Jumat, 04 Maret 2016
Filipina Ungkap Identitas Enam Teroris Syiah Asal Yaman dan Iran
Sehari sebelum insiden penembakan Syaikh Aidh Al-Qarni
pada Selasa (1/3) malam, pihak berwenang Filipina mengungkap identitas
enam warga Yaman yang diduga akan merencanakan serangan teroris di
kawasan Asia Tenggara. Jaringan teroris itu berencana meledakkan pesawat
penumpang milik maskapai Arab Saudi.
Departemen Luar Negeri Filipina berhasil mengungkap identitas keenam teroris tersebut setelah menerima informasi intelijen dari Kerajaan Saudi bahwa sejumlah warga Iran tengah menuju ke kawasan Asia Tenggara melalui Turki dengan menumpangi dua pesawat. Mereka berencana meluncurkan serangan teroris menargetkan maskapi Saudi di salah satu negara Asia Tenggara.
Dalam pernyataan pers, seperti dilansir Kiblat dari Ababiil, Yemensky dan Manila Bulletin, Deplu Filipina menjelaskan bahwa keenam teroris itu bernama Muhammad Ibrahim Al-Muayyad, Ahmad Hasan Ali Auf Bahbah, Ahmad bin Abdullah Al-Jarmuzi, Ismail Ahmad Al-Jarmuzi, Ali Mahir Ali dan Hasan Al-Musi’i.
Berdasarkan penelusuran, lima teroris tersebut diketahui anggota Garda Revolusi Iran sementara teroris keenam (Ali Mahir Ali) merupakan anggota milisi Syiah lainnya yaitu Hizbullat Libanon.
Menurut kantor imigrasi Filipina, sampai berita ini dilansir, keenam teroris itu belum terpantau memasuki Filipina.
Komandan Intelijen Departemen Luar Negeri Filipina, Amable Tolentino, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima peringatan dari Kedutaan Besar Saudi di Filipina pada 28 Januari. Peringatan itu menginformasikan, sekelompok kecil yang terdiri dari 10 orang, enam di antaranya warga Yaman, tengah merencanakan penculikan atau peledakan pesawat sipil milik maskapai Saudi.
Dia menambahkan, enam teroris terpantau bergerak menuju salah satu negara di Asia Tenggara menggunakan dua pesawat berbeda. Menurut informasi, mereka merencanakan serangan teroris di Malaysia, Indonesia atau Filipina. Kerajaan Saudi menghimbau untuk wasapada dan meningkatkan keamanan.
Sehari setelah pengungkapan identitas para teroris tersebut, sejumlah orang tak dikenal menembaki rombongan asal Arab Suadi Aidh Al-Qarni selesai ceramah di sebuah universitas di Filipina. Beliau terluka di tangan akibat serangan tersebut. Sementara pelaku berhasil dilumpuhkan dan ditangkap.
Departemen Luar Negeri Filipina berhasil mengungkap identitas keenam teroris tersebut setelah menerima informasi intelijen dari Kerajaan Saudi bahwa sejumlah warga Iran tengah menuju ke kawasan Asia Tenggara melalui Turki dengan menumpangi dua pesawat. Mereka berencana meluncurkan serangan teroris menargetkan maskapi Saudi di salah satu negara Asia Tenggara.
Dalam pernyataan pers, seperti dilansir Kiblat dari Ababiil, Yemensky dan Manila Bulletin, Deplu Filipina menjelaskan bahwa keenam teroris itu bernama Muhammad Ibrahim Al-Muayyad, Ahmad Hasan Ali Auf Bahbah, Ahmad bin Abdullah Al-Jarmuzi, Ismail Ahmad Al-Jarmuzi, Ali Mahir Ali dan Hasan Al-Musi’i.
Berdasarkan penelusuran, lima teroris tersebut diketahui anggota Garda Revolusi Iran sementara teroris keenam (Ali Mahir Ali) merupakan anggota milisi Syiah lainnya yaitu Hizbullat Libanon.
Menurut kantor imigrasi Filipina, sampai berita ini dilansir, keenam teroris itu belum terpantau memasuki Filipina.
Komandan Intelijen Departemen Luar Negeri Filipina, Amable Tolentino, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima peringatan dari Kedutaan Besar Saudi di Filipina pada 28 Januari. Peringatan itu menginformasikan, sekelompok kecil yang terdiri dari 10 orang, enam di antaranya warga Yaman, tengah merencanakan penculikan atau peledakan pesawat sipil milik maskapai Saudi.
Dia menambahkan, enam teroris terpantau bergerak menuju salah satu negara di Asia Tenggara menggunakan dua pesawat berbeda. Menurut informasi, mereka merencanakan serangan teroris di Malaysia, Indonesia atau Filipina. Kerajaan Saudi menghimbau untuk wasapada dan meningkatkan keamanan.
Sehari setelah pengungkapan identitas para teroris tersebut, sejumlah orang tak dikenal menembaki rombongan asal Arab Suadi Aidh Al-Qarni selesai ceramah di sebuah universitas di Filipina. Beliau terluka di tangan akibat serangan tersebut. Sementara pelaku berhasil dilumpuhkan dan ditangkap.
Profesor Ini Ungkap Gerhana Matahari Total Sebagai Sunnatullah
Pakar Pemikiran Islam Modern Prof.
Dr. H. Zainal Abidin, M.Ag menyebut fenomena alam Gerhana Matahari Total
(GMT) 9 Maret 2016 merupakan suatu sunnatullah. Dia
menjelaskan, jika GMT benar terjadi, maka fenomena itu merupakan salah
satu bentuk kekuasaan Allah yang ditunjukkan kepada manusia di muka bumi
untuk mengakuinya.
"Terjadinya gerhana di bumi, tidak lain sebagai intervensi sang pencipta untuk menyatakan kekuasaannya kepada manusia di bumi," ungkap Prof. Zainal Abidin, saat memaparkan materi tentang GMT 9 Maret dalam tinjauan Islam pada seminar GMT di Auditorium IAIN Palu, Kamis (3/3).
Ia menjelaskan GMT sebagai bentuk kekuasaan Tuhan sejalan dengan Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, yang berbunyi "Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya, akan tetapi Allah hendak membuat gentar para hambaNya."
Rektor IAIN Palu itu mengatakan terdapat suatu riwayat yang menceritakan bahwa telah tejadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW yaitu pada wafatnya Ibrahim (Putra Nabi).
Mengutip riwayat Bukhori-Muslim, dia menjelaskan, kaum Muslimin di masa itu kemudian berkata bahwa terjadinya gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim atau putra Nabi Muhammad SAW. Atas adanya anggapan tersebut, maka kemudian Rasulullah SAW Bersabda 'Sesungguhnya matahari dan bulan itu tidak gerhana karena wafatnya seseorang dan tidak karena hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihat (kejadian gerhana) maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah'.
"Dari dua Hadis di atas jelas memberikan penekanan kepada kita umat Islam bahwa gerhana yang terjadi sebagai fenomena alam, merupakan suatu Sunnatullah sebagai salah satu bagian kekuasaan Allah," ujarnya.
Dengan demikian, sebut dia, jika tidak mengalami perubahan atau atas kehendak sang kuasa GMT 9 Maret terjadi, maka dianjurkan kepada Umat Islam untuk melaksanakan shalat gerhana dan memanjatkan doa sebanyak-banyaknya kepada Allah.
Selain sebagai bentuk pengakuan umat Islam atas kekuasaan Allah, juga sebagai bentuk untuk memohon kepada Allah agar terhindar dari hal-hal negatif yang terjadi dikarenakan adanya gerhana matahari.
"Berdasarkan Alquran bulan dan matahari telah memiliki koridornya atau peredarannya, olehnya jika terjadi gerhana, itu artinya keduanya atau salah satunya tidak sedang berada pada koridornya atau peredarannya. Untuk itu, perlu ada Shalat untuk memanjatkan doa kepada Allah," ujarnya.
"Terjadinya gerhana di bumi, tidak lain sebagai intervensi sang pencipta untuk menyatakan kekuasaannya kepada manusia di bumi," ungkap Prof. Zainal Abidin, saat memaparkan materi tentang GMT 9 Maret dalam tinjauan Islam pada seminar GMT di Auditorium IAIN Palu, Kamis (3/3).
Ia menjelaskan GMT sebagai bentuk kekuasaan Tuhan sejalan dengan Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, yang berbunyi "Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya, akan tetapi Allah hendak membuat gentar para hambaNya."
Rektor IAIN Palu itu mengatakan terdapat suatu riwayat yang menceritakan bahwa telah tejadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW yaitu pada wafatnya Ibrahim (Putra Nabi).
Mengutip riwayat Bukhori-Muslim, dia menjelaskan, kaum Muslimin di masa itu kemudian berkata bahwa terjadinya gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim atau putra Nabi Muhammad SAW. Atas adanya anggapan tersebut, maka kemudian Rasulullah SAW Bersabda 'Sesungguhnya matahari dan bulan itu tidak gerhana karena wafatnya seseorang dan tidak karena hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihat (kejadian gerhana) maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah'.
"Dari dua Hadis di atas jelas memberikan penekanan kepada kita umat Islam bahwa gerhana yang terjadi sebagai fenomena alam, merupakan suatu Sunnatullah sebagai salah satu bagian kekuasaan Allah," ujarnya.
Dengan demikian, sebut dia, jika tidak mengalami perubahan atau atas kehendak sang kuasa GMT 9 Maret terjadi, maka dianjurkan kepada Umat Islam untuk melaksanakan shalat gerhana dan memanjatkan doa sebanyak-banyaknya kepada Allah.
Selain sebagai bentuk pengakuan umat Islam atas kekuasaan Allah, juga sebagai bentuk untuk memohon kepada Allah agar terhindar dari hal-hal negatif yang terjadi dikarenakan adanya gerhana matahari.
"Berdasarkan Alquran bulan dan matahari telah memiliki koridornya atau peredarannya, olehnya jika terjadi gerhana, itu artinya keduanya atau salah satunya tidak sedang berada pada koridornya atau peredarannya. Untuk itu, perlu ada Shalat untuk memanjatkan doa kepada Allah," ujarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)