PAGI ini saya melihat seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah seraya berkata, “Sana masuk, tuh umminya sudah ada.”
Namun anaknya tidak segera bergerak malah memgangi rok sang bunda.
“Anak bandel, malah narik-narik rok mama, sana cepat masuk,” dengan
nada suara yang meninggi sang bunda berkata lantas mendorong putranya
supaya bergerak.
Setelah anaknya didepan pintu kemudian sang ibu beranjak meninggalkan halaman sekolah.
Tak lama kemudian datang seorang anak bersama bundanya. Tiba di
gerbang sekolah, sang bunda berkata, “Kakak, tuh lihat ummi sudah di
menyambut, mama peluk dulu.”
Kemudian bunda memeluk anaknya lantas tangan bunda memgang kepala
sang anak seraya membacakan Surat al-Fatihah. “Sayang teman ya, bersikap
yang baik, bunda pulang dulu, assalamu’alaikum daahh,” ucapnya sambil
tersenyum lalu berlalu.
Ucapan seorang ayah atau ibu kepada anak juga merupakan do’a. Namun
sering para orangtua tidak menyadari hal ini. Dalam kehidupan seorang
muslim serangkaian kegiatan yang dilakukan dari bangun tidur hingga
tidur lagi selalu diawali dan diakhiri dengan do’a.
Menurut Wismiarti (2010), dalam bukunya “Mengapa surga di bawah telapak kaki ibu” dikatakan
bahwa: Apapun yang kita lakukan di dunia ini tergantung kepada dua hal
yaitu niat dan do’a. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Kazuro
Murakami, Ph.D dengan judul “The Devine Massage of DNA”yang dikutip oleh wismiarti (2010) menjelaskan bahwa disetiap rantai DNA ada tombol-tombol positif dan negatif.
Tombol positif dan negatif setiap orang tidak sama. Lebih banyak
tombol positif atau tombol negatif pada masing-masing orang juga
berbeda. Hal itu merupakan blue print tiap-tiap manusia di
dunia. Memiliki komposisi tombol positif dan tombol negatif seperti apa
merupakan takdir kita. Namun , kita bisa menyalakan tombol yang positif
dan mematikan tombol yang negatif dengan do’a.
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya
: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah
Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila
Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat
menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Jika dalam mengawali dan mengakhiri sebuah kegiatan, kita berdo’a,
maka kehidupan kita selalu dipenuhi dan diisi dengan do’a. Artinya
tombol positif akan menyala dan tombol negatif tidak. Tombol mana yang
menyala itulah yang menentukan arah hidup kita. Kekuatan berpikir akan
membuat hidup kita berjalan kearah do’a-do’a kita. Berkata, bersikap dan
mendampingi anak penuhi dengan do’a maka tombol positif pada anak kita
lah yang akan menyala dan menentukan arah hidupnya kelak. Hati-hatilah
berbicara dengan anak ayah atau bunda, karena itu adalah do’a.
Selasa, 05 Agustus 2014
Berbicaralah “Dengan” Anak, Bukan “Kepada” Anak
“BUNDA, gambarnya besar lho…” seorang anak 9 tahun berbicara kepada ibunya.
“Iya,” ibunya merespon ucapan si anak.
“Bunda, gambar jeruknya besar, warnanya kuning,” kembali anaknya berkata.
Sambil memegang handphone-nya sang ibu kembali berucap, “iya.”
“Bunda, asal iya kan? Dari tadi Bunda cuma ‘iya-iya’ aja. Bunda, kenapa asal iya aja?” tiba-tiba nada suara anak ini meninggi lalu histeris menangis.
“Iya, maksudnya, Bunda sudah lihat gambarnya,” sang bunda mencoba menjelaskan namun anak ini tidak juga menghentikan tangisannya.
***
“Mama pergi ya, cepet bangun,” teriak seorang mama ketika anaknya mogok berjalan di sebuah tempat rekreasi.
Bukan mendengar perintah mamanya, anak yang usianya 4 tahun itu malah berguling-guling sambil menangis di pelataran parkir.
“Pokoknya mama pergi ya,” kembali sang mama menegaskan ancaman pada anaknya.
Datanglah gurunya menghampiri seraya berkata “Kenapa? Amar cape?”. Sambil jongkok, sang guru mengelus tangan si anak dan mengusap kepalanya kembali melanjutkan bertanya, “ Perlu istirahat?”
Tak hanya itu, sang guru menatap hangat sang anak, lalu berujar, “Bu Deva peluk dulu ya?” Lantas bu guru memeluk sambil berbicara padanya. Tak lama kemudian anak ini tenang dan mau berjalan menuju mobilnya.
Orang tua pada umumnya berbicara “kepada” anak-anak. Komunikasi seperti ini berlangsung satu arah.
Dalam hal ini, orangtua mencoba berkomunikasi “kepada” anak. Namun sayangnya,Kkmunikasi yang terjadi dalam situasi ininegatif. Orangtua tidak membangun suasana yang nyaman ketika berbicara “kepada” anak-anak mereka. Berbeda jika orangtua maupun guru berbicara “dengan” anak.
Seperti yang terjadi diatas, ibu guru berbicara “dengan” anak bukan “kepada” anak. Komunikasi seperti ini berlangsung dua arah. Ibu guru tidak mengambil posisi berdiri ketika berbicara “dengan” anak, tapi memposisikan tubuhnya sejajar dengan tinggi tubuh sang anak. Menatap, mengusap kemudian memeluk dan berbicara dengan suasana hangat. Maka komunikasinya yang terjadi dalam situasi positif.
Komunikasi yang positif baru bisa dilakukan oleh orangtua atau guru jika orang tua atau guru menyediakan waktu cukup untuk berkomunikasi “dengan” anaknya. Bukan sekedar berkata “iya!” seraya berlalu.
Komunikasi yang terjadi bersifat timbal balik atau dua arah, saling mendengarkan.Bukanhanya anak yang harus mendengar tapi orangtua juga mendengar dengan sungguh-sungguh ketika anak berbicara. orangtua memberikan tanggapan atas apa yang dikatakan anak bukan mengabaikan atau malah memberikan ancaman. Sehingga diantara keduanya betul-betul terjalin hubungan yang baik, hubungan saling menyayangi antara orangtua dan anaknya.
Berbicaralah“dengan” anak, bukan berbicara “kepada” anak yang harus dilakukan para orangtua maupun guru. Sehingga lahir anak-anak yang bahagia dalam berbagai kesempatan dan bangga memiliki orangtua maupun guru seperti kita. Mereka lahir menjadi anak-anak yang penuh rasa percaya diri, penuh kasih sayang, penuh kebahagian yang melebihi materi. Berdasarkan hasil penelitian para neuroscientist, anak-anak akan belajar banyak pengetahuan yang diberikan padanya dalam keadaan bahagia. Jika kemampuan komunikasi positif ini dibangun sejak dini, anak akan lahir menjadi pribadi yang menyenangkan dihadapan semua orang.
“Iya,” ibunya merespon ucapan si anak.
“Bunda, gambar jeruknya besar, warnanya kuning,” kembali anaknya berkata.
Sambil memegang handphone-nya sang ibu kembali berucap, “iya.”
“Bunda, asal iya kan? Dari tadi Bunda cuma ‘iya-iya’ aja. Bunda, kenapa asal iya aja?” tiba-tiba nada suara anak ini meninggi lalu histeris menangis.
“Iya, maksudnya, Bunda sudah lihat gambarnya,” sang bunda mencoba menjelaskan namun anak ini tidak juga menghentikan tangisannya.
***
“Mama pergi ya, cepet bangun,” teriak seorang mama ketika anaknya mogok berjalan di sebuah tempat rekreasi.
Bukan mendengar perintah mamanya, anak yang usianya 4 tahun itu malah berguling-guling sambil menangis di pelataran parkir.
“Pokoknya mama pergi ya,” kembali sang mama menegaskan ancaman pada anaknya.
Datanglah gurunya menghampiri seraya berkata “Kenapa? Amar cape?”. Sambil jongkok, sang guru mengelus tangan si anak dan mengusap kepalanya kembali melanjutkan bertanya, “ Perlu istirahat?”
Tak hanya itu, sang guru menatap hangat sang anak, lalu berujar, “Bu Deva peluk dulu ya?” Lantas bu guru memeluk sambil berbicara padanya. Tak lama kemudian anak ini tenang dan mau berjalan menuju mobilnya.
Orang tua pada umumnya berbicara “kepada” anak-anak. Komunikasi seperti ini berlangsung satu arah.
Dalam hal ini, orangtua mencoba berkomunikasi “kepada” anak. Namun sayangnya,Kkmunikasi yang terjadi dalam situasi ininegatif. Orangtua tidak membangun suasana yang nyaman ketika berbicara “kepada” anak-anak mereka. Berbeda jika orangtua maupun guru berbicara “dengan” anak.
Seperti yang terjadi diatas, ibu guru berbicara “dengan” anak bukan “kepada” anak. Komunikasi seperti ini berlangsung dua arah. Ibu guru tidak mengambil posisi berdiri ketika berbicara “dengan” anak, tapi memposisikan tubuhnya sejajar dengan tinggi tubuh sang anak. Menatap, mengusap kemudian memeluk dan berbicara dengan suasana hangat. Maka komunikasinya yang terjadi dalam situasi positif.
Komunikasi yang positif baru bisa dilakukan oleh orangtua atau guru jika orang tua atau guru menyediakan waktu cukup untuk berkomunikasi “dengan” anaknya. Bukan sekedar berkata “iya!” seraya berlalu.
Komunikasi yang terjadi bersifat timbal balik atau dua arah, saling mendengarkan.Bukanhanya anak yang harus mendengar tapi orangtua juga mendengar dengan sungguh-sungguh ketika anak berbicara. orangtua memberikan tanggapan atas apa yang dikatakan anak bukan mengabaikan atau malah memberikan ancaman. Sehingga diantara keduanya betul-betul terjalin hubungan yang baik, hubungan saling menyayangi antara orangtua dan anaknya.
Berbicaralah“dengan” anak, bukan berbicara “kepada” anak yang harus dilakukan para orangtua maupun guru. Sehingga lahir anak-anak yang bahagia dalam berbagai kesempatan dan bangga memiliki orangtua maupun guru seperti kita. Mereka lahir menjadi anak-anak yang penuh rasa percaya diri, penuh kasih sayang, penuh kebahagian yang melebihi materi. Berdasarkan hasil penelitian para neuroscientist, anak-anak akan belajar banyak pengetahuan yang diberikan padanya dalam keadaan bahagia. Jika kemampuan komunikasi positif ini dibangun sejak dini, anak akan lahir menjadi pribadi yang menyenangkan dihadapan semua orang.
Kembali Menjadi Pemenang
Menurut fitrahnya, manusia ingin menang, tidak ingin kalah. Setiap anak manusia yang terlahir ke dunia, sejatinya pemenang, lantaran dalam proses pembuahan dalam rahim, ia telah mengalahkan ribuan saudara-saudaranya yang lain.
Pada kenyataannya, secara faktual, tidak semua orang bisa menjadi pemenang. Sebab, untuk meraih kemenangan, diperlukan persyaratan-persyaratan yang tidak ringan, berupa kualitas-kualitas, kompetensi, track record, dan yang tidak kalah pentingnya, keterampilan memilih strategi pemenangan.
Secara konsep, untuk meraih kemenangan, diperlukan beberapa atribut yang mesti dimiliki. Pertama, kecerdasan atau kekuatan (power).
Dalam psikologi modern, kecerdasan atau kekuatan itu meliputi kecerdasan fisik (physical quotient), kecerdasan intelektual (intelligence quotient), kecerdasan emosi/moral (emotional quotient), dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient).
Kedua, keberanian (syaja`ah), berarti kesiapan tampil atau maju dalam situasi yang menakutkan atau membahayakan disertai kesediaan berkorban dan menanggung risiko.
Berkorban berarti sedia memberikan sesuatu yang berharga untuk sesuatu yang lebih berharga lagi. Menanggung risiko (risk taker) berarti siap menerima akibat, nyawa sekalipun, untuk mencapai tujuan dan cita-cita mulia.
Tak ada kemenangan tanpa keberanian. Semua cerita kemenangan, sejatinya adalah cerita keberanian. Orang bijak berkata: “Ketahuilah, semua kesulitan tak akan bisa dihilangkan, dan semua kemuliaan tak pernah bisa dicapai, kecuali hanya dengan keberanian.”
Ketiga, kejuangan (jihad), berarti mengerahkan segala potensi dan kemampuan untuk mencapai kemenangan.
Jihad juga bermakna masuk ke gelanggang pertarungan dengan menjadi pelaku atau pemain, bukan menjadi penonton, apalagi pengacau atau perusuh pertandingan. Hal ini, karena pemenang atau gelar juara diberikan hanya kepada pemain. Lain tidak!
Terakhir, selain tiga hal di atas, kemenanangan memerlukan ketahanan (determinasi) dan kegigihan (persistent) dalam perjuangan.
Firman Allah SWT: “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (pemenang), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 139).
Ayat ini menggarisbawahi, sikap lemah dan kesedihan yang berkepanjangan (demoralisasi) merupakan penghambat kemajuan dan kemenangan.
Pakar tafsir Ibn Asyur, memandang al-wahan dan al-hazan sebagai penyakit jiwa (mental block) yang membuat manusia tak bisa melakukan perlawanan (tark al-muqawamah).
Al-hazn itu bisa dimaknai sebagai kondisi jiwa di mana seorang merasa dirinya tidak berharga (worthless) disertai perasaan putus asa (hopless) dan dengan begitu sulit diselamatkan (helpless). Al-Hazn tidak bisa bertemu dengan kemenangan, karenanya harus dijauhi.
Ibadah puasa menjadi penting, lantaran berfungsi mencegah penyakit-penyakit mental dan menumbuhkan sifat-sifat pemenang seperti telah disebutkan di atas.
Bahkan, ibadah ini menjadi istimewa, karena pada hakikatnya ia merupakan pusat restorasi rohani yang mampu mengembalikan manusia kepada jati diri (fitrah)-nya.
Maka, pada momen Idul Fitri ini, kepada orang-orang yang puasa pantas disampaikan ucapan selamat: Minal Aidin wa al-Faizin. Selamat Kembali menjadi Pemenang! Wallahu a`lam!
Takbir Fitri Gendang Jiwa
Langit menggemakan takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Gema takbir ini mestilah bukan hanya bersumber dari speaker-speaker masjid yang seadanya itu. Mestilah alam semesta raya turut bertakbir karena tidak putus-putus suara itu mengiang di telinga, bahkan merasuk jauh ke dalam kalbu.
Malam ini saya membayangkan seluruh planet bertakbir, matahari, bintang-bintang, galaksi, nebula semua penduduk langit bertakbir.
Bahkan, boleh jadi seluruh sel-sel dalam tubuh pun turut bertakbir, ya itulah jawaban kenapa ketika jeda suara takbir masjid, tapi seakan masih terdengar dalam jiwa bukan hanya lewat gendang telinga, tapi mungkin kalau boleh menamakannya dengan gendang jiwa.
Namun, di tengah takbir fitri yang agung, sebaliknya saya merasa kecil semakin kecil bahkan lebih kecil lagi.
Perasaan yang campur aduk, mengaduk rasa antara kegembiraan Ied Mubarok dan kesedihan Ramadhan yang berlalu. Pikiran yang agak lelah ini tercenung akan kalimat “minal aidin wal fa’idzin” kembali ke fitrah dan meraih kemenangan.
Mudah memang untuk melafazkannya, namun benarkah kita sudah benar-benar kembali ke fitrah. Bagaimana bisa meraih kemenangan jika tidak mencapai fitrah? Bagaimana ukurannya?
Bagaimana juga dengan hadis “barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”, apakah kita berhasil mendapatkannya? Seperti apa rasanya?
Astaghfirullah Ya Rabb, begitulah jika kita terjebak pada permainan pikiran dan permainan kata-kata, angka statistik, ukuran barometer, takaran yang selalu kita pikirkan. Karenanya gema takbir, ayat-ayat, hadis-hadis hanya berputar di kepala, terurut rapi dengan untaian kata namun seringkali tidak merasuk dalam jiwa.
Sudah saatnya kita mendengar bukan hanya dengan gendang telinga, namun dengan gendang jiwa. Kita hanya mesti fokus berupaya untuk selalu melakukan perubahan menjadi yang lebih baik setiap saat, menjadi manfaat di setiap waktu. Dan biarkan seluruh ukuran, takaran dan perhitungan hanya ada disisi Allah SWT.
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, “Ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal fa’izin, taqabalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Ya Rabb, jadikanlah kami semua manusia yang baru, yang Engkau ridhai. Kumpulkan kami di surga-Mu, Ya Rabb.
Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.
Gema takbir ini mestilah bukan hanya bersumber dari speaker-speaker masjid yang seadanya itu. Mestilah alam semesta raya turut bertakbir karena tidak putus-putus suara itu mengiang di telinga, bahkan merasuk jauh ke dalam kalbu.
Malam ini saya membayangkan seluruh planet bertakbir, matahari, bintang-bintang, galaksi, nebula semua penduduk langit bertakbir.
Bahkan, boleh jadi seluruh sel-sel dalam tubuh pun turut bertakbir, ya itulah jawaban kenapa ketika jeda suara takbir masjid, tapi seakan masih terdengar dalam jiwa bukan hanya lewat gendang telinga, tapi mungkin kalau boleh menamakannya dengan gendang jiwa.
Namun, di tengah takbir fitri yang agung, sebaliknya saya merasa kecil semakin kecil bahkan lebih kecil lagi.
Perasaan yang campur aduk, mengaduk rasa antara kegembiraan Ied Mubarok dan kesedihan Ramadhan yang berlalu. Pikiran yang agak lelah ini tercenung akan kalimat “minal aidin wal fa’idzin” kembali ke fitrah dan meraih kemenangan.
Mudah memang untuk melafazkannya, namun benarkah kita sudah benar-benar kembali ke fitrah. Bagaimana bisa meraih kemenangan jika tidak mencapai fitrah? Bagaimana ukurannya?
Bagaimana juga dengan hadis “barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”, apakah kita berhasil mendapatkannya? Seperti apa rasanya?
Astaghfirullah Ya Rabb, begitulah jika kita terjebak pada permainan pikiran dan permainan kata-kata, angka statistik, ukuran barometer, takaran yang selalu kita pikirkan. Karenanya gema takbir, ayat-ayat, hadis-hadis hanya berputar di kepala, terurut rapi dengan untaian kata namun seringkali tidak merasuk dalam jiwa.
Sudah saatnya kita mendengar bukan hanya dengan gendang telinga, namun dengan gendang jiwa. Kita hanya mesti fokus berupaya untuk selalu melakukan perubahan menjadi yang lebih baik setiap saat, menjadi manfaat di setiap waktu. Dan biarkan seluruh ukuran, takaran dan perhitungan hanya ada disisi Allah SWT.
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, “Ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal fa’izin, taqabalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Ya Rabb, jadikanlah kami semua manusia yang baru, yang Engkau ridhai. Kumpulkan kami di surga-Mu, Ya Rabb.
Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.
Silaturahim Hati
Bulan rahmah dan maghfirah telah berlalu. Kepergiannya diiringi dengan
berbagai sambutan dari para pecintanya; ada yang teramat menyesal dan
bersedih karena merasa belum memaksimalkan bulan Ramadhan, ada pula yang
bersyukur karena telah mampu menjalani serangkaian target yang telah
disusun selama bulan Ramadhan.
Apa pun perasaan yang kita miliki, tetaplah kita harus mensyukuri bahwa Idul Fitri adalah momentum penyucian hati setelah sebulan lamanya kita dilatih untuk menahan dan menyucikan diri dari segala hasrat duniawi; makan, minum, termasuk mengelola emosi. Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk sama-sama membuka hati, memberi dan meminta maaf, serta menebarkan sifat belas kasih.
Meski memaafkan dan meminta maaf tak sebatas hanya pada saat perayaan Idul Fitri, momen perayaan ini kerap dispesialkan untuk berbagi dan memohon maaf. Tak ayal, ucapan yang sering kita dengar atau bahkan sering kita lontarkan ialah, ‘Mohon Maaf Lahir dan Bathin’.
Tak salah memang, memberi maaf terlebih meminta maaf adalah perilaku terpuji. Tak hanya bermaaf-maafan, Idul Fitri menjadi momen berharga untuk kembali merajut silaturahim bersama rekan dan sanak saudara.
Silaturahim (menyambung kasih sayang), atau yang justru sering disebut dengan silaturahmi adalah perbuatan baik yang dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, hakikat silaturahim tak cukup dengan lahir (zahir/tampak), berupa berjabat tangan atau bertatap wajah. Hendaknya silaturahim bathin (hati) —yang sadar untuk meminta dan memberi maaf—benar-benar disadari, agar segala noda-noda di hati berupa iri, dengki, hasad, dendam, melebur hancur bersamaan dengan silaturahim tersebut.
Allah Swt berfirman, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun." (QS al-Baqarah: 263)
Secara tersirat, Allah menyebutkan dua tingkatan kebajikan dalam ayat ini, Pertama, perkataan yang baik. Berkata yang baik adalah salah satu usaha hifdz al-lisan (menjaga lisan) adalah hal yang benar-benar dianjurkan dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Berkatalah yang baik, atau (jika tidak bisa) lebih baik diam,’.
Dalam hadis ini Rasulullah mengajak umatnya untuk mampu berkata baik dan membuahkan manfaat bagi sesama, bukan perkataan penuh dusta, caci-maki, dendam dan amarah. Kedua, kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada kita, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Nah, yang terakhir inilah yang disadari maupun tidak, sulit dilakukan.
Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Terkadang pula, perasaan tinggi hati kerap merusak niat diri sehingga kita malu mengutarakan ‘maaf’ terlebih dulu, padahal, jika kita cermati bersama, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (HR Abu Dawud)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (HR Muslim)
Semoga kita tergolong menjadi hamba-Nya yang mampu menyambung tali kasih sayang ikhlas dari hati, sehingga mudah untuk memberi dan meminta maaf dengan tulus. Amin.
Apa pun perasaan yang kita miliki, tetaplah kita harus mensyukuri bahwa Idul Fitri adalah momentum penyucian hati setelah sebulan lamanya kita dilatih untuk menahan dan menyucikan diri dari segala hasrat duniawi; makan, minum, termasuk mengelola emosi. Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk sama-sama membuka hati, memberi dan meminta maaf, serta menebarkan sifat belas kasih.
Meski memaafkan dan meminta maaf tak sebatas hanya pada saat perayaan Idul Fitri, momen perayaan ini kerap dispesialkan untuk berbagi dan memohon maaf. Tak ayal, ucapan yang sering kita dengar atau bahkan sering kita lontarkan ialah, ‘Mohon Maaf Lahir dan Bathin’.
Tak salah memang, memberi maaf terlebih meminta maaf adalah perilaku terpuji. Tak hanya bermaaf-maafan, Idul Fitri menjadi momen berharga untuk kembali merajut silaturahim bersama rekan dan sanak saudara.
Silaturahim (menyambung kasih sayang), atau yang justru sering disebut dengan silaturahmi adalah perbuatan baik yang dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, hakikat silaturahim tak cukup dengan lahir (zahir/tampak), berupa berjabat tangan atau bertatap wajah. Hendaknya silaturahim bathin (hati) —yang sadar untuk meminta dan memberi maaf—benar-benar disadari, agar segala noda-noda di hati berupa iri, dengki, hasad, dendam, melebur hancur bersamaan dengan silaturahim tersebut.
Allah Swt berfirman, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun." (QS al-Baqarah: 263)
Secara tersirat, Allah menyebutkan dua tingkatan kebajikan dalam ayat ini, Pertama, perkataan yang baik. Berkata yang baik adalah salah satu usaha hifdz al-lisan (menjaga lisan) adalah hal yang benar-benar dianjurkan dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Berkatalah yang baik, atau (jika tidak bisa) lebih baik diam,’.
Dalam hadis ini Rasulullah mengajak umatnya untuk mampu berkata baik dan membuahkan manfaat bagi sesama, bukan perkataan penuh dusta, caci-maki, dendam dan amarah. Kedua, kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada kita, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Nah, yang terakhir inilah yang disadari maupun tidak, sulit dilakukan.
Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Terkadang pula, perasaan tinggi hati kerap merusak niat diri sehingga kita malu mengutarakan ‘maaf’ terlebih dulu, padahal, jika kita cermati bersama, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (HR Abu Dawud)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (HR Muslim)
Semoga kita tergolong menjadi hamba-Nya yang mampu menyambung tali kasih sayang ikhlas dari hati, sehingga mudah untuk memberi dan meminta maaf dengan tulus. Amin.
Manfaat Kurma dari Tinjauan Medis Modern
SEMUA hal kesehatan yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW, tak pernah
ada bertentangan dengan alam dan ilmu pengetahuan di sepanjang zaman.
Itu karena memang ucapannya merupakan wahyu. Termasuk juga soal kurma.
Tentu, di zaman Nabi, tak ada penjelasan ilmiah mengapa kaum Musliminan
harus ini atau tidak boleh melakukan itu atau dianjurkan minum dan makan
itu-ini.
Ribuan tahun setelah Rasulullah SAW wafat, para ilmuwan dunia kemudian mencari-cari dari sudut ilmu pengetahuan. Dan untuk kurma ditemukan sebagai berikut:
1. Tamr (kurma kering) berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan membantu melancarkan saluran kencing (dengan cara merebusnya), karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim tatkala melahirkan.
Penelitian terbaru menyatakan bahwa kurma basah (ruthab) mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolenya (kontraksi jantung ketika dipompa ke pembuluh nadi)
2. Kurma basah (ruthab) juga mencegah terjadinya pendarahan pada wanita saat melahirkan dan mempercepat pengembalian posisi rahim seperti semula. Hal ini disebabkan adanya hormone oxytocine.
3. Dapat menenangkan sel-sel syaraf melalui pengaruhnya terhadap kelenjar gondok.
4. Buah kurma dapat mencegah stroke, karena mengandung unsur kalium yang tinggi yang dibutuhkan untuk mengatur denyut nadi jantung, mengaktifkan kontraksi otot dan membantu mengatur tekanan darah.
Para peneliti membuat postulat hanya dengan makan satu jenis ekstra kalium (minimal 400 mg/hari) dapat menurunkan resiko terkena stroke sampai 40%. Itu artinya sama dengan makan tamr sekitar 65 gram saja atau setara dengan lima butir kurma
5. Kurma juga mengandung salisilat yang dikenal sebagai bahan baku aspirin, obat pengurang rasa sakit dan demam, dan dapat mempengaruhi prostate gland (kelompok asam lemak hidroksida yang merangsang kontraksi otot, menurunkan tekanan darah).
6. Buah kurma mengandung banyak zat garam mineral yang menetralisasi asam, seperti kalsium dan potassium. Ia meninggalkan sisa yang mampu menetralisasi asam setelah dikunyah dan dicerna yang timbul akibat mengonsumsi protein seperti ikan dan telur.
7. Buah kurma mengandung vitamin A yang baik dimana ia dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolism lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit dan menenangkan sel-sel syaraf.
Ribuan tahun setelah Rasulullah SAW wafat, para ilmuwan dunia kemudian mencari-cari dari sudut ilmu pengetahuan. Dan untuk kurma ditemukan sebagai berikut:
1. Tamr (kurma kering) berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus dan membantu melancarkan saluran kencing (dengan cara merebusnya), karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim tatkala melahirkan.
Penelitian terbaru menyatakan bahwa kurma basah (ruthab) mempunyai pengaruh mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolenya (kontraksi jantung ketika dipompa ke pembuluh nadi)
2. Kurma basah (ruthab) juga mencegah terjadinya pendarahan pada wanita saat melahirkan dan mempercepat pengembalian posisi rahim seperti semula. Hal ini disebabkan adanya hormone oxytocine.
3. Dapat menenangkan sel-sel syaraf melalui pengaruhnya terhadap kelenjar gondok.
4. Buah kurma dapat mencegah stroke, karena mengandung unsur kalium yang tinggi yang dibutuhkan untuk mengatur denyut nadi jantung, mengaktifkan kontraksi otot dan membantu mengatur tekanan darah.
Para peneliti membuat postulat hanya dengan makan satu jenis ekstra kalium (minimal 400 mg/hari) dapat menurunkan resiko terkena stroke sampai 40%. Itu artinya sama dengan makan tamr sekitar 65 gram saja atau setara dengan lima butir kurma
5. Kurma juga mengandung salisilat yang dikenal sebagai bahan baku aspirin, obat pengurang rasa sakit dan demam, dan dapat mempengaruhi prostate gland (kelompok asam lemak hidroksida yang merangsang kontraksi otot, menurunkan tekanan darah).
6. Buah kurma mengandung banyak zat garam mineral yang menetralisasi asam, seperti kalsium dan potassium. Ia meninggalkan sisa yang mampu menetralisasi asam setelah dikunyah dan dicerna yang timbul akibat mengonsumsi protein seperti ikan dan telur.
7. Buah kurma mengandung vitamin A yang baik dimana ia dapat memelihara kelembaban dan kejelian mata, menguatkan penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolism lemak, kekebalan terhadap infeksi, kesehatan kulit dan menenangkan sel-sel syaraf.
Taqabbalallahu
minna wa minkum, taqabbal yaa karim .. Shiyamana wa shiyamakum .. Kullu
aamin wa antum bikhoirin. Minal 'aidin wal faidzin. Selamat Hari Raya
Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir & batin. Dari kami Abi Omtez, Winda Dewiriantie, Daviq Razaq & Fadya Azkya. — di De Green Villa Mutiara Residence.
Langganan:
Postingan (Atom)