Senin, 02 Oktober 2017

Seks yang Berlandaskan Cinta Jadikan Hidup Ekstra Bahagia ..



Berhubungan seks memang menghadirkan rasa bahagia dan melegakan pikiran.  Terlepas dari alasan yang mungkin saja sudah Anda pahami.

Sebuah riset terkini menggambarkan bahwa kebahagiaan seks yang dialami pasangan suami istri adalah karena adanya rasa kasih sayang.

Logikanya, rasa bahagia usai berhubungan seks dengan landasan rasa sayang yang menyatukan pasangan, bukan hanya karena seks, tetapi hubungan yang telah berjalan lama.

Para peneliti menyurvei tentang hubungan apakah hubungan antara seks dan kebahagiaan dalam hidup mereka selama satu minggu. Hasilnya, survei memperlihatkan adanya korelasi kuat antara seks dan emosi positif.

Hubungan seks, menurut hasil survei, jadi lebih membahagiakan ketika ada landasan cinta dan kasih sayang.

Survei di waktu lain meminta 200 responden untuk melakukan sampel pengalaman. Seluruh responden diminta untuk mendokumentasikan pengalaman seks lewat laporan tertulis.
Peneliti menemukan hasil yang sama bahwa kasih sayang menjadi pemicu utama agar hubungan seks mendatangkan kebahagiaan.

Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Personality and Social Pyschology Bulletin. 

Penulis   : Kontributor Female, Agustina
Editor     : Syafrina Syaaf
Sumber   : Forbes

Anak Belajar Kebencian dari Orang Dewasa di Sekitarnya ..



Belum lama ini kita dihebohkan dengan beredarnya video anak-anak yang melakukan pawai keliling namun menyanyikan lagu bernuansa kekerasan. Tanpa merasa bersalah, anak-anak itu dengan lantang menyanyikan lagu tersebut sambil berpawai.

Itu hanyalah salah satu contoh dari darurat toleransi beragama di Indonesia. Sebelumnya netizen juga terkejut dengan viralnya surat intimidasi yang dilakukan seorang anak SD terhadap temannya dengan mengatakan kafir.

Psikolog dan pemerhati anak, Seto Mulyadi, mengatakan, perilaku anak-anak tersebut merupakan cerminan dari apa yang diterimanya dari lingkungan terdekatnya, mulai dari keluarga, sekolah, atau lingkungan teman-temannya.

"Sebenarnya mereka belum mengerti dengan apa yang diucapkannya. Tapi, bagaimana dengan 10 atau 20 tahun mendatang ketika anak-anak itu menjadi dewasa," kata pria yang akrab disapa Kak Seto ini ketika berbincang dengan Kompas Lifestyle (6/6/2017).

Ia mengungkapkan, usia anak-anak adalah waktu yang tepat untuk membentuk karakternya. Sampai dengan anak berusia 15 tahun, karakter anak didapat dari proses belajar dan menyerap lingkungannya.

"Bisa menulis, lancar berbicara, atau bernyanyi itu semua didapatkan dari proses belajar. Demikian pula dengan menghujat, melontarkan senyum, atau tahu berterimakasih," ujar Ketua Komnas Perlindungan Anak ini.

Sayangnya, menurut dia, saat ini kita sebagai orang dewasa lebih sering mempertontonkan kekerasan pada anak, baik secara formal atau nonformal.

"Kita lupa mengajarkan indahnya kebersamaan, kita lupa mengajarkan indahnya perbedaan dan keragaman. Selain itu, anak juga selalu dihadapkan pada gadgetnya dan televisi dan bukan tidak mungkin ia akan mudah meniru suatu perilaku tertentu," ucapnya.

Anak-anak mengenal kebencian dan sikap intoleran dari doktrin yang diterima dari orang dewasa di sekitarnya. Menurut Kak Seto, ini adalah bibit munculnya radikalisme.

Sebagai orangtua, seharusnya kita menjauhkan anak dari jeratan radikalisme, dimulai dengan mengajarkan indahnya keberagaman. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti anak, sesuai dengan tingkat usianya.

"Berikan contoh indahnya bunga-bunga yang ada di taman. Keberagaman bunga yang ada di taman bisa diibaratkan seperti lingkungan sehari-hari, ada orang keturunan Arab, ada China, Jawa, Batak dan lainnya, mana yang paling baik? Semuanya adalah baik. Itu yang harus ditanamkan kepada anak-anak," sarannya.

Jika kita tidak ingin melihat generasi penerus yang intoleran dan penuh kekerasan, ajak mereka berdiskusi dan berikan contoh nyata pentingnya bersikap terbuka terhadap masyarakat Indonesia yang majemuk.

Iwan Supriyatna

Media Sosial, untuk Apa?



Tahun lalu dalam kunjungan ke Jepang, saya bertemu dengan seseorang yang sudah agak tua, usianya 60 tahun lebih. Sambil makan malam, obrolan kami masuk ke bahasan soal media sosial. Orang ini tidak punya akun media sosial apapun. Ia heran dengan orang yang main media sosial.

“Kenapa saya harus membagikan foto saya saat makan, atau bepergian, untuk dilihat orang lain?” tanyanya heran. Saya tak heran dengan pertanyaan itu. Ada begitu banyak orang yang heran dengan perilaku manusia di dunia maya. Untuk apa itu semua?

Suka atau tidak, media sosial adalah kebutuhan sebagian orang. Kalau bukan kebutuhan, produk ini tidak akan jadi industri, bukan? Sebagaimana produk lain, ada yang tidak membutuhkannya. Itu pun biasa saja.

Tapi pertanyaan tadi penting untuk dijawab. Untuk apa kita membagikan foto saat kita makan? Atau, makanan yang kita makan. Untuk apa kita membagikan foto anak kita? Atau, foto liburan keluarga kita?

Jawabannya bisa beragam. Kadang kita ingin memamerkan kebahagiaan kita, atau keberadaan materi kita. Ada juga yang ingin memamerkan, dengan siapa saja dia bergaul. Baik dengan kalangan elit, maupun dengan kalangan pinggiran, keduanya ingin memamerkan.

Kita sedang membangun citra diri. Ada yang mencitrakan dirinya sebagai orang sukses dan kaya, ada pula yang membangun citra sederhana. Masalah? Tidak. Membangun citra, itu hal yang biasa saja. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sedang membangun citra.

Yang tidak bagus adalah membangun citra palsu. Orang miskin berlagak kaya. Korup, tapi sok suci. Atau, membangun citra yang berlebihan. Kalau isi media sosial Anda hanya pamer kekayaan, apakah Anda tidak punya hal lain dalam hidup?

Tapi tidak sedikit orang yang sekadar menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi kabar dengan teman, atau sanak saudara. “Kami sedang berkunjung ke sini, lho.” Atau,”Kami sedang melakukan ini, lho.”

Ada pula yang menggunakan media sosial untuk mempengaruhi orang lain. Ia melakukan propaganda. Propaganda bisa positif, bisa pula negatif secara absolut, bisa pula secara relatif. Tujuan propaganda adalah untuk menggiring orang pada suatu pemikiran, nilai, atau bahkan untuk bertindak.

Propaganda dengan mudah bisa kita temukan di media sosial. Bahkan, mungkin ini salah satu komponen terbesar media sosial kita. Propaganda politik, agama, kepentingan golongan. Hal terpenting pada propaganda adalah, ia tidak begitu mementingkan basis fakta, atau kebenaran. Yang penting adalah bagaimana menggiring orang.

Ada begitu banyak pengguna media sosial yang ambil bagian dalam permainan propaganda. Ingat, kunci terpenting pada media sosial adalah pada peran para pengguna. Suatu muatan tidak akan bermakna kalau tidak diteruskan secara massal, menjadi viral. Kekuatan media sosial bukan sekedar pada pembuat muatannya, tapi justru pada penyebarnya.

Tanpa disadari, banyak orang yang menjagi bagian sebuah propaganda. Ikut menyebar sesuatu, yang ia sendiri mungkin tidak tahu. Korban propaganda, mencari korban lain.

Sebaiknya bagaimana? Tetapkanlah nilai, lalu bermainlah di dunia sosial media berdasar nilai itu. Lebih penting lagi, jadikan media sosial sebagai tempat untuk mengevaluasi nilai-nilai yang kita anut. Persis seperti saat bergaul di dunia nyata, di mana kita hidup dengan nilai, Dalam interaksi, kita mengubah nilai kita, atau membuat orang lain mengubah nilainya.

Dalam media sosial, saya banyak membuat posting tentang nilai yang saya anut, misalnya soal ketertiban sosial, kebersihan lingkungan, good governance, self development, toleransi, pendidikan, kehangatan keluarga, dan sebagainya.

Saya posting foto makanan, kemudian saya berbagi pengetahuan tentang makanan itu, resep, tempat kuliner, atau seluk beluk lain terkait dengannya. Demikian pula saat liburan, saya berbagi informasi tentang tempat liburan, serta nilai tentang bagaimana kehangatan keluarga saat liburan.

Tapi, seperti saya ungkap di atas, saya juga narsis, membangun citra, pamer dan sebagainya. Hal-hal yang biasa dilakukan banyak orang di media sosial.

Ingat, media sosial adalah tempat di mana orang bisa melihat kita. Apa yang ingin kita perlihatkan?

Dalam istilah keren, ini adalah tempat untuk melakukan personal branding. Maka, biasakan untuk menghasilkan dan membagikan gagasan di media sosial. Orang akan mengenal Anda melalui gagasan itu.

Saya menikmati hasil dari kegiatan di media sosial. Saya menjadi penulis, baik kolom maupun buku. Bahkan ada yang berminat mengumpulkan meme buatan saya menjadi sebuah buku. Saya juga diundang ceramah di banyak tempat, dengan tema yang bervariasi.

Nah, penting bagi setiap orang untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang dia hasilkan dari aktivitas media sosial.

Hasanudin Abdurakhman

Memberi Anak Ponsel Sama dengan Memberinya Kokain ..



Melihat anak-anak dengan gawai di tangannya adalah pemandangan biasa di era digital ini. Namun, seorang terapis kecanduan dari Inggris mengatakan, memberikan ponsel ke anak sama seperti "memberinya segram kokain".

Waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengirim pesan di aplikasi percakapan atau membalas komentar di media sosial bisa menyebabkan kecanduan pada anak remaja, seperti halnya narkoba dan alkohol.
Mandy Saligari, spesialis kecanduan dari klinik rehabilitasi Harley Street London, mengatakan bahwa kecanduan gadget seharusnya juga diatasi seperti halnya kecanduan narkoba.

"Saya selalu mengatakan, saat Anda memberikan tablet atau ponsel ke anak, itu seperti memberikan mereka sebotol wine atau segram kokain. Apakah kita siap membiarkan mereka dengan benda itu di balik pintu?" katanya.

Ia menjelaskan, penggunaan gawai yang berlebihan memiliki dampak yang sama pada otak seperti halnya obat-obatan terlarang.

"Saat membicarakan perilaku kecanduan, biasanya orang langsung melihat pada zat berbahaya. Padahal, pola perilaku itu bisa mewujud dalam berbagai bentuk, misalnya obsesi pada makanan, melukai diri, atau mengirim teks bernuansa seks," katanya.

Di kliniknya, Saligari, mengatakan bahwa dua pertiga pasiennya adalah remaja berusia 16-20 tahun. Ia menyebut peningkatannya sangat dramatis dalam 10 tahun terakhir.

Dalam survei terbaru yang melibatkan 1.500 guru di Inggris terungkap, dua pertiga responden mengaku sadar murid mereka berbagi konten bernuansa seksual, dan sekitar 1 dari 6 anak sudah melakukannya sejak usia SD.

"Banyak pasien saya yang baru berusia 13-14 tahun dan melakukan sexting menganggap itu adalah hal yang normal," katanya.

Perilaku sexting itu bukan hanya mengirimkan kata-kata bermuatan seks tapi juga mengirimkan foto diri telanjang. Hal itu dianggap normal jika orangtua atau orang dewasa tidak mengetahuinya.
Menurut Saligari, jika anak sejak kecil sudah diajarkan untuk menghargai dirinya, perilaku mengeksploitasi diri seperti itu tidak mungkin terjadi. "Ini adalah isu menghargai diri dan identitas diri," katanya.

Penulis   : Lusia Kus Anna
Editor     : Lusia Kus Anna
Sumber   : independent.co.uk

Tingkatkan Kualitas Seks dengan 6 Aplikasi Gawai Ini ..



Di era teknologi ini, keasyikan mengulik gawai yang canggih merupakan salah satu faktor yang sering mematikan gairah bercinta. Padahal, sebenarnya kita dapat memanfaatkan aplikasi di gawai untuk meningkatkan kembali hasrat seks bersama pasangan.

Berikut adalah 6 aplikasi yang bisa membuat Anda kembali bersemangat saat menerima ajakan bercinta dari pasangan.

- Naughty Sex Tracker
 
Tersedia di iOS, aplikasi gratis ini sudah termasuk HelathKit yang secara otomatis membaca dan menyimpan data dari setiap aktivitas seksual, termasuk statistik kapan, di mana, dan berapa lama, setiap sesi bercinta Anda.

- Dirty Game
 
Usir rasa bosan bercinta dengan melakukan permainan "Truth" atau "Dare" dari aplikasi ini. Misalnya saja menanyakan fantasi terliar pasangan atau menantangnya melakukan aksi foreplay tertentu. Permainan-permainan di aplikasi iOS ini bisa memberi efek yang besar bagi timbulnya rangsangan.

- Desire
 
Aplikasi yang bisa diunduh pengguna Android dan iOS ini juga berisi permainan-permainan "nakal" di tempat tidur. Anda dan pasangan bisa saling menantang melakukan permainan dalam kategori seperti "fantasy", "dress code" atau "outdoor". Bila tantangan itu berhasil dilakukan Anda akan mendapat poin yang bisa dikumpulkan.

- Kindu
 
Bertanya pada pasangan tentang fantasi dan hasrat terpendamnya tak selalu mudah. Apalagi jika perkawinan Anda baru seumur jagung. Aplikasi Kindu ini bisa membantu Anda menggali fantasinya. Ada sekitar 600 skenario seks yang bisa Anda dan pasangan jawab dengan memilih tombol yang tersedia.

- Sex Position 3D
 
Kehidupan seks Anda mulai datar dan kurang tantangan? Perbarui dengan mencontek posisi-posisi seks di aplikasi ini.

- Pocket Kamasutra
 
"Kitab Kamasutra" sejak lama menjadi rujukan bagi banyak orang yang ingin mengeksplorasi kehidupan seksnya lebih luas. Tapi, membawa buku ini ke tempat tidur tak selalu ide yang bagus.
Di era teknologi ini, Anda cukup mengunduhnya untuk mendapatkan saran posisi bercinta atau foreplay yang bisa memanaskan suhu ruangan dengan cepat.

Penulis  : Lusia Kus Anna
Editor    : Lusia Kus Anna

Tak Bisa Jauh dari Gawai Mengurangi Kecerdasan ..



Jujur saja, siapa yang tidak pernah bisa jauh dari gawainya? Kita biasanya menyimpan gawai di saku atau digenggam, dan meletakkannya di meja yang terjangkau oleh pandangan kita. Seringkali kita juga akan merasa gelisah jika tidak melihat ponsel itu dalam beberapa menit.

Sifat tidak bisa jauh dari gawai ternyata berpengaruh pada kemampuan kita berpikir. Demikian menurut kesimpulan studi yang dilakukan tim dari University of Texas di Austin.

Menyimpan gawai terlalu dekat dengan kita, misalnya meletakkan di meja saat kita makan, di dekat meja kerja, atau di sisi tempat tidur saat kita mengisi ulang baterinya, berdampak buruk. Dampak itu juga berlaku saat ponsel dalam kondisi mati.

Untuk menguji efek dari gawai dengan kemampuan berpikir, para peneliti meminta 800 peserta melakukan serangkaian tes sederhana, misalnya mengingat nomor telepon dan pertanyaan logis seperti “hal-hal berikut yang tidak termasuk milik orang lain" dengan kondisi gawai berada dekat mereka (disimpan dalam saku atau di atas meja) serta diletakkan di ruangan lain.

Hasilnya, peserta yang diminta meninggalkan telepon mereka di ruangan lain memiliki skor tes lebih baik daripada peserta yang dekat dengan telepon mereka. Alasannya? Mengabaikan ponsel dapat membuat otak Anda berpikir lebih cepat.

Bahkan, jika para peserta mengatakan tidak memikirkan gawai mereka, otak tetap menghabiskan energi lebih besar karena harus menahan godaan untuk tidak mengecek email atau Instagram.
Ponsel pintar, tentu saja, memiliki banyak sisi positif, mulai dari mencari terjemahan bahasa asing hingga mencari resep masakan.

Tapi, perangkat canggih ini juga punya banyak kelemahan, termasuk merusak kencan makan malam Anda, menurunkan kemampuan berempati dan mencegah Anda terhubung secara mendalam dengan orang-orang di sekitar. Jadi, jangan takut untuk sejenak meninggalkannya

Penulis   : Kahfi Dirga Cahya
Editor     : Lusia Kus Anna
Sumber  : Moneyish

Tiga Ciri Nyeri Pinggang karena Saraf ..



Setiap orang dewasa umumnya pernah merasakan nyeri pinggang. Namun, tidak semua nyeri pinggang disebabkan karena saraf kejepit. Nyeri pinggang biasa umumnya disebabkan karena kekakuan otot dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Menurut dokter Muki Partono, Sp. OT dari Rumah Sakit Pondok Indah Group, untuk mengetahui adanya indikasi saraf kejepit atau herniated nucleus pulposus ( HNP) dibutuhkan pemeriksaan dan evaluasi mendalam. Tapi, setidaknya ada tiga ciri yang bisa menjadi pertanda saraf kejepit.

“Orang dengan HNP biasanya punya ciri khas,merasakan nyeri pinggang saat melakukan aktivitas tertentu, rasa nyeri juga menjalar dari pinggang ke kaki, ataupun rasa nyeri pada lutut. Kalau nyeri pinggang biasa cepat sembuhnya, tapi kalau HNP nyerinya akan bertahan lama,” jelasnya dalam diskusi media Percutaneous Laser Disc Decompression, di Tesate, Jakarta (7/3).

Dokter Muki menekankan, ketika mulai merasakan tanda-tanda tersebut, ada baiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Karena jika tak segera mendapat pengobatan yang tepat, tentu akan mengganggu aktivitas dan bisa menyebabkan kelumpuhan.

Saraf kejepit terjadi akibat tekanan di bagian saraf, terutama di bagian pinggang atau leher. Tekanan inilah menyebabkan penonjolan inti dari diskus yang menjadi bantalan tulang sehingga menekan saraf.
Pengobatan saraf kejepit tidak selalu dengan operasi. Bisa dilakukan terapi konservatif (tidur di atas matras keras, fisioterapi, olahraga), pemberian obat nyeri, pemberian obat melalui suntikan, radiofrekuensi, dan teknologi laser.

“Harus diakui, orang Indonesia itu takut sekali operasi. Kalau masih ada pilihan lain, pasti akan memilih yang lain. Sekarang sudah ada percutaneous laser disc decompression yang menurut saya pribadi lebih efektif dari radiofrekuensi,” ungkap dokter Muki.
Ia pun mengatakan, terapi laser tersebut bisa dilakukan bila nyeri pinggang sudah menjalar ke kaki, refleks tendon menurun, gagal terapi konservatif selama 6 minggu, ataupun pada pasien HNP di atas usia 50 tahun.

The World Its Mine