Kamis, 05 September 2013

9 Cara Alami Kendalikan Asam Lambung

Refluks terjadi akibat naiknya asam lambung ke esofagus karena belum sempurnanya katub antara lambung dan esofagus. Saat mengalami refluks, biasanya seseorang akan mengalami gejala rasa panas dan terbakar di sekitar dada. 

Selama ini pengobatan refluks dilakukan dengan obat yang dapat mengurangi asam lambung. Namun sebenarnya refluks dapat dicegah dengan pengelolaan asam lambung yang tepat.
Simaklah 9 cara alami mengelola asam lambung berikut ini.

1. Kurangi berat badan
Sebuah studi di tahun 2005 pada 453 responden mengungkapkan, kelebihan berat badan atau obesitas merupakan faktor risiko dari gejala refluks asam lambung. Studi yang dipublikasi dalam The American Journal of Gastroenterology itu juga menyebutkan, diet sehat seperti memilih lemak sehat, sayuran berdaun dan berbunga, kaya serat dan karbohidrat kompleks mampu membantu menstabilkan gula darah dan mengoptimalkan kerja hormon pembakar lemak.

2. Kurangi makanan pemicu refluks
Beberapa makanan seperti jeruk, tomat, bawang putih, dan beberapa jenis makanan lain dapat memicu produksi asam lambung yang berlebih sehingga meningkatkan risiko refluks. Meskipun reaksinya berbeda pada setiap orang, ada baiknya Anda mewaspadai risiko tersebut saat mengkonsumsinya.

3. Minum cukup air
Sejumlah peneliti setuju refluks dapat dipicu oleh keadaan dehidrasi pada saluran pencernaan atas. Meski begitu, minum banyak air saat waktu makan juga dapat membuat perut cepat penuh dan justru memicu refluks. Oleh karena itu, sebaiknya minum air dilakukan sekitar satu jam sebelum makan.

4. Hindari terlalu banyak konsumsi karbohidrat
Menurut beberapa studi, mengurangi gula dan makanan tinggi karbohidrat bisa mengurangi gejala refluks. Sebuah studi bahkan menyebutkan, karbohidrat lebih berperan memicu refluks dibandingkan dengan kopi ataupun lemak.

5. Kurangi gluten
Sebuah studi yang dipublikasi dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology menemukan, gejala refluks banyak ditemukan pada mereka yang memiliki penyakit seliak. Maka mengurangi konsumsi gluten bisa menjadi solusi menghindari gejala tersebut.

6. Makan perlahan
Menurut studi yang dimuat dalam The American Journal of Gastroenterology, mereka yang terburu-buru saat makan cenderung untuk mengalami refluks. Maka cobalah untuk menikmati makanan Anda lebih lambat. Ingat, 20 menit merupakan waktu yang dibutuhkan oleh otak untuk menerima pesan bahwa Anda sudah kenyang.

7. Konsumsi enzim pencernaan dan probiotik
Enzim pencernaan dan probiotik dapat memperbaiki proses mencerna sehingga mengurangi risiko refluks. Enzim pencernaan bisa didapat dari sayur-sayuran segar dan suplemen.

8. Cukup tidur
Studi dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menemukan, orang yang kurang tidur pada suatu malam cenderung untuk mengalami refluks di keesokan harinya. Maka pastikan Anda mendapat tidur yang cukup 7-9 jam per hari.

9. Kurangi stres
Stres merupakan pemicu dari banyak penyakit, termasuk refluks asam lambung. Sebuah studi dalamThe American Journal of Gastroenterology menemukan, mereka yang mengalami stres mengalami peningkatan risiko tekanan darah tinggi, denyut jantung, dan gejala refluks.

Pemerintah Saudi Minta Jemaah Haji Pakai Masker

Pemerintah Saudi meminta jemaah untuk menggunakan masker selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Masker digunakan sebagai pertahanan terhadap risiko penularan MERS coronavirus di negara tersebut.

Sementara itu, orangtua orang yang memiliki penyakit kronis dan anggota jemaah dengan daya tahan tubuh lemah diminta menunda pelaksanaan ibadah haji. Jemaah juga diminta lebih waspada pada kebersihan tangan. Bila bersin atau batuk, sebaiknya menggunakan tisu.

Imbauan ini disampaikan Pemerintah Arab Saudi di tengah upaya menekan kasus penularan MERS-CoV (Middle East respiratory syndrome coronavirus). Peraturan ini sekaligus sebagai perlindungan bagi sekitar 2 juta anggota jemaah yang akan datang pada bulan ini.

MERS-CoV, yang menimbulkan gejala mirip SARS plus gagal ginjal, sejauh ini telah menginfeksi 85 orang dengan 41 korban meninggal. Kebanyakan infeksi dan kematian terjadi di Saudi Arabia.

Pengumuman dari Pemerintah Arab Saudi ini disampaikan setelah WHO berkonsultasi dengan Emergency Committee. Komite ini beranggotakan para ahli internasional terkait MERS-CoV. Namun, pengumuman tidak menegaskan apakah mereka yang berusia lanjut atau dengan sistem kekebalan lemah akan ditolak visanya ketika masuk negara tersebut.

WHO sendiri tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan. Namun, WHO menyarankan Pemerintah Arab memonitor infeksi atau pola pernapasan yang tidak biasa pada warganya.

Tentang MERS-CoV 

MERS-CoV adalah anggota keluarga coronavirus. MERS-CoV sama dengan SARS coronavirus (SARS-CoV), tetapi lebih mematikan. SARS-CoV menyebabkan rata-rata kematian 10 persen, sedangkan rata-rata MERS-CoV mencapai 50 persen.

MERS-CoV muncul tahun lalu. Virus ini kali pertama diidentifikasi pada pasien dewasa pria yang memiliki gejala mirip SARS. Pasien ini meninggal pada Juni tahun lalu. Sejauh ini, infeksi MERS-CoV dilaporkan terjadi di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Tunisia, Jordan, Inggris, Jerman, Perancis, dan Italia.

Gejala MERS-CoV meliputi:

1. Gagal ginjal, gejala ini tidak ditemukan di SARS-CoV
2. Diare, tetapi tidak ditemukan di semua kasus
3. Demam
4. Sakit dada
5. Lemah
6. Napas pendek
7. Batuk dan bersin
8. Penumonia, umumnya pasien datang dengan gejala ini ketika sampai rumah sakit.

WHO mengatakan, walau lebih mematikan, MERS-CoV sulit berpindah antar-manusia. Namun, peneliti dari Johns Hopkins University yang mengunjungi Saudi Arabia menulis pada New England Journal of Medicine) bahwa MERS-CoV relatif lebih mudah menyebar dibanding SARS-CoV.

Permasalahan lain adalah masih sedikit sekali informasi tentang MERS-CoV. Sampai sekarang belum diketahui dari mana asal virus, berapa jumlah kasus terinfeksi tanpa gejala, atau seberapa banyak penularan terjadi di luar rumah sakit.

Coronavirus Baru Lebih Mematikan Dibanding SARS

Para ahli menyatakan, coronavirus baru yang ditemukan di Timur Tengah diduga mudah sekali menular antar manusia dan lebih mematikan dibanding SARS. 

Dalam setahun terakhir ini ,Badan Kesehatan Dunia WHO telah mencatat setidaknya 60 kasus akibat serangan virus misterius yang juga dikenal dengan nama Middle East Respiratory Syndrome (MERS) ini. Sebanyak 38 korban di antaranya meninggal, dan kebanyakan kasus berasal di Arab Saudi. Sejauh ini, coronavirus tak menyebar secepat virus SARS pada 2003, yang merenggut 800 orang. 

Tim ahli internasional yang meneliti 24 kasus MERS di Arab Saudi bagian timur menemukan bahwa coronavirus baru ini ternyata punya kemiripan dengan SARS. Namun, berbeda dengan SARS, peneliti belum dapat mengungkap sumber dari MERS.

Yang menjadi kekhawatiran menurut tim ahli adalah MERS bukan cuma mudah menular antarmanusia, tetapi juga dapat menyebar di dalam rumah sakit. Hal yang juga terjadi pada kasus SARS. 

"Bagi saya MERS sangat mirip SARS," kata Dr. Trish Perl, epidemiologis senior dari Johns Hopkins Medicine, yang merupakan bagian dari tim peneliti. Tim ahli ini telah mempublikasikan temuannya dalam New England Journal of Medicine edisi online.

Perl menambahkan, timnya belum dapat memastikan bagaimana virus ini menyebar pada setiap kasus, apakah itu melalui tetesan cairan dari bersin atau batuk, atau jalur lain yang tidak langsung. Beberapa pasien di rumah sakit tidak berdekatan lokasinya dengan seorang yang terinfeksi, tapi mereka tetap dapat tertular virus misterius ini.

"Dalam kondisi yang tepat, penyebarannya bisa saja meledak", ungkap Perl yang menekankan bahwa tim ahli hanya meneliti satu kluster MERS di Arab Saudi. 

Kasus infeksi coronavirus sejauh ini terus bertambah, dan tampaknya akan menjadi wabah di Arab Saudi. Kasus MERS telah dilaporkan di beberapa negara seperti Jordania, Qatar, Uni Emirat  Arab, Ingris, Prancis, Jerman, Italia dan Tunisia. Kebanyakan kasus ditemukan di negara-negara yang punya hubungan langsung dengan kawasan Timur Tengah.

Perl mengatakan, pada kluster yang diteliti di Arab Saudi, beberapa pasien ternyata dapat menginfeksi lebih banyak orang.  Seorang pasien yang sedang menjalani perawatan dialisis ditemukan dapat menyebarkan MERS kepada 7 pasien lain. 

Perl dan timnya juga menyimpulkan gejala MERS dan SARS sama. Penyakit ini dimulai dengan demam dan batuk selama beberapa hari, sebelum berkembang menjadi pneumonia. Namun MERS tampaknya lebih mematikan. Pasalnya, dibandingkan SARS yang rata-rata kematiannya hanya 8 persen, tingkat kefatalan MERS dapat mencapai hingga 65 persen.

Sumber virus MERS pun masih misterius, beda halnya dengan SARS yang jejaknya ditemukan pada kelelawar sebelum menular ke manusia lewat musang. MERS mungkin saja terkait dengan virus kelelawar, tetapi beberapa ahli berpendapat penyakit ini bisa berasal dari unta atau kambing.  Hipotesa lainnya, kelelawar yang terinfeksi mungkin mencemari sumber pangan seperti kurma, yang banyak ditanam dan dikonsumsi di Arab Saudi.

MERS-CoV yang Mirip SARS

Sebuah penyakit baru, dikenal sebagai MERS-CoV, singkatan dari Middle East respiratory syndrome coronavirus, berkecamuk di Timur Tengah sejak April 2012. Awal 2013, penyakit ini menyebar ke Eropa, antara lain ke Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia. Mengingat bahayanya, akhir Mei lalu WHO mengeluarkan peringatan bahwa MERS-CoV dapat merupakan ancaman seluruh dunia.

Peringatan ini didasari kejadian SARS (severe acute respiratory syndrome) yang menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru dunia pada tahun 2002. Namun, ada ilmuwan yang menganggap kejadian MERS-CoV tidak sehebat SARS. Kedua penyakit ini mempunyai persamaan, tetapi ada pula perbedaannya.

Ada dugaan penyakit ini semula bersumber dari hewan, tetapi sampai kini sulit ditelusuri jenis hewan pemicu MERS-CoV pada manusia. Pada September 2012, Ron Fouchier menduga asal virus adalah kelelawar.

Dugaan ini didasari hasil sequencing DNA virus yang mempunyai homologi (kesamaan) tinggi dengan coronavirus pada kelelawar dan babi. Kelelawar dari genus Pipistrelus dapat ditemukan di Timur Tengah, sedangkan babi relatif langka.

Diduga MERS-CoV muncul sejak April 2012 di Jordania. Saat itu ditemukan enam orang dengan gejala gagal pernapasan. Dua orang di antaranya meninggal. Dari kedua orang yang meninggal ditemukan virus yang mula-mula disebut novel coronavirus.

Berikutnya, seorang warga Arab Saudi berumur 60 tahun menderita pneumonia akut dan meninggal pada Juni 2012 karena gagal ginjal. Adalah dr Zaki yang berhasil mengisolasi coronavirus dari orang yang meninggal di Arab Saudi. Untuk identifikasi lebih lanjut, isolat virus tersebut dikirim ke Erasmus Medical Centre (EMC) di Belanda. Kemudian, virus tersebut diberi nama human coronavirus EMC.

Kasus penyakit semacam ini terus meningkat di Arab Saudi hingga berjumlah 44 kasus. Sebanyak 22 kasus meninggal.

Seorang warga Qatar pulang dari berkunjung ke Arab Saudi dengan gejala gangguan pernapasan. Ia kemudian diterbangkan ke London untuk mendapatkan pengobatan. Namun, jiwanya tak tertolong pada 11 September 2012.

Di Inggris, virus yang mematikan itu disebut Saudi SARS. Orang Inggris yang pertama kali tertular adalah seorang pria paruh baya yang baru kembali dari Timur Tengah dan Pakistan. Anaknya yang menjenguk di rumah sakit ikut tertular. Ini menunjukkan bahwa penyakit MERS-CoV dapat menular antarmanusia.

Indikasi penularan antarmanusia juga ditemukan di Italia. Pada 31 Mei 2013, seorang laki-laki berusia 45 tahun yang baru kembali dari Jordania diberitakan terserang MERS-CoV. Esok harinya, seorang perempuan berusia 42 tahun dan anak perempuan berusia 2 tahun yang menengok juga tertular penyakit ini. Ketiga orang Italia tersebut dilaporkan dalam kondisi stabil.

Negara yang juga ditemukan kasus MERS-CoV adalah Perancis, Jerman, dan Uni Emirat Arab.

”Coronavirus”

Baik SARS maupun MERS-CoV disebabkan oleh virus dari genus coronavirus. Virus ini mampu menimbulkan penyakit pada orang, mulai dari gejala flu ringan sampai sindrom pernapasan akut yang bisa berakibat fatal.

SARS menyebar dari China selatan ke Hongkong. Dari Hongkong menyebar ke 37 negara dalam tempo relatif cepat. Antara November 2002 dan Juli 2003, ada 8.273 orang terserang SARS, 775 orang di antaranya meninggal (case fatality rate/CFR 9,4 persen).

MERS-CoV menyebar lebih lambat dibandingkan SARS. Namun, risiko kematian lebih besar. Sejak September 2012 hingga awal Juni 2013 hanya ditemukan 53 kasus yang diteguhkan diagnosisnya oleh laboratorium, 30 kasus di antaranya meninggal (CFR 57 persen).

Meski bahaya MERS-CoV tidak bisa dianggap sepele, kehebohan berita tentang penyakit ini tidak sedahsyat SARS.

Dampak bagi Indonesia

Kemungkinan penyebaran MERS-CoV ke Indonesia relatif kecil mengingat jarak lokasi cukup jauh dari Timur Tengah. Namun, tenaga kerja Indonesia, mahasiswa, jemaah haji dan umrah, wisatawan, ataupun pebisnis yang berada di Timur Tengah perlu waspada.

Tindakan sederhana untuk mengurangi risiko penularan adalah memakai masker penutup hidung dan mulut apabila berada di tempat umum.

Jika ada kasus MERS-CoV yang sampai ke Indonesia, sebenarnya telah ada 30 rumah sakit, tersebar dari Aceh sampai Papua, yang semula disiapkan untuk kasus flu burung, bisa digunakan untuk merawat kasus ini. Dengan demikian, penyebaran kasus dapat dibatasi.

(Soeharsono Dokter Hewan; Mantan Penyidik Penyakit Hewan di Denpasar)

Ada 320.000 Virus Bersembunyi di Hewan Mamalia

Mulai dari Ebola, SARS, West Nile, sampai HIV, semuanya adalah penyakit menular yang mewabah pada manusia dan berasal dari binatang. Pada hewan mamalia saja setidaknya ada 320.000 virus yang mayoritas belum diketahui.

Para ilmuwan mengatakan, mengidentifikasi dan mengumpulkan data akan patogen yang bersembunyi pada hewan mamalia sebelum menular ke manusia bisa mencegah terjadinya wabah penyakit.

"Saat ini yang kita ketahui tentang virus baru pada apa yang sudah menular ke manusia atau binatang dan dikenal sebagai penyakit. Padahal, jumlah virus di hewan liar dan berpotensi jadi sumber penyakit sangat banyak," kata ketua peneliti Simon Anthony dari Center for Infection and Immunity di Columbia University Mailman School of Public Health.

Dalam riset yang dilakukannya, Anthony dan timnya memperkirakan keragaman virus dengan meneliti virus yang dibawa oleh kelelawar yang disebut flying foxes dan hidup di hutan di Bangladesh. 

Kelalawar tersebut adalah mamalia terbang terbesar dengan lebar sayap mencapai 1,8 meter. Para peneliti mengenali spesies ini sebagai sumber virus Nipah yang bisa menyebabkan demam otak yang mematikan. 

Virus tersebut pertama kali menginfeksi manusia di tahun 1990-an dan menurut WHO telah menyebabkan jatuhnya lusinan korban di seluruh Asia Selatan. 

Tim peneliti mengambil contoh usapan tenggorokan, feses dan urin dari 1.897 kelalawar yang hidup dan tampak sehat. Kemudian hewan-hewan itu dilepaskan kembali. Dari pemeriksaan sampel di laboratorium ditemukan 55 jenis virus pada 9 famili virus dan hanya 5 diantaranya yang dikenali. 

Diperkirakan jumlah total virus pada flying foxes mencapai 58. Jika setiap 5.485 jenis mamalia yang diketahui membawa 58 virus yang unik, maka ada sekitar 320.000 virus di alam liar. 

Setelah penelitian ini para ilmuwan berencana untuk melakukan studi lanjutan pada spesies primata di Bangladesh dan 6 spesies kelelawar di Meksiko untuk mengetahui diversitas virus. 

Penelitian tersebut memang akan membutuhkan dana yang sangat besar, namun mereka menilai jumlah tersebut lebih kecil dibanding dengan biaya yang harus dikeluarkan jika terjadi satu wabah penyakit.

Untuk dana surveilans, pengambilan sampel, dan penelitian di laboratorium terhadap kelalawar saja dibutuhkan dana 1,2 juta dollar Amerika. Berdasarkan data itu, diperkirakan butuh dana 6,3 miliar dollar Amerika untuk penelitian terhadap primata. 

Sebagai perbandingan, pada saat terjadinya wabah SARS di Asia pada tahun 2002, dampak wabah ini terhadap ekonomi mencapai 16 miliar dollar Amerika. 

"Penelitian yang kami lakukan memang tidak menjamin akan mencegah terjadinya wabah lain seperti SARS. Tetapi dengan mempelajari diversitas virus secara global kita dapat melakukan mitigasi wabah dengan memfasilitasi pendataan dan tes diagnostik secara cepat," kata Anthony.

Amankah Kurma dan Madu untuk Pengidap Diabetes?

T:
Dr Ida yang terhormat, apakah boleh minum atau makan madu, kurma, bagi penderita kencing manis? Jika boleh, bagaimana atau berapa banyak yang aman? Terima kasih. (Joyo, 45, via e-mail)
J:
Yang terhormat Pak Joyo,
Perencanaan makan bagi seorang diabetesi (penyandang kencing manis) merupakan hal yang mutlak dilakukan. Dalam perencanaan makan diterapkan pola 3 J yang meliputi:
Jumlah kalori
Disesuaikan dengan berat badan, tinggi badan, umur, kondisi fisik, sehingga bersifat sangat individual.
Jenis atau komposisi makanan
Pilihlah makanan dengan indeks glikemik rendah (disebut rendah jika indeks glikemik < 55) dan glikemik load yang rendah pula (rendah jika glikemikload  < 10).
Jadwal makan
Makan dengan jadwal terbagi dalam lima hingga enam kali pemberian dalam sehari, yang meliputi tiga kali makan utama (sarapan, makan siang, dan makan malam) dan dua atau tiga kali snack.
Bagaimana dengan madu dan kurma? Madu merupakan jenis makanan yang termasuk golongan gula dengan kandungan karbohidrat sebesar 12 gram dalam satu sendok makan, dan memberikan 50 kkal. Selain itu madu juga mempunyai indeks glikemik sekitar 87 (termasuk jenis makanan dengan indeks glikemik tinggi). Oleh karena itu madu masih boleh dikonsumsi, namun hanya sebatas bumbu, misalnya sebagai tambahan atau campuran bumbu saat memasak.
Demikian juga kurma, yang merupakan buah dengan kandungan energi sebesar 50 kkal dan kandungan karbohidrat sebanyak 12 gram setiap tiga buah. Ada beberapa jenis kurma yang beredar di pasaran, seperti kurma buah (yang tidak dalam bentuk manisan) mempunyai indeks glikemik sekitar 46 (termasuk indeks glikemik rendah), sedangkan kurma yang kering mempunyai indeks glikemik 100.
Jadi, Pak Joyo masih boleh mengonsumsi kurma, asal jenisnya kurma buah yang segar sebanyak tiga buah sehari, dan bukan kurma yang diawetkan atau dikeringkan dalam bentuk manisan.

Memanfaatkan Madu untuk Pelangsingan Tubuh

Madu sudah lama dikenal sebagai makanan yang kaya akan manfaat kesehatan. Cairan yang diproduksi lebah ini dapat menyediakan beragam khasiat mulai dari antibiotik alami hingga zat antioksidan.
Madu juga menyediakan nutrisi yang dapat mencukup kebutuhan energi bagi tubuh untuk aktivitas sehati-hari. Dengan kelebihan iniah, madu layak dilirik sebagai suplemen makanan untuk membantu keberhasilan program penurunan berat badan.
Menurut ahli pengobatan natural dan holistik, dr. Ivan Hoesada, konsumsi madu ideal untuk program diet, mengingat kandungan utamanya yaitu karbohidrat sebagai sumber energi. Dengan konsumsi madu, porsi makan bisa dikurangi, tanpa mempengaruhi kecukupan energi.
Dalam madu terkandung 82,4 persen gula, yang tersedia dalam bentuk glikogen. Bentuk ini, lanjut Ivan, dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar energi tanpa perlu diubah terlebih dulu.
Pada setiap penyajiannya, Ivan menyaranan madu agar tidak langsung dikonsumsi melainkan diencerkan terlebih dulu. Hal ini untuk menghindarkan rasa serik atau tak nyaman pada tenggorokan apabila cairan madu yang kental langsung ditelan.  Saran Ivan, setiap satu sendok makan madu diencerkan dalam sekitar 250 mililiter air.
Untuk membantu program pelangsingan, sebaiknya madu dikonsumsi sebelum menyantap hidangan. Madu dapat dikonsumsi hingga tiga kali sehari sesuai jadwal makan.
Selain madu, Ivan menyarankan pelaku diet tetap mematuhi jurus 3 J dalam pola makannya. Jurus ini adalah tepat jadwal, jumlah (kalori), dan jenis (keragaman) makanan.
"Jangan lupa untuk konsumsi makanan kaya serat dan nutrisi lainnya, terutama sayur dan buah. Konsumsi sayur, buah, ditambah madu menjamin kebutuhan energi. Tanpa perlu menambah porsi konsumsi karbohidrat dan lemak," kata Ivan pada media forum HDI Menguak Fakta dan Mitos dari Produk Perlebahan untuk Kesehatan Manusia pada Jumat (30/8/2013) di Jakarta.
Hal senada dikatakan Brandon Chia, Chairman of HDI Group Companies, perusahaan yang bergerak di bidang produk perlebahan. "HDI percaya pentingnya diet sehat untuk mempertahankan kualitas hidup. Produk perlebahan, madu misalnya, bisa membantu masyaratkan mewujudkan pola hidup sehat," ujarnya.

The World Its Mine