Senin, 15 Mei 2017

Warisan Terbaik ..

Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).
Manuskrip Timbuktu, warisan peradaban Islam yang terancam punah (ilustrasi).
 
Oleh: Iu Rusliana

Jejak kebaikan itu akan menjadi warisan abadi, tak terputus, bahkan hingga alam kubur sekalipun. Setiap kita tentu menginginkannya, hanya saja lebih banyak yang sekadar ingin, tanpa mengupayakannya dengan sungguh-sungguh, bahkan mengabaikannya, atau merasa perlu menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya. Padahal, tak perlu waktu khusus, saat kaya raya, atau bilamana telah berpendidikan tinggi.
Ada tiga warisan terbaik yang setiap orang pun akan mampu melaksanakannya dengan mudah; sedekah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang terus mendoakan orang tuanya. Begitulah pesan dari Rasulullah SAW, "Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang terus mendoakan kedua orang tuanya," (HR at-Tirmidzi).

Senyum saja sudah sedekah. Artinya, bersikap ramah dan membuat orang yang bersama kita nyaman adalah kebaikan abadi. Senyum hakikatnya ekspresi jiwa nyata, cermin diri yang tulus dan penuh syukur atas kehidupan yang dijalani. Tidak perlu menunggu kaya harta untuk bersedekah, bukan? Tentu saja, alangkah baiknya semakin banyak harta benda yang disedekahkan, diwakafkan, ambil secukupnya, tinggalkan sepantasnya.

Ilmu pengetahuan itu bertingkat, setiap orang memilikinya dari yang sederhana hingga yang paling rumit. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia hanya setitik saja jika dibandingkan luasnya samudra ilmu Allah SWT.

Jika pun hanya bisa membaca, ajarkanlah dengan senang hati kepada yang belum bisa. Bila pun hanya bisa al-Fatihah, ajarkanlah kepada mereka yang belum benar cara membacanya, dan seterusnya.
Tak ada alasan untuk tidak berbagi ilmu, jangan juga menunggu berstatus sebagai guru. Ketika setiap manusia mau belajar, mengajar, dan mengembangkannya, maka sesungguhnya pilar peradaban tengah ditegakkan.

Anak saleh lahir dari pendidikan dengan kurikulum keluarga saleh. Artinya, pendidikan menjadi hal yang utama dalam kehidupan sebuah keluarga dan masyarakat. Anak saleh adalah sumber daya insani terbaik. Mereka bukan hanya bermanfaat bagi kedua orang tuanya, tapi anak bagi semua orang tua yang memperoleh manfaat kebaikan darinya.

Tiga warisan itu hakikatnya memberikan kita hikmah, antara lain, pertama, bahwa hidup ini harus seimbang, jangan berlebih-lebihan. Kehidupan dunia harus dipenuhi dalam rangka menyiapkan bekal di akhirat nanti, pun sebaliknya. Tak ada yang boleh diabaikan salah satunya, sama pentingnya, sama bernilainya. Alquran surah al-Baqarah ayat 200 mengilustrasikannya dengan doa, "Wahai Tuhan kami, berilah kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta jauhkan kami dari azab neraka."

Kedua, bangunlah kebudayaan dan wariskan peradaban terbaik bagi kemanusiaan. Ilmu bermanfaat, wakaf, dan anak saleh adalah warisan terbaik bagi kemanusiaan. Dalam makna yang lebih luas, ilmu bermanfaat itu artinya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan sebagai penopang peradaban manusia. Kemanfaatannya tak lagi dibatasi agama, tetapi menyentuh seluruh kebutuhan umat manusia.

Berbagai amal usaha yang terus tumbuh berkembang dan meluas karena gairah bersedekah dan berwakaf. Pesantren, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai bentuk nyata kebaikan terus bertumbuh, aksi filantropi yang memuliakan.

Ketiga, siapkan manusianya, manusia bermanfaat bagi sesama. Kepemimpinan, akhlak, aksi kemanusiaan, penguasaan ekonomi dan bisnis, dan pengembangan ilmu pengetahuannya. Sebuah isyarat bagi kita bahwa rumah adalah tempat utama, awal dari peradaban, sekolah pertama manusia dan tempat dibentuknya sumber daya insani (human capital).

Begitu mendalamnya kandungan makna dari hadis di atas, bahwa Rasulullah SAW mendorong setiap kita sebagai individu dan keluarga menyiapkan warisan terbaik untuk peradaban dengan ilmu pengetahuan, sedekah, dan sumber daya insani. Betapa untuk kebaikan di akhirat nanti, kita harus memberikan yang terbaik di dunia ini. Wallaahu a'lam.

Puji dan Dipuji ..


Allah/Ilustrasi
Allah/Ilustrasi
 
Oleh: Farid Ghasim Anuz

Rasulullah  pernah memuji untuk memberikan motivasi kepada seorang sahabat, Asyaj bin Abdul Qais Radhiallahuanhu, di hadapannya secara langsung. "Sesungguhnya Anda memiliki dua sifat yang dicintai Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, yaitu santun (tahan emosi) dan teliti." (HR Muslim).
Pujian di hadapan orang yang dipuji itu dianjurkan jika dalam pujian itu tidak ada unsur dusta, tidak berlebihan, dan ditujukan sebagai motivasi serta tidak dikhawatirkan dampak buruk dari orang yang dipuji tersebut berupa kesombongan, bangga diri, atau lainnya.

Jika pujian itu berlebihan dan dapat menimbulkan mudharat kepada orang yang dipuji, maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam melarang hal itu. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah mendengar seseorang memuji sahabatnya secara berlebihan, maka Beliau bersabda: "Kalian telah membinasakan atau kalian telah memotong punggung orang ini." (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Pujian adalah bukti kerendahan hati si pemuji yang mau mengakui kelebihan orang lain, hendaklah kita terus berlatih mempraktikkan pujian kepada istri/suami, anak/orang tua, murid/guru, bawahan/atasan, teman, dan lainnya sebagai bentuk motivasi, spirit, dan semangat untuk beramal dengan lebih baik lagi, bukan untuk mengharapkan keuntungan dunia untuk si pemuji apalagi dengan pujian dusta dan berlebihan sehingga mengakibatkan yang dipuji menjadi lupa diri dan bersikap kurang terpuji.

Bagi yang memuji, jangan lupa mengucapkan "masya Allah" (atas kehendak Allah) sebagai bentuk kekaguman kita dan pengagungan kepada Allah untuk menghindari dampak buruk yang mungkin menimpa orang yang dipuji akibat munculnya penyakit hati berupa hasad, misalnya. Hendaklah seorang yang kagum kepada saudaranya mendoakan agar Allah memberkahi orang yang dikaguminya.

Jika dipuji,  janganlah kita teperdaya dan menjadi sombong serta lupa akan segala kekurangan dan kelemahan kita. Sesungguhnya pujian manusia tidaklah bermanfaat sama sekali jika Allah mencela dan murka kepada kita. Harapan kita hanyalah pujian dari Allah dan ridha-Nya.

Mencari ridha Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggal

Mencari ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan sampai

Gapailah apa-apa yang tidak boleh ditinggal

Tinggalkanlah apa-apa yang tidak akan sampai

Janganlah kita senang dengan pujian orang lain atas sesuatu yang tidak kita kerjakan. Janganlah kita mengaku-aku akan kebaikan yang tidak kita lakukan demi mencari penghargaan dan pujian manusia karena hal tersebut bisa mengakibatkan datangnya azab dan siksa Allah yang pedih.

Allah berfirman yang artinya: "Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapatkan azab yang pedih." (Surah Ali Imran 188).

Jika kita dipuji, ada baiknya kita mengingat ucapan khalifah yang mendapatkan petunjuk dan bimbingan Allah, yaitu Abu Bakar as-Shiddiq Radhiallahuanhu. Ketika dipuji, beliau berdoa: "Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku disebabkan pujian mereka, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui."
Alhamdulillah, segala pujian hanyalah milik Allah.

Waspadalah ..

Waspada listrik. Ilustrasi
Waspada listrik. Ilustrasi
 
Oleh: Imam Nawawi

Di dalam Alquran surah al-Mulk [67] ayat 13-14 Allah Taala berfirman, "Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi sanubari. Apakah Allah Yang Menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." 
Memaknai ayat di atas, Imam Ghazali dalam karyanya Ihya' Ulumuddin menegaskan bahwa ayat tersebut mengharuskan setiap diri bersikap waspada dalam menjaga pembicaraan, perbuatan, niat atau kehendak jiwa. 

Manusia boleh saja tidak paham maksud dari pembicaraan, perbuatan, dan niat seseorang. Tetapi, Allah Taala sangat mengetahui tujuan dan arah setiap perbuatan manusia. Dan, tentu saja setiap yang tebersit di dalam hati, lebih-lebih yang mewujud dalam perbuatan pasti tercatat rapi dalam kuasa-Nya yang sudah barang tentu juga telah pasti balasan yang adil dari-Nya.

Dalam satu kesempatan, Rasulullah menjelaskan bahwa posisi pembicaraan bisa menentukan kedudukan seseorang di akhirat kelak. Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah seraya berkata, "Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya." Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya, "Sungguh ia termasuk ahli neraka."

Kemudian laki-laki itu berkata lagi, "Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya." Maka Rasulullah SAW berkata, "Sungguh ia termasuk ahli surga." (HR Muslim).

Oleh karena itu, Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Ad-Daa' wa Ad-Dawa memberi nasihat agar sebelum diri berbicara hendaklah menimbang lebih dahulu, apakah di dalamnya terdapat manfaat dan faedah ataukah tidak. Jika tidak, tahanlah pembicaraan itu. Jika mengandung kemaslahatan, dilihat lagi, apakah ada kalimat yang lebih baik atau tidak. Dengan begitu, kalimat yag bermanfaat tadi tidak tersia-siakan akibat kalimat yang tidak jelas.

Jika sedemikian ketat Islam mengatur masalah pembicaraan maka lebih-lebih perbuatan. Rasulullah bersabda, "Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang bukan urusannya." (HR Tirmidzi).

Untuk itu, pastikanlah bahwa setiap langkah yang dilakukan adalah jalan menuju ridha-Nya, termasuk dalam hal amal perbuatan. Jangan sampai anugerah berupa waktu, kesehatan, dan kekuatan digunakan untuk melakukan dosa dan keburukan.

Demikian pula dengan niat atau kehendak jiwa. Waspadalah, sungguh inilah yang pertama kali menentukan baik buruknya pembicaraan dan perbuatan yang paling Allah perhatikan. "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada" (QS al-Mu'min [40]: 19).

Dengan demikian, tidak ada celah bagi setiap jiwa untuk tidak waspada dalam niat, pembicaraan, dan perbuatan. Imam Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin meriwayatkan bahwa al-Manshur bin al-Mu'taz tidak berbicara setelah shalat Isya selama 40 tahun. Ar-Rabi' bin Khaitsam tidak berbicara tentang dunia selama 20 tahun dan selalu mencatat ucapannya sepanjang hari. 

Orang yang Paling Kaya ..

Kekayaan (ilustrasi)
Kekayaan (ilustrasi)
 
Oleh: Bahron Ansori

Kekayaan adalah hal yang didamba setiap orang. Namun, kekayaan seperti apakah yang dimaksud dalam syariat Islam? Orang paling kaya menurut Islam adalah orang yang bisa menerima apa adanya setiap rezeki yang diperolehnya.

Tentang definisi kaya ini, Nabi SAW bersabda, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup (qanaah)." (HR Bukhari no 6446, Muslim no 1051, Tirmidzi no 2373, Ibnu Majah No 4137).

Kaya hati dalam hadis ini yang dimaksud adalah tidak pernah tamak pada segala yang ada pada orang lain. Qanaah artinya adalah nrimo (menerima) dan rela dengan berapa pun yang diberikan oleh Allah Ta'ala. Berapa pun rezeki yang didapat, ia tidak mengeluh. Mendapatkan rezeki banyak, bersyukur; mendapatkan rezeki sedikit, bersabar dan tidak mengumpat.

Dalam hadis di atas terdapat pelajaran dari Ibnu Baththol. Ia berkata ketika menjelaskan hadis di atas, "Yang dimaksud kaya bukanlah dengan banyaknya perbendaharaan harta. Karena betapa banyak orang yang telah dianugerahi oleh Allah harta tetapi masih merasa tidak cukup (alias fakir). Ia ingin terus menambah dan menambah. Ia pun tidak ambil peduli dari manakah harta tersebut datang. Inilah orang yang fakir terhadap harta (tidak merasa cukup dengan harta). Sikapnya demikian karena niatan jelek dan kerakusannya untuk terus mengumpulkan harta. Padahal, hakikat kaya adalah kaya hati, yaitu seseorang yang merasa cukup dengan yang sedikit yang Allah beri. Ia pun tidak rakus untuk terus menambah."

Andaikan kita telah bisa mengamalkan hadis di atas, saat itulah kita bisa memiliki kesempatan besar untuk menjadi orang terkaya di dunia. Ujung-ujungnya, keberuntunganlah yang menanti kita, sebagaimana janji Rasulullah SAW, "Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rezeki yang cukup, dan dia dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah (kepadanya)." (HR Muslim).

Berdasarkan standar di atas, bisa jadi orang yang berpenghasilan hanya Rp 50 ribu sehari dikategorikan orang kaya, sedangkan orang yang berpenghasilan Rp 500 ribu sehari dikategorikan orang miskin. Mengapa? Karena orang pertama merasa cukup dengan uang sedikit yang peroleh, sementara orang kedua, ia merasa kurang terus walaupun uang yang didapatkannya cukup banyak secara nominal.

Logika apa yang bisa menerima orang yang berpenghasilan Rp 50 ribu sehari dianggap berkecukupan, padahal ia harus menafkahi istri dan anak-anaknya, ditambah lagi kebutuhan lain yang harus ia penuhi?

Begitulah Allah SWT berbuat kepada setiap hamba-Nya yang qanaah. Allah SWT menjadikan keberkahan pada rezekinya. Selain itu, ukuran kecukupan dalam kacamata Nabi SAW seperti disabdakannya, "Siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya." (HR Tirmidzi, dinilai hasan oleh al-Albani). Wallahu a'lam. 

Kebaikan Dunia dan Akhirat ..

Seorang yang malas dengan amalan-amalan akhirat merupakan indikasi bahwa keyakinannya pada akhirat itu lemah.
Seorang yang malas dengan amalan-amalan akhirat merupakan indikasi bahwa keyakinannya pada akhirat itu lemah.
 
Oleh: Karman

Setiap orang beriman pasti mendambakan kebaikan dunia dan akhirat. Setiap setelah shalat ataupun di banyak kesempatan lainnya, kita selalu memanjatkan doa, "Ya, Tuhan Kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari api neraka." (QS al-Baqarah [2]: 201).

Rasulullah SAW memberi petunjuk praktis untuk merealisasikan doa di atas dalam hadis, "Empat perkara yang apabila diberikan kepada seseorang maka sungguh dia telah mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat: Pertama, hati yang  senantiasa bersyukur. Kedua, lisan yang senantiasa berzikir. Ketiga, tubuh yang bersabar ketika mendapat cobaan, dan Keempat, istri yang berusaha tidak berkhianat pada dirinya dan harta suaminya." (HR Thabrany).

Pertama,  menurut Imam al-Ghazaly, hati yang bersyukur adalah hati yang senantiasa menerima setiap pemberian Allah SWT dengan penuh kegembiraan. Sekecil apa pun pemberian-Nya diterima dengan penuh kebahagiaan dan dianggap sebagai nikmat. Orang yang hatinya selalu bersyukur tidak akan bersedih dan berkeluh kesah, ketika mendapat nikmat sekalipun kecil dan tidak sesuai dengan ekspektasinya. 

Perasaan gembira dan bahagia ketika mendapat nikmat akan mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat dalam bentuk berkah (tambahan kebaikan).  "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'."(QS Ibrahim [14]: 7).

Kedua, lisan yang berzikir merupakan ekspresi keimanan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Bentuknya beragam, bisa tahmid, tahlil, takbir, tasbih, atau membaca Alquran. Apa pun bentuknya, yang pasti zikir kepada Allah merupakan salah satu amalan yang dapat mendatangkan ketenangan jiwa. "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS ar-Ra'd [13]: 28). Ketenangan jiwa inilah yang akan mendatangkan kebaikan, baik dunia maupun akhirat. 

Ketiga, cobaan terhadap tubuh dapat berupa  penyakit atau kesulitan lainnya. Orang beriman akan senantiasa bersabar ketika ditimpa kesulitan atau penyakit, sebab ia tahu bahwa bersamaan dengan semua itu ada kecintaan dan kebaikan Allah SWT. "Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barang siapa yang ridha, maka ia yang akan meraih ridha Allah. Barang siapa siapa yang tidak suka, Allah pun akan murka." (HR Ibnu Majah ).

Keempat, salah satu ciri istri salehah adalah mampu memelihara diri dan harta suaminya. Ia akan senantiasa taat kepada suaminya dan berusaha membuatnya senang dan bahagia. Ia juga akan senantiasa menggunakan harta yang dikuasainya untuk mendorong suaminya lebih saleh. "Wanita (istri) salehah adalah yang taat lagi memelihara diri, ketika suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara mereka." (an-Nisa: 34).

Ayat di atas diperkuat hadis Nabi SAW, "Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri salehah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menaatinya dan bila ia pergi akan menjaga dirinya." (HR Abu Dawud). Memiliki istri seperti itu merupakan berkah dari Allah SWT dan tentu akan mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat. Wallahu a'lam.

Memelihara Rasa Takut ..

Takwa (ilustrasi).
Takwa (ilustrasi).
Oleh Muhammad Shobri Azhari

"Maka, apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS al-A'raff: 99).

Seorang mukmin sejati tidak akan pernah merasa aman dari azab Allah. Sebab, setiap detik dari kehidupannya selalu terpantau oleh Zat Yang Maha Melihat. Ia takut berbuat maksiat pada pagi maupun petang. Saat sendiri, apalagi dalam keramaian. Tidak ada satupun yang tersembunyi dalam pantauan Allah. Hal ini sangat diyakininya.

Saat beramal, ia khawatir amalannya tertolak sia-sia. Dia menjaga keikhlasan hatinya. Ia buang sifat pamer, pura-pura, dan pencitraan semu. Untuk apa berlagak baik dan saleh di hadapan khalayak, padahal aslinya bertolak belakang.

Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Tuhannya bahwa Dia berfirman, Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, Aku tidak mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada hamba-Ku. Jika dia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku beri dia rasa aman di akhirat. Dan jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, maka aku beri dia rasa takut di akhirat. (HR Ibnu Hibban).

Hasan Al-Bashri mengatakan, orang beriman mengamalkan ketaatan kepada Allah dalam kondisi gentar dan sangat takut. Adapun pelaku maksiat selalu berbuat ingkar dengan tenang dan merasa aman. Pelaku maksiat berjalan di muka bumi tanpa takut sekejap pun. Pelaku kejahatan di sana-sini berbuat jahat tanpa berpikir bahwa keburukan akan dibalas keburukan.

Pemimpin zalim tertipu dengan kenyamanannya dan ketaatan pengikutnya, padahal cepat atau lambat dia akan menerima azab atas kezalimannya. Padahal, lihatlah bagaimana takutnya para pendahulu kita yang mulia. Diriwayatkan bahwa tatkala Adam Alaihissalam diturunkan ke bumi, beliau tidak pernah lagi mendongakkan kepalanya ke langit karena malu kepada Allah.

Nabi Ibrahim Alaihissalam jika mengingat kesalahannya, beliau pun pingsan dan debaran hatinya terdengar sejauh satu mil. Lalu, ditanya kepada beliau, Bagaimana bisa Anda seperti itu, sedangkan Anda adalah kholilurrahman? Beliau pun menjawab, Jika aku mengingat kesalahan yang aku perbuat, aku pun lupa kedekatanku pada Allah.

Jika seorang Nabi saja demikian takutnya hingga mereka tidak kuasa melupakan kesalahannya dan terus menerus mengingatnya, lalu sepantasnya kita sebagai manusia biasa berlaku serupa seperti mereka. Jika seorang Nabi yang sebenarnya pantas melupakan kesalahannya karena dijamin ampun baginya, sedangkan kita tidak ada jaminan terampuninya dosa maksiat kita. Kita malah santai melupakan dosa maksiat yang kemarin sudah di lakukan, kembali diulangi di hari-hari berikutnya.

Sahabat Umar Ibnu Khattab adalah orang yang sangat takut kepada Allah SWT sampai tampak di wajahnya dua garis hitam seperti tali sepatu sebab seringnya menangis. Beliau pernah dalam tilawahnya melewati sebuah ayat Alquran hingga membuatnya menangis tersedu-sedu. Ayat itu diulanginya berkali-kali sampai pingsan. Beberapa sahabat menjenguknya seakan-akan beliau sedang ditimpa sakit yang berat.

Semoga, Allah yang Maha Penuntun, menuntut kita ke jalan-Nya, menananamkan rasa takut sekaligus harap dalam hati kita, dan menjauhkan kita dari azab-Nya yang pedih yang datang dengan tiba-tiba.

(Arena Bobotoh) Dilarang Mencintai Persib ..

foto-semen-padang-vs-persib-vladimir-vujovic-20170513_170513_0019
“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang, tapi mencintailah sepuasmu karena mencintai itu tidak pernah dilarang”

Di Bandung dan di daerah lain, ada perayaan hari khusus yang tidak ditandai merah di kalender. Hari itu adalah hari Persib atau Persib Day. Saat Persib Day, semua diskriminasi sirna. Miskin atau kaya, tua atau muda, apapun agamanya, apapun pekerjaannya, apapun geng motornya, semua dipersatukan oleh Persib. Persib Day adalah hari di mana jomblo setara dengan orang yang punya pasangan. Istri, calon istri, pacar, calon pacar, bakal calon pacar dan bakal calon pacar cadangan, semua dilupakan dan diabaikan demi Persib. Persib dulu, baru kamu. Begitu katanya.

Persib Day identik dengan nobar. Baik itu cafe, pangkalan ojeg, lapangan RW, kampus dan kantor, bisa jadi area nobar. Sudah jadi ritual sejak berpuluh-puluh tahun lamanya, saat Persib bertanding, aktivitas Bandung menjadi seakan berhenti. Semua fokus ke layar proyektor, layar TV atau radio untuk memantau pertandingan Persib. Andaikan ada acara konser gratis dari band atau penyanyi kelas dunia sekalipun yang bentrok waktunya dengan pertandingan Persib, dijamin acara itu akan sepi. Pengajian pun kadang digeser waktunya ke sore/malam sesuai jadwal Persib. Pendeknya, Persib sudah membudaya, mendarah-daging, meresap ke denyut nadi.

Malam minggu kemarin, nobar juga dilakukan di salah satu spot ikonik Bandung, yaitu Gedung Sate. Kebetulan di lapangan Gasibu ada acara lain yang waktunya bersamaan dengan nobar Persib. Bobotoh yang pada dasarnya someah, ramah dan bersahabat, bersikap welcome dan menghormati acara di Gasibu tersebut. Nobar berjalan seru dan menarik, dan tentunya ramai dengan kemeriahan khas bobotoh. Acara di Gasibu juga berjalan dengan lancar.

Sayang sekali, kesomeahan dan keramahan bobotoh tidak dibalas dengan baik. Ramai di sosial media, cuitan-cuitan yang menganggap acara nobar Persib di Gedung Sate ini mengganggu acara di Gasibu.Akun gubernur, akun organisasi bobotoh, akun-akun info Persib dan akun personal diganggu dengan cuitan yang bertendensi negatif. Padahal, nobar Persib di Gedung Sate ini dihadiri Gubernur Jabar, sehingga pasti atas sepengetahuan dan mendapat izin keramaian dari Kepolisian. Akun twitter resmi Biro Humas Pemprov Jawa Barat (@humasjabar) sudah sangat baik dalam menjelaskan rangkaian acara nobar ini. Bobotoh tentu kecewa dengan tuduhan-tuduhan buruk yang ada. Kekecewaan ini jelas menambah kekecewaan bobotoh, karena sebelumnya hasil pertandingan di Padang juga tidak berakhir dengan kemenangan.

Sudah menjadi budaya berpuluh-puluh tahun lamanya bahwa dukungan ke Persib, baik di stadion atau di lokasi nobar, selalu ramai dan meriah. Tidak pada tempatnya jika budaya turun-temurun itu dipermasalahkan. Toh nobar tidak diadakan di dekat rumah ibadah atau rumah sakit, sehingga tidak berpotensi mengganggu. Lagipula acara di Gasibu tersebut adalah acara tamu, dalam artian acara luar dan bukan acara yang berhubungan dengan Bandung atau Jawa Barat. Sehingga, tamulah yang harus menghormati tuan rumah, bukan sebaliknya.

Hak berserikat dan berkumpul sudah dijamin dan dilindungi oleh konstitusi di Indonesia, dan jaminan dan perlindungan itu tidak berubah sejak konstitusi kita ditetapkan pada tahun 1945. Semua orang berhak memilih untuk berserikat dalam hal apa dan berkumpul di mana. Tentunya hak bobotoh harus dihormati, sebagaimana bobotoh menghormati hak mereka. Selama para peserta acara di Gasibu masih menjadi warga negara Indonesia, mereka pun harus menghormati konstitusi Indonesia.

Cuitan yang paling membekas di hati adalah akun yang tega menyatakan bahwa Jawa Barat adalah basis ekstrimis, hanya gara-gara komentar-komentar warga Bandung yang lebih mengutamakan nobar Persib daripada acara di Gasibu tersebut. Sejak berpuluh-puluh tahun, orang Bandung sudah melupakan anak-istri dan pekerjaan demi Persib, apalagi sekedar acara tamu? Jika acara di Gasibu itu agenda Walikota Bandung atau Gubernur Jawa Barat sekalipun, orang Bandung pasti mendahulukan Persib. Mudah sekali melabeli seseorang ekstrimis, hanya karena lebih mencintai budayanya sendiri daripada agenda acara orang lain yang menjadi tamu. Bagaimanapun, jika menjalankan budaya mencintai Persib disebut ekstrimis, maka saya bangga menjadi ekstrimis.

Bobotoh tidak selalu menempatkan Persib di atas segalanya. Masih ada yang harus didahulukan seperti kewajiban kepada Tuhan, bakti kepada orang tua, serta nafkah keluarga. Buktinya, bobotoh protes saat kick-off pertandingan berdekatan dengan adzan Maghrib. Bagaimanapun cinta bobotoh kepada Persib, tidak akan mengalahkan kecintaan kepada Sang Pencipta. Mencintai Persib adalah anugerah dari Tuhan. Secara tidak langsung, Persib telah mengenalkan kita dengan banyak orang, sehingga bisa saling memberi manfaat. Identitas ke-Persib-an inilah yang mempersatukan banyak suku, ras, agama, bahkan negara. Apapun yang terjadi, bagi bobotoh, Persib adalah kita, dan kita adalah Persib.

Bagi yang kesulitan memahami kecintaan bobotoh terhadap Persib, bayangkan saja tentang kecintaan terhadap seseorang misalnya. Kita tidak bisa diintervensi siapapun dalam mencintai seseorang. Demikian pula, perwujudan rasa cinta kepada seseorang itu tidak bisa diatur oleh siapapun. Jika kita mencintai seseorang maka tidak boleh ada yang protes kenapa yang kita cintai itu lebih diutamakan daripada yang lain.

Apalagi jika kecintaan itu bersifat komunal. Rania Salsabila dan para saudara kandungnya tidak bisa kita persalahkan karena dia lebih mencintai dan lebih mengutamakan Nil Maizar daripada Djanur. Sudah jelas.
Terakhir, mari kita renungkan hal apakah yang menjadi seburuk-buruknya kesedihan dalam mencintai Persib.

Persib kalah? Persib degradasi? Ya, bisa jadi kedua hal itu adalah hal terburuk dan tersedih bagi bobotoh. Tapi ternyata bukan itu. Persib kalah tidak masalah, Persib degradasi sekalipun kita masih bisa menonton dan mendukungnya di divisi bawah. Kesedihan paling buruk bagi kita adalah saat kita dipermasalahkan dan dilarang untuk mencintai Persib di kota sendiri. Bahkan dalam kehidupan, dilarang mencintai adalah siksaan yang terburuk. Tuhan menciptakan hati untuk mencintai. Melarang seseorang mencintai sesuatu, berarti melarang seseorang untuk hidup. Bukankah cinta adalah nafas dari kehidupan?

Ditulis oleh @kakarindingan, tulisan ini merupakan pendapat pribadi.

The World Its Mine