Kamis, 30 Juni 2016

Tips Atasi Mabuk Perjalanan dan Diare pada Anak Saat Mudik ..


Perjalanan Mudik yang seharusnya menyenangkan bisa terasa menyiksa pada anak jika sampai mereka menderita mabuk perjalanan atau diare, dua penyakit yang umum diderita anak saat perjalanan jauh.

Mabuk perjalanan menjadi penyakit yang sering dialami anak. Penyakit ini disebabkan oleh konflik antara mata dan telinga. Telinga bagian dalam mendeteksi gerakan namun mata tidak mendeteksi hal tersebut.

Sinyal-sinyal yang bercampur masuk ke otak akan mengakibatkan mual, pusing, muntah, puncat dan keringat dingin. Kondisi ini bisa saja terjadi pada perjalanan darat, udara hingga laut. Jika anak memang mudah mabuk, ada baiknya ia mengonsumsi makanan dengan karbohidrat kompleks. Orangtua juga harus menghindari makanan berlemak.

Ada baiknya anak mengonsumsi makanan dalam porsi sedikit namun berkali-kali dan tetap bergizi. Dorong anak untuk melihat ke luar mobil dan mendapatkan udara segar. Sesekali orangtua harus membuka jendela mobil untuk mendapatkan udara segar.

Gunakan bantal agar menimalkan gerakan kepala. Jika perjalanan sangat jauh ada baiknya sering berhenti. Berjalan kaki sebentar akan membantu mengurangi rasa mabuk perjalanan pada anak.

Selain mabuk perjalanan, masalah pencernaan seperti diare menjadi penyakit langganan anak saat mudik. Bakteri dan kuman sangat mudah masuk ke dalam saluran pencernaan mengingat saat Mudik anak cenderung makan sembarangan.

Cara paling mudah untuk mencegah terjadinya masalah pencernaan adalah hanya mengonsumsi air putih saja. Gunakan air putih untuk aktivitas selama Mudik seperti menyikat gigi dan mencampur makanan bayi. Orangtua tidak mengetahui kualitas air yang ditemukan di jalan.

Saat anak diare, orangtua harus memastikan si kecil tetap dehidrasi. Air minum dan ASI bagi bayi harus terus anak konsumsi. Siapkan tisu basah atau hand sanitizer untuk memastikan tangan tetap bersih saat makan.

Buah dan sayuran yang orangtua bawa dari rumah juga perlu dimasak dengan matang atau dicuci dengan baik. Ada baiknya membawa bekal lauk pauk dari rumah seperti daging dan ikan. Pastikan alat makan hingga makanan yang dimakan tetap bersih.

Mengatasi penyakit langganan anak saat Mudik harus dimulai dari persiapan yang matang. Pastikan orangtua mengetahui alergi dan membawa obat-obatan yang memang ia miliki.
Orangtua juga perlu membawa atau mencatat riwayat kesehatan anak seperti imunisasi yang ia terima atau kondisi-kondisi tertentu seperti alergi. Hal ini akan membantu dokter setempat mengetahui obat dan penanganan yang coock untuk si kecil.

Belajar dari Genosida Muslim Bosnia (Refleksi terhadap Toleransi Beragama) ..

Ilham Tirta
Oleh: Ilham Tirta (Wartawan Republika Online)

Pada abad ke-13, Bosnia adalah negara dengan mayoritas Muslim. Mereka hidup damai dengan kaum minoritas. Pada masa itu, setidaknya ada 45 persen dari 4,7 juta warga Bosnia memeluk agama Islam. Sisanya adalah Kristen Ortodoks, Katolik, Protestan, dan lainnya. Arus modernisasi membuat penduduk Bosnia mengikuti gaya Eropa pada umumnya. Identitas agama tidak lagi terlihat mencolok. Semua hidup berdampingan dengan damai dalam bingkai kerukunana antarumat beragama.

Kehidupan Muslim dengan nilai-nilai Islam-nya lambat laun pudar di negeri Balkan. Diskotek dan bar muncul di setiap sudut kota. Tak ada lagi jarak antara Muslim dan non-Muslim. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, hingga merayakan hari-hari besar keagamaan. Semuanya membaur atas nama besar toleransi.

Dalam Diary yang ditulis Zlatan Filipovic -- seorang gadis Muslim yang terlahir dalam keluarga terhormat di Sarajevo yang menjadi ibu kota Bosnia -- diceritakan bagaimana sekulernya warga Muslim sebelum 1992. Pada masa itu, tak ada lagi wanita muslim yang memakai kerudung. Kaum lelaki juga hampir sama dengan para lelaki non-Muslim lainnya.

Ketika hari raya agama, seperti natal dan lebaran Muslim, hampir seluruh warga Bosnia merayakannya. Tak peduli dia Muslim atau bukan. Anak-anak Bosnia juga terbiasa dengan tradisi barat, seperti valentine, april mop, tahun baru, halloween, dan sejenisnya. Sementara shalat tak lagi dilakukan.

Muslim Bosnia -- seperti Muslim Indonesia yang hijrah dari kepercayaan awalnya Hindu, Budha, dan animisme -- berasal dari pengikut Bogomil, pewaris keturunan Heretis. Keyakinan ini lenyap setelah Islam dari Ottoman Turki masuk dan menawarkan persamaan derajat. Sementara Bosnia sendiri beridentitas sebagai penduduk mayoritas Muslim, pascaterpecahnya negara federal Yugoslavia (Slovenia, Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Montenegro, dan Makedonia) pada 1990.

Di tengah keterlenaan mendalam umat Muslim Bosnia terhadap gaya hidup sekulerisme dan toleransi agama yang berlebihan, bangsa Serbia yang mayoritas memeluk Kristen Ortodoks menyimpan api dalam sekam. Dengan dalih penyatuan kembali Yugoslavia dalam Republik Srpska, Serbia melakukan pembantaian terhadap Bosnia dan atau pemeluk Islam.

Sejarah mencatat aksi Serbia kepada umat Muslim Bosnia itu sebagai genosida terbesar pada masa modern. Pembunuhan dilakukan secara sistematis. Tujuannya menghapus sebuah bangsa dan etnis. Sekuler dan bergaya non-Muslim tak menyelamatkan Muslim Bosnia. Mereka dilenyapkan dan dibantai karena menyandang identitas agama Islam.

Di atas kertas, Komisi Federal Bosnia untuk Orang Hilang mencatat ada 8.373 lelaki dan remaja Muslim Bosnia yang dibunuh dan terbuang dalam ratusan kuburan massal. Pada Juli 2012, 6.838 nama korban teridentifikasi dari galian kuburan massal.

Zlatan Filipovic, gadis 13 tahun (saat mulai peperangan) yang selamat dari pembantaian yang berlangsung hingga 1995 tersebut menulis kesaksiannya. Muslim Bosnia yang tadinya tidak begitu memperdulikan nilai-nilai Islam terhenyak kaget mendapat serangan yang dimulai pada April 1992.
Teman, saudara, dan anggota keluarga yang beragama lain yang tadinya akrab, natalan bersama, dan merayakan valentine bersama, kini meninggalkan mereka. Bahkan berbalik menyerang dan membunuh mereka bersama tentara Serbia.

Di tengah-tengah puing bangunan yang hancur, terdengar desingan peluru yang menggema, ledakan mortir, dan tangis pilu wanita Muslim korban pemerkosaan. Dalam kegetiran, Muslim Bosnia mulai sadar dan kembali kepada identitas keislaman mereka.

Kesadaran muncul. Kaum perempuan kembali menggunakan kerudung, para lelaki sambil menenteng senjata untuk bertahan mulai kembali melakukan shalat. Adzan mulai bergema di sela-sela gedung yang roboh. Kitab suci Alquran yang telah lama tersimpan di lemari-lemari dibuka kembali. Namun mereka terlambat. Mereka sedang diburu peluru dan ujung belati yang haus darah Muslim.

Gempuran yang terjadi membuat umat Muslim Bosnia harus mengungsi ke kamp-kamp pengungsian. Srebrenica menjadi salah satu kamp terbesar. PBB menyatakan Srebrenica sebagai zona aman bagi pengungsi. Namun hanya dijaga oleh 400 penjaga perdamaian dari Negeri Belanda, versi lain bahkan menyatakan hanya 100 personel. Tidak ada yang menjamin nyawa Muslim yang mengungsi aman.

Medan pembantaian terbesar umat Muslim abad modern ini bahkan membuat Indonesia terhenyak. Pada awal Maret 1995, Presiden Soeharto dan rombongan terbang langsung ke Eropa dan merangsek ke wilayah yang membara, Sarajevo. Memimpin negara Muslim terbesar menjadikan Soeharto melakukan operasi 'berani mati' walau PBB menyatakan tak bisa menjamin keamanan kunjungannya.

Pada 6 Juli 1995, pasukan Serbia mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica dan berhasil memasuki Srebrenica lima hari setelahnya. Anak-anak, wanita, dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencari perlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai memisahkan laki-laki berumur 12-77 tahun. Mereka dibawa dengan dalih untuk interogasi. Sehari setelah itu, pembantaian terjadi di gudang dekat desa Kravica.

Malang tak terbendung. Kabar yang berhembus menyebut, 5.000 Muslim Bosnia yang berlindung diserahkan kepada pasukan Serbia karena Belanda meninggalkan Srebrenica. Muslim Bosnia pun sendirian di antara negara-negara Eropa yang hebat.

Dalam waktu lima hari, 8.000 orang terbunuh di Srebrenica. NATO turun tangan setelah pembantaian, memaksakan perdamaian yang sangat terlambat. Di Sarajevo, 11 ribu orang dibantai tanpa ampun selama tiga tahun penyerangan. Diperkirakan, keseluruhan korban perang Bosnia mencapai 100 ribu orang.

Sesuai dengan Kesepakatan Dayton tahun 1995, keutuhan wilayah Bosnia dan Herzegovina ditegakkan. Namun negara tersebut dibagi dalam dua bagian: 51 persen wilayah gabungan Muslim-Kroasia (Bosnia dan Herzegovina) dan 49 persen Serbia. PBB juga berjanji mengadili para penjahat perang dalam serangan yang kemudian disebut genosida pertama di dunia.

Mantan Presiden Republik Srpska (Serbia), Radovan Karadzic, ditangkap pada 21 Juli 2008. Tiga bulan lalu, 23 Maret 2016, Karadzic diganjar 40 tahun penjara oleh International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY). Dia terbukti bersalah atas pembantaian 8.000 Muslim Bosnia.

"Karadzic juga melakukan kejahatan kemanusiaan lain selama Perang Bosnia 1992-1995,'' demikian bunyi amar putusan ICTY. Sementara, pemimpin serangan Srebrenica, Jenderal Ratko Mladic ditangkap pada Mei 2011. Kini dia sedang diadili di Mahkamah Internasional.

Pembantaian Muslim Bosnia dengan dalih penyatuan negara menjadi pelajaran bagi Umat Islam di luar semenanjung Arab, khususnya Indonesia. Cerita pilu yang mendera Bosnia sepatutnya mengingatkan Indoensia agar tidak terlena dalam penghambaan pada sekulerisme. Sebab, sekulerisme dalam banyak wajah. Salah satunya adalah untuk menghilangkan warna, pengaruh, dominasi, dan hak-hak yang mayoritas.

Ketika Muslim mayoritas lemah karena krisis identitas, akan sangat mudah dipecah dan diadudomba. Di Indonesia sendiri, upaya agar Muslim meninggalkan identitas agama dalam kehidupan berbangsa dan negara telah ada sejak dulu.

Belakangan, gerakan itu mulai tampak di permukaan dengan sangat massif dan sistematis, bahkan oleh lembaga legal sekali pun. Karena itu, jangan heran jika ada Muslim yang sangat ngotot menghina agamanya demi membela kebebasan versinya.

Jangan heran, jika ada Muslim yang ikut menghina ulamanya hanya karena ulama tersebut tak sepaham dengannya. Tidak heran jika banyak Muslim tak suka dengan tulisan-tulisan yang membahas penolakan Islam terhadap sekulerisme. Inilah yang terjadi di Indonesia masa kini, negara yang masih dihuni oleh mayoritas umat Muslim.

Sementara, tidak ada yang salah dalam toleransi, sepanjang yang diberi toleransi tidak berlebihan, apalagi sampai menindas yang memberi toleransi. Di al-Ludd (kini Tel Aviv), Palestina pada 1903, beberapa Yahudi datang menawarkan persaudaraan dan hidup damai dengan warga Arab dan Palestina.

Namun, hari-hari setelah deklarasi berdirinya Negara Israel pada 1948 oleh Eropa, warga Yahudi berubah menjadi buas bersama kedatangan para tentara Israel. Juli 1948, warga Arab Palestina dibantai, termasuk ribuan orang yang dimasukkan dalam Masjid, kemudian diberondong dengan peluru anti tank.

Malamnya, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran mereka, yang kemudian menjadi pusat pembantaian berikutnya: Tel Aviv. Hari berganti, warga Yahudi datang dengan gelombang eksodus setiap saat. Jadilah Palestina yang terjajah hingga saat ini. Sederhana, tapi sangat ekstrem dan kejam.

Dunia juga mencatat, betapa kejam perlakuan kepada pemeluk Islam yang menjadi minoritas. Hanya PBB dan bantahan dari Myanmar sendiri yang menyatakan pembunuhan terhadap Muslim Rohingya bukan sebuah genosida. Jauh dari itu, kenyataan menceritakan bagaimana genosida dilakukan dengan cara brutal dan terbuka oleh Budha Myanmar kepada Rohingya yang tak berdaya.

Belajar dari Muslim Bosnia yang mayoritas, saat ini mereka menjadi lebih agamis. Di tengah toleransi, perbedaan, dan kerukunan antarumat beragama, mereka tetap memperhatikan nilai-nilai Islam sebagai identitasnya. Kenyataan pahit 1992-1995 telah mengajarkan kepada mereka bagaimana dunia berdetak, bahwa keburukan hanya beberapa helai dibalik kebaikan.

Kini Muslim Bosnia tak lagi merayakan tahun baru. Mereka lebih banyak menjaga diri dari melecehkan akidah Islam. Meski begitu, Bosnia tetap menjadi satu-satunya tempat di Eropa, di mana terdapat Gereja, Masjid, dan Sinagoga yang berdiri berdampingan.

Mungkin 1,8 juta Muslim Bosnia mulai sadar bahwa apa yang dikatakan menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib "Kejahatan yang terorganisir akan mampu mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir" benar adanya. Wallahualam. 

Pribadi Pemaaf ..

Pemaafan (ilustrasi).
Oleh: Nurul Lathiffah

Energi kemarahan ibarat api yang bisa menyulut api permusuhan. Tak hanya itu, kemarahan yang bersumber dari perdebatan juga dapat merusak jalinan silaturahim.
Tak jarang, setelah seseorang mengekspresikan kemarahan, maka kesadaran pun datang. Dan, banyak yang menyesali kemarahan setelah tahu bahwa dampak dari kemarahan begitu fatal.

Marah bukanlah sikap yang dapat menyelesaikan masalah. Bahkan bisa jadi, amarah justru akan membuat permasalahan bertambah rumit.
Menjadi pribadi yang mudah menahan marah dan memaafkan kesalahan orang lain sangat tidak mudah. Namun, justru hal itu merupakan buah dari keimanan dan ketaqwaan yang sangat dicintai Allah SWT.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS ali Imran: 133-134).

Alquran secara tegas dan terang-terangan menjalin kriteria calon penghuni surga dengan mensyaratkan umat Islam untuk menahan amarah dan memaafkan. Ini merupakan penegas bahwa menahan amarah hanya dapat dilakukan apabila ada kesiapan hati untuk memaafkan.

Demikian juga sebaliknya, seseorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain akan menjadi penyebab dirinya tak mudah melampiaskan amarah. Pribadi yang menahan amarah dan memaafkan telah dijanjikan surga. Mereka tak hanya disukai oleh Allah SWT dan sesama manusia, namun juga malaikat-Nya.

Dalam sebuah kisah bersama Abu Bakar RA, Rasulullah SAW memberikan nasihat elegan dan pesan yang istimewa agar seseorang yang dicaci atau disakiti hatinya tak perlu membalas dengan perbuatan (kotor) yang sama. Bersikap diam, tenang, dan tidak membalas keburukan jauh lebih suci dibanding mengumbar kemarahan.

Suatu ketika, Abu Bakar duduk bersama Rasulullah SAW dan mendapat cacian dalam waktu yang lama. Setelah sekian lama mencaci dan tidak kunjung berhenti, Abu Bakar pun membalas caciannya. Rasulullah SAW marah, lalu berdiri.
Abu Bakar menyusulnya, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, dia mencaciku, padahal engkau duduk (bersamaku). Ketika aku membalas beberapa caciannya, engkau malah marah dan meninggalkanku.''

''Mendengar pertanyaan sahabatnya, Rasulullah SAW memberikan nasihat bahwa ketika Abu Bakar diam, maka ada malaikat yang telah membalaskan cacian untuknya. Sebaliknya, ketika cacian itu dibalas, maka datanglah setan.''

Kisah ini memberikan inspirasi berharga. Betapa menahan amarah akan mendatangkan kebaikan. Beriringan dengan itu, sikap memaafkan pun harus dibangun. Memang sulit. Tetapi, bukankah kita mendamba ampunan-Nya?

Semoga kita termasuk dalam kategori hamba yang mendapatkan ampunan dari Tuhan dan dijanjikan surga. Semoga puasa di bulan Ramadhan kali ini menjadi ajang penempaan diri untuk lebih pandai dalam menahan amarah dan memaafkan. Pada muaranya, ibadah kita akan disambut dengan ampunan dan ridha-Nya. Semoga.

Gerakan Empowering Indonesia Merambah ke Masjid ..

Gerakan Empowering Indonesia merambah ke masjid.

Program Nasional Empowering Indonesia mulai merambah ke masjid. Mohamad Soleh selaku penggagas program nasional tersebut bekerjasama dengan takmir masjid Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Dalam Negeri (BPSDM Kemendagri) melalui kegiatan Tausiah Ramadhan.

Tausyiah ini diharapkan bisa memberikan perspektif yang berbeda dan lebih aplikatif dari sekedar ceramah biasa yang monoton. Tausiyah yang diberikan pada hari Rabu (22/6) ba’da Zuhur diawali dengan latar belakang tujuan dari perayaan Idul Fitri adalah untuk saling memaafkan.

Soleh menyebut, terkadang kita mudah memaafkan orang lain, namun sulit untuk memaafkan diri sendiri. Penulis buku Smart Empowerment Technique (SET) ini mengajak jamaah untuk mempraktekan teknik Meditasi Dzikir.

Teknik Meditasi Dzikir merupakan suatu teknik yang mengarahkan peserta ke kondisi yang meditatif (yaitu pada gelombang otak alpha dan theta) lalu diminta berdzikir yang selaras dengan irama nafasnya sehingga menjadikan klien merasakan bahwa Allah itu dekat dan selalu berada dalam dirinya.

Kondisinya yang menjadikan seseorang mampu merefleksikan setiap kejadian dan permasalahan yang kita hadapi adalah semata-mata datang dari Allah dan demi kebaikan kita sendiri. Teknik ini lebih menitikberatkan pada hikmah yang terkandung di dalam dan makna di balik peristiwa yang terjadi. Rasa spiritualitas kita akan meningkat dan maksud tujuan penciptaan manusia untuk selalu beribadah kepada Allah juga akan semakin tinggi.

Soleh mengatakan teknik ini merupakan teknik yang menjadi senjata utama dalam upaya meningkatkan kemampuan kendali diri dalam upaya optimalisasi potensi fitrah yang mulai redup (atau tertutupi dosa-dosa dan bisikan setan).

Efektifitas teknik ini sesuai dengan pernyataan para pelaku meditasi yang mengatakan bahwa dalam meditasi terdapat perasaan nyaman dan seolah-olah menemukan kembali suatu hal yang sangat berharga yang telah sempat hilang. Bahkan Lawrence Lesham (dalam Abu Sangkan, 2005, hal. 34) mengatakan, bahwa bermeditasi bisa membantu untuk menemukan/merebut kembali sesuatu dari kita yang secara sama-samar dan tanpa sadar pernah menjadi milik kita, hilang tanpa mengetahui apakah itu, dimana atau kapan kita kehilangan hal tersebut.

Hal ini juga dikuatkan oleh penelitian yang diterbitkan di Konas II Psikologi yang menyimpulkan bahwa Meditasi mindfulness yang dijalani memberikan jalan untuk tidak melekatkan pikiran melalui pengamatan terhadap pikiran yang terus mengalir, memfokuskan pada kualitas nafas serta menerima diri seutuhnya.  

Para jamaah masjid tersebut diarahkan untuk praktek dengan mengikuti langkah Langkah Teknik Meditasi Dzikir sebagai berikut: Jamaah memintauntuk mengambil posisi yang nyaman baik duduk atau berbaring (disarankan untuk duduk bersila menghadap kiblat). Jamaah lalu diminta untuk melakukan relaksasi dengan cara menarik napas dan menghembuskan secara perlahan-lahan sehingga jantungnya menjadi lebih stabil, gelombang otaknya menjadi lebih rileks (kondisi alpha & Theta).

Selanjutnya para jamaah diminta fokus pada keberadaan klien; kemudian dimulailah untuk memusatkan pikiran dengan mengucapkan kalimat-kalimat dzikir. Soleh membimbing jamaah agar setiap tarikan dan helaan nafas merupakan ucapan dzikir sehingga tiap darah yang mengalir merupakan resonansi dari ucapan dzikir juga.

Setelah praktek, ada jamaah yang berkomentar bahwa beliau merasa lebih lega karena merasa berkurang beban masalah hidupnya, merasa lebih dekat kepada Allah SWT. Pengurus takmir masjid juga memberikan kesimpulan bahwa teknik Mediatasi Dzikir ini membantu percepatan proses Tafakur.

Agar lebih efektif dan powerfull lagi, teknik ini sebenarnya mensyaratkan peserta untuk memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi (khusyu’), maka bagi peserta yang belum memilikinya diharapkan untuk melatih terlebih dahulu teknik berfokus, teknik mendisiplinkan perhatian, teknik mencari jeda dan teknik merasakan yang biasanya diberikan dalam training SET.

Ini Arti 1 Detik di Dunia Internet ..

Anak dan internet
Internet adalah sebuah tempat yang sangat sibuk. Tapi, sesibuk apakah internet itu?
Dalam satu detik ada lebih dari 2.000 panggilan melalui Skype dan lebih dari 700 gambar akan diposting di Instagram.

Eric Brantner melaporkan untuk Motherboard, saat ini ada 3,4 miliar orang yang terhubung secara online. Jumlah ini merupakan 46,1 persen dari populasi dunia. Setiap detik setidaknya ada 35,950 Gb data berpindah. Kapasitas ini setara 5.800 kali salinan film HD dari Lord of The Rings: Fellowship of the Ring. Jika Anda pernah menonton film ini, ini adalah bukan sebuah film yang pendek.

Kapasitas data yang begitu besar ini terkumpul dari berbagai website. Setiap detik ada 54.907 pencarian melalui Google, ada 7.252 kicauan di Twitter dan ada 125.406 video yang ditonton melalui Youtube. Dalam satu detik, ada 2,5 juta email terkirim. Angka-angka ini diprediksi akan terus meningkat karena semakin banyak orang yang terhubung online.

Unicef: Lindungi Anak dari Dampak Negatif Internet ..

Sejumlah anak bermain game online jenis Point Blank di sebuah warung internet Kawasan tebet, Jakarta Selatan, Ahad (24/4). (Republika/Raisan Al Farisi)
Orang tua dan berbagai pemangku kepentingan lainnya harus bekerja sama dalam melindungi anak dari risiko negatif internet yang bisa menimbulkan berbagai macam bahaya. Demikian kata Pakar Perlindungan Anak UNICEF Asia Timur-Pasifik, Afrooz Kaviani Johnson.

"Melalui internet dan teknologi digital, anak-anak bisa terekspos pada bentuk risiko yang berbeda-beda dan bentuk bahaya yang baru," kata Afrooz dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan bahwa internet dapat membawa banyak hal positif dan keuntungan besar apabila dimanfaatkan dengan benar, sebaliknya internet juga akan berimplikasi pada keamanan anak apabila dimanfaatkan tanpa aturan dan panduan.

Afrooz menekankan bahwa anak-anak tidak bisa disalahkan dalam menggunakan internet yang bisa menyebabkan berbagai macam hal negatif, melainkan peran orang-orang di sekitarnya yang perlu lebih dominan dalam memandu dan menjaga anak memanfaatkan teknologi.

"Anak-anak tidak menerima panduan dan pendidikan mengenai keamanan internet, kesehatan seksualitas, dan perkembangan yang sesuai usia," ujar dia. Menurut dia, hal-hal tersebut perlu diberikan kepada anak-anak dari semua pihak mulai orang tua, guru, serta pemerintah.

Dia juga menjelaskan bahaya negatif internet tidak hanya merugikan anak-anak yang menggunakan internet secara langsung. Anak-anak yang bukan pengguna internet pun bisa dirugikan oleh individu dan jaringan yang menyalahgunakan perkembangan teknologi untuk membahayakan anak-anak.

"Seorang anak yang mungkin mengalami pelecehan seksual di rumah atau dalam komunitas dan kemudian gambar atau video dari pelecehan itu disebarkan secara daring. Ini tidak melibatkan anak tersebut sebagai pengguna teknologi, sebaliknya pelaku menyalagunakan teknologi," papar Afrooz.

Dia juga menjelaskan kecenderungan pelaku kekerasan terhadan anak menyasar negara-negara di mana kerangka hukum perlindungan anak belum ada atau terdapat kapasitas terbatas untuk menegakkannya dan kemungkinan pendeteksian rendah. Oleh sebab itulah dia menyebut tugas perlindungan terhadap anak bukan hanya peran orang tua atau orang terdekatnya semata melainkan juga semua pihak.

Lindungi Privasi, Pengguna Internet Sering Gunakan Cara yang Salah ..


Internet

Untuk melindungi privasi, pengguna internet yang paranoid menggunakan banyak cara untuk menyimpan data-data pribadi mereka dari pihak tidak bertanggungjawab yang  berkeliaran di dunia online, termasuk dengan cara menyembunyikan komputer mereka.

Namun beberapa hasil penelitian dari Kaspersky Lab, dalam siaran pers yang diterima baru-baru ini menunjukkan bahwa tidak cukup pengguna sekedar menyadari risiko yang ada, apalagi dengan menggunakan cara-cara yang salah untuk tetap aman ketika online.

Penelitian menunjukkan pengguna internet beralih ke sejumlah cara yang berbeda untuk menjaga privasi mereka aman. Satu dari lima pengguna (20 persen) mengaku bahwa mereka menutupi webcam mereka, dalam upaya untuk melindungi privasi mereka.

Lebih dari seperempat pengguna internet (28 persen) menyimpan data sensitif mereka pada perangkat yang tidak memiliki akses internet, sebuah pemikiran yang keliru apabila hal ini akan menjamin perlindungan terhadap data-data mereka.

Namun, meskipun teori ini didasarkan pada logika, dan sangat penting untuk juga mengamankan cadangan data dari efek serangan ransomware, bahkan tanpa koneksi internet sekalipun sangat mungkin bagi perangkat untuk terinfeksi ketika terhubung dengan smartphone atau USB stick.

Lebih lanjut, 18 persen dari pengguna internet yang disurvei mengakui bahwa mereka mencoba untuk menghindari menggunakan situs-situs populer seperti Google dan Facebook karena informasi pribadi yang dikumpulkan oleh situs tersebut.

Selain itu, 8 persen pengguna yang paranoid mengaku menyembunyikan komputer mereka dari orang lain, meskipun hal ini tidak akan membantu melindungi mereka dari ancaman internet.

Sebanyak 7 persen juga mengatakan mereka menyisihkan waktu untuk log in, kemudian menghapus data kartu kredit ketika melakukan transaksi secara online, sebagai upaya mereka untuk membingungkan virus, meskipun faktanya malware, terutama keyloggers, tidak dapat dibuat bingung dengan cara ini.

The World Its Mine