Ada dua buah kasus. Kasus pertama ada seorang yang awalnya adalah seorang yang urakan dan terkenal sebagai orang jahat. Akan tetapi suatu saat ada sebuah peristiwa yang membuat ia berubah dan sadar akan perilaku dan kelakuannya dahulu. Dia pun berubah 180 derajat dan sejak saat itu menjadi orang baik, sholeh bahkan rajin beribadah bahkan dia menjadi seorang ustadz. Kasus kedua ada seorang yang sedari kecil tinggal di lingkungan pesantren. Setiap hari dia bergaul dengan santri dan para kiyai yang kental dengan nilai-nilai keislaman. Akhirnya diapun menjadi seorang ustadz.
Apabila kepada kita ditanyakan dari dua kasus tadi siapakah yang mendapatkan hidayah? Maka biasanya jawaban kita lebih condong kepada kasus pertama. Adapun untuk kasus kedua pandangan kita biasanya adalah: “ya jelas saja dia menjadi ustadz, toh lingkungannya juga lingkungan ustadz”. Jadi sebetulnya apakah hidayah itu? seperti apakah hidayah itu? Apa ciri-ciri orang yang mendapatkan hidayah?
Kamis, 12 Agustus 2010
Menyikapi Hakikat Hukum (aturan) dalam Islam
Ketika kita dihadapkan pada dua buah photo yang sama namun dalam kondisi yang berbeda, yang satu dibingkai dengan pigura yang rapi dan bagus, dan yang satu lagi tergeletak begitu saja tanpa dibingkai oleh pigura apapun, tentu yang kita rasa senang dan nikmat untuk dilihatnya adalah photo yang dibingkai dengan pigura.
Kita amat senang dengan sesuatu yang disimpan dalam pengemasan dan pembingkaian yang bagus. Kita juga amat senang apabila sesuatu yang kita cintai dan senangi itu disimpan dalam dalam tenpat yang tempat itu benar-benar bisa membingkai barang kesenangan kita dengan aman dan bagus.
Dengan kata lain, sebetulnya fungsi bingkai, pigura, atau batas sesuatu itu sebenarnya sudah menjadi naluri kita untuk disenangi. Sekarang bagaimana dengan aturan atau hukum yang sebetulnya juga pada hakikatnya adalah bingkai, pigura atau batas itu sendiri. bukankah pigura itu pembatas? bukankah bingkai itu pembatas? dan bukankah hukum juga pembatas? Tapi mengapa saat kita menyikapi antara pigura atau bingkai itu suka berbeda dengan cara sikap kita menerima hukum atau aturan?
Kita sering terjebak dalam memahami dan menyikapi sesuatu itu dengan apa yang kita terima kebaikannya dalam jangka waktu yang cepat, jangka waktu yang pendek, atau bahkan yang memberi kenikmatan pada individunya saat itu saja. Kita sering lupa dengan eksistensi sesuatu yang abadi atau hakiki yang sebetulnya sering datang tidak bisa langsung kita rasa efeknya seketika kita lakukan. Kita langsung menyikapi pigura itu indah, bingkai itu indah, karena mata kita mencerna secara cepat eksistensi dari bingkai dan pigura itu. Sementara pada hukum dan aturan, seringkali kita memandangnya sebagai kekangan yang suka membatasi dan membuat kita tidak bebas, sehingga hidup ini tidak merasa nyaman dengan adanya aturan. Padahal fungsi antara hukum dan pigura itu sama-sama membingkai dan membatasi sesuatu.
Karena kita sering menganggap aturan itu sebagai kekangan, pada akhirnya kita suka memaknai kebebasan itu adalah sesuatu yang betul-betul tidak ada aturan. Dengan sikap seperti itu pada akhirnya kita terjerembab dalam kesalahan besar, karena kebebasan sebenarnya terletak dalam aturan!! Analogi sederhananya adalah, mana ada jalanan yang aman jika di dalamnya tidak ada aturan rambu-rambu lalulintas? Sedikit saja lampu stopan itu macet, sudah berapa km jalanan macet. Bukankah macet itu mogog atau terkekang sehingga tidak bisa jalan? dengan stopan macet juga beberapa kendaraan yang datang dari beberapa arah mungkin akan lebih cepat bertabrakan.
Jadi nyatalah sekarang bahwa aturan itu adalah yang memberikan kebebasan, layaknya rambu-rambu lalulintas yang memberi kelancaran jalan. Aturan itu adalah yang memberikan keindahan seperti layaknya bingkai pigura pada halaman sesuatu. Dan jika kita menyikapi aturan layaknya sikap kita pada pigura atau bingkai yang menghiasi sesuatu, tentu sikap kita menerima aturan itu akan lebih senang dan bahagia, bukan dengan sikap menerima penuh rasa terpaksa.
Semoga dengan catatan ini sedikitnya bisa merobah sedikit-demi sedikit sikap pandang dan penerimaan kita pada hukum agama. Semoga menjalani hidup mentaati aturan Allah SWT. bisa secepatnya benar-benar terasa nikmat, bukan sengsara atau terpaksa.
Mari kita perjuangkan hidup ini dengan cinta. karena hanya dengan cinta, Halawatal iman (ni'matnya iman) dapat kita raih dan rasakan.
Wallahu a'lam bi sh-shawab.
By Area Dakwah Islam
Kita amat senang dengan sesuatu yang disimpan dalam pengemasan dan pembingkaian yang bagus. Kita juga amat senang apabila sesuatu yang kita cintai dan senangi itu disimpan dalam dalam tenpat yang tempat itu benar-benar bisa membingkai barang kesenangan kita dengan aman dan bagus.
Dengan kata lain, sebetulnya fungsi bingkai, pigura, atau batas sesuatu itu sebenarnya sudah menjadi naluri kita untuk disenangi. Sekarang bagaimana dengan aturan atau hukum yang sebetulnya juga pada hakikatnya adalah bingkai, pigura atau batas itu sendiri. bukankah pigura itu pembatas? bukankah bingkai itu pembatas? dan bukankah hukum juga pembatas? Tapi mengapa saat kita menyikapi antara pigura atau bingkai itu suka berbeda dengan cara sikap kita menerima hukum atau aturan?
Kita sering terjebak dalam memahami dan menyikapi sesuatu itu dengan apa yang kita terima kebaikannya dalam jangka waktu yang cepat, jangka waktu yang pendek, atau bahkan yang memberi kenikmatan pada individunya saat itu saja. Kita sering lupa dengan eksistensi sesuatu yang abadi atau hakiki yang sebetulnya sering datang tidak bisa langsung kita rasa efeknya seketika kita lakukan. Kita langsung menyikapi pigura itu indah, bingkai itu indah, karena mata kita mencerna secara cepat eksistensi dari bingkai dan pigura itu. Sementara pada hukum dan aturan, seringkali kita memandangnya sebagai kekangan yang suka membatasi dan membuat kita tidak bebas, sehingga hidup ini tidak merasa nyaman dengan adanya aturan. Padahal fungsi antara hukum dan pigura itu sama-sama membingkai dan membatasi sesuatu.
Karena kita sering menganggap aturan itu sebagai kekangan, pada akhirnya kita suka memaknai kebebasan itu adalah sesuatu yang betul-betul tidak ada aturan. Dengan sikap seperti itu pada akhirnya kita terjerembab dalam kesalahan besar, karena kebebasan sebenarnya terletak dalam aturan!! Analogi sederhananya adalah, mana ada jalanan yang aman jika di dalamnya tidak ada aturan rambu-rambu lalulintas? Sedikit saja lampu stopan itu macet, sudah berapa km jalanan macet. Bukankah macet itu mogog atau terkekang sehingga tidak bisa jalan? dengan stopan macet juga beberapa kendaraan yang datang dari beberapa arah mungkin akan lebih cepat bertabrakan.
Jadi nyatalah sekarang bahwa aturan itu adalah yang memberikan kebebasan, layaknya rambu-rambu lalulintas yang memberi kelancaran jalan. Aturan itu adalah yang memberikan keindahan seperti layaknya bingkai pigura pada halaman sesuatu. Dan jika kita menyikapi aturan layaknya sikap kita pada pigura atau bingkai yang menghiasi sesuatu, tentu sikap kita menerima aturan itu akan lebih senang dan bahagia, bukan dengan sikap menerima penuh rasa terpaksa.
Semoga dengan catatan ini sedikitnya bisa merobah sedikit-demi sedikit sikap pandang dan penerimaan kita pada hukum agama. Semoga menjalani hidup mentaati aturan Allah SWT. bisa secepatnya benar-benar terasa nikmat, bukan sengsara atau terpaksa.
Mari kita perjuangkan hidup ini dengan cinta. karena hanya dengan cinta, Halawatal iman (ni'matnya iman) dapat kita raih dan rasakan.
Wallahu a'lam bi sh-shawab.
By Area Dakwah Islam
Bashirah (Kekuatan Mata Hati)
Bahkan manusia sangat tajam melihat dirinya sendiri, walaupun ia melontarkan berbagai alasannya” (QS.AI-Qiyamah:14).
Para penganut Al-Qur’an tak ragu sedikitpun akan kesempurnaannya. la cahaya terang dan jalan lurus yang mengantar kepada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat. la bashirah yang begitu jernih, tajam dan akurat mewartakan keadaan yang sesungguhnya, kemenangan yang terbentang dan bahaya yang mengancam, dengan segala syarat, sebab dan penawarnya. la memuat sejarah lampau, gambaran depan dan keadaan sekarang.
Namun apa yang didapat orang yang menutup rapat-rapat matanya sendiri, dari cahaya terang di sekitarnya? Terik mentari ditingkahi ribuan lampu sorot, tak menyelamatkannya dari terjerembab ke pelimbahan. Sebaliknya, lihatlah tuna netra yang berjalan di gelap malam, dapat selamat dan beroleh rizki mereka.
Allah Maha Adil, yang mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Tak ada makna kajian tema apa pun dalam kitab suci, sementara hati pengajinya berjelaga. Ada tikus mati dalam kandang, ada orang kehilangan tongkat dua kali atau terpagut ular dua kali di liang yang sama. Atau singa-singa mati lapar di padang dan daging pelanduk dilahap serigala. Ada budak tidur di tilam sutera, ada bangsawan berbaring di hamparan tanah.
Bila Nurani Bergetar
Berbahagialah pejuang yang tak mengkorupsi kemenangan masa depannya, walaupun hanya dengan sekedar rintih sesal didera lelah. Atau menumpang popularitas dengan nikmat tanpa rasa malu kepada-Nya. Mereka yang berhati nurani tak lagi melampirkan kesedihan, kesusahan, dan kelelahan kedalam neraca laba-rugi. Hati nurani mereka selalu hidup dan berbinar. Begitulah kiranya ketika Alkhalil Ibrahim AS meminta agar nabi yang dibangkitkan kelak dari keturunan Ismail AS, bertugas “….membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah dan menyucikan mereka..” (QS. AI-Baqarah:129), Allah mengijabah do’anya. Namun Ia menginginkan langkah kedua sesudah membacakan ayat-ayat-Nya dan sebelum mengajarkan Kitab dan Hikmah, satu kata kunci bagi keberhasilan da’wah ini, yaitu ‘menyucikan mereka‘ (QS. Al-Baqarah:151, Ali Imran:164, Al Jumu’ah:2).
Nurani yang hidup mampu menjembatani perbedaan dan meredam perpecahan. “Ulama akhirat tak saling berbenturan, karena akhirat sangatlah luas. Ulama dunia selalu bertikai dan bermusuhan karena dunia terlalu sempit untuk mereka perebutkan.” (Imam Ghazali).
Allah menyebutkan perumpamaan ulama buruk (suu‘) yang berhati nurani mati, seperti Bal’am sebagai anjing, yang bila dihalau menjulur dan bila didiamkan tetap menjulur (QS. Al –A’raf: 176). Anjing akan lari mengejar tulang dengan sedikit daging segar. Dan tak akan tertegun memandangi perhiasan di tangan pelempar seharga 1 milyar. Dan ketika melewati telaga, sang anjing segera menerkam bayangan dirinya, karena mengira ada anjing lain yang menggigit tulang. la ingin menguasai semua tulang. Alangkah rakusnya!
siapa yang telah rasakan dunia
aku pun telah mengenyamnya
telah digiring kepadaku pahitgetirnya
aku tak melihatnya selain bangkai yang membusuk
dikepung anjing-anjing dengan hanya satu semangat: cabik dan tarik!
Seorang imam sangat kecut dan malu ketika ada orang datang meminta sesuatu. “Oh, dosa apa yang kuperbuat, mestinya aku sudah menangkap hajatnya sebelum ia menyatakan permintaannya“. Tidakkah panitia zakat merasa tersindir ketika melihat kemiskinan hanya dari wajah pengemis profesional yang kerap menimbun harta melebihi keperluan. Al-Qur’an telah melekatkan sifat ‘jahil’ bagi mereka yang mengira para mujahid yang menjaga air wajahnya dengan menutup rapat-rapat penderitaan dan kemiskinan mereka, sebagai orang kaya. Sebaliknya sifat Rasul SAW disebutkan sebagai ma’rifah (kenal), karena dengan kejernihan bashirah mampu menangkap hakikat.
Karena itulah mereka mendapatkan jaminan baik bagi kehidupan kelak; “Beruntunglah orang yang tersibukkan oleh aib dirinya dari kesibukan mempersoalkan aib orang lain. la infakkan yang berlebih dari hartanya dan menahan yang berlebih dari perkataannya“
Kemiskinan dan kesenangan tak masuk agenda fikiran para perempuan generasi Salaf yang melepas keberangkatan para suami. “Hati-hati terhadap harta yang haram. Kami tahan terhadap kemiskinan tetapi takkan tahan terhadap neraka,” begitu pesan mereka.
Di depan iring-iringan yang membawa Imam Ahmad bin Hambal ke penyidangan yang zalim, menghadanglah seorang perempuan. “Wahai Imam, kami perempuan-perempuan yang bekerja menenun. Hari-hari ini serdadu sultan meningkatkan perondaan sepanjang malam dengan obor-obor mereka. Karena kami bekerja dibawah pancaran cahaya obor serdadu sultan zalim itu, maka hasil tenunan kami di atas atap rumah menjadi lebih baik dan kami mendapat keuntungan tambahan. Halalkah kami memakan kelebihan untung itu?“. Demikianlah radiasi bashirah Imam yang tak kenal kompromi dengan kebathilan, merasuki hati nurani rakyat yang menjadi begitu sensitif.
Kematian Hati Nurani
Berapa banyak orang menguasai teori ilmu serta dikenal dan dihormati sebagai ilmuwan dan ulama, namun kehilangan potensi hati nurani. Bashirahnya tertutup limbah dunia, membuat cahayanya tak tembus menerangi jalan. Para koruptor yang memiskinkan rakyat dan menguras kekayaan bangsa untuk kepentingan diri sendiri adalah para pengkhianatyang mati rasa. Mereka yang memproduk siaran cabul, menyiarkan kebebasan seks, membuka rumah bordil, memproduksi dan mengedarkan tuak, candu dan madat adalah makhluk yang padam hati nurani. Kehidupan fisik tak mampu mengimbangi busuk akhlaq mereka yang membuat tak nyaman lingkungan. Tak ada orang yang kerasan berlama–lama dekat mereka. Hidup menebar bau busuk dan mati menuai amal busuk.
Mereka yang keruh nurani, selalu melihat dengan angan-angan panjang. “Seakan kematian hanya berlaku atas orang lain“. Sejauh ini dosa dan kemaksiatan merupakan pembunuh utama hati nurani. Hati menjadi keras membatu, watak menjadi beku dan hati menyempit. Ayat-ayat suci tak membekas di hati, kematian tak menghasilkan ibrah, luapan syahwat dunia semakin tak terkendali, wajah menggelap memantulkan kelam hati, hilang semangat beramal dan lenyap kelezatan dzikir.
Lihatlah para penjual ayat yang dengan ringan berfatwa bathil demi kekayaan diri. Do’a yang mereka bunyikan memang benar hanya bunyi. Dan bila ada kader muslim yang merasa, inilah zaman keterbukaan, lalu membumi hanguskan tradisi dakwah yang baik, mereka telah membunyikan lonceng kematian bagi hati nuraninya. Bila berpolitik, mereka hanya tahu intrik. Tak ada rasa malu merebut posisi, dengan berhias khayalan syaithani. Akulah Yusuf yang credible dan expert. Padahal begitu jauh jurang memisah, mana Yusuf, mana pemimpi di terik mentari. Golongan ini tak kenal mihwar tak kenal era, baginya semua adalah era naf’i dan mihwar maslahi (era mengambil keuntungan dan fase mengambil maslahat).
Orang-orang seperti itu harus kerap diajak menurunkan jenazah ke liang lahat, melepas kerabat di akhir nafas, atau berbiduk di lautan dengan gelombang yang ganas. Bila tak mempan, takbirkan empat kali bagi kematian hati nuraninya.
By KH Rahmat Abdullah
Para penganut Al-Qur’an tak ragu sedikitpun akan kesempurnaannya. la cahaya terang dan jalan lurus yang mengantar kepada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat. la bashirah yang begitu jernih, tajam dan akurat mewartakan keadaan yang sesungguhnya, kemenangan yang terbentang dan bahaya yang mengancam, dengan segala syarat, sebab dan penawarnya. la memuat sejarah lampau, gambaran depan dan keadaan sekarang.
Namun apa yang didapat orang yang menutup rapat-rapat matanya sendiri, dari cahaya terang di sekitarnya? Terik mentari ditingkahi ribuan lampu sorot, tak menyelamatkannya dari terjerembab ke pelimbahan. Sebaliknya, lihatlah tuna netra yang berjalan di gelap malam, dapat selamat dan beroleh rizki mereka.
Allah Maha Adil, yang mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Tak ada makna kajian tema apa pun dalam kitab suci, sementara hati pengajinya berjelaga. Ada tikus mati dalam kandang, ada orang kehilangan tongkat dua kali atau terpagut ular dua kali di liang yang sama. Atau singa-singa mati lapar di padang dan daging pelanduk dilahap serigala. Ada budak tidur di tilam sutera, ada bangsawan berbaring di hamparan tanah.
Bila Nurani Bergetar
Berbahagialah pejuang yang tak mengkorupsi kemenangan masa depannya, walaupun hanya dengan sekedar rintih sesal didera lelah. Atau menumpang popularitas dengan nikmat tanpa rasa malu kepada-Nya. Mereka yang berhati nurani tak lagi melampirkan kesedihan, kesusahan, dan kelelahan kedalam neraca laba-rugi. Hati nurani mereka selalu hidup dan berbinar. Begitulah kiranya ketika Alkhalil Ibrahim AS meminta agar nabi yang dibangkitkan kelak dari keturunan Ismail AS, bertugas “….membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah dan menyucikan mereka..” (QS. AI-Baqarah:129), Allah mengijabah do’anya. Namun Ia menginginkan langkah kedua sesudah membacakan ayat-ayat-Nya dan sebelum mengajarkan Kitab dan Hikmah, satu kata kunci bagi keberhasilan da’wah ini, yaitu ‘menyucikan mereka‘ (QS. Al-Baqarah:151, Ali Imran:164, Al Jumu’ah:2).
Nurani yang hidup mampu menjembatani perbedaan dan meredam perpecahan. “Ulama akhirat tak saling berbenturan, karena akhirat sangatlah luas. Ulama dunia selalu bertikai dan bermusuhan karena dunia terlalu sempit untuk mereka perebutkan.” (Imam Ghazali).
Allah menyebutkan perumpamaan ulama buruk (suu‘) yang berhati nurani mati, seperti Bal’am sebagai anjing, yang bila dihalau menjulur dan bila didiamkan tetap menjulur (QS. Al –A’raf: 176). Anjing akan lari mengejar tulang dengan sedikit daging segar. Dan tak akan tertegun memandangi perhiasan di tangan pelempar seharga 1 milyar. Dan ketika melewati telaga, sang anjing segera menerkam bayangan dirinya, karena mengira ada anjing lain yang menggigit tulang. la ingin menguasai semua tulang. Alangkah rakusnya!
siapa yang telah rasakan dunia
aku pun telah mengenyamnya
telah digiring kepadaku pahitgetirnya
aku tak melihatnya selain bangkai yang membusuk
dikepung anjing-anjing dengan hanya satu semangat: cabik dan tarik!
Seorang imam sangat kecut dan malu ketika ada orang datang meminta sesuatu. “Oh, dosa apa yang kuperbuat, mestinya aku sudah menangkap hajatnya sebelum ia menyatakan permintaannya“. Tidakkah panitia zakat merasa tersindir ketika melihat kemiskinan hanya dari wajah pengemis profesional yang kerap menimbun harta melebihi keperluan. Al-Qur’an telah melekatkan sifat ‘jahil’ bagi mereka yang mengira para mujahid yang menjaga air wajahnya dengan menutup rapat-rapat penderitaan dan kemiskinan mereka, sebagai orang kaya. Sebaliknya sifat Rasul SAW disebutkan sebagai ma’rifah (kenal), karena dengan kejernihan bashirah mampu menangkap hakikat.
Karena itulah mereka mendapatkan jaminan baik bagi kehidupan kelak; “Beruntunglah orang yang tersibukkan oleh aib dirinya dari kesibukan mempersoalkan aib orang lain. la infakkan yang berlebih dari hartanya dan menahan yang berlebih dari perkataannya“
Kemiskinan dan kesenangan tak masuk agenda fikiran para perempuan generasi Salaf yang melepas keberangkatan para suami. “Hati-hati terhadap harta yang haram. Kami tahan terhadap kemiskinan tetapi takkan tahan terhadap neraka,” begitu pesan mereka.
Di depan iring-iringan yang membawa Imam Ahmad bin Hambal ke penyidangan yang zalim, menghadanglah seorang perempuan. “Wahai Imam, kami perempuan-perempuan yang bekerja menenun. Hari-hari ini serdadu sultan meningkatkan perondaan sepanjang malam dengan obor-obor mereka. Karena kami bekerja dibawah pancaran cahaya obor serdadu sultan zalim itu, maka hasil tenunan kami di atas atap rumah menjadi lebih baik dan kami mendapat keuntungan tambahan. Halalkah kami memakan kelebihan untung itu?“. Demikianlah radiasi bashirah Imam yang tak kenal kompromi dengan kebathilan, merasuki hati nurani rakyat yang menjadi begitu sensitif.
Kematian Hati Nurani
Berapa banyak orang menguasai teori ilmu serta dikenal dan dihormati sebagai ilmuwan dan ulama, namun kehilangan potensi hati nurani. Bashirahnya tertutup limbah dunia, membuat cahayanya tak tembus menerangi jalan. Para koruptor yang memiskinkan rakyat dan menguras kekayaan bangsa untuk kepentingan diri sendiri adalah para pengkhianatyang mati rasa. Mereka yang memproduk siaran cabul, menyiarkan kebebasan seks, membuka rumah bordil, memproduksi dan mengedarkan tuak, candu dan madat adalah makhluk yang padam hati nurani. Kehidupan fisik tak mampu mengimbangi busuk akhlaq mereka yang membuat tak nyaman lingkungan. Tak ada orang yang kerasan berlama–lama dekat mereka. Hidup menebar bau busuk dan mati menuai amal busuk.
Mereka yang keruh nurani, selalu melihat dengan angan-angan panjang. “Seakan kematian hanya berlaku atas orang lain“. Sejauh ini dosa dan kemaksiatan merupakan pembunuh utama hati nurani. Hati menjadi keras membatu, watak menjadi beku dan hati menyempit. Ayat-ayat suci tak membekas di hati, kematian tak menghasilkan ibrah, luapan syahwat dunia semakin tak terkendali, wajah menggelap memantulkan kelam hati, hilang semangat beramal dan lenyap kelezatan dzikir.
Lihatlah para penjual ayat yang dengan ringan berfatwa bathil demi kekayaan diri. Do’a yang mereka bunyikan memang benar hanya bunyi. Dan bila ada kader muslim yang merasa, inilah zaman keterbukaan, lalu membumi hanguskan tradisi dakwah yang baik, mereka telah membunyikan lonceng kematian bagi hati nuraninya. Bila berpolitik, mereka hanya tahu intrik. Tak ada rasa malu merebut posisi, dengan berhias khayalan syaithani. Akulah Yusuf yang credible dan expert. Padahal begitu jauh jurang memisah, mana Yusuf, mana pemimpi di terik mentari. Golongan ini tak kenal mihwar tak kenal era, baginya semua adalah era naf’i dan mihwar maslahi (era mengambil keuntungan dan fase mengambil maslahat).
Orang-orang seperti itu harus kerap diajak menurunkan jenazah ke liang lahat, melepas kerabat di akhir nafas, atau berbiduk di lautan dengan gelombang yang ganas. Bila tak mempan, takbirkan empat kali bagi kematian hati nuraninya.
By KH Rahmat Abdullah
Rabu, 04 Agustus 2010
Langganan:
Postingan (Atom)