Senin, 01 Agustus 2016

Tujuh Penyebab Penyimpangan Akidah Masa Kini ..

Kajian keagamaan merupakan salah satu cara membentengi akidah umat (ilustrasi).

Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), KH Athian Ali mengatakan, seorang yang tidak memiliki akidah secara benar sangat rawan termakan oleh berbagai macam keraguan dan kerancuan pemikiran. Menurut Athian, bila sudah putus asa, manusia yang lemah akidahnya mudah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya ataupun keluar dari ajaran agama Islam.

Athian menjelaskan bahwa ada tujuh faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan akidah pada masa kini.
Pertama, kurangnya mengkaji ilmu tentang agama Islam, seperti saat sebuah masyarakat yang tidak dibangun di atas fondasi akidah yang benar akan sangat rawan terbius berbagai kotoran materialisme. Sehingga menurut Athian, mereka malas ketika diajak untuk melakukan kajian-kajian tentang ilmu Islam yang baik dan benar.
Kedua, Ta'ashshub atau fanatik terhadap nenek moyang dan tetap mempertahankannya meskipun hal tersebut termasuk kebatilan.
Ketiga, Taklid buta atau mengikuti tanpa landasan dalil. Dalam hal ini, Athian menjelaskan perkara tersebut terjadi dengan mengambil pendapat-pendapat orang dalam permasalahan akidah tanpa mengetahui landasan dalil dan kebenarannya.

"Banyak kelompok-kelompok yang kini menjadi aliran sesat karena kurang pahamnnya terhadap dalil dan kebenaran yang sebenarnya," kata Athian kepada ROL, Selasa (16/12).

Keempat, Athian mengungkapkan banyak dari umat Islam yang berlebihan dalam menghormati para wali dan orang-orang saleh.  "Mereka mengangkatnya melebihi kedudukannya sebagai manusia," ujar Athian.

Athian menjelaskan dalam perkara kelima, manusia lalai dalam merenungkan ayat-ayat Allah, baik dari ayat kauniyah maupun qur'aniyah. Menurut Athian, hal tersebut terjadi karena manusia terlalu mengagumi perkembangan kebudayaan materialistik yang digembor-gemborkan oleh orang barat.
"Mereka berpikir kecanggihan dan kekayaan materi adalah ukuran kehebatan, sampai mereka terheran-heran atas kecerdasan mereka," kata Athian.


Keenam, Athian mengatakan kebanyakan rumah tangga telah kehilangan bimbingan agama yang benar. Padahal menurutnya, peranan orang tua sebagai pembina putra-putrinya sangatlah besar. Athian mengatakan bahwa tersebut telah tertera dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW. "setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR.Bukhari)

Athian mengatakan, faktor terakhir terjadinya penyimpangan akidah yaitu kebanyakan media informasi dan penyiaran yang lalai dalam menjalankan tugas pentingnnya sebagai pemberi informasi yang mendidik. Menurut Athian, sebagian besar siaran dan acara yang mereka tampilkan tidak memperhatikan aturan agama.

"Sarana tersebut menjadi perusak generasi umat Islam," kata Athian.

Ini Tiga Perkara Penguat Akidah ..

Kajian keagamaan merupakan salah satu cara membentengi akidah umat (ilustrasi).

Akidah merupakan jantung dari keimanan setiap Muslim. Karena itu, para utusan-Nya  sangat memperhatikan akidah sebagai prioritas utama mereka dalam berdakwah.

Ketua Forum Ulama Umat Islam (FUUI) Athian Ali mengatakan, ada tiga perkara akidah yang harus diamalkan oleh umat Muslim. Perkara pertama, mengesakan Allah dalam Rububiyah-Nya.

Athian menjelaskan Rububiyah berarti mentauhidkan Allah dalam segala kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah. Selain itu, umat Muslim harus menyatakan dengan tegas bahwa Allah SWT adalah Rabb dan Pencipta semua mahluk dan Allahlah yang mengatur dan mengubah segala keadaan di muka bumi ini.

"Meyakini dan mengakui bahwa segala yang ada di muka bumi ini adalah ciptaan-Nya," kata Athian kepada ROL, Ahad (21/12).

Kedua, mengesakan Allah dalam uluhiyah. Menurut Athian, uluhiyah berarti mengesakan Allah dalam segala macam ibadah seperti salat, doa, menyembelih hewan kurban, tawakal, taubat dan sebagainya.  "Uluhiyah merupakan inti dakwah para Rasul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyirikin Quraisy," ujar Athian.

Terakhir, Athian mengatakan umat Muslim harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah diterangkan dalam Alquran dan Sunnah Rasulullah.  "Dialah Allah yang menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, hanya bagi Dialah Asmaaul Husna." (Q.S Al-Hasyr:24)

Menurut Athian, seseorang baru dapat dikatakan seorang Muslim yang tulen bila telah mengesakan Allah dan tidak berbuat syirik dalam ketiga hal tersebut.

Hadapi Bencana, Setiap Muslim Diminta Pegang Teguh Akidah ..

 Kondisi tanah longsor di kawasan dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jateng, Selasa (16/12).   (Antara/Anis Efizudin)

Musibah merupakan bagian dari kenikmatan bagi Muslim yang kuat akidahnya. ini karena, mereka meyakini ada hikmah dibalik  semua hal tersebut.

"Kita harus yakin bahwa Allah senantiasa ada dalam kehidupan ini," kata Ketua Forum Ulama Umat Islam (FUUI) Athian Ali kepada ROL, Ahad, (21/12).

Athian mengatakan, musibah tidak hanya datang dalam bentuk kesusahan atau penderitaan. Menurutnya, musibah juga identik dengan hal yang menyenangkan dan membahagiakan. "Seorang Muslim harus dapat bersikap arif dan bijak dalam menghadapi segala bentuk ujian tersebut," ujar Athian.

Masyarakat di Indonesia kini tengah dilanda berbagai musibah dan bencana. Athian berharap umat Muslim bersabar dan berpegang teguh pada akidah serta keyakinan mereka kepada Allah. Menurut Athian, sebagian orang hanya melihat sebab-sebab lahiriah dari satu musibah tanpa sedikit pun ingat bahwa sebab terbesar dari musibah adalah amal perbuatan manusia.

Athian mengatakan hal tersebut juga telah dijelaskan dalam firman Allah, "Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian dan Allah memaafkan banyak kesalahan kalian." (asy-Syura:30)

Terakhir, Athian mengingatkan sekuat apa pun satu negara di dunia ini niscaya akan hancur dengan azab Allah ketika mereka melupakan dan mendurhakannya.

Akidah Fondasi Bangsa Indonesia Hadapi Globalisasi ..

Kajian keagamaan merupakan salah satu cara membentengi akidah umat (ilustrasi).

Akidah merupakan fondasi utama Bangsa Indonesia menghadapi era globalisasi. Akidah, terutama sangat penting bagi kaum muda, sebagai golongan yang rentan tergoda oleh bujuk rayu ideologi dan gaya hidup yang merugikan.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf saat membuka Diklat Kader Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Surabaya, Sabtu (21/2).

“Dengan akidah hidup seseorang tidak akan mudah terombang-ambing oleh keadaan. Disamping itu akidah ibarat kompas dalam hidup kita yang mampu menunjukkan arah yang benar saat kita kebingungan,” ujar Gus Ipul, sapaan lekat Wagub Jatim.

Gus Ipul mengungkap data dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), hampir 800 orang bunuh diri setiap tahun. Kecenderungan tersebut, menurut Saifullah bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Dari 800 orang tersebut, menurut dia, di antaranya justru banyak orang kaya, pandai, dan dari keturunan orang berada.

“Baru-baru ini aktor luar negeri yang sangat terkenal Robin Williams juga ditemukan tewas bunuh diri. Itulah pentingnya akidah atau iman agar kita tidak mudah putus asa,” ujar dia.

Selain akidah atau iman, menurut Saifullah, ilmu juga menjadi bagian penting dalam menghadapi era globalisasi. Karena iman tanpa diimbangi dengan ilmu, menurut dia, maka tidak akan ada gunanya, dan ilmu juga untuk mengasah kecerdasan. Ia menegaskan, jika iman mengasah hati setiap orang maka ilmu lah yang menyempurnakannya dengan memaksimalkan fungsi kerja otak.

Yang terakhir, menurut Saifullah, untuk menjadi pemenang di era globlisasi dibutuhkan ketrampilan. Di negara-negara maju 70 persen mayoritas pendidikan mengedepankan ketrampilan, sesuai dengan bakat yang didmiliki masing-masing anak. Hal itu terbukti berhasil karena setiap anak sangat menikmati proses belajar yang berlangsung, dan proses belajar mengajar pun menjadi menyenangkan.

“Di Indonesia proses belajar masih mengedepankan ilmu sains, karenanya secara bertahap kita perlu merubah dengan memperbanyak penerapan ilmu atau ketrampilan,” kata Saifullah.

Alquran Sebagai Pembeda ..

Pengenalan baca Alquran di Bundaran HI HI, Jakarta Pusat, Ahad (4/12).
 
Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) KH. Athian Ali mengatakan, remaja harus dibentengi akidahnya sebab remaja suka mencari dan mencoba segala sesuatu yang baru. Padahal saat ini jeratan aliran sesat mengintai di mana-mana.

Remaja banyak yang kurang memahami soal aliran sesat. "Memang ada kelemahan dalam dakwah selama ini yang  hanya seputar Alquran sebagai  al-Huda atau petunjuk padahal Alquran juga berfungsi sebagai  pembeda," kata Athian, Senin, (23/2).

Alquran sebagai pembeda ini untuk menunjukkan antara  yang  hak dengan yang bathil, haram dengan halal, juga yang benar maupun yang sesat. "Alquran sebagai pembeda belum disampaikan secara menyeluruh," kata dia.

Agar remaja maupun anak-anak tidak terjerat aliran sesat, gerakan muslimat ANNAS sedang melakukan pendekatan kepada pemerintah agar guru-guru agama dibekali dan diberi training untuk mengajarkan murid-muridnya agar mereka terhindar dari aliran sesat. Sebab saat ini di Indonesia terdapat  ratusan aliran sesat meski ada yang sudah tidak aktif

Fitrah Iman dan Islam (Habis) ..

Janin dalam rahim (ilustrasi).
Janin dalam rahim (ilustrasi).
 
Oleh: KH Athian Ali

Adapun bentuk pengenalan atau keyakinan yang kedua adalah melalui hubungan antara kita dengan sesuatu yang ada di dalam diri kita sendiri. Seperti halnya kita merasakan sedih, gelisah, resah, bahagia atau gembira yang tidak dapat dibuktikan keberadaannya dalam diri kita.

Betapa sulitnya kita untuk mengungkapkan sesuatu yang ada di dalam diri kita, karena ini semua di luar jangkauan akal kita. Maka dari itu, ketika kita berbicara masalah keimanan masuklah kita pada bentuk pengenalan yang pertama. Untuk itu, jangan kemudian kita menuntut bukti keberadaan Allah dengan bukti indra, seperti kesalahan kaum Nabi Musa tempo dulu.

Pertanyaannya, dari mana proses hadirnya keimanan dalam diri kita? Jawabannya, dalam QS. Al-A’araaf ayat 172 Allah SWT menjelaskan, sebelum Allah SWT menciptakan manusia lengkap roh dan jasadnya, terlebih dahulu Allah SWT menciptakan roh seluruh manusia dari manusia pertama (Adam) hingga manusia terakhir yang akan lahir menjelang kiamat nanti.

Kepada seluruh roh manusia, Allah SWT mengambil penyaksian (syahadat) dengan pertanyaa-Nya: a lastu birrabbikum? (bukankah Aku ini Rabb kalian?), serempak roh seluruh manusia pada saat itu bersyahadat dengan menyatakan, “balaa syahidnaa” (Benar Engkau adalah Rabb kami, kami menyaksikan).
Setelah semua roh manusia bersyahadat di alam roh/azali, barulah Allah SWT menciptakan jasad manusia pertama Adam dari tanah dan kemudian ditiupkanlah melalui Malaikat roh Adam ke dalam jasadnya. Jadilah Adam manusia pertama yang lengkap roh dan jasadnya.

Setelah itu diciptakanlah jasad Siti Hawa dari tulang rusuk Adam dan ditiupkan pula roh ke dalam jasad tersebut. Jadilah Adam dan Siti Hawa manusia pertama dan kedua yang akan mengisi kehidupan sebagai Khalifah Allah di alam dunia (QS. Al Baqarah,2:30).

Selanjutnya jasad manusia setelah Adam dan Siti Hawa tidak lagi diciptakan dari tanah, melainkan melalui pertemuan spermatozoa suami dengan zat telur (istri) yang berproses dari nuftah (cairan mani) menjadi ‘alaqah (gumpalan darah) lalu menjadi mudghah (gumpalan daging).

Pada usia janin antara 90 hari atau 3 bulan (HR. Muslim) dan 120 hari atau 4 bulan (HR. Bukhari), ditiupkanlah melalui Malaikat roh yang telah bersyahadat ke dalam rahim. Pada usia kurang lebih 7-9 bulan lahirlah ke alam dunia yang disambut hadits, “Setiap anak manusia lahir dalam keadaan fitrah”.
Dasar inilah yang mengantarkan para ulama terkemuka semisal Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Miftahud Daarus Sa’aadah, Ibnu Khaldun dalam Mukadimah, Ibnu Mukawaih dalam Tahziibul Akhlak, dan ulama-ulama terkemuka lainnya sepakat menyatakan, “fitrah” yang imaksud dalam hadits tersebut adalah fitrah iman (QS. Al-Araaf, 7:172) dan fitrah Islam, :”fithratallaahil latii fatharan naasa ‘alaihaa” (QS. Ar-Rum,30:30) yakni suci dari kekufuran, kemusyrikan dan kemunafiikan serta suci dari dosa dan kesalahan.

Oleh karena itu, Islam tidak mengenal apa yang dinamakan dengan “dosa waris” sebagaimana kepercayaan-kepercayaan lain yang sesat dan menyesatkan.

Dengan kata lain, setiap manusia yang lahir ke alam dunia adalah sudah muslim karena sudah bersyahadat pada saat rohnya di alam azali yang telah diambil penyaksiannya. Kendati anak manusia itu lahir dari rahim seorang ibu yang kafir sekali pun.

Itulah sebabnya tidak kita temukan syariat yang mengajarkan upacara pengislaman bayi yang baru lahir atau setelah dewasa. Namun, sebagaimana kita tahu yang dinyatakan dalam lanjutan hadits di atas, kedua orangtuanya dan lingkungan bisa saja mengubah fitrah iman dan Islam seseorang menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.

Dengan demikian, tidak perlu bersyahadat lagi dalam pengertian pernyataan masuk Islam bagi setiap anak yang lahir dan berkembang dalam keimanan dan keislamannya. Bersyahadat dalam pengertian masuk Islam hanya diharuskan bagi seseorang yang telah menyimpang dari fitrah iman dan Islamnua menjadi kafir dan yang bersangkutan bermaksud kembali kepada Islam.

Layaklah kiranya timbul pertanyaan dalam diri kita, kenapa Allah SWT bertanya kepada semua roh manusia di alan azali dengan pertanyaan, a lastu bi rabbikum, bukan a lastu bi ilahikum? Jawabnya, karena pada waktu itu roh manusia belum diperintahkan untuk mengabdi.

Kita hanya diminta penyaksian, maka dari itu jawaban kita pada waktu itu pun, qaalu balla syahidnaa (Benar Engkau adalah Rabb kami, kami bersaksi), bukan kami mengabdi, karena pada saat itu manusia belum dituntut pengabdian. Rabb, dalam pengertiannya DIA sebagai Pencipta, pemelihara, pendidik. Sedangkan Ilah, sudah menggandung arti bahwa DIA sebagai Dzat tempat kita mengabdi.

Menjaga Fitrah Iman dan Islam ..

Oleh: KH Athian Ali

Setelah kita mengetahui dan memahami hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa, “Setiap anak manusia yang lahir itu dalam keadaan fitrah, kedua orangtua dan lingkungannya bisa saja mengubah fitrah iman dan Islamnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”, keadaan fitrah iman dan Islam dalam artian suci dari dosa dan kesalahan, suci dari kekufuran dan kemusyrikan, tapi ternyata dalam proses perjalanan hidupnya mengalami perubahan yang sangat menyimpang dari fitrah-Nya.

Pertanyaannya, adakah andil kita dalam proses perubahan tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini hendaknya kita mau mencoba introspeksi diri kita masing-masing, sudah sejauhman kita berupaya secara optimal untuk membentengi fitrah iman dan Islam anak-anak kita dari faktor-faktor luar yang bisa merusak fitrah tersebut.

Paling tidak, ada beberapa faktor luar yang mesti kita waspadai dalam menjaga fitrah iman dan Islam generasi penerus kita.

Pertama, yang perlu kita waspadai adanya sebuah pemahaman manusia yang mutlak men-Tuhankan akalnya. Inilah banyaknya kesesatan manusia manakala manusia menempatkan akal sebagai tuhannya. Kesesatan yang dilakukan manusia di antaranya dengan akalnya manusia mencoba mengenal siapa zat Allah hingga mencoba ingin mengetahui segala apa yang diinginkan Allah terhadap dirinya.

Bagaimana mungkin manusia akan mengetahui siapa itu Allah bila manusianya itu sendiri tidak memahami atau mengetahui agama? Padahal, fungsi agama atau “ad-diin” yang Allah turunkan kepada manusia tiada lain di antaranya untuk membimbing indra, akal dan nafsu manusia agat bias kembali kepada fitrah iman dan Islamnya.

Oleh karena itu, sejak pertama Allah menciptakan manusia sudah memberikan hidayah. Hidayah dalam arti petunjuk dari Allah SWT dalam memperkenalkan siapa sesungguhnya Allah SWT, apa yang Allah inginkan dari kita untuk melakukannya. Maka, dalam diin inilah semua manusia akan mengetahui tentang segala perintah dan larangan-Nya.

Kedua, adanya pemahaman bahwa Allah SWT menurunkan agama lebih dari satu yang berbeda-beda. Seperti halnya terjadinya proses pendangkalan akidah melalui jalur pendidikan anak-anak kita di sekolah-sekolah yang menyebutkan bahwa di negeri ini ada enam agama.
Dikenalkan dan ditanamkan pemahaman kepada anak-anak didik di sekolah, bahwa keenam agama tersebut adalah baik dan benar. Hal ini yang sangat perlu untuk segera diluruskan, bahwa Allah SWT tidak pernah menurunkan agama lebih dari satu, yakni Islam.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran, 3:19). Lebih dipertegas lagi lewat firman-Nya: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imran, 3:85).

Sungguh tidak masuk akal sehat, jika Allah SWT yang Esa, yang hanya “satu-satunya” lalu menurunkan agama yang berbeda. Padahal, Allah SWT justru memerintahkan kita untuk menggunakan akal. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Kalau agama kita terjemahkan sebagai “ad-diin”, maka sebagai seorang muslim kita wajib mengatakan bahwa tidak ada agama selain Islam.

Agama yang Allah turunkan melalui para nabi dan berbagai macam kitab itu tiada lain adalah Islam. Paling tidak, ada dua puluh lima rasul yang kita kenal dengan membawa ajaran Islam. Semua ajaran yang telah diturunkan-Nya mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW melalui dua puluh lima rasul dan kitab suci-Nya, yakni Kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an semua ajarannya adalah Islam yang dalam sisi aqidahnya sama sekali tidak ada perubahan.

Ketiga, munculnya pemahaman adanya dosa waris di kalangan masyarakat yang dikenal di antaranya dengan isitlah “anak haram”. Padahal, kalau kita merujuk kepada hadits Nabi, bahwa siapa pun ibu yang melahirkan, maka anak yang dilahirkannya tetap dalam keadaan suci. Jadi, kalau ada seorang ibu Atheis, misalnya, lalu bayinya kita ambil maka tidak perlu ada pengislaman.

The World Its Mine