Jumat, 03 Februari 2017

Memegang Kendali Pendidikan Anak ..



Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Banyak orang yang menjadikan sekolah sebagai tumpuan bagi pendidikan anak-anaknya. Bahkan, tidak sedikit yang seolah telah membebaskan dirinya dari kewajiban mendidik anak-anaknya, setelah ia memasukkan anaknya ke sekolah.

Segala sesuatu diserahkan ke sekolah. Ibarat orang mengirim pakaian kotor ke binatu, ia cukup mebayar, lalu menerima hasilnya saja, berupa pakaian bersih.

Tidak sedikit pula yang kecewa dengan pihak sekolah, tapi tidak sanggup berbuat apa-apa. Seorang ibu mengadu pada saya, di sekolah anaknya diajarkan pandangan bahwa musik itu haram. Ia sendiri tidak menganggapnya begitu.

Perbedaan pandangan itu bisa saja menjadi sumber konflik dengan anak. Bagaimana memberi tahu anak mengenai pandangan lain soal musik?

Di situlah pentingnya peran kita sebagai pengendali pendidikan anak. Ingat, tanggung jawab pendidikan anak ada pada kita, bukan pada sekolah. Bagaimana pun juga, sekolah hanya pembantu kita dalam pendidikan.
Peran utama, kendali, harus ada pada kita. Kenapa? Karena ini anak kita. Sebagus apapun sekolah, yang berada di situ adalah orang lain.

Bagaimana bersikap terhadap sekolah? Sekolah adalah mitra kita dalam mendidik anak. Ketika hendak memasukkan anak ke sekolah, kita memilih sekolah yang cocok.

Apa dasarnya? Dasarnya adalah prinsip kita tentang pendidikan anak. Kita punya prinsip dan konsep. Maka kita cari sekolah yang cocok dengan prinsip itu, atau setidaknya mendekati. Jangan sampai kita memasukkan anak ke sekolah yang tidak cocok dengan prinsip kita.

Sekali lagi, sekolah adalah mitra. Artinya, kita juga harus memberi masukan kepada sekolah soal muatan pendidikan yang mereka lakukan.

Saya sering menyampaikan kritik kepada guru-guru di sekolah anak saya. Pernah saya tegur kepala sekolah soal kurangnya tempat sampah pada acara di sekolah, sehingga sampah bertebaran. Di lain waktu saya tegur soal AC yang menyala di ruangan kelas yang tidak sedang dipakai.

Minggu lalu saya hadir rapat di sekolah anak, untuk persiapan jambore pramuka yang akan diikuti anak saya. Salah satu hal yang dibahas adalah soal pintu gerbang tenda yang menurut saya berbiaya mahal.
Gurunya dengan bangga bercerita bahwa gerbang ini nanti akan dikerjakan oleh tukang yang terampil (profesional, istilah dia), dan kemungkinan besar akan memenangkan kompetisi. Usai penjelasan, saya tanya, ”Unsur pendidikan apa yang sedang kita lakukan melalui gerbang megah ini?”

Guru tadi gelagapan, memberi jawaban berputar-putar. Kepala sekolah ikut menjawab, tapi tetap tanpa substansi yang menjawab pertanyaan saya.

Saya paham, karena mereka memang tidak punya jawaban. Mereka sedang khilaf, lupa soal apa itu substansi pendidikan. Akhirnya ada guru yang menjelaskan bahwa para siswa nantinya akan terlibat dalam pembangunan gerbang. Saya anggap jawaban itu sejenis jawaban emergency.

Poin saya adalah, teruslah mengingatkan guru-guru tentang hakikat pendidikan. Saya rewel kepada guru-guru anak saya, bukan karena tidak percaya kepada sekolah. Saya sedang menjalankan peran sebagai pengendali pendidikan anak saya. Sekolah adalah mitra saya.

Saya juga memantau, nilai-nilai apa yang diajarkan di sekolah anak saya. Dalam suasana Natal tertangkap dari pembicaraan bahwa anak-anak di sekolah diajarkan untuk tidak mengucapkan selamat Natal. Pelan-pelan pandangan itu saya koreksi di rumah.

Bagaimana caranya? Kembali ke prinsip tadi. Kita adalah pengendali muatan pendidikan anak-anak kita. Sekolah hanyalah pembantu. Dalam makna lain, sekolah adalah lingkungan yang memberi pengaruh pada anak-anak kita.

Selain sekolah, teman-teman mereka, tetangga, media massa, media sosial, dan lain-lain. Semua memberikan pengaruh. Sebagai penanggung jawab pendidikan, kita mengendalikan pengaruh itu.

Anak-anak kita tidak mungkin kita isolasi dari pengaruh. Tapi kita mengendalikan dampaknya. Itulah peran kita sebagai pengendali.

Praktisnya bagaimana? Terlibatlah, jangan lepas tangan seperti orang mengirim baju kotor ke binatu. Dampingi anak-anak belajar. Perbanyak waktu untuk berinteraksi dengan anak, sehingga kita tahu perkembangan pemahaman dan pikiran, serta tindak tanduk mereka.

Jangan sampai terjadi, anak lepas dari pantauan kita. Kita baru sadar saat anak sudah jauh, dan kita tak sanggup lagi meraihnya.

Saya sediakan waktu minimal 2 jam pada malam hari, untuk mendampingi anak-anak saya belajar, atau sekedar berbincang atau main bersama. Saya habiskan hampir seluruh waktu di akhir pekan untuk bersama mereka. Menurut saya, itu yang dibutuhkan untuk menjadi pengendali pendidikan anak.

Menjadi Perempuan Rasional ..


Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Laki-laki itu rasional, sedangkan perempuan lebih emosional. Itu kesimpulan umum yang dianut banyak orang. Tapi tidak sedikit pula yang membantahnya.

Tidak sedikit perempuan yang keberatan disebut emosional, karena ia merasa rasional. Tapi benarkah kesimpulan ini? Apakah ini fakta sains atau sekedar stereotype belaka?

Peneliti Institut Universitaire En Santé Mentale de Montréal melakukan pengujian. Pada penelitian terdahulu mereka menemukan terdapat perbedaan reaksi pada limbic system, pusat emosi dan memori, antara laki-laki dan perempuan.

Dalam penelitian lanjutan, 46 responden, laki-laki 21 orang dan perempuan 25 orang disuruh melihat gambar-gambar emosional, dan aktivitas otak mereka diamati melalui kadar hormon testosterone dan estrogen, serta direkam dengan fMRI.

Secara keseluruhan disimpulkan bahwa perempuan lebih reaktif terhadap gambar-gambar emosional. Ukurannya adalah kadar testosteron dan estrogen tadi. Kadar testosteron yang tinggi menunjukkan rendahnya sensitivitas emosi, sedangkan tingginya estrogen menunjukkan tingginya sensitivitas emosi.
Dalam pengamatan melalui fMRI peneliti melihat bahwa dorsomedial prefrontal cortex (dmPFC)  dan amygdala bereaksi pada perempuan dan laki-laki yang melihat gambar emosional tadi. Namun pada laki-laki, terjadi interaksi yang lebih kuat antara kedua bagian otak tadi, sehingga terjadi penurunan rangsangan emosional.

Amygdala diketahui sebagai bagian otak yang mendeteksi ancaman, biasanya bereaksi terhadap rangsangan emosional. Sementara dmPFC bekerja dalam interaksi sosial, mengelola persepsi, emosi, dan nalar.
Interaksi yang kuat antara dmPFC dengan amuygdala pada laki-laki menunjukkan bahwa mereka lebih rasional dalam mengelola emosi.

Apakah ini satu-satunya kesimpulan riset? Bukan. Ada penelitian lain yang dilakukan oleh MindLab, kesimpulannya, laki-laki ternyata lebih kuat reaksinya terhadap rangsangan emosional ketimbang perempuan.
Tapi kenapa hasil kedua penelitian ini saling bertabrakan? Sebenarnya tidak begitu. Peneliti dari Montreal tadi menjelaskan bahwa terjadi interaksi kuat antara bagian otak yang mengelola emosi dan nalar pada laki-laki. Artinya, terjadi proses peredaman emosi dalam otak.

Hal itu pulalah yang dihasilkan oleh peneliti di MindLab. Menurut mereka, laki-laki lebih emosional, namun terlatih untuk meredamnya. Ini hasil tempaan sosial, yang menuntut laki-laki terlihat lebih rasional.

Hasil penelitian di atas menarik dalam konteks pengelolaan pikiran. Otak kita sebenarnya mirip dengan otot, dalam arti ia dapat dilatih.

Otot pada bagian tubuh tertentu akan membesar atau mengeras bila sering dipakai, atau dilatih. Demikian pula otak.

Secara garis besar otak bisa kita bagi dua, yaitu bagian pengelola emosi dan pengelola nalar. Bagian yang paling sering dipakai akan menjadi lebih kuat.

Banyak perempuan yang “menyerah pada takdir” bahwa mereka adalah makhluk emosional. Bahkan tidak sedikit pula yang menikmati privilege atau perlakuan istimewa karena mereka emosional. Mereka merasa sah untuk menjadi sangat sensitif, dan menuntut laki-laki untuk menjaga perasaan mereka.

Tapi bisakah perempuan menurunkan kadar sensitivitas emosinya? Bisa. Bahkan sebenarnya tidak hanya bisa, tapi harus.

Peneliti di  Montreal tadi sebenarnya sedang meneliti perbedaan kerentanan psikis antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dua kali lebih berisiko terhadap depresi dan keterasingan dibanding laki-laki. Artinya, sikap kita dalam pengendalian emosi akan mempengaruhi kesehatan mental.

Bagaimana cara menjadi lebih rasional, khususnya bagi perempuan? Pertama adalah dengan membuang streotype tadi. Tinggalkan keyakinan bahwa Anda ditakdirkan sebagai makhluk emosional, mulailah meyakini bahwa Anda adalah pengendali emosi Anda sendiri.

Jangan manjakan diri Anda dengan sugesti “aku kan perempuan”, yang memberi Anda pembenaran untuk terus menjadi emosional.

Langkah berikutnya adalah soal interaksi sosial. Saya selalu mengingatkan semua orang untuk menjadi pengendali pikirannya sendiri. You are the owner of your mind. Bagaimana kita berpikir dan bereaksi terhadap sesuatu, sepenuhnya di bawah kendali kita sendiri. Itu yang disebut sikap proaktif.

Jadi, langkah keduanya adalah membangun keyakinan bahwa kita adalah pengendali pikiran kita sendiri.
Praktisnya bagaimana? Bayangkan ada seorang perempuan yang dimaki dengan sebutan “pelacur”. Normalnya perempuan akan marah dengan makian itu.

Kembali ke pola lama, ia akan marah dan berkata,”Wajar dong kalau aku marah. Siapa juga yang nggak marah dikatain begitu.”

Ini adalah sugesti bahwa ia berhak marah, dan setiap orang pasti marah. Padahal tidak demikian. Ia bisa memilih untuk marah atau tidak marah.

Aneh? Tidak. Reaksi marah itu adalah reaksi emosional. Itu biasanya reflek. Dalam konteks kerja otak, itu adalah aktivitas di amygdala tadi.

Ketika reaksi itu terjadi, orang mensugesti dirinya dengan keyakinan bahwa ia berhak marah, dan semua orang pasti marah bila disebut pelacur. Maka ia sedang melipat gandakan aktivitas amygdala dalam otaknya. Maka kadar emosinya akan makin meningkat, dan bisa saja jadi tak terkendali.

Pilihan lain adalah mengabaikannya. Sebutan itu tidak benar-benar membuat seorang perempuan jadi pelacur, bukan? Jadi, tidak masalah disebut seperti itu. Dengan cara ini Anda mengaktifkan interaksi antara amygdala dengan dmPFC tadi.

Sensitifitas Anda terhadap stimulus emosi akan diturunkan. Perhatikan bahwa ini bisa dilakukan oleh siapa saja, laki-laki maupun perempuan.

Mengapa latihan ini penting? Ingat, siapa yang mengendalikan diri Anda? Bila Anda marah setiap kali ada yang mengatai Anda, itu sama seperti Anda menyerahkan remote control emosi Anda ke orang lain.

Bagaimana membuat Si X marah? Gampang, cukup sebut dia pelacur. Anda sudah di bawah kendali orang lain. Itu baru satu kata kunci. Anda akan bereaksi yang sama terhadap kata kunci lain seperti sundal, matre, murahan, ganjen, dan seterusnya.

Kalau Anda selalu bereaksi negatif, artinya ada orang-orang yang pegang remote control yang penuh dengan tombol yang bisa membuat Anda depresi. Maka Anda harus rebut remote control itu.

Tapi apakah itu berarti kita diam saja diperlakukan tidak adil? Bukan begitu. Anda boleh  bertindak. Tapi kendali atas pilihan tindakan itu ada di tangan Anda. Itu bukan produk spontan yang dipicu oleh emosi Anda.
Anda bisa berhitung secara rasional, tindakan apa yang akan Anda ambil. Hitung, tindakan apa yang efektif untuk menghentikan gangguan. Eksekusi tindakan itu secara rasional, bukan emosional.

Ingat, jadilah pemegang remote control diri Anda, aktifkan selalu komunikasi antara nalar dan emosi. Ini sebenarnya berlaku bagi siapa saja, tidak tergantung apa jenis kelaminnya.

Bersyukur Itu Menemukan Diri Sendiri ..


Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Ada teman saya yang dengan sinis mengatakan,”Bersyukur itu ndingkluk. Artinya merendahkan standar harapan kita. Dengan begitu, kita akan merasa bahwa kita sudah mendapat lebih. Lalu kita merasa senang.”
Contohnya, kita lihat orang-orang miskin, atau orang-orang yang hidupnya menderita. Lalu kita lihat diri kita, ternyata kita lebih baik. Lalu kita merasa senang. Itulah bersyukur.

Pernah saya temukan meme yang menjengkelkan. Isinya tentang anak yang (terpaksa) berjualan, untuk menyambung hidupnya. Meme diakhiri dengan pertanyaan, masihkah kamu tidak bersyukur?

Lha, apa hubungannya? Orang diajak bersyukur setelah melihat penderitaan orang lain. Bersyukur artinya merasa senang bahwa kita tidak menderita seperti dia. Syukur macam apa itu?

Suruhan untuk bersyukur juga sering datang ketika seseorang tidak puas dengan keadaannya. “Sudah, jangan banyak menuntut, syukuri yang sudah kau dapat!”

Apakah bersyukur bermakna bahwa kita tidak boleh berharap mendapat yang lebih baik lagi? Apakah menginginkan yang lebih baik selalu bermakna bahwa kita tidak bersyukur atas apa yang kita dapat?
Bagi saya, bersyukur tidak begitu maknanya. Bersyukur itu menyadari diri kita sendiri. Coba lihat diri kita. Kita punya tubuh, seadanya tubuh kita ini. Kita punya 2 tangan, 2 kaki, dan berbagai organ lain.

Ada yang hanya punya 1 tangan, atau bahkan tidak punya tangan. Juga ada yang hanya punya 1 kaki, atau tidak punya kaki. Setiap orang mengenali dirinya, secara apa adanya. Inilah saya. Saya adalah saya, bukan orang lain.

Lalu, kita lihat diri kita lebih lanjut. Apa lagi yang kita miliki? Ada yang pandai matematika. Ada yang pandai main musik. Ada pula yang kuat badannya, mampu lari cepat, lari jauh, atau kuat mengangkat barang. Masing-masing orang punya kelebihan. Temukan kelebihan kita sendiri.

Banyak orang yang tidak tahu apa kelebihannya. Ia menjadi orang yang biasa saja, atau bahkan menganggap dirinya terbelakang. Lalu ia menjadi rendah diri. Ia tak merasa layak berdiri bersama manusia lain. Ia mungkin protes pada Tuhan. “Kenapa Kauciptakan aku seperti itu?”

Protes itu tak akan pernah mengubah keadaannya. Yang akan mengubah keadaan adalah cara dia memandang dirinya sendiri.

Pernah saya lihat acara di TV Jepang. Acara ini memberi kesempatan kepada orang-orang yang merasa ada bagian tubuhnya yang ingin ia ubah. Setelah diseleksi, yang disetujui akan dibiayai untuk melakukan operasi plastik.

Dalam suatu episode, ada gadis remaja yang merasa mukanya jelek. Ia ingin operasi plastik. Para pengisi acara itu tidak serta merta meluluskan permintaannya. Yang “dioperasi” justru mental gadis itu. Dengan sedikit polesan kosmetik, mereka berhasil membuat gadis itu tampil cantik. Ia diyakinkan bahwa ia sama sekali tidak jelek. Kemudian ia menjadi percaya diri.

Begitulah. Kita sering lebih sensitif menemukan kekurangan-kekurangan kita, ketimbang menemukan kelebihan kita. Kita lebih sering mencoba menyembunyikan kekurangan, ketimbang menunjukkan kelebihan.
Saking sibuknya kita dengan kekurangan, kita merasa bahwa diri kita penuh dengan kekurangan. Kita gagal menemukan kelebihan kita. Lalu kita mengeluh, protes pada Tuhan.

Bahkan, ada orang yang merasa dirinya memiliki kekurangan. Padahal yang ia anggap kekurangan itu adalah kelebihan bagi orang lain. Misalnya, ada orang jangkung yang terus membungkuk, karena merasa jangkung itu jelek. Padahal ada begitu banyak orang yang ingin jangkung.

Jadi, bersyukur itu sekali lagi, adalah soal mengenali diri kita, menemukan keunggulan kita, menyadari bahwa itu keunggulan, bukan kekurangan. Bahkan orang yang tangannya hanya satu pun bisa menjadikan satu tangannya itu sebagai keunggulan.

Mungkin ada Anda pernah menyaksikan anak Korea yang tangannya tak utuh, menjadi pemain piano yang hebat. Ia tentu lebih hebat dari kebanyakan kita yang punya tangan lengkap. Ia tidak saja berhasil mengalahkan “kekurangannya”, tapi justru menjadikan tangannya itu sebagai pusat keunggulannya.

Perhatikan juga orang-orang di sekitar kita. Orang tua, saudara, teman, guru, dan siapapun yang mencintai kita. Mereka semua tidak sempurna. Ada saja hal yang membuat kita tak puas kepada mereka.
Tapi mereka semua memberi kita energi yang luar biasa, untuk menikmati hidup ini. Jangan berharap mereka akan sempurna, karena kita juga tidak sempurna.

Lalu, selanjutnya bagaimana? Asahlah terus keunggulan kita itu. Manfaatkan untuk menghasilkan hal-hal yang baik, bermanfaat bagi diri kita sendiri. Banyak-banyaklah berbuat baik, sampai perbuatan baik kita itu dinikmati oleh banyak orang.

Perbuatan baik, menghasilkan hal baik, akan menambah keunggulan yang tadinya sudah kita punya. Ia juga akan menghasilkan energi yang lebih besar untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi.
Ingat, bersyukur itu bukan mencari kekurangan orang lain yang tak ada pada kita. Bersyukur itu adalah menemukan keunggulan pada diri kita, memanfaatkannya, menikmatinya, tanpa merendahkan orang lain.

Teach It Easy ..


Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Awal tahun 2007 saya mulai bekerja di industri manufaktur. Dalam keadaan pengalaman nol di bidang industri saya harus mengurus berbagai hal berkenaan dengan persiapan produksi sebuah perusahaan baru.
Salah satu masalah yang saya hadapi adalah mesin-mesin yang diimpor sudah tiba di pelabuhan, dan harus diurus proses kepabeanannya (custom clearance). Tentu saja saya tak tahu apa yang harus dilakukan.
Waktu itu kami masih menumpang di kantor perusahaan grup, menunggu kantor dan pabrik kami selesai dibangun.

Karena karyawan juga masih sedikit, banyak hal yang dimintakan bantuannya kepada karyawan perusahaan grup, dan mereka dibayar ekstra atas bantuan ini. Termasuklah dalam urusan impor tadi.

Saya minta asisten manajer yang mengurusi ekspor impor untuk mengajari saya, dan dia setuju. Di ruang rapat dia menyodorkan kertas bertuliskan istilah-istilah yang biasa dipakai dalam kegiatan ekspor impor.
“Bapak ngerti nggak istilah-istilah ini?” tanya dia.
“Nggak.” jawab saya.
“Aduh, inilah susahnya kalau harus mengajari orang yang tidak punya latar belakang perdagangan internasional,” kata dia ketus.

Saya melongo. Kalau saya punya latar belakang perdagangan internasional, tentu saya tidak perlu bertanya sama dia. Tapi sudahlah. Saya perlu urusan saya beres, jadi saya dengarkan dia dengan sabar.
Dia menjelaskan ini itu, yang sebenarnya tidak jelas juga. Akhirnya berbekal sedikit informasi saya berurusan dengan perusahaan jasa kepabeanan (forwarder) yang dia tunjuk.

Banyak dokumen kurang ini itu, ribut, sampai akhirnya barang bisa tiba ke pabrik meski terlambat dari jadwal.

Setelah itu kami pindah kantor. Menjelang pindah kantor dia menawarkan. “Nanti kalau mau ekspor hubungi saya, biar saya bantu.” katanya. Saya cuma mengangguk.

Di kantor baru, saat akan impor saya undang forwarder. Saya minta mereka menjelaskan apa yang harus kami siapkan, dan apa yang mereka urus. Juga berapa lama waktu yang diperlukan.

Berdasarkan itu kami mulai melakukan proses custom clearance untuk impor kami selanjutnya. Saya tidak perlu tahu detil soal impor, yang penting cukup untuk keperluan mengeluarkan barang kami dari pelabuhan. Walhasil, impor kami lancar tanpa masalah.  Saat mau ekspor pun begitu. Semua berjalan lancar.
Saat ketemu dia lagi beberapa bulan setelah kami pindah, dia bertanya, “Pak, kapan mau mulai ekspor? Kan saya mau bantu.”

“Oh, kami sudah jalan beberapa kontainer, kok.” jawab saya.
“Eeeee, kenapa nggak bilang-bilang? Emang sudah bisa sendiri.”
Saya jawab dengan senyuman saja.

Akhir tahun 2011 di perusahaan tempat saya bekerja, kami membeli alat untuk analisa kimia, namanya gas chromatography. Alat ini dibeli dalam rangka produksi produk baru di tempat kami.

Untuk keperluan ini saya merekrut seorang karyawan yang berlatar belakang ilmu kimia. Perekrutan karyawan ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan saat kami berunding soal produksi produk baru ini.
Namun dalam perjalanannya kemampuan karyawan ini selalu dipertanyakan oleh orang QC di pihak pelanggan. “Kalau dia orang yang tidak pernah pakai alat ini dan tidak punya kemampuan analisa dengan alat ini percuma. Mending dia dikirim ke Jepang untuk ditraining.” tulis dia dalam email.

Saya keberatan, karena selain berbiaya tinggi hal itu menurut saya mubazir. Menurut saya alat ini fungsinya adalah alat quality control. Artinya, sekedar alat ukur untuk menguji sesuatu, bukan alat analisis seperti kalau seseorang menggunakannya di bidang riset.

Saya tolak, tapi saya beri jaminan ke dia bahwa staf yang saya rekrut akan bisa memakai alat tadi saat diperlukan. Dia punya pengalaman banyak di bidang kimia, walau belum pernah pakai alat ini.

Prinsip saya, kalau cuma soal cara memakainya, staf saya bisa belajar dari penjual alat. Dan itulah yang kami lakukan. Selebihnya, sesuai kesepakatan, orang QC dari Jepang ini yang akan mengajarkan.

Karena khawatir soal kemampuan kami, pihak perusahaan induk pergi ke pelanggan ini, melihat proses pelaksanaan pengukuran. Mereka merekam pelaksanaan itu dan mengirimnya ke kami.

Saya saksikan videonya, cuma kegiatan menakar, menimbang, dan membuat larutan. Di bagian tertentu larutan harus dikocok. “Ini salah satu teknik penting, know how yang diperlukan. Kalau tidak biasa melakukan analisa tidak akan bisa melakukan teknik ini.” katanya. Halah, cuma begitu saja.

Beberapa bulan kemudian  orang ini datang. Saya pikir dia akan segera mengajar. Eh, dia malah minta staf saya ditraining di perusahaan grup. Untuk apa?
“Harus dicek dulu apakah dia sudah bisa pegang pipet dan bikin larutan dengan benar,” kata dia.
Saya sebenarnya keberatan, tapi malas ribut. Saya suruh saja staf saya ikut training, menggunakan gas chromatography, diajari oleh staf lokal di sana.

Kembali ke perusahaan kami, saya suruh staf tadi mempraktekkan hasil trainingnya. Ia melakukan pengukuran. Tamu saya tadi minta hasil pengukuran. Dia tidak pernah mengajari staf saya, langsung minta saja. Kami serahkan hasilnya, dan hasilnya benar. Lalu, apa kesulitan yang dia khawatirkan selama ini?
Begitulah. Tidak sedikit orang yang menganggap ilmu yang dia miliki adalah ilmu sulit, sehingga sulit pula diajarkan kepada orang lain. Hanya orang hebat macam dia yang bisa menguasainya. Padahal itu hal sederhana yang bisa diajarkan secara sederhana.

Bahkan banyak hal yang sebenarnya sulit, bisa diajarkan secara sederhana kalau yang mengajarkan adalah orang yang benar-benar mahir. Orang sering membuat sulit sesuatu agar tampak hebat.
Anda mau hebat? Ajarkan sesuatu secara mudah. Teach it easy!

Ketika Anak Melawan Kita ..


 
Jangan membentak anak agar mendapat perhatiannya

Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Banyak orangtua mengeluh soal anak yang tidak patuh, bahkan melawan kepada orangtua. Masalahnya, keluhan jarang menyentuh pada detil substansi masalah.

Para orangtua umumnya hanya melihat masalahnya dari satu sisi, yaitu anak tidak patuh. Kenapa anak tidak patuh, dalam hal apa anak tidak patuh, adalah bagian yang sangat jarang dieksplorasi.

Anak-anak yang patuh adalah harapan orang tua. Sebab utamanya adalah hal itu membuat nyaman. Orangtua cukup mengatakan satu hal sekali, anak menurut. Tidak diperlukan banyak energi untuk melaksanakan sesuatu.

Tapi ingat, ada sisi lain. Anak adalah suatu individu juga, yang secara alami memiliki kehendak dan inisiatif sendiri. Bila anak hanya patuh saja, boleh jadi ia akan tumbuh jadi anak yang tak punya inisiatif dan kemauan.

Peran orangtua dalam pendidikan anak persis sama seperti saat ia mengajari anaknya naik sepeda. Di saat awal, orangtua harus memegangi sepeda anaknya, agar ia tak jatuh. Tapi pada saat yang sama, orangtua harus mendorong inisiatif dan keberanian anak.

Bahkan, anak harus didorong untuk mengambil risiko, mencoba sendiri, meski akibatnya ia jatuh dan terluka. Yang terpenting adalah, pada akhirnya anak harus dilepas untuk mengayuh sepedanya sendiri, menentukan arah jalannya.

Banyak orangtua yang gagal memahami soal yang paling fundamental dalam pendidikan anak itu. Mereka bersikap seperti komandan yang ingin semua perintahnya dipatuhi.

Bahkan saat anak memilih jodoh, sebuah pilihan yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa, orangtua masih ingin bertengger di pundak anaknya, memegang kendali. Orangtua seperti inilah yang banyak mengeluh soal anak yang tak patuh.

Bagi saya, anak tak perlu patuh pada orang tua. Orang tua itu bukan Tuhan, juga bukan nabi. Mereka manusia juga, persis seperti anaknya. Tak patut ada manusia mematuhi manusia lain.

Yang patut kita patuhi adalah nilai-nilai yang mengatur tata cara hidup kita. Nilai itu berupa nilai agama, aturan hukum, tata krama sosial, dan nalar.

Orangtua terikat dan wajib mematuhi nilai-nilai itu. Mendidik anak pada dasarnya adalah mengajak anak untuk patuh pada nilai itu. Ketika anak patuh pada orangtua, pada dasarnya itu adalah bagian dari kepatuhan pada nilai-nilai tadi.

Konsekuensi dari prinsip ini adalah, fondasi dari hubungan antara orangtua dan anak adalah nilai. Bila orangtua menyuruh anak dalam koridor yang dibenarkan oleh nilai, maka anak wajib patuh. Bila tidak, maka tidak perlu patuh.

Orang tua yang memaksakan kepatuhan tidak berbasis nilai, adalah orang tua yang zalim.
Orang tua sering mengeluh, anaknya suka menjawab. Lagi-lagi keluhannya tidak menyentuh substansi. Anak yang menjawab atau ngeyel tidak otomatis buruk.

Kemampuan untuk menjawab atau berargumentasi adalah kemampuan yang sangat penting bagi seorang manusia dewasa. Anak justru harus kita latih untuk punya kemampuan itu. Jadi, jangan bungkam anak yang suka menjawab.

Coba telusuri, apa duduk masalahnya. Kenapa anak menjawab? Apa isi jawabannya? Biarkan anak kita mengeluarkan pendapatnya. Latih dia untuk menjabarkan pendapatnya dengan cara yang mudah dipahami orang. Latih dia untuk berargumen dengan benar. Luruskan bila argumennya salah.

Tapi semua itu punya konsekuensi, bahwa kita harus adil. Kita bukan penguasa di hadapan anak. Kita dan anak adalah dua pihak yang tunduk pada nilai. Kalau anak benar berdasarkan nilai, maka kita harus menerima.

Masalahnya, kita para orangtua sering berdiri di depan anak dengan ego yang tinggi. Jawaban anak terhadap kita sering kita terima sebagai serangan terhadap ego kita. Dalam hal ini, kita bediri pada posisi kanak-kanak, bukan orang dewasa yang mendidik.

Tentu saja, ada banyak kasus di mana anak melawan karena enggan diarahkan. Anak punya kehendak, dan tidak semua kehendak itu harus dituruti. Maka sekali lagi, penting bagi orangtua untuk menetapkan sejumlah aturan berbasis nilai.

Sejak kecil anak harus dibiasakan berkehendak dalam koridor aturan tersebut. Yang di luar itu, harus dikoreksi. Maka ketika anak melawan dalam konteks di luar koridor tadi, anak harus diluruskan.
Yang tak kalah penting adalah kendali emosi. Orangtua cenderung menjadi emosional secara tak terkendali saat anak melawan.

Alih-alih melaksanakan tugas sebagai pengarah sehingga anak bisa berargumentasi, orangtua sering terjebak menjadi lawan anak bertengkar. Hasilnya adalah konflik yang melukai kedua pihak.
Untuk mengindarinya, maka orangtua mutlak harus mengendalikan emosinya.

Kisah Mahasiswa Indonesia Hidup sebagai Muslim di Edinburgh ..


 
Dokumen Pribadi Syafira Fitri Auliya, mahasiswa Indonesia di University of Edinburgh

Di tengah wabah islamophobia, hidup sebagai mahasiswa muslim di barat menjadi penuh tantangan. Hijab saja bisa memicu anggapan teroris atau ekstremis.

Namun di Inggris, atribut agama ternyata tidak menjadi isu. Syafira Fitri Auliya, mahasiswa muslim Indonesia di University of Edinburgh, menuturkan pengalamannya.

"Waktu awal datang, saya takut mendapat perlakuan kurang menyenangkan karena identitas agama. Tapi ternyata pas di sini ada kejadian yang memorable dalam artian baik," ungkapnya.

Salah satu yang paling diingat adalah saat pertama kali berjalan di Edinburgh dengan jilbab lebar dan rok longgar.

"Di jalan memang ada yang ngeliatin, tapi teman-teman sekelas justru senang melihat penampilan itu dan memuji-muji," katanya saat ditemui Kompas.com dalam media trip ke Inggris, November lalu.

Lalu saat bercerita tentang pengalaman teman sekelas mendapat perlakuan kurang menyenangkan karena memang jilbab saat berjalan-jalan ke wilayah sub-urban Edinburgh.

"Teman-teman sekelas langsung memeluk saya dan mengatakan, 'don't worry, we are supporting you' dengan nada sungguh-sungguh," jelasnya.

Terakhir, kekhawatiran ia ungkapkan lewat pesan singkat pasca penembakan Duta Besar Rusia untuk Turki dan aksi penembakan di Berlin Desember lalu.

"Aku pas banget lagi jalan-jalan di London naik bus sendirian. Aku udah khawatir banget bakal ada action islamophobia, tetapi ternyata orang-orang terlihat lebih simpatik," urainya.

Baru beberaopa bulan di Inggris, Syafira menyadari bahwa menjadi muslim bukan masalah besar. Warga Inggris, khususnya Edinburgh, bisa menghargai perbedaan budaya.

"Di kelas ada yang pernah deklarasi atheis dan menjelaskan argumennya. Aku juga memberi argumen berdasarkan kepercayaanku. Walau beda argumen, akhirnya kita sama-sama tahu itu kepercayaan masing-masing," jelasnya.

Belajar dari Muslim Inggris

Wahyu Setianto, mahasiswa muslim Indonesia lain di University of Edinburgh mengungkapkan, Inggris justru bisa memberi pelajaran bagi muslim Indonesia.

"Di sini jauh lebih toleran," kata Wahyu. Saat perayaan Natal misalnya, umat Islam setempat ikut hadir dalam makan malam lintas iman yang biasa diadakan di Chaplaincy.

Toleransi juga diwujudkan lewat volume pengeras suara masjid. Di Edinburgh, suara azan tidak terdengar hingga ke luar area masjid.

"Masjid di Edinburgh juga membuka diri bagi siapa pun yang ingin tahu untuk kenal lebih dekat. Di Indonesia mungkin orang yang dianggap kafir enggak boleh masuk. Tapi bukan itu yang dipahami di sini," urainya.

Wahyu mengatakan, muslim Indonesia bisa meniru apa yang dilakukan muslim Inggris untuk membangun wajah Islam yang lebih toleran.

Masjid-masjid besar bisa memulai membuka diri bagi umat lain, bukan sebagai tempat wisata macam di Masjid Kotagede Yogyakarta dan Demak, tetapi sebagai tempat mengenalkan Islam.

"Di sini, kunjungan berlangsung rutin. Kadang dari anak sekolah dari TK sampai remaja, kadang juga dari kalangan universitas. Imamnya sendiri yang memandu, menjelaskan makna simbolis, ritual ibadah," ungkapnya.

Edinburgh sendiri juga bisa menjadi kota tujuan untuk mengkaji islam secara kritis. University of Edinburgh menawarkan program Islamic Studies.

"Kita mempelajari islam dari kacamata linguistik, bahasa," kata Andrew Marsham, Kepala Departemen Islamic and Middle East Studies di universitas itu.

"Dengan mengkaji Islam dari kacamata linguistik dan berada di kota yang berpenduduk mayoritas non muslim seperti Edinburgh, kita bisa belajar Islam dengan lebih kritis," ungkapnya.

Ini yang Wajib Anda Tahu jika Bercita-Cita Kuliah ke Amerika Serikat!


 
Patung Liberty di New York

Pelajar Indonesia harus bersaing ketat bila ingin melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat (AS). Sudah begitu, urusan biaya juga harus ada strategi mulai jauh-jauh hari, yang perlu dipersiapkan sejak berencana belajar ke sana.

Institute of International Education AS mencatat, 7.920 pelajar Indonesia melanjutkan  pendidikan tinggi di negara itu pada tahun ajaran 2013/2014. Angka ini naik menjadi menjadi 8.188 pada tahun ajaran berikutnya, apalagi menurut Times Higher Education World University 2016, tujuh dari sepuluh perguruan tinggi terbaik dunia ada di AS.

Meski jumlah tersebut terlihat besar, proses seleksi untuk bisa belajar ke AS sebenarnya sangat ketat. Secara nasional, persentase jumlah pelajar internasional di AS pada 2015 hanya lima persen.

Mayoritas perguruan tinggi di AS memang membatasi populasi pelajar internasional tak lebih dari 10 persen. Para pelajar itu pun harus bersaing dengan peminat dari banyak negara, untuk kursi yang terbatas itu. Dari 300 pelamar dari Indonesia, misalnya, kemungkinan hanya dua orang sampai tiga orang saja yang diterima universitas di AS.

Tak hanya persaingan, para calon mahasiswa internasional juga harus mempersiapkan biaya lebih mahal untuk belajar di AS dibandingkan negara-negara lain di kawasan Eropa, Australia, atau Asia.

Pada tahun ajaran 2014/2015 saja, biaya kuliah di AS rata-rata mencapai 42.419 dollar AS per tahun atau setara sekitar Rp 563 juta memakai kurs saat ini. Nominal itu belum termasuk biaya kebutuhan pangan, tempat tinggal, dan transportasi sehari-hari.

Namun, jangan berkecil hati. Ada banyak jalan menuju AS. Persiapan dengan modal kerja keras dan kemauan tinggi, bisa menjadi penentu lolos melanjutkan sekolah ke sana. Biaya pun bisa ditekan seminimal mungkin dengan jurus yang sama.
THINKSTOCKPHOTOS Rencana Pendidikan perlu dirancang matang, apalagi jika Anda berniat melanjutkan studi ke AS. Kalau tidak, biaya kuliah bisa melambung tinggi.

Hemat dan pangkas waktu
Perguruan tinggi di AS menerapkan sistem kredit atau Satuan Kredit Semester (SKS) yang bersifat fleksibel atau istilahnya bisa "ditransfer" ke institusi pendidikan lain. Pada awal perkuliahan biasanya mahasiswa disuguhkan mata kuliah umum terlebih dulu.

Nah, mata kuliah tersebut sebenarnya bisa "dicicil" di community college selama dua tahun sebelum melanjutkan ke universitas yang dipilih. Cara ini bisa menghemat dana karena biaya kuliah di community college tak semahal perguruan tinggi.

Contohnya, menamatkan program S-1 biasanya butuh 120 sampai 128 SKS dan sekitar 60 SKS bisa diambil di community college. Setelah 60 SKS terkumpul, mahasiswa akan mendapatkan gelar Associate Degree dan bisa melanjutkan studi ke universitas di AS selama dua tahun untuk meraih gelar sarjana (S-1).

Sebagai gambaran, menyelesaikan 24 SKS di perguruan tinggi rata-rata memakan biaya hingga 16.500 dollar AS. Jumlah SKS yang sama jika ditempuh di community college hanya butuh dana sekitar 6.000 dollar AS. Karena itulah, strategi di atas cukup umum dilakukan di AS. Data American Association of Community College pada 2012 menunjukkan, hampir setengah dari 12,4 juta mahasiswa yang terdaftar di 1.167 community college melanjutkan ke jenjang S-1 di perguruan tinggi AS.

Selain menghemat uang, memulai kuliah dari community college juga memangkas waktu studi. Salah satu program di Sampoerna Academy yang merupakan bagian dari Sampoerna Schools System di Indonesia, misalnya.

Para siswa Sampoerna Academy yang telah menyelesaikan kelas X bisa mendaftar ke community college asal AS, yaitu Lone Star dan Broward college. Tapi, tenang saja, perkuliahan tetap dilakukan di Indonesia di bawah pengawasan dua community college tersebut. Jelas, biaya kuliah pun jadi lebih hemat.

The World Its Mine