenggu
ilustrasi jiwa terbelenggu
 
Oleh: Rudi Agung (Pemerhati Masalah Sosial)

Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
Terkujur badan dan kedinginan

Tiada lagi gunanya harta
Kawan karib sanak saudara
Tiada lagi gunanya harta
Kawan karib sanak saudara...

Petikan lagu kontemporer era 70-an ini, betapa memantik hati. Apalagi saat mengingat kunjungan beberapa hari lalu, ke rumah salah seorang mantan pejabat.

Selama tiga hari, saya bersama dua kerabat berkesempatan menginap di rumah seorang mantan pejabat teras di Jakarta. Sungguh, itu hari-hari yang memilukan. Begini kisahnya:

Mantan pejabat teras itu sebut saja Fulan. Ia bercerita, usianya 67 tahun, sudah pensiun tapi masih punya pengaruh luar biasa. Asetnya dimana-mana. Anaknya lebih dari delapan, istrinya dua.

Tetapi sudah 20 tahun mengidap penyakit gonta ganti. Selama delapan tahun terakhir, mondar mandir dirawat di rumah sakit. Sampai sekarang masih rawat jalan. Keluhan utamanya, gula darah tinggi: di atas 200. Jalannya terasa berat.

Salah satu kawan, terapis bekam. Saya ikut menemaninya. Maksud kedatangan memeriksa kesehatan Fulan. Kami disambut hangat. Diminta stay seminggu dan dianjurkan untuk menganggap sebagai rumah sendiri.

Kami terkejut. Rumahnya besar sekali, di bawah ada dua kamar, di lantai dua ada empat kamar. Lantai ketiga untuk jemuran. Tiap kamar punya kamar mandi sendiri.

Ketika kami sapa dengan panggilan: Oom, Fulan menangis. Ia bilang, "Tolong, kalau boleh jangan panggil Oom lagi. Tapi panggil saya, Papa," katanya. Tentu saja kami kaget bukan kepalang. Baru ketemu sekali, diminta memanggil dirinya dengan sebutan: papa.

Ia pun berkisah, dua istrinya tidak bersamanya lagi. Tapi belum bercerai. Hanya pisah tempat. Begitu pula sembilan anaknya. Semua pergi meninggalkannya. Tak ada juga para kolega yang menjenguknya.

Rumah besar, asetnya triliunan rupiah, tetapi enam tahun hanya tinggal sendiri. Bergonta ganti pembantu tetapi selalu lari. Ia bertahun-tahun terpaksa hidup sendiri. Bahkan sakit-sakitan. Fulan pun curhat dari A sampai Z.

"Nyesal saya mendidik anak dengan pendidikan, pendidikan, pendidikan tapi melupakan mendidik agama. Pas tua, istri dan anak pergi semua. Begitu juga kolega saya."

Kami diam, mendengarkan. Kawan memulai terapi bekamnya. Apa yang terjadi? Dari 20-an titik bekam, seluruhnya keluar minyak. Ya, minyak. Banyak sekali. Sedang darahnya kental seperti marus. Warnanya hitam pekat. Ada pula yang seperti jeli.

Kami saling tatap. Heran, melongo, bermacam-macam dugaan. Seorang kawan berinisiatif melafadzkan shalawat. Gaung shalawat bersahutan dari bibir-bibir kami. Fulan pun menangis.

"Dada saya berguncang mendengar shalawat kalian," tuturnya.

Fulan juga kaget dengan hasil bekamnya. Ia heran. Bahkan lebih heran dirinya dibanding keheranan kami. Lalu bertanya: apakah semua ini hasil perbuatan dulu?

Ia mengungkap, sebagai mantan pejabat teras begitu mudah mencari uang. Namun tidak memikirkan halal atau haramnya. Kami tetap mendengarkan curhatnya. Fulan berkisah sambil menangis.

"Murtad saya. Ya Allah..."

"Apakah semua ini dampak dari pekerjaan saya dulu? Kebodohan saya mencari sumber uang dengan cara yang salah?" bibirnya terus berkisah tentang masa kejayaannya. Lalu mengungkapkan, betapa banyak uang negara dihambur sia-sia.

"Apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanyanya. Kami mencoba menjelaskan dasar-dasar agama dan pentingnya mencari sumber halal. Pentingnya peduli pada anak-anak yatim dan fakir miskin.

Sebab, kita lah yang butuh mereka. Bukan sebaliknya. Siapa yang tak peduli, diperingatkan Sang Maha dalam Surat Al Maun sebagai pendusta agama.

Fulan menangis lagi. Kala itu tangisnya pecah. Meledak. "Ya Allah... Ampuni saya Ya Allah...," teriaknya sambil terisak. Semakin lama, ia membuka dirinya. Mengakui segala kesalahannya:

Bersekutu dengan selain Allah, mencari sumber uang seenaknya, merampas uang rakyat, membuangnya dengan foya-foya keliling dunia, tidak mendidik anaknya dengan agama.

Lalu, ketika uang sudah di genggaman; semua banyak yang lepas begitu saja. Tiga mobilnya hilang ditipu, puluhan juta tabungannya raib entah kemana, dua istri dan semua anak meninggalkannya. Kolega tidak ada yang menemaninya. Didera penyakit yang menguras uangnya.

Kini, sisa hartanya menjadi rebutan anak-anak dan dua istrinya. Padahal Fulan belum meninggal dunia. Tak ada yang mau merawat, tapi semua berebut harta bendanya. Ia menangis tanpa henti, menggedor ruang hati kami.

Fulan sadar, banyak mencari uang dengan jalan seenaknya. Merampas yang bukan haknya. Ia tidak dipenjara, tetapi hidup Fulan bagai terpenjara. Bahkan lebih dari sebuah penjara. Rumah besar, uang banyak tak bisa dinikmatinya. Harta jadi rebutan yang membuatnya sakit bertahun-tahun. 

Kami yang diminta menginap seminggu, hanya bisa tahan tiga hari. Sungguh, kami tak kuat lagi mendengar kisah-kisanya. Ketika kami pulang, ia bilang akan kehilangan lagi. Kesepian kembali. Meminta kami balik lagi lain hari.

Kami tercengang. Duka lara Fulan ini baru di dunia. Bagaimana di kubur nanti, bagaimana di kehidupan setelah kematian nanti. Sungguh, kecintaan manusia pada harta, pada dunia, hanya menyengsarakan hidupnya. Bahkan terus mengundang kegelisahan sampai di penghujung usia.

Apakah kehidupan Fulan menjadi representasi para koruptor atau orang-orang yang tak peduli sumber nafkah halal atau haram? Apakah potret Fulan sebuah cermin kehidupan pejabat di negara korup ini? Dengan kesengsaraan beragam versi, kegersangan jiwa, kekacauan pikiran.

Ketika pulang: hati dan logika kami berkecamuk, menggedor-gedor ruang jiwa. Terima kasih Bapak Fulan. Engkau telah mengingatkan bangsa ini. Ya Allah, berikanlah kami kesempatan untuk bertaubat pada Mu. Ya Rahman, selamatkanlah hidup dan mati kami. Ya Rahim, ampuni dosa-dosa kami. Allahumma shalli alaa Muhammad.

Dua Ulama Akhir Zaman ..

Harut dan Marut menurut pendapat ulama adalah dua malaikat (Ilustrasi)
Harut dan Marut menurut pendapat ulama adalah dua malaikat (Ilustrasi)
 
 Oleh : Rudi Agung (Pemerhati masalah sosial dan keagamaan)
Kang Budi dan Kang Badrun dari tanah Jawa. Sejak kecil keduanya akrab. Sama-sama kere, sama-sama satu pondok. Keduanya fasih berbahasa Arab. Sejak usia 20-an, mereka mengajar ngaji anak-anak di kampungnya. Tapi seiring waktu, berbeda nasib. Kang Budi tetap sederhana. Kang Badrun kaya raya.

Kang Budi dakwah keliling. Dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung. Tanpa undangan, tanpa menanti uang bayaran. Kadang, dakwah dari satu kota ke kota lain. Itu kalau ia punya uang lebih untuk bensinnya. Nah, nasibnya beda dengan Kang Badrun. Sejak muncul di televisi, gayanya lebih trendi. Rumahnya tingkat, mobilnya anti karat, sopirnya tetangga pak camat.

Lebaran kemarin, Kang Budi dan Kang Badrun sama-sama mudik ke kampung halamannya. Sudah lima tahun tidak bersapa. Saat berjumpa tak lagi terlihat kedekatan di antara mereka. Bicara dan tertawa, kering sekali kelihatannya. Entah apa sebabnya. Mungkin beda prinsip. Bukan karena beda nasib.

Kang Budi maunya berdakwah mendatangi, sesuai dakwah Rasulullah. Senang sekali datang menyentuh lapisan bawah. Merangkul dan mendatangi kaum papa. Lain hal dengan Kang Badrun. Dengan bicara di televisi, dakwahnya bisa menyentuh semua lapisan. Tanpa harus datang dan melayani. Hanya menunggu jadwal dan menyiapkan materi. Soal pakaian dan gaya hidup, Kang Badrun berdalih, itu tuntutan.

Kang Badrun akrab dengan panggung politik. Sering sekali datang ke Meditariana, konsulat, atau tempat tongkrongan lain. Mengikuti arus aktivis dan politisi. Tentu saja, gaya hidupnya perlu mengikuti mereka. Kongkow-kongkow tertawa ha ha ha ha. Sembari menanti instruksi agenda setting berikutnya. Lalu, angguk-angguk kepala.

Lain dengan Kang Budi. Kendati fokus dakwah di lapis bawah, namun, ia juga akrab dengan politisi dan sejumlah petinggi negara. Dari aparat hukum sampai lingkar istana. Tapi Kang Budi tidak mau terikat dengan mereka. Ia takut terjebak buaian dunia. Tak mau diremot. Hubungan kepada mereka sebatas hablum minannaas saja.

Kalau mereka salah, tak sungkan ditegur dengan keras. Tegas. Tak peduli jabatan dan kekuasaan mereka. Nah, Kang Badrun tidak begitu. Karena banyak fasilitas diperoleh mereka, maka tegurannya agak lembut. Sedikit takut. Atau kecut. Entah.

Kang Budi tanggung jawabnya pada Allah Ta’ala. Ia berusaha keras tak tertarik godaan dunia. Baginya, dunia adalah penjara. Diambil, secukupnya saja. Pernah saat jelang pemilihan presiden, Kang Budi ditawari ratusan miliar. Satu kandidat presiden mengutus anak buahnya meminta restu.

Mereka paham, pamor dan pengaruh Kang Budi di lapangan luar biasa. Meski jarang nongol di layar kaca. Entah apa sebabnya. Bahkan, pengikut dan massanya luar biasa. Itu mengapa utusan pak Kicluk sang kandidat, unggah ungguh merayu Kang Budi. Menawarkan pundi rupiah dan segala yang berbau wah.

Berharap Kang Budi memberi restu. Utusan itu mendekat. Memberi dua buah kunci berbeda. ''Ini Kang, kunci Volvo. Mobilnya baru, sebagai permulaan saja. Kalau tidak suka, terserah mau mobil apa saja.
Kalau ini kunci apartemennya, di Dharmawangsa Tower 3. Ini apartemen berbandrol ribuan dolar, favorit kalangan the haves. Nah, kalau cek puluhan miliarnya bisa segera dicairkan pekan ini. Mohon restunya untuk pak Kicluk,'' rayu utusan pak Kicluk, salah satu kandidat capres.

Bukannya diterima gembira, kunci mobil dan apartemen itu diambil Kang Budi, tapi untuk disambit ke dada utusan pak Kicluk. ''Saya tidak butuh. Keluar kamu sebelum saya marah,'' tegas Kang Budi. Utusan capres itu kalang kabut. Lari sambil kentut.

Beda dengan Kang Badrun. Justru utusan pak Kicluk yang melemparnya. Kali ini dilempar kunci mobil Freed dan dua koper berisi puluhan juta di hadapan Kang Badrun. Utusan itu muak, segitu murahnya harga ulama su’u, ulama penghamba dunia. Apalagi sambil cengar cengir, Kang Badrun mengambilnya dengan membungkuk. ''Makasih, makasih, makasih. Salam untuk pak Kicluk ya.''

Karena muak, utusan pak Kicluk tak tahan. Akhirnya membocori dua peristiwa itu ke insan media. Tentu saja media senang menerima informasi itu. Apalagi pak Kicluk termasuk kandidat capres terkuat.

Perbedaan prinsip dan sikap dua ulama itu langsung digoreng media. Tak butuh waktu lama, kisah dua hamba Allah itu menjadi pembicaraan mengemuka. Dari warung kopi sampai obrolan konglomerat di meja lounge hotel bintang lima.

Para konglo pemodal pilpres terbahak dengar cerita Kang Badrun. Apalagi ulama su’u makin tak tahu malu. Tapi, konglo itu agak dipusingkan dengan ketegasan Kang Budi. Mereka memetakan mana ulama model Kang Budi, mana model Kang Badrun.

Mereka tahu, ulama dan kiai titik vital untuk segera ditaklukan. Mereka tahu, sejarah kemerdekaan bangsa ini direbut atas ketegasan ulama dan kiai yang menentang penjajah kolonial. Menolak aneka suap dan mampu menertawakan dunia.

Karena itu, bagi mereka, untuk menaklukan Indonesia taklukan dulu ulamanya. Setir kiainya. Bungkam santri-santrinya. Manjakan aktivisnya, pecah belah kekuatannya, bunuh dulu karakter kelompok yang kritis. Kelompok yang manut, manjakan fasilitas dan kehidupan mereka. Terutama kiai dan ulama yang banyak pengikutnya. Mereka percaya betul wasiat Imam Ghazali: rusaknya masyarakat karena rusaknya ulama.

Lantaran itu, sebelum merusak masyarakat, mereka rusak dulu ulamanya. Ah untung cerita di atas imajiner belaka. Kisah rekaan. Entah kalau memang Anda merasakan kisah itu ada di lapangan. Mudah-mudahan belum menemukan. 

Dalam satu sabdanya, Rasulullah telah mengingatkan: Kelak pada akhir zaman akan ada pemimpin-pemimpin yang aniaya, menteri-menteri yang fasiq, hakim-hakim yang curang, dan ulama-ulama pendusta... (HR Thabrani).

Kini telah sampai di akhir zaman. Perang Suriah sebagai gong permulaan. Peristiwa di Bumi Syam, telah Nabi nubuwahkan. Dan kita telah masuk fase peperangan antara: sistem dajjal vs peradaban Imam Mahdi. Fase ketika Allah mengizinkan fitnah dajjal merangsek nadi seluruh manusia. Merusak aqidah, moral, akhlak manusia. Termasuk kita, manusia Indonesia.

Mudah-mudahan sengkarut yang terjadi di Republik ini bisa jadi kontemplasi bagi semua. Terutama bagi para ulama dan aktivis dakwah. Sudah waktunya melakukan revitalisasi peranan ulama dan memformulasikan strategi dakwah baru. Pembaiatan Imam Mahdi, hanya masalah waktu. Umat tinggal menunggu.

Tetapi Indonesia malah diambang kehancuran. Tauhid, moral, akhlak umat rusaknya makin hebat. Peran ulama sangat dinanti-nantikan: peran yang bisa mengubah keadaan, menghasilkan perubahan kebaikan umat, mempersiapkan kebangkitannya. Seperti nubuah Nabi, kebangkitan Islam akhir zaman akan datang dari arah Timur.

Ulama Iraq dan Palestina mentakwil dan meyakini, Timur yang dimaksud adalah Indonesia. Sekali lagi, peran ulama sangat dinantikan, seperti peran dan daya juang ulama era pra kemerdekaan. Seperti ulama salafus shalih di masa-masa perjuangan. Peran melepas segala kepentingan.

Kembali menguatkan keihklasan. Mengedepankan perbaikan peradaban. Bukan peran menjaja dalil-dalilan dengan mengharap kucuran bayaran, kepopuleran, atau tertambat cinta dunia yang kebangetan. Akhirnya umat ditelantarkan, tercerai berai berantakan, jadi bahan jualan sampai sekarang.

Oohh Allah... Umat terus ditipu para pelaku religionomik! Allahummansur umatan Muhammad.

Diriwayatkan Anas bin Malik ra. menuturkan sebuah hadits: Kebinasaan bagi umatku datang dari ulama su’u (jahat), mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang dijual kepada para penguasa mereka untuk mendapat keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberi keuntungan dalam perniagaan mereka (HR Al-Hakim).

Anas ra juga meriwayatkan, Rasul bersabda: Ulama adalah kepercayaan para Rasul, selama tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia maka mereka telah mengkhianati para Rasul. Karena itu, jauhilah mereka. (HR Al-Hakim).

Kita semua adalah produk akhir zaman. Selamat menikmati serbuan fitnahnya. Selamat berjuang melawan sistem dajjal yang menyerang gila-gilaan. Semoga Ramadhan ini mampu dijadikan momen muhasabah, mempersiapkan diri dan strategi menyambut kebangkitan Islam hari depan. Semoga kita dipantaskan. Semoga

The World Its Mine