Selasa, 04 Oktober 2016

Amanah Kepemimpinan dalam Islam ..



Oleh: Dudung Abdul Rohman *)

Kehidupan saat ini semakin kompleks. Masalah demi masalah terus datang silih berganti. Permasalahan yang terjadi tidak berdiri sendiri, tapi terkait dengan masalah-masalah lainnya. Misalnya, masalah politik tidak semata-mata urusan politik, tapi berkaitan juga dengan persoalan sosial, ekonomi, dan budaya. Sehingga, ketika berupaya menyelesaikan suatu masalah, maka perlu dilihat dari berbagai aspek dan berorientasi pada pemecahan masalah secara komprehensif.

Di sinilah diperlukan figur dan sosok pemimpin. Kehadiran pemimpin dengan keadilan dan kebijaksanaannya diharapkan dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi. Dalam masyarakat tradisional mungkin cukup dengan kharisma dan ketokohan seorang figur pemimpin. Namun, dalam masyarakat modern, pemimpin bukan semata-mata figur, tapi sosok yang dapat membawa perbaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik sesuai dengan tuntutan zaman dan dinamika yang terjadi di masyarakat.

Oleh karena itu, kata Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin (2009:7), bahwa kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu membawa organisasi sesuai dengan azas-azas kepemimpinan modern. Sekaligus, bersedia memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada bawahan dan masyarakat luas.

Selanjutnya, dijelaskan juga, bahwa untuk menilai keberhasilan seorang pemimpin dalam memimpin suatu organsiasi atau lembaga dapat dilihat dari aspek-aspek: (1) produktivitas dan prestasi yang dicapainya; (2) kepiawaiannya dalam memimpin; (3) kejelian dalam menghadapi segala permasalahan yang ada; (3) memiliki kemampuan memimpin dan kemampuan intelektual; (4) mempunyai kharisma untuk melakukan trasnformasi (perubahan) dalam organisasi dan juga pemikiran individu dan pihak-pihak yang ada dalam organisasi.

Maka, dalam konteks kepemimpinan sekarang, dibutuhkan pemimpin yang memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi. Karena, hal ini, berhubungan dengan kondisi lingkungan pada saat ini yang mengalami krisis multidimensional.

Dalam hal kepemimpinan, misalnya, terjadi krisis komitmen (tanggung jawab), krisis kredibilitas (kepercayaan), dan krisis kehidupan berbangsa dan bermasyarakat dengan banyaknya bermunculan permasalahan dalam kehidupan yang sangat kompleks. Maka dibutuhkan tipe pemimpin yang efektif yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Yakni, mereka yang mampu menciptakan wawasan dan wacana untuk masa depan dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang kelompok yang terlihat.

Selain itu, mereka yang mampu mengembangkan strategi yang rasional untuk menuju ke arah tercapainya wawasan tersebut. Mereka yang mampu memperoleh dukungan dari pusat kekuatan dalam hal kerja sama, persetujuan, kerelaan, atau kelompok kerjanya dibutuhkan untuk menghasilkan pergerakan itu; mereka yang mampu memberi motivasi yang kuat kepada kelompok inti yang tindakannya merupakan penentu untuk melaksanakan strategi (Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, 2009:131).

Dalam pandangan Islam kepemimpinan adalah amanah. Maka, pemimpin adalah orang yang mendapatkan amanah untuk mengurus kepentingan rakyat. Bukan orang yang tidak mengurus kepentingan rakyat. Oleh karena itu, kata Didin Hafidhuddin dan Hendri Tanjung (2003:120), bahwa dalam pandangan Islam, kepemimpinan itu mengandung dua pengertian. Pertama, Ulil Amri, artinya pemimpin dan pejabat adalah orang yang mendapat amanah untuk mengurus urusan orang lain. Kedua, Khadimul Ummah, pengertiannya seorang pemimpin harus menempatkan diri pada posisi sebagai pelayan masyarakat. pemimpin harus berusaha dan berupaya sekuat tenaga supaya organisasi yang dipimpinnya maju, pegawainya sejahtera, serta masyarakat dan lingkungan sekitarnya menikmati kehadiran organisasi tersebut.

Selanjutnya, KH. Didin Hafidhuddin (2003:121) menambahkan, bahwa supaya menjadi pemimpin yang sukses dalam menjalankan amanah kepemimpinannya, maka ada empat kriteria pemimpin sukses dalam Islam, yaitu: pertama, seorang pemimpin harus dicintai oleh rakyatnya. Hal ini bisa dianalogikan pada kepemimpinan shalat berjamaah. Apabila imamnya dicintai oleh makmumnya, maka pertanda jamaah yang baik. Shalat berjamaah yang paling baik adalah shalat yang dipimpin oleh imam yang baik, yang fasih bacaannya, dan juga dicintai oleh makmumnya.

Kedua, pemimpin yang mampu menampung aspirasi bawahannya. Artinya, dapat menerima saran dan kritikan dari bawahan atau rakyatnya. Seperti yang ditunjukkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khatab ra. Sejenak setelah dilantik menjadi Khalifah kaum Muslimin, dia mendapat kritikan dari rakyatnya, bahwa “Apabila engkau wahai Khalifah benar, maka aku akan menaatimu, tetapi kalau engkau menyimpang, maka pedang ini yang akan meluruskannya”. Sayyidina Umar ra. tersenyum dan merasa bangga dengan kritikan rakyatnya.

Ketiga, pemimpin yang suka bermusyawarah. Musyawarah harus dilakukan, terutama dengan orang-orang tertentu, untuk membahas persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan publik atau berkaitan dengan kepentingan umum. Sehingga kebijakan dan keputusan yang diambil tidak keluar dari koridor kebenaran dan keadilan demi kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat.

Keempat, pemimpin harus tegas. Seorang pemimpin adalah decicion making, artinya pengambil keputusan final. Maka dalam mengambil keputusan harus tegas dan jelas. Tegas di sini bukan berarti otoriter (memaksakan kehendak sendiri), karena tetap berdasarkan mekanisme musyawarah dan pertimbangan yang matang, sehingga menghasilkan keputusan dan pemecahan masalah yang efektif (tepat sasaran), objektif, serta berpihak pada kepentingan dan kemaslahatan rakyat. Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Lari kepada Allah ..



Allah/Ilustrasi

Oleh: Moch Hisyam

Sebagai Mukmin kita meyakini bahwa Allah itu Maha Kuasa atas diri kita dan meyakini bahwa tidak ada tempat untuk melarikan diri dan menyelamatkan diri kecuali hanya kepada-Nya.

Karenanya, lari kepada Allah merupakan bagian penting yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Sebab, tidaklah logis jika kita lari kepada pihak yang tidak bisa memberikan perlindungan, bergantung kepada pihak yang tidak mempunyai kekuasaan, dan menyerahkan diri kepada pihak yang tidak mempunyai daya dan upaya.

Lari kepada Allah SWT merupakan bentuk kesadaran dan keyakinan diri bahwa kita tidak akan mampu menghadapi gempuran kehidupan dunia yang penuh dengan fitnah ini, dan tidak akan mampu menghadapi serangan setan dan sekutunya, kecuali atas pertolongan dan perlindungan Allah SWT. Itulah yang membuatnya lari kepada Allah SWT.

Di dalam Alquran, Allah SWT memerintahkan kita untuk bersegera lari kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya, Maka segeralah berlari kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. (QS adz-Dzariyat [51]: 50). Banyak hikmah dan mafaat yang dapat diraih bila kita lari kepada Allah SWT. Di antara hikmah dan manfaat yang paling besar adalah mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, Barang siapa yang memusuhi kekasih (wali)-Ku, maka Aku nyatakan perang kepadanya. Sesuatu yang paling Aku sukai yang dikerjakan hamba-Ku untuk mendekatkan diri kepada-Ku adalah amalan yang Aku wajibkan kepadanya. Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencintainya.

Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar; menjadi matanya yang dengannya ia melihat; menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku niscaya Aku mengabulkannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku niscaya Aku melindunginya. (HR Bukhari).

Hal ini didapatkan oleh orang yang lari kepada Allah SWT, karena orang yang lari kepada-Nya akan melaksanakan berbagai kewajiban dan menyuburkan hal-hal sunah yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.

Oleh karena itu, manifestasi dari lari kepada Allah SWT diwujudkan dengan melaksanakan dan berpegang teguh kepada Alquran dan sunah. Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunah Rasul-Nya. (HR Malik).

Bertawakal hanya kepada Allah SWT. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS al-Maidah [5]: 23).  Selain itu, direalisasikan hanya bermohon dan berdoa kepada-Nya. (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah). (QS al-An'am [6]: 41).

Untuk itu, mumpung masih ada kesempatan mari kita sesegera mungkin untuk berlari menghadap Allah SWT, menyerahkan seluruh persoalan kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya sebelum kesempatan itu hilang karena ajal telah lebih dahulu datang. Wallahu a'lam bisshawab.

Waspadai Bahaya Ujub ..



Sombong/Ilustrasi
Sombong
 
Oleh: Muhammad Arifin Ilham

Subhanallah. Sungguh hanya Allah yang Mahasuci. Selain-Nya, pasti berbintik noda, kotor, hitam, pekat, dan legam. Terjerumus pada dosa bahkan terjerembap pada jejaring maksiat halus, seperti merasa dirinya paling saleh, paling dermawan, paling benar jihadnya, paling taat, dan paling bersih.

Tiada godaan terhebat dari seorang yang sukses rezekinya, jabatannya, popularitasnya, ilmunya, dan keturunannya kecuali bangga dan kagum pada dirinya sendiri. Merasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling suci. Dan sungguh, inilah penyakit hati orang sukses termasuk tentu "si penulis" ini. Begini-begitu kan kesannya saja. Padahal aib dan kekurangan seabrek-abrek. Untungnya saja, aib kita semua masih ditutupi Allah. Kalau dibuka, pasti sangat malu dan hina.

"Jangan kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri." (QS al-Qashash:76).  "Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa." (QS an-Najm:32). Rasulullah mengingatkan dengan mengulang sampai tiga kali, "Takutlah kalian pada al-Uzba", yaitu bangga dan kagum pada diri sendiri.

Ketika Rasulullah SAW mengingatkan dengan sabdanya tersebut, di hadapan beliau adalah para sahabat yang mulia. Mereka saleh-saleh dan para penghapal Alquran. Karena itu, dosa ujub boleh jadi jebakan dan jerat halus, tapi mematikan bagi para pelakunya, yang kebanyakan dari kalangan orang-orang hebat. Dosa ujub ini lebih halus dari langkah semut.

Bisa jadi kesannya tawadhu, tetapi di hati ingin dipuji. Sangat marah jika dihina ternyata karena berharap dipuji. Inilah Dho'ful aqli wal-iimaani, tanda lemahnya akal dan iman. Padahal jelas sangat rugi, sudah capek-capek beramal, tapi hancur karena ujub.

Karena itu sahabatku, seringlah duduk di majelis ilmu dan zikir. Saat  menengadah dan menatap wajah guru, rontoklah kebanggaan diri. Duduklah bersama fakir miskin, yatim piatu, orang-orang susah, ziarahilah kuburan, perkuat puasa sunah, tadaburkan Alquran, perhebat istighfar, dan selalu harus sempatkan diri secara khusus muhasabah diri selesai shalat malam, "Siapa aku, dari mana, di mana, dan mau ke mana akhirnya aku?"

Sungguh tidak pantas bangga diri kecuali hanya Allah yang Mahasuci dan Terpuji. "Tiga hal yang membinasakan; kekikiran yang  diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar, dan kekaguman seseorang pada dirinya sendiri." (HR Thabrani).

Sifat ujub membawa akibat buruk dan menjerat kepada kehancuran, baik bagi pelakunya maupun bagi amal perbuatannya. Di antara dampak dari sifat ujub tersebut adalah membatalkan pahala. Seseorang yang merasa ujub dengan amal kebajikannya, pahalanya akan gugur dan amalannya menguap karena Allah tidak akan menerima amalan kebajikan sedikit pun, kecuali dengan ikhlas karena-Nya.

Allahumma ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang Kau ridhai, minal mukhlishiin. Berilah kami rezeki teragung, yaitu sifat ikhlas dan bersihkan hati kami dari riya, sum'ah, ujub, dan semua penyakit hati. Aamiin.

Menjadi Manusia Bercahaya ..


Oleh: Kodirun

Diceritakan oleh Abdullah bin Abbas bahwa dia pernah tidur di dekat Rasulullah.  Tiba-tiba, Rasulullah bangun lalu bersiwak (sikat gigi) dan berwudhu. Selanjutnya, beliau membaca surah Ali Imran ayat 190-200. Setelah selesai, Rasul shalat dua rakaat. Baik berdiri, ruku, dan sujud semuanya dilakukan dalam waktu yang panjang.

Selesai shalat dua rakaat, Rasul tidur lagi. Hal itu dilakukannya sampai tiga kali, sehingga ada enam rakaat. Semuanya dilakukan dengan bersiwak, berwudhu, dan membaca ayat yang sama. Setelah itu, Rasul menunaikan shalat witir tiga rakaat. Seusai azan dikumandang muazin, keluarlah Rasulullah untuk shalat Subuh.

Beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya dan di dalam lisanku (juga) cahaya. Jadikanlah di dalam pendengaranku cahaya dan di dalam penglihatanku (juga) cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku (juga) cahaya. Jadikanlan dari atasku cahaya dan dari bawahku (juga) cahaya. Ya Allah, berilah aku cahaya.” (HR Muslim).

Shalat dan doa yang dilakukan Rasulullah membimbing kita menjadi manusia yang bercahaya. Dalam doa tersebut jelas sekali bahwa yang pertama disebut adalah hati. Hati yang bercahaya yang letaknya berada di bagian pusat tubuh manusia adalah hati yang bersinar dan memberi efek terang pada seluruh tubuh.

Dalam doanya, Rasulullah juga menyebutkan lisan, pendengaran, penglihatan, belakang, depan, atas, dan bawah agar semuanya bercahaya. Intinya, menjadi manusia yang benar-benar bercahaya. Manusia yang hatinya bercahaya akan merasakan luas dan lapang di dalam dadanya.

Rasulullah bersabda, “Ketika cahaya telah masuk di dalam hati maka (hati itu) akan menjadi luas dan lapang.” Para sahabat bertanya, “Apa tandanya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Al-inabah ila dar al-khulud, wa at-tajafa‘an dar al-ghurur, wa al-isti’dad lil maut qabla nuzulih.”  (HR At-Tirmidzi). Yakni, kembali ke negeri keabadian (akhirat), menjauh dari negeri ketertipuan (dunia), dan bersiap-siap menjemput kematian sebelum datang kematian itu.

Menjadi manusia bercahaya memang tidak mudah. Selain harus membersihkan hati dari segala kotorannya, setiap pancaindra juga harus digunakan dengan cara yang baik. Yaitu, dengan menghiasi tubuh dengan segala bentuk tutur kata dan perilaku yang baik.

Dengan makna lain, jika cahaya identik dengan segala kebaikan, manusia yang bercahaya adalah manusia yang baik lahir dan batinnya. Keduanya memancarkan cahaya kebaikan yang memberikan petunjuk bagi manusia lainnya keluar dari segala kesesatan. Dia bisa menjadi panutan bagi manusia lain yang ingin keluar dari kegelapan dan kesesatan.

Kebalikan dari cahaya adalah gelap atau kegelapan yang identik dengan kejelekan, kejahatan, dan kesesatan. Manusia yang tidak memiliki atau kehilangan cahaya akan hidup dalam kegelapan karena jauh dari kebaikan dan kebenaran. Jauh dari iman, jauh dari sifat dan perilaku yang baik. Ia tidak mampu memberikan petunjuk dan tentu dia tidak dapat dijadikan panutan atau pemimpin.

Untuk menjadi negeri yang unggul, Republik ini membutuhkan manusia-manusia bercahaya. Mereka berhati jujur dan memiliki moralitas yang mulia. Wallahua’lam.

Teologi Musibah ..

Kendaraan dan rumah tersapu banjir bandang Garut
Kendaraan dan rumah tersapu banjir bandang Garut

Oleh: Ahmad Agus Fitriawan

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusiam supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS ar-Ruum [30] :41).

Rentetan musibah yang menerpa kita akhir-akhir ini, sudah selayaknya menjadi peristiwa penuh makna. Peristiwa yang menjadi momentum tepat untuk kembali kepada Allah Sang Maha Penguasa Alam Semesta.

Sedikitnya ada empat poin penting sebagai titik tolak kesadaran teologi kita sebagai mukmin dalam memaknai peristiwa musibah yang mengharu-birukan kemanusiaan kita. Pertama, berhusnudzan kepada Allah SWT, berbaik sangka kepada-Nya. Tidaklah Dia menciptakan segala sesuatu dengan kesia-siaan (QS Shaad [38] :27).

Dan tentu saja sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah adalah dengan bersabar sembari mengharapkan balasan kebaikan dari sisi Allah SWT. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Fawaidul Fawaid-nya menjelaskan bahwa ubudiyah kepada Allah dalam qadha’ musibah ialah dengan sabar menghadapinya dan ridha menerimanya.

Ridha menerima musibah lebih tinggi kedudukannya daripada sabar. Kemudian mensyukuri musibah itu, ini lebih tinggi dari ridha. Perasaan ini muncul karena ada rasa cinta Allah SWT yang tumbuh di dalam hatinya.

Kedua, selayaknya musibah ini menjadikan kita menyadari akan kelemahan diri dan ke-MahaKuasa-an Allah SWT. Sesungguhnya kita ini tunduk dalam pengaturan Rabb kita. Jiwa kita ini ada di tangan-Nya. Ubun-ubun kita ada di tangan-Nya. Hati kita ada di tangan-Nya. Hidup, mati, bahagia dan derita, afiat dan musibah, semuanya ada di tangan Allah SWT.

Firman-Nya: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim).” (QS Al An'aam [6] :162-163).

Ketiga, selayaknya musibah ini menyadarkan kita akan semakin dekatnya hari kiamat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah banyak terjadinya gempa bumi. Karena itu kita jangan merasa aman dari turunnya adzab-Nya.

Allah SWT berfirman: “Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman sekiranya adzab Kami datang menimpa mereka di malam hari, sedang meraka dalam keadaan lelap tertidur? Ataukah mereka merasa aman apabila adzab Kami datang kepada mereka di waktu dhuha dan mereka sedang asyik bermain? Apakan mereka merasa aman dari makar Allah? Sesungguhnya tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang rugi.” (QS al-‘Araf [7] :97-99).

Keempat, selayaknya musibah ini menyadarkan kita untuk tidak membiarkan begitu saja terhadap kemunkaran-kemunkaran yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Karena boleh jadi, musibah ini akibat dari perbuatan munkar yang kita lakukan atau akibat perbuatan munkar yang kita biarkan.

Suatu ketika, Zainab istri Rasulullah, pernah bertanya kepadanya: “Wahai Rasulullah, apakah kami juga akan diadzab, sedang di tengah-tengah kami ada orang yang saleh?” Beliau menjawab: “Ya, jika kekejian itu sudah semakin banyak." (HR Muslim).

Kapan kekejian dan kejahatan itu dikategorikan banyak? Yakni ketika kekejian itu sudah dilakukan secara terang-terangan di tengah masyarakat. Tidak ada lagi orang yang menghentikannya, para aparat berwenang melegalkannya, akhirnya kemungkaran itu pun menjadi kuat karena para penguasa membiarkannya begitu saja. Wallahu a'lam.

Prinsip Gerak dalam Hijrah ..

Oleh: H Karman
Hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa fenomenal. Hal itu terlihat dari kemajuan dakwah Islam setelah peristiwa hijrah tersebut. Hanya dalam waktu singkat yaitu sekitar 13 tahun setelah hijrah, dakwah Islam berkembang pesat hampir ke seluruh Jazirah Arab.
Padahal, ketika Rasulullah SAW masih di Makkah dalam rentang waktu 10 tahun, yang menyambut dakwah Islam jumlahnya dapat dihitung dengan jari.

Sesungguhnya fenomena hijrah menghasilkan kemajuan sudah dijanjikan oleh Allah SWT. "Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an-Nisa [4]: 100).

Aktivitas hijrah yang menghasilkan kemajuan bukan hanya fenomena ekslusif hijrah Rasul SAW, tapi merupakan fenomena universal. Hampir semua negara dan peradaban besar di dunia dibangun oleh masyarakat pendatang (muhajir).
Dalam konteks modern, Amerika Serikat salah satu negara termaju di dunia baik dalam bidang ekonomi, militer, maupun sosial budaya dibangun oleh masyarakat pendatang (muhajir).

Demikian juga kelompok masyarakat yang menguasai sebagian besar sumber daya alam dan ekonomi di Indonesia adalah etnis pendatang, yaitu Cina. Bahkan kelompok masyarakat yang maju secara ekonomi, sosial, dan budaya di kota-kota besar, khususnya di Indonesia, sebagian besar penduduk pendatang, bukan penduduk asli.

Lantas, ada apa di balik fenomena hijrah tersebut? Hijrah secara bahasa berarti pindah dari satu tempat ke tempat lain. Peristiwa pindah ini biasa juga disebut gerak. Sesungguhnya pada gerak inilah rahasia kemajuan di balik peristiwa hijrah. Di alam ini segala sesuatu yang bergerak keberadaannya relatif lebih sehat dan maju.

Otak kita yang sering digerakkan untuk berpikir akan jauh lebih sehat dan berkembang dibanding dengan otak yang tidak pernah digerakkan untuk berpikir. Hati yang digerakkan melalui berzikir juga akan relatif lebih sehat dibanding dengan yang tidak pernah digunakan untuk berzikir.

Demikian juga dengan tubuh yang digerakkan melalui olahraga, ia akan lebih sehat dibanding dengan tubuh yang tidak pernah diolahragakan. Fenomena gerak yang menghasilkan kesehatan tidak hanya terjadi pada makhluk hidup, tetapi juga terjadi pada makhluk mati.
Air yang mengalir (bergerak), misalnya, lebih sehat dari air yang tergenang. Sebersih-bersih air jika tidak bergerak (tergenang), ia akan menjadi sumber penyakit.

Imam Syafi'i dalam sebuah syair pernah berkata, "Sesungguhnya aku pernah melihat air tergenang itu merusak. Jika air itu mengalir menyehatkan dan jika tergenang akan merusak (sumber penyakit).

Jadi, prinsip gerak atau pindah dari satu tempat ke tempat lain merupakan prinsip dasar pada hijrah yang menghasilkan kemajuan. Oleh karena itu, pantas kalau Allah SWT mendorong hamba-Nya untuk senantiasa bergerak dengan melakukan perjalanan di atas bumi.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS an-Nahl [16]: 36). Wallahu a’lam.

Memuliakan Ibu ..

Rasulullah
Rasulullah
 
Oleh: Fajar Kurnianto

Orang beriman mesti memuliakan kedua orang tua, khususnya ibu. Dalam hadis disebutkan, Abu Hurairah bercerita: Ada seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW, lalu bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya pergauli dengan sebaik-baiknya?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapakah?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang itu sekali lagi bertanya, “Kemudian siapakah?” Beliau menjawab lagi, “Ibumu.” Orang tadi bertanya pula, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ayahmu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan, andai kata sang ibu adalah orang yang berbeda agama (non-Muslim) dan keyakinan, kita tetap harus memuliakan mereka dan tidak boleh memutus hubungan dengannya.
Dalam hadis disebutkan, Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq bercerita: Ibuku datang ke tempatku sedang dia adalah seorang musyrik di zaman Rasulullah SAW, yaitu di saat berlangsungnya perjanjian Hudaibiyah antara beliau dan kaum musyrikin. Kemudian saya meminta fatwa kepada Rasulullah, “Ibuku datang padaku dan ia ingin meminta sesuatu, apakah boleh saya hubungi ibuku itu, padahal ia musyrik?” Beliau bersabda, “Ya, hubungilah ibumu” (HR Bukhari dan Muslim).

Para sahabat Nabi SAW disebutkan sangat memuliakan ibunya. Abu Hurairah, misalnya, setiap akan pergi keluar rumah dan pulang ke rumah, selalu menemui ibunya dan mendoakannya. Dalam kitab Adab Al-Mufrad karya Al-Bukhari disebutkan, Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain.

Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, ia berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya berkata, “Semoga keselamatan untukmu, wahai ibuku, juga rahmat Allah serta berkah-Nya.” Ibunya menjawab, “Semoga untukmu juga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya, wahai anakku.

Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Semoga Allah juga merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.

Sahabat lainnya, Ibnu Mas’ud, acap kali disuruh ibunya untuk mengambilkan air minum, dan ia selalu melaksanakannya. Suatu ketika, saat membawa air minum yang diminta ibunya, ia mendapati ibunya tertidur pulas. Karena memuliakan sang ibu, Ibnu Mas’ud tidak berani membangunkannya.

Dalam kitab Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi disebutkan, Anas bin Nadzr Al-Asyja’i bercerita, suatu malam ibu Ibnu Mas’ud meminta air minum kepadanya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi hari.”

Sahabat lainnya lagi, Usamah bin Zaid, disebutkan tidak pernah menolak permintaan ibunya. Dalam kitab Shifah Ash-Shafwah karya Ibnul Jauzi disebutkan, Muhammad bin Sirin mengatakan, pada masa pemerintahan Usman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamar-nya (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma).

Jamar tersebut lantas ia suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah, banyak orang bertanya-tanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Usamah menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa kuberikan pasti kuberikan.

Ibu memang sosok yang harus dimuliakan. Kita lahir ke dunia melalui dirinya. Sehebat atau sesukses apa pun seseorang dalam hidupnya, pasti dilahirkan dari rahim seorang ibu. Selain itu, sebelum kita lahir, ibu mengandung kita di dalam perutnya selama lebih kurang sembilan bulan, waktu yang tidak sebentar. Saat melahirkan, ibu juga yang merasakan sakit tak terkira. Jadi, tidak ada alasan apa pun untuk mendurhakai ibu atau memutus hubungan dengannya, apa pun keadaannya. Wallahu a’lam.

The World Its Mine