Selasa, 22 Februari 2011

Buka Pintu ..

mistakes are tuition : no failure = no serious effort in making things happen.

some people would do whatever it takes to avoid mistakes/failure including cheating or simply embrace mediocricity.


Banyak yang berpikir bahwa kegagalan adalah status permanen dan harus dihindari dengan segala cara. Kekhawatiran atas kegagalan sering kali menjadi alasan kuat untuk tidak berbuat apapun. Daripada dipecat, lebih baik ikut saja apa kata boss - Kenapa harus berbisnis? bisa-bisa nanti bangkrut - daripada dapat nilai jelek, menyontek jadi halal. Selain itu berbagai pembenaran diri lainnya.


The most powerful propeller for success is failure. Mana yang lebih banyak memberi pelajaran : keberhasilan atau kegagalan? Siapa pun, dengan prinsip kehati-hatian mutlak sekalipun akan melakukan kesalahan. Tidak ada yang kekal gagal sebagaimana tidak ada yang kekal berhasil. Kegagalan dan keberhasilan PASTI terjadi pada semua orang.


Making use of failures as our weapon for success. Ada beberapa cara memastikan kegagalan sebagai senjata untuk sukses : (a) Tidak menghindarinya, tetapi mempelajarinya, (b) Telaah dan bedah perkara-perkara internal diri sendiri sebelum menyalahkan faktor eksternal, (c) Lose early - pastikan kalau harus gagal, itu terjadi pada tahap awal, dan (d) Senantiasa menjaga harapan dan keceriaan untuk terus melangkah.


Bisa jadi ungkapan terbaik mengenai sukses dan kegagalan disampaikan oleh Mark McCormack dalam bukunya yang kontroversial, What They Don't Teach You at Harvard Business School : "Success my be about luck, or talent, or skill. But most of the time success is about wrestling failure into submission."


Tulisan ini saya tutup dengan sedikit menyitir sebuah ungkapan dalam bahasa Latin :

Fortuna favi fortus .. keberuntungan hanya berpihak pada yang berani ..


by Rene Suhardono - Career Coach, Penulis Buku: "Your Job is NOT Your Career"


Petani dan Anak-anaknya

Seorang petani tua kaya, merasa bahwa hidupnya sudah tidak lama lagi, memanggil anak-anak ke samping tempat tidurnya untuk memberikan kata-kata terakhir.

"Anak-anakku," katanya, "Dengarkan apa yang hendak saya katakan kepada kalian: Janganlah hanya menghitung seberapa luas lahan warisan kita. Di suatu tempat di perkebunan ini tersembunyi sebuah harta karun yang sangat berharga. Saya tidak tahu tempat yang tepat, tapi sudah ada, dan kalian pasti akan menemukannya. Pergunakan seluruh tenaga dan jangan sampai ada tempat yang terlewat dalam pencarian kalian. "



Sang ayah akhirnya meninggal, dan tidak lama setelah dia dikuburkan, kemudian anak-anaknya mulai bekerja menggali dengan sekuat tenaga mereka, membalik setiap jengkal tanah dengan sekop mereka, dan pergi ke seluruh tanah pertanian sampai dua atau tiga kali.



Tidak ada emas tersembunyi yang mereka temukan, tetapi pada saat panen ketika mereka telah melakukan penghitungan dengan seksama dan telah mengantongi keuntungan yang jauh lebih besar dari salah satu tetangga mereka, mereka baru mengerti bahwa harta karun yang dikatakan oleh ayah mereka sebenarnya adalah kekayaan dari hasil panen tanaman yang melimpah, dan bahwa dari hasil kerajinan dan kerja keras mereka sendiri ternyata mereka telah menemukan harta karun itu.



Moral dari kisah ini:Kerajinan itu sendiri adalah harta karun yang berharga.

Dua Ekor Ayam yang Bertarung

Ada dua ayam jago tinggal di peternakan yang sama, mereka tidak tahan melihat satu sama lain. Akhirnya suatu hari mereka berkelahi habis-habisan menggunakan paruh dan cakar. Mereka bertarung sampai salah satu dari mereka kalah, kesakitan dan merangkak ke sudut untuk bersembunyi.

Ayam jago yang telah memenangkan pertarungan terbang ke atas kandang dan dengan bangga mengepakkan sayap, berkokok dengan sekuat tenaga untuk memberitahu dunia tentang kemenangannya.

Tapi seekor elang berputar di atas, tertarik akan keangkuhan sang jagoan dan menukik ke bawah mengangkat ayam jago itu, dibawa pergi ke sarang elang.



Lawannya melihat kejadian itu dan keluar dari pojok, akhirnya keluar sebagai penguasa peternakan tersebut.

Moral dari kisah ini adalah bahwa kesombongan membawa kejatuhan.

Anak Laki-laki dan Katak

Suatu hari, beberapa anak laki-laki sedang bermain di tepi sebuah kolam yang ditinggali oleh para katak. Anak-anak itu menghibur diri dengan melemparkan batu-batu ke kolam sehingga membuat katak-katak itu ketakutan dan melompat kesana-kemari di dalam air untuk menghindari lemparan batu itu.

Batu-batu itu terbang dan menghujani kolam dengan cepat dan para pemuda itu merasa sangat senang, tetapi katak-katak yang malang yang ada di kolam itu gemetar ketakutan.

Akhirnya salah satu dari katak-katak itu, yang tertua dan yang paling berani, menongolkan kepalanya ke permukaan air, dan berkata, “Tolong, hentikan permainan kejam kalian! Walaupun itu asyik bagi kalian, tapi berarti kematian bagi kami!”



Moral dari kisah ini: Dalam hidup ini, selalu berpikir apakah kesenangan Anda bisa menyebabkan penderitaan bagi orang lain.

Sang Petani dan Bangau

Seekor bangau mempunyai sifat yang sangat sederhana dan dikenal baik. Pada suatu hari dia diundang oleh kelompok burung lain ke sebuah pesta makan-makan di ladang petani yang baru ditanami. Namun pesta itu harus berakhir dengan terperangkapnya semua burung-burung di jaring petani.

Menyadari nantinya akan membuat keluarganya bersedih hati dan kesusahan, Si bangau memohon kepada sang petani untuk melepaskannya.

“Tolong. Biarkan saya pergi, Saya berasal dari keluarga baik-baik, dari keluarga bangau yang anda sendiri tahu adalah jujur dan sederhana. Disamping itu, saya tidak tahu kalau burung yang mengundang saya itu bermaksud mencuri disin” kata Si bangau memohon.

”Anda mungkin seekor burung yang sangat baik.” jawab sang petani, “Tetapi saya telah menangkap anda di jaring yang saya siapkan untuk menangkap pencuri dan Anda harus menerima hukuman yang sama dengan mereka.”

Moral dari kisah ini: Kita harus bertanggungjawab akan setiap jengkal perbuatan kita, jadi jangan ikut-ikutan ajakan berbuat buruk dari lingkungan sekitar, walaupun hanya sekali.

Burung Hantu dan Belalang

Burung hantu selalu tidur di siang hari. Setelah matahari terbenam, ketika cahaya merah memudar dari langit dan perlahan-lahan bayangan naik dia menggeliat dan berkedip dari lubang pohon tua. Sekarang dia berseru "hoo-hoo-hoo-oo-oo" bergema melalui kayu yang rimbun dan ia mulai berburu serangga, kumbang, katak dan tikus sebagai makanan kesukaannya.

Saat ini ada seekor burung hantu tua yang galak, terutama jika ada yang mengganggu saat ia tidur. Suatu sore musim panas yang hangat saat ia tertidur jauh di dalam lubang pohon tua, belalang di dekatnya mulai menyanyikan lagu gembira namun sangat menyesakkan telinga. Burung hantu tua menengok dari lubang pohon yang digunakan sebagai pintu dan jendela.

"Pergi dari sini, tuan," katanya kepada belalang tersebut. "Apakah Anda tidak memiliki sopan santun? Anda setidaknya harus menghormati usia saya dan membiarkan saya tidur dengan tenang! "

Tapi Belalang menjawab dengan kasar bahwa adalah juga haknya di tempat ini saat matahari bersinar sama di pohon tua. Lalu ia meneriakkan suara lebih keras dan lagu berisik yang menjadi-jadi.

Burung hantu tua yang bijak tahu benar bahwa tak ada gunanya berdebat dengan Belalang keras kepala ini. Selain itu, matanya semakin rabun untuk memungkinkan dirinya menghukum Belalang. Akhirnya dia melupakan semua kata keras dan kembali berbicara dengan sangat ramah kepadanya.

"Tuan yang baik hati," katanya, "jika saya harus tetap terjaga, saya akan datang untuk menikmati nyanyian Anda. Tapi saat ini saya memiliki anggur lezat di sini, kiriman dari Olympus, saya kira merupakan minuman Apollo sebelum ia menyanyi untuk para dewa tinggi. Silahkan datang dan rasakan minuman lezat ini dengan saya. Saya tahu itu akan membuat Anda bernyanyi seperti Apollo . "

Belalang bodoh itu terhanyut oleh kata-kata sanjungan burung hantu. Akhirnya dia melompat ke sarang burung hantu, begitu belalang cukup dekat dalam jangkauan penglihatan, ia menerkam dan memakannya.



Makna dari kisah ini: Pujian terkadang bukanlah bukti kagum yang sesungguhnya. Jangan biarkan pujian melambungkan Anda sehingga lengah melawan musuh.

Dongeng Pohon Besar dan Alang-alang

Sebuah pohon besar tumbuh dekat sungai, disekitarnya juga banyak ditumbuhi alang-alang. Ketika angin bertiup, pohon besar itu berdiri tegak dan sombong mengangkat ratusan rantingnya ke langit. Sedangkan alang-alang membungkuk rendah menghindari angin.

“Itu kan hanya tiupan angin kecil, mengapa sampai menundukan kepala sampai menyentuh permukaan air? Berdirilah yang tegak dan kokoh meskipun badai datang, seperti saya, si Pohon Besar!”

Alang-alang menjawab “Angin memang tidak mencelakai, kami hanya menunduk dan menghindar sebelum angin membuat kami patah. Anda selama ini dengan kesombongan dan mengandalkan kekuatan, menentang dan melawan angin. Suatu saat semuanya akan berakhir. ”

Seperti apa yang dikatakan Alang-alang, badai besar datang dari utara. Pohon besar berdiri dengan sombong dan menantang badai. Sedangkan Alang-alang tetap menunduk, Angin bertiup semakin kencang bahkan lebih kencang dari biasanya. Akhirnya Pohon besar karena kesombongannya tumbang sampai ke akar-akarnya. Alang – alang pun ikut sedih dengan tumbangnya pohon besar itu.

Moral dari cerita ini: Lebih baik mengalah daripada sombong dan keras kepala karena akan menghancurkan diri sendiri.

The World Its Mine