Kamis, 02 November 2017

Haruskah Muslim Memiliki Teman Kristen dan Yahudi?

Umat Muslim, Kristen dan Yahudi berjalan bersama dalam diam memprotes pembunuhan di Toulose, kota simbol toleransi di Prancis. Toleransi adalah sikap yang sangat dianjurkan Nabi Muhammad (Ilustrasi)

Islamfobia dalam menjatuhkan Islam sering menggunakan ayat-ayat terisolasi dari Alquran untuk menunjukkan betapa jahatnya Islam. Misalnya, mereka mengutip ayat Al-Ma’idah ayat 51: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai Auliya (pelindung, teman,) Mu; mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka Auliya, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Islamfobia juga sering menngunakan ayat ini dalam mengkucilkan Islam: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (seagama) sebagai teman, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu mengerti.” (Ali Imran 3:118)

Maka, apakah ini berarti umat Islam seharusnya tidak memiliki teman Kristen dan Yahudi? Haruskah umat Islam menghindari setiap orang yang bukan sesama Muslim?

Dilansir dari Islamicity, sebelum bangkitnya partai politik militan abad ke-20 dan pemerintah yang mengkambinghitamkan kaum minoritas agar tetap berkuasa, sebagian besar orang Kristen dan Yahudi melaporkan bahwa mereka berteman baik dengan banyak tetangga Muslim.

Persahabatan antaragama ini lebih sering terjadi di desa-desa Muslim daripada di perkotaan. Sebab di perkotaan banyak orang tidak berdaya karena adanya praktik politik yang kejam. Jadi, apakah orang-orang Muslim ini tidak mengetahui hukum-hukum yang telah disebutkan di atas terkait teman-teman Kristen dan Yahudi? Tidak semuanya.

Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan sekiranya mereka dapat mengembalikan kamu setelah kamu beriman, menjadi kafir kembali, karena rasa dengki dalam diri mereka setelah kebenaran jelas bagi mereka. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah 2: 109)

Jadi Alquran memperingatkan mereka untuk menjauh hanya dari orang-orang yang berharap dapat mengubah seorang muslim menjadi kafir setelah mereka beriman. Ini tidak berbeda  dengan orang tua Yahudi yang memperingatkan anak-anak mereka untuk menjauh dari misionaris Kristen.

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu. Kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak tahu.” (An-Nahl 16:43)

Dan Alquran menyatakan lebih lanjut ketika bertanya kepada ilmuwan Yahudi dan Kristen; tetapi hanya jika mereka tidak berharap mereka bisa mengubah seorang muslim menjadi kafir setelah beriman. Ini adalah bukti bagaimana Alquran openminded.

Sayangnya, di abad-abad berikutnya polemik Gereja Ortodoks Timur cenderung menyerang dan mengabaikan ayat-ayat yang toleran dan memahami dua ayat pertama di atas tanpa konteks dan dengan cara berpikir sempit. Banyak cendekiawan Muslim tidak lagi menggunakan ayat berikut untuk memahami yang lain:

Dan Kami telah turunkan kepadamu Alquran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maidah 5: 48)

Pluralisme agama adalah kehendak Allah. Tidak ada satupun agama yang diminta untuk berteman dengan orang-orang yang tidak menghormati dan bahkan membenci agama yang mereka yakini. Dan tentunya tidak ada Muslim yang salah ketika menghindari kontak dengan Islamofobia.


REPUBLIKA.CO.ID

Tujuan Hidup ..

Skenario Kehidupan (ilustrasi)

Manusia hidup di dunia tidaklah selamanya. Dunia hanyalah tempat sementara dari perjalanan seorang manusia. Adalah akhirat, tempat di mana tujuan akhir manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan dunia ini lengkap dengan isinya, kekayaan, kenikmatan, dan keindahan bagi umatNya. Semua yang Allah ciptakan bukan tanpa alasan. Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan dunia ini sebagai pengingat bagi manusia atas kebesaranNya.

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al Mulk: 15).

Dan Allah subhanhau wa ta’ala menciptakan akhirat yaitu surga sebgai balasan bagi orang yang pantas mendapatkanya jauh lebih indah dari apa yang ada di dunia. Dengan segala kenikmatan yang tidak berujung, dan kekal di dalamnya.

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’la: 17)

Oleh karena itu, sebaik-baiknya seorang hamba Allah subhanhau wa ta ‘ala adalah dia yang mendambakan akhirat. Mengharapkan kenikmatan apa yang akan didapatkan nanti atas apa yang telah diperjuangkan di dunia.

“Barang siapa yang akhirat menjadi harapannya, Allah subhanhau wa ta’ala akan menjadikan rasa cukup di dalam hatinya serta mempersatukannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan patuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya. Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan kefakiran berada di depan mata serta mencerai beraikannya, dan dunia tidak akandatang kepadanya kecuali sekedar apa yang telah ditetapkan baginya” (HR. Tirmidzi).

Tetapi saat ini banyak orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya. Mereka bekerja sangat keras demi mendapatkan kenikmatan dunia semata, dan melupakan kenikmatan akhirat. Melakukan semua yang dapat mereka raih tanpa melihat apa dibelakangnya.

Maka hal yang terbaik adalah seimbang diantara keduanya. Di dunia kita bekerja keras tanpa melupakan pentingnya akhirat. Yang mana semua yang dilakukan didunia adalah untuk mendapatkan ridhaNya di akhirat nanti.


REPUBLIKA.CO.ID

Optimisme dalam Kesulitan ..

Gerhana bulan sebagian tampak melatari lafadz Allah di kawasan Salwa, Kuwait, Senin (7/8) waktu setempat.

Walau sulit, tetap optimistis. Inilah salah satu teladan yang melekat pada diri Rasulullah. Nilai ini pula yang beliau tanamkan kepada para sahabat dan umatnya.

Sikap optimistis memang sangat dibutuhkan. Sebab, hidup di dunia hanya mengenal dua keadaan, yaitu susah dan senang. Keduanya silih berganti mengisi hari-hari kita dalam hidup ini. Dua keadaan ini akan menjadi batu ujian bagi setiap manusia. Lulus atau tidak, bergantung pada bagaimana menyikapinya.

Dalam kondisi senang, optimistis bukanlah sesuatu yang berat. Namun, dalam situasi sulit, terkadang tidak mudah menghadirkannya. Sebab, yang selalu terbayang adalah hal-hal yang buruk. Padahal, untuk bisa lulus dan bangkit dari keterpurukan, modalnya adalah optimistis.

Itulah sebabnya Rasulullah begitu gigih dalam menanamkan nilai yang satu ini. Dalam salah satu hadis, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, "Tidak ada perasaan buruk dan kesialan, dan yang lebih baik dari itu adalah rasa optimistis." Maka ditanyakanlah kepada beliau, "Apa yang dimaksud dengan rasa optimistis?" Beliau bersabda, "Yaitu kalimat baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian." (HR Ahmad).

Beberapa peristiwa dalam sejarah menunjukkan sikap optimistis Rasulullah SAW yang tidak pernah redup. Kala berdakwah di Makkah, penolakan dan ancaman adalah menu yang selalu beliau cicipi setiap hari. Namun, beliau tetap melangkah. Hingga akhirnya beliau memilih untuk pergi ke Thaif dan menyebarkan dakwah Islam di sana.

Namun, apa yang terjadi? Penolakan penduduk Kota Thaif tak jauh berbeda dengan warga Makkah. Di situlah tampak jelas betapa tinggi optimisme beliau. Saat dua malaikat menawarkan menimpakan dua gunung besar kepada penduduk Thaif, kalimat indah meluncur dari lisan beliau, "Jangan, semoga lahir dari keturunan mereka yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya." (HR Bukhari).

Sikap optimistis adalah warisan berharga para nabi. Hampir setiap nabi pernah berhadapan dengan situasi yang sangat sulit. Namun, tak seorang pun di antara mereka yang menunjukkan sikap pesimistis, apalagi sampai meninggalkan tugas yang mereka emban. Mereka tetap melangkah dengan penuh keyakinan Allah akan membantu.

Kisah Nabi Musa salah satu contohnya. Saat berada dalam kejaran Firaun, setelah berlari cukup jauh, ia dan umatnya harus berhadapan dengan lautan yang luas. Rasa cemas menggelayuti umatnya. Bahkan, ada yang mengatakan, "Sungguh Firaun pasti akan mendapati kita." (QS as-Syu'ara: 61). Namun, dengan penuh optimisme, "Musa mengatakan, sekali-kali tidak, sesungguhnya Tuhanku bersamaku yang akan memberikan petunjuk kepadaku." (QS as-Syu'ara: 62).

Optimistis adalah ajaran ilahi. Sumber dan asal usulnya adalah berbaik sangka kepada Allah, kepada takdir dan ketentuan-Nya. Ibnu Hajar al-Asqolani berkata, "Sesungguhnya Rasulullah menyukai optimisme karena pesimisme adalah buruk sangka kepada Allah dan optimisme adalah berbaik sangka kepada-Nya." (Fathul Bari).

Tumbuhnya sikap optimistis berkaitan erat dengan keimanan, terutama iman kepada takdir, yaitu mengimani bahwa setiap ketetapan Allah selalu mengandung hikmah dan kebaikan. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sikap optimistis. Amin. 


Oleh: Ahmad Rifai

Menghemat Pengeluaran Saat Biaya Hidup Tinggi ..



Ada berbagai tahap kehidupan yang membuat biaya hidup menjadi tinggi. Misalnya saja punya lebih dari satu anak usia sekolah atau ingin membeli rumah.
Diperlukan strategi keuangan yang tepat sehingga Anda bisa menikmati setiap tahapan kehidupan dengan penghasilan yang mungkin saja sulit ditambah lagi.

1. Punya anak usia sekolah

Seperti halnya harga properti, biaya pendidikan anak juga setiap tahun terus mengalami kenaikan. Bahkan, laju kenaikannya tak sebanding dengan penambahan gaji.

Untuk mencegah rasa takut tak bisa menyekolahkan anak sampai jenjang tertinggi, rencanakan keuangan sedini mungkin. Bahkan bila perlu sejak anak masih di dalam kandungan.

Tentukan target dana pendidikan yang akan dibutuhkan anak kelak sampai sarjana. Sisihkan uang Anda secara rutin setiap bulan dengan membeli produk investasi jangka panjang yang memberi hasil lebih besar dibanding tabungan atau deposito.

Mencari beasiswa juga bisa menjadi cara untuk meraih pendidikan tinggi tanpa mengeluarkan biaya mahal. Tentu saja syarat utamanya adalah nilai akademik yang baik.

2. Ingin punya rumah

Selain disesuaikan dengan dana yang ada, pastikan Anda membeli rumah yang kira-kira membuat betah sampai 10 tahun mendatang. Merenovasi rumah atau biaya pindahan bukanlah pengeluaran yang sedikit. Jadi, bila dana terbatas, belilah rumah yang paling mendekati keinginan Anda daripada baru tinggal sebentar sudah ingin pindah.

3. Tak punya tabungan

Jangan langsung menyalahkan gaji yang kecil, cek dulu apakah gaya hidup Anda sudah sesuai dengan besaran penghasilan.

Dari pada mengeluh karena saldo tabungan Anda tak bertambah, coba evaluasi pengeluaran Anda. Jangan-jangan banyak pengeluaran kecil yang sebenarnya tidak perlu dan tanpa sadar dilakukan terus. Misalnya saja membeli kopi di cafe setiap hari. Walau nominalnya menurut Anda kecil, tapi di akhir bulan bisa membuat pengeluaran bengkak.

Selain ngopi di cafe, pengeluaran untuk baju, kosmetik, transportasi online, atau hobi memesan makanan juga dapat membuat pengeluaran lebih besar dari penghasilan.

4. Banyak perayaan

Pengeluaran untuk kado pernikahan teman, ulang tahun sahabat, kelahiran keponakan, hingga biaya mentraktir teman saat kita berulang tahun, sering tidak dimasukkan dalam anggaran pengeluaran.

Akibatnya, kita akan kaget melihat total pengeluaran tersebut. Apalagi paling tidak sebulan dua kali ada saja pengeluaran untuk perayaan-perayaan tersebut.

Siasati dengan memberikan kado yang bersifat personal dan unik. Misalnya saja saat sedang ada sale, belilah beberapa frame lalu hias frame itu dan masukkan foto Anda dengan sahabat atau kakak, sebagai hadiah. Bila ada beberapa undangan pesta, tak perlu semua perlu didatangi, pilihlah yang paling prioritas menurut Anda.


PenulisLusia Kus Anna
EditorLusia Kus Anna

Berapa Jumlah Tabungan Minimum yang Harus Anda Miliki? ..



 Zaman serba modern seperti sekarang acap kali mengedepankan keterbukaan.
Namun, sebuah survei yang dilakukan oleh Bustle terhadap 1000 responden generasi milenial menyebutkan bahwa wanita masih enggan membahas soal kondisi keuangan.

Hasil survei memperlihatkan bahwa 50 persen responden tidak pernah membicarakan soal kondisi keuangan dengan teman-temannya.
Sementara itu, 28 persen mengaku merasa stres setiap hari karena masalah finansial.

Selain itu, survei juga mengungkapkan, wanita milenial nyaris tidak memiliki tabungan dalam jumlah yang aman.

"Setiap orang harus memiliki dana darurat dalam bentuk tabungan," jelas Maggie Germano, seorang pengajar bersertifikasi edukasi keuangan.

Tujuan dari tabungan darurat, kata Germano, adalah untuk proteksi ketika Anda menghadapi krisis dalam kehidupan yang membutuhkan anggaran ekstra.

Dia mengatakan, tabungan darurat ini menjadi begitu berguna apabila Anda menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK) atau masuk rumah sakit.

Sejumlah pakar juga menganjurkan agar jumlah tabungan Anda setidaknya bisa menjamin pemenuhan kebutuhan pokok selama tiga hingga 12 bulan.

Lalu, jika Anda telah berkeluarga, maka jumlah tabungan harus lebih tinggi dibandingkan jumlah simpanan sewaktu masih lajang.


PenulisKontributor Female, Rakhma
EditorShierine Wangsa Wibawa
Sumberbustle.com

Cara Sederhana Menghemat Uang Setiap Hari ..

Ilustrasi

Lebih banyak uang yang ditabung adalah target yang ingin dipenuhi banyak orang. Tetapi, dengan kenaikan harga barang dan godaan diskon, penghasilan bulanan seringnya habis tanpa sisa.

Melakukan penghematan sebenarnya tidak sulit, bahkan bisa kita lakukan sehari-hari tanpa disadari. Berikut adalah beberapa ide sederhana yang bisa kita terapkan demi menghemat banyak uang.

1. Pilih moda transportasi

Sebenarnya hal ini tergantung pada lokasi di mana Anda tinggal. Jika rumah Anda memiliki jarak cukup jauh dari kantor, pertimbangkan menggunakan transportasi umum yang relatif murah seperti kereta commuter line atau busway.

Untuk bepergian ke tempat yang jaraknya yang tak terlalu jauh, pilih berjalan kaki ketimbang naik ojek. Meski tarif ojek atau taksi online sudah murah, tetapi jika kita menggunakan transportasi ini beberapa kali dalam sehari jumlahnya cukup besar dalam sebulan.

2. Hindari jajan kopi

Ini mungkin akan sulit, terutama jika Anda sudah terbiasa ngopi setiap hari. Tetapi pengeluaran-pengeluaran kecil seperti jajan kopi atau frozen yogurt, dan jajanan kekinian lainnya, bisa diakumulasikan totalnya menjadi besar.

3. Bawa botol minum sendiri

Investasikan uang Anda untuk membeli botol air minum berkualitas tinggi sehingga aman untuk dipakai ulang. Dengan demikian Anda bisa mengisinya sebelum bepergian. Selain menghemat uang, juga ramah lingkungan.

4. Buat daftar belanjaan

Atur dengan cermat menu mingguan untuk keluarga sehingga Anda mengetahui bahan makanan yang harus dibeli. Buat daftar belanja dan disiplin hanya membeli yang dibutuhkan. Hal yang sama juga berlaku saat Anda belanja baju.

5. Cari diskonan

Jangan gengsi memanfaatkan kupon diskon, cashback, atau promo dari bank penerbit kartu kredit. Jika kebetulan ada program diskon untuk barang yang dibutuhkan, kenapa tidak dimanfaatkan. Dengan catatan, Anda membayar penuh tagihan di bulan berikutnya dan tetap beli barang yang memang dibutuhkan.

6. Sisihkan uang kembalian

Jangan biarkan celengan Anda hanya jadi pajangan di meja. Setiap kali Anda mendapat uang kembalian, masukkan ke dalamnya. Buat target, misalnya tiap mendapat kembalian uang Rp 20.000 harus masuk ke celengan. Kumpulkan setiap hari dan lihat berapa hasilnya setelah sebulan. Lumayan kan.

7. Masak sendiri

Anda tak harus sepintar chef untuk menyiapkan makanan lezat di dapur sendiri. Ada ribuan resep mudah, bahkan ada videonya, yang bisa diikuti. Selain menyehatkan, masak sendiri juga berhemat banyak.

8. Matikan listrik saat tidak dipakai

Walau sepele, tetapi menghemat pemakaian listrik berarti menghemat pengeluaran.

9. Berhenti langganan

Jika Anda jarang menontonnya, buat apa langganan TV kabel atau siaran streaming berbayar. Demikian juga dengan langganan berbagai majalah online. Jika jarang dibaca, stop saja.

10. Kegiatan rileksasi gratis

Bersenang-senang agar suasana hati selalu rileks memang perlu dilakukan. Tapi, kita bisa memilih kegiatan yang tak perlu mengeluarkan uang banyak. Misalnya mengunjungi taman kota, museum, atau wisata alam, misalnya air terjun.


PenulisLusia Kus Anna
EditorLusia Kus Anna
SumberPOP SUGAR

Mana yang Paling Membahagiakan: Gaji Besar atau Kepuasan Kerja?

Ilustrasi

Rasanya tak ada orang yang tidak ingin atau tak butuh uang. Entah itu untuk membeli mobil baru, beli tiket liburan, atau hanya membayar tagihan kartu kredit, setiap orang akan senang jika ada uang lebih dari gaji mereka.

Meski begitu, apakah memiliki gaji besar namun menyita banyak waktu adalah kunci untuk kebahagiaan jangka panjang?

Itu adalah pertanyaan lama dan jawabannya bisa berbeda pada setiap orang. Istilah "kebahagiaan" pun punya arti yang juga berbeda-beda.

Bagi sebagian orang, memiliki tempat tinggal dan makanan di meja adalah bentuk kebahagiaan. Bagi yang lain, dan kebanyakan orang, bahagia itu jika bisa membeli barang-barang bagus seperti baju, mobil, atau pun gadget terbaru.

Untuk bisa memenuhinya tentu kita berharap punya gaji besar. Namun, apakah bergaji besar adalah jaminan memiliki kepuasan kerja? Mungkinkah kedua faktor itu bisa kita miliki agar benar-benar bahagia?

Banyak orang memberi nasihat agar kita mencari pekerjaan yang disukai lalu bekerja keras untuk dapat penghasilan besar. Tapi, ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Misalnya, pada tahap hidup apa sekarang ini Anda berada?

Jika Anda belum punya tanggungan, misalnya keluarga dan anak, sah-sah saja jika Anda sering lembur untuk dapat gaji besar.

Faktor lain adalah kota tempat kita tinggal. Bila Anda berada di kota besar, standar gaji mungkin besar tapi pengeluaran juga tidak sedikit. Belum tentu nominal di rekening akan tersisa banyak di akhir bulan.

Kita menghabiskan sepertiga hidup kita dengan bekerja. Tentu masuk akal jika kita ingin merasa bahagia saat sedang bekerja. Jika setiap pagi Anda selalu dilanda rasa malas untuk bangun dan berangkat ke kantor, mungkin Anda memang tidak puas dengan tempat kerja sekarang.

Usia juga menjadi faktor lain dari kepuasan kerja. Jika Anda masih muda, mungkin Anda masih bisa menoleransi jam kerja yang panjang untuk mendapat sedikit tambahan uang. Bila pekerjaan Anda memiliki tanggung jawab yang cukup besar, wajar jika gaji Anda pun besar.

Kepuasan kerja sendiri memiliki banyak turunan, misalnya pengembangan karier, kemajuan, kesempatan training, rekan kerja yang bisa bekerja sama, dan juga keamanan. Gaji saja tidak cukup untuk memberi kepuasan.

Hal lain yang perlu dievaluasi adalah tujuan utama Anda memilih pekerjaan ini. 
Apakah karena tawaran gaji dan bonusnya, atau karena tanggung jawabnya? Jika karena keduanya, apakah hal itu tak akan berubah setelah beberapa lama?

Tercapai atau tidaknya kebahagiaan sangat tergantung pada perilaku orang yang mencarinya. Jika Anda bisa berangkat kerja dan tertawa, merasa senang dan menemukan kegembiraan pada pekerjaan Anda, maka kebahagiaan dalam karier sudah Anda genggam.

Jika Anda merasa menderita secara emosional setiap hari saat bekerja, maka tak ada nominal uang yang bisa mengubah perasaan itu.


PenulisLusia Kus Anna
EditorLusia Kus Anna

The World Its Mine