Jumat, 25 Juni 2010
Rabu, 23 Juni 2010
Check out Indowebster Stalingrad[1993] Dvdrip Xvid
I want you to take a look at: Indowebster Stalingrad[1993] Dvdrip Xvid
Selasa, 25 Mei 2010
AKU MENANGIS UNTUK ADIKKU 6 KALI
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dengan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku memilikinya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Ayah membuat aku dan adikku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Ayah bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Ayah mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya, sehingga Beliau terus menerus mencambukinya sampai kehabisan nafas. Sesudahnya, Ayah duduk di atas ranjang batu bata kami kemudian memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ...Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetespun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku yang tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah berlalu, tapi peristiwa tersebut masih seperti baru kemarin terjadi. Aku tidak pernah akan lupa raut adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, Aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, Aku telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti Ayah mesti mengemis di jalanan Ayah akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian Ayah mengetuk setiap rumah di dusun Kami untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu Aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapapun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi Aku pikir kamu juga harus memilikinya." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, Aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, Ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras membasahi wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Sering kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja, Aku akan menjaga Ibu dan Ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur di pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, ketika adikku bekerja diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau menerima tawaran kami sebelumnya?"
Dengan raut muka yang serius, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan Aku hampir tidak berpendidikan. Jika Aku menjadi manajer seperti itu, apa yang akan dikatakan orang?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa berpikir sedikitpun ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika Aku pergi sekolah, yang berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari Aku dan kakakku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Aku kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu sarung tangan saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, Aku bersumpah, selama Aku masih hidup, Aku akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Tepuk tangan membahana di ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Lidahku begitu kelu, begitu sulit berkata-kata, "Dalam hidupku, jika ada orang yang paling pantas aku berterima kasih selain kepada kedua orangtuaku, adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran membasahi wajahku seperti sungai.
Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"
Banyak hikmah dari cerita ini yang dapat dituangkan dalam kehidupan setiap orang.Bahwa bersatu untuk maju berdasarkan hati yang ikhlas dan suci pasti akan membuahkan hasil.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku memilikinya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Ayah membuat aku dan adikku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Ayah bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Ayah mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya, sehingga Beliau terus menerus mencambukinya sampai kehabisan nafas. Sesudahnya, Ayah duduk di atas ranjang batu bata kami kemudian memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ...Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetespun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."
Aku masih selalu membenci diriku yang tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah berlalu, tapi peristiwa tersebut masih seperti baru kemarin terjadi. Aku tidak pernah akan lupa raut adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.
Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, Aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, Aku telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti Ayah mesti mengemis di jalanan Ayah akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian Ayah mengetuk setiap rumah di dusun Kami untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang."
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu Aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapapun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu..."
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi Aku pikir kamu juga harus memilikinya." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, Aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, Ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras membasahi wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Sering kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja, Aku akan menjaga Ibu dan Ayah di sini."
Suamiku menjadi direktur di pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, ketika adikku bekerja diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau menerima tawaran kami sebelumnya?"
Dengan raut muka yang serius, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan Aku hampir tidak berpendidikan. Jika Aku menjadi manajer seperti itu, apa yang akan dikatakan orang?"
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"
"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa berpikir sedikitpun ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika Aku pergi sekolah, yang berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari Aku dan kakakku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Aku kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu sarung tangan saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, Aku bersumpah, selama Aku masih hidup, Aku akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Tepuk tangan membahana di ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Lidahku begitu kelu, begitu sulit berkata-kata, "Dalam hidupku, jika ada orang yang paling pantas aku berterima kasih selain kepada kedua orangtuaku, adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran membasahi wajahku seperti sungai.
Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"
Banyak hikmah dari cerita ini yang dapat dituangkan dalam kehidupan setiap orang.Bahwa bersatu untuk maju berdasarkan hati yang ikhlas dan suci pasti akan membuahkan hasil.
Selasa, 18 Mei 2010
Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Sing jauh tina maksiat anaking
Ngarah salamet akherat
Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Susah senang omat sholat anaking
Beunghar kade poho zakat
Jampe-jampe harupat
Pek dudunya satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek hirup saumur dunya
Jampe-jampe harupat
Prak ibadah satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek cacap engke sareupna
Dodoja datang tong kalut
Sanghareupan make imut
Ulah rek aral subaha anaking
Sing percaya ka nu kawasa
Maha welas maha asih
Moal aya pilih kasih
Sagala nu karandapan kuhidep
Tangtuna bongan sorangan
Ti bapa ieu pepeling
Ngarah hidep hirup salawasna eling
Heunteu berang heunteu peuting
Hidep kudu soleh satungtung nyaring
Geura gede geura lumpat
Sing jauh tina maksiat anaking
Ngarah salamet akherat
Jampe-jampe harupat
Geura gede geura lumpat
Susah senang omat sholat anaking
Beunghar kade poho zakat
Jampe-jampe harupat
Pek dudunya satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek hirup saumur dunya
Jampe-jampe harupat
Prak ibadah satakerna
Lir ibarat hidep di dunya
Rek cacap engke sareupna
Dodoja datang tong kalut
Sanghareupan make imut
Ulah rek aral subaha anaking
Sing percaya ka nu kawasa
Maha welas maha asih
Moal aya pilih kasih
Sagala nu karandapan kuhidep
Tangtuna bongan sorangan
Ti bapa ieu pepeling
Ngarah hidep hirup salawasna eling
Heunteu berang heunteu peuting
Hidep kudu soleh satungtung nyaring
Senin, 26 April 2010
Rupa-rupa Kabeurangan ..kabeurangan teh aya dua rupa: kabeurangan nu dihaja, kabeurangan rada dihaja, jeung kabeurangan nu teu dihaja. Baruk aya kabeurangan nu dihaja kitu? Seueur, kulan. Eta geuning sok loba PNS nu ngantorna sakainget. Kuduna ngantor jam tujuh, ku sabab asa digawe di kantor nini aki, der datang jam sapuluh. Mending mun digawena teh suhud, balik jam opat atawa jam lima. Ieu mah henteu. Jam satengah satu geus anggalesoh, bujurna ngadadak lenjong. Alesan itu ieu, leos we balik. Na ngaladangan naon atuh nya ari nu kitu? Eta ku geus teu asa jeung jiga tea meureun..
Anehna ari di kantor-kantor swasta gedean mah leuwih disiplin. Lain euweuh, ngan asana moal ngabudaya jiga di kantor-kantor pamarentah. Ieu teh taya sanes ku lantaran di swasta mah biasana jelas dina soal 'reward and punishment'. Bolos sakitu jam, nya potong we gajihna, kitu conto nu gampangna mah. Nya ieu pisan nu teu dilarapkeun di kantor-kantor pamarentah teh. Pagawe negeri mah jongjon, sabab gajih geus maneuh unggal bulan. Perkara bolos atawa melencing, wah, nu dilaluhur ge sarua we melencing. kitu biasana alesanana teh.
Pun lanceuk kabeneran pagawe nagri di Cirebon. Ngadongeng, cenah eta mah aya anak buahna nu digawena teh ngan ukur sapoe dina sabulan, istuning datangna teh ngan poean nyokot gajih wungkul. Dipapatahan mah dipapatahan, hih angger we kitu. Alesanana teh cukup ku, "Teu gaduh ongkos Pa.." Dasar euweuh kaera.
"Naha atuh lain carekan, atawa laporkeun we ka atasan?" cek kuring mangloh.
"Teu wasa," tembal ki lanceuk, "Sidik si eta teh dulurna atasan Akang.."
Wah, teuing atuh ari kitu mah!
Kumaha ari kabeurangan nu rada dihaja? Ieu mah sabenerna teu hayang kabeurangan, tapi aya hal sejen nu nyababkeun kabeurangan. Contona mun keur usum mengbal Piala Dunya tea. Pan sarerea ge tangtu lain hayang kabeurangan, tapi hayang lalajo mengbal. Kadang-kadang sapeuting jeput tah teu sare ngabelaan karesep kana mengbal teh, bari jeung nu mengbalna mah teu dulur teu baraya, teu hir teu walahir. Ngan orokaya isuk-isukna sok tunduh. Jadi we kabeurangan. Teu dihaja pan kabeuranganana mah? Tapi lalajo mengbalna - nu matak tunduh nepi ka kabeurangan ngantor, eta mah dihaja. Jadi, nu kieu nu kabeurangan rada dihaja teh.
Nu katilu, kabeurangan nu teu dihaja. Ieu mah bener-bener teu dihaja. Tangtu kabeuranganana oge moal terus-terusan jiga PNS. Bisa wae peutingna aya nu gering, terus kudu kemit, teu bisa sare. Ngaranna ge musibah. Jadi mun isukna kabeurangan, nya dima'lum, da lain kahayangna tur lain ngahaja.
Di kampung, sok loba pisan budak sakola nu kabareurangan. Alesanana oge kuat, babantu digawe ka kolotna. Ma'lum budak di kampung mah, najan leutik keneh, loba nu geus diandelkeun mantuan kolot. Ngarit jang domba tea, ngala cai tea, narokan suluh tea, jeung sajabana. Kitu soteh da meureun kajurung ku kaayaan. Mun kolotna sagala aya mah, piraku teuing tega anakna kudu migawe pagawean kolot nepi ka matak kabeurangan sakola sagala. Ngan dalah dikumaha deui atuh. Matak guru-guru di sakola ge sok loba ngama'lum, tamaha, bongan pamarentah can bisa ngama'murkeun sakabeh rahayatna.
Sanajan kitu, ari mindeng-mindeng teuing mah, keuheul oge pa Guru teh. Saperti si Ibro anak Mang Daman. Eta mah da teu sirikna unggal poe atuh kabeurangan teh. Memang sabenerna mah memeh sakola teh manehna sok guwa-gawe heula mantuan kolotna. Ngan ku sabab mani unggal poe pisan, Pa Guru teh antukna mah bendu oge.
Basa si Ibro kabeurangan deui, Pa Guru nyentak, "Tas naon heula atuh maneh teh Ibro? Tuh batur mah geus ngerjakeun soal aya kana sapuluhna!"
"Euh..Punten Pa Guru, abdi wangsul macekkeun heula domba nembe teh.." si Ibro murungkut.
"Macekkeun domba? Na atuh lain ku bapa maneh nu kitu mah?" Pa Guru beuki wera.
"Eu..eu..moal tiasa atuh Pa, kedah ku domba deui..." si Ibro ngalengis bingung, satengah ambek. Teungteuingeun ari Pa Guru, maenya bapana kudu macek domba!
"Euh..Punten Pa Guru, abdi wangsul macekkeun heula domba nembe teh.." si Ibro murungkut.
"Macekkeun domba? Na atuh lain ku bapa maneh nu kitu mah?" Pa Guru beuki wera.
"Eu..eu..moal tiasa atuh Pa, kedah ku domba deui..." si Ibro ngalengis bingung, satengah ambek. Teungteuingeun ari Pa Guru, maenya bapana kudu macek domba!
(dalam rangka menyambut wacana "reward & punishment)
Kamis, 22 April 2010
Weureu Peuteuy ..
"Euleuh-euleuh, deungeun teuteureuy Ceu," ceuk Neuneu teu euleum-euleum. Ceuceu ceuleumeut nyeueung peuteuy leubeut jeung beuneur deukeut beungkeut seureuh.
"Heueuh, Neu. Eunceup yeuh, meuleum peuteuy jeung beunteur keur nyeubeuhkeun beuteung. Ceuceu geus leuleus neureuy beunceuh geuneuk jeung keuyeup reuneuh teu eureun-eureun." Ceuceu meureudeuy.
Neuneu nyeuleukeuteuk, "Heu..heu..heu.. Ceuceu, ceuceu.. Neureuy beunceuh jeung keuyeup reuneuh? Geuleuh Ceu, jeung teu seubeuh. Leuheung peuyeum, teu geuleuh jeung nyeubeuhkeun beuteung."
"Neuneu!" Ceuceu ngeuleuweuh. Leungeun Ceuceu ngeukeuweuk beubeur Neuneu, peureup Ceuceu deukeut beungeut Neuneu. Beungeut Ceuceu euceuy.
"Beuteung beuteung Ceuceu, beunceuh jeung keuyeup leueuteun Ceuceu. Teu Neu, Ceuceu teu geuleuh," Ceuceu nyeuneu.
"Heureuy Ceu.." ceuk Neuneu keueung neuleu Ceuceu neugtreug. "Ceuceu eudeuk beuleum peuteuy?"
"Peuteuy? Eudeuk Neu. Meungpeung peuteuy keur meuweuh jeung beuneur. Neureuy beuleum peuteuy jeung leupeut, leuh eunceup," Ceuceu meureudeuy. Beungeut Ceuceu geus teu euceuy.
"Ceuceu teu ceuceub nyeueung Neuneu?" ceuk Neuneu keukeuh keueung.
"Teu Neu, Ceuceu geus teu ceuceub." Ceuceu neuteup Neuneu seukeut. Neuneu reueus Ceuceu geus teu peupeuleukeuk.
Ceuceu jeung Neuneu ngeureuyeuh neureuy beuleum peuteuy teu eureun-eureun. "Teureuy Neu, meungpeung seueur. Peupeujeuh," ceuk Ceuceu geugeut.
Neuneu nyeuleukeuteuk. Ceuceu nyeukeukeuk. Leuh, Neuneu jeung Ceuceu weureu peuteuy euy!
Hari pertama : Hari kemarin.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang;
lepaskan saja…
Hari kedua : hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; toh belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…cukup direncanakan hal-hal yang POSITIF tidak perlu diTAKUTI.
Yang terakhir adalah Hari Ini.
Pintu masa lalu telah tertutup,
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri
Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga…DO THE BEST…APAPUN HASILNYA HARUS KITA SYUKURI.
Kita tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.
Kita tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.
Kita tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan mengulangi kegembiraan yang Kita rasakan kemarin.
Biarkan hari kemarin lewat dan beristirahat dengan tenang;
lepaskan saja…
Hari kedua : hari esok.
Hingga mentari esok hari terbit,
Kita tak tahu apa yang akan terjadi.
Kita tak bisa melakukan apa-apa esok hari.
Kita tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.
Esok hari belum tiba; toh belum tentu esok hari Kita merengkuhnya
biarkan saja…cukup direncanakan hal-hal yang POSITIF tidak perlu diTAKUTI.
Yang terakhir adalah Hari Ini.
Pintu masa lalu telah tertutup,
Pintu masa depan pun belum tiba.
Pusatkan saja diri Kita untuk hari ini.
Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila Kita mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.
Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.
Hiduplah apa adanya. Karena yang ada hanyalah hari ini, hari ini yang abadi.
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada Kita.
Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini, karena mungkin besok cerita sudah berganti.
Ingatlah bahwa Kita menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri Kita sendiri
Jadi, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu
bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan sekarang juga…DO THE BEST…APAPUN HASILNYA HARUS KITA SYUKURI.
Langganan:
Postingan (Atom)