Setiap orangtua
tentu berharap memiliki anak yang cerdas dan sehat. Untuk mewujudkannya
ada banyak aspek yang mesti dipersiapkan orangtua, bahkan sebelum si
anak lahir ke dunia.
Pertama-tama, perlu diketahui bagaimana setiap bagian otak anak
terbentuk dan bagaimana cara kerjanya. Menurut Dr.Ahmad Suryawan, Sp.A
(K), pembentukan otak dimulai sejak dalam kandungan, yaitu minggu kedua
kehamilan dan terus berlanjut sampai dewasa.
Itu sebabnya,
kondisi calon ibu dan calon ayah harus sehat sebelum mempersiapkan
kehamilan, karena otak sudah mulai terbentuk bahkan sebelum seorang ibu
menyadari dirinya hamil.
Perkembangan otak ini terjadi sangat
cepat dan mencapai puncaknya di usia kehamilan 5 bulan. Di usia 9 bulan,
otak bayi siap untuk dilahirkan. Saat baru lahir, berat otak hanya
sekitar 400 gram dan belum sepenuhnya berkembang.
"Di usia dua
tahun, sekitar 80 persen otak anak sudah berkembang. Karenanya, anak
yang normal di usia dua tahun pasti perkembangannya akan normal sampai
dewasa," ujar dokter yang akrab disapa Wawan ini diacara peluncuran
"Gerakan Siap Cerdaskan Bangsa" dari Kalbe Nutritional di Jakarta
beberapa waktu lalu.
Koneksi otakOtak
tersusun dari triliunan sel-sel otak yang dinamakan neuron. Pada saat
bayi baru lahir, neuron belum terkoneksi satu sama lain menjadi sebuah
rangkaian sirkuit. Koneksi tersebut dinamakan sinaps.
Semakin
sering anak mendapat stimulasi, maka sinaps yang terbentuk makin kaya,
makin kuat, dan akan menjadi koneksi yang permanen di masa depan.
Sebanyak
apa sinaps yang mampu dibentuk oleh anak? Jawabannya terletak pada
faktor genetik dan pengasuhan anak sehari-hari. Stimulasi pada bayi bisa
berupa senyuman, sapaan, nyanyian, sentuhan, dan lain sebagainya, akan
membantu sinaps anak terbentuk.
"Di usia dua tahun jumlah
sinapsnya sama, ini berarti setiap anak sebenarnya punya kesempatan yang
sama untuk tumbuh cerdas," imbuh dokter dari Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga Surabaya ini.
Semakin banyak sinaps terbentuk, maka semakin banyak pula informasi yang dapat diproses melalui koneksi antar sel-sel otak.
Untuk mendukung kelistrikan otak dalam memproses informasi,
diperlukan lemak. Lemak itu bisa diperoleh dari omega 3 dan omega 6.
Misalnya saja DHA (decosahexaenoic acid) yang berfungsi mengoptimalkan
pertumbuhan sel-sel otak.
Bayi dan balita juga membutuhkan
vitamin B12, vitamin A, vitamin D, yodium, zat besi, seng, asam amino,
dan lain sebagainya. Mendukung pertumbuhan otak adalah sebagian kecil
fungsi gizi bagi anak, ada sederet manfaat lain yang bisa didapat jika
anak mendapat asupan gizi yang baik.
Anak yang cukup gizinya
juga akan memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Menurut Dr.Andang
Endaryanto, Sp.A (K), anak yang kekebalan tubuhnya baik bukan berarti
jarang sakit, namun jika sakit lebih cepat sembuh dan tidak menjadi
komplikasi.
"Sistem pertahanan tubuh alami dan sistem pertahanan tubuh diperoleh dari hasil adaptasi," kata dr.Andang.
Salah
satu gangguan kekebalan tubuh pada anak yang banyak diderita adalah
alergi. Pemberian ASI, menurut dia, tidak menjamin anak bebas alergi
tetapi bisa mengurangi risikonya.
"ASI bisa meningkatkan regulasi sistem imun tubuh. Kalau alergi pun tidak akan parah," ujarnya.
PengasuhanFaktor
genetik adalah "cetak biru" dari otak seorang anak untuk berkembang di
masa depan, tapi proses pembangunan sirkuit otaknya ditentukan oleh
faktor pengasuhan.
Dijelaskan oleh Dr.Rose Mini, M.Psi, atau
akrab disapa Bunda Romi, pola asuh adalah gaya pengasuhan tertentu yang
konsisten digunakan oleh orangtua kepada anaknya.
Pengasuhan ini mencakup proses merawat, seperti memberi makan dan
melindungi, sosialisasi yang salah satu bentuknya mengajarkan tingkah
laku yang umum sesuai aturan di masyarakat, serta komunikasi. Hal-hal
yang dikomunikasikan adalah kasih sayang, nilai-nilai, minat, dan
perilaku.
Bunda Romi mengatakan, pola asuh berperan besar dalam
kemampuan sosial, emosional, dan intelektual si kecil. "Tidak ada orang
yang berhasil karena nilai matematikanya tinggi, tapi karena faktor
interpersonal skill-nya," katanya.
Interpersonal skill menuntut
seseorang memiliki kecerdasan emosi yang baik, yaitu kemampuan untuk
mengetahui perasaan diri maupun orang lain, dan dapat menggunakan
informasi tersebut untuk mengarahkan pikiran dan tindakan.
Salah
satu cara mengembangkan kecerdasan emosi anak antara lain dengan
mengajarkan anak mengenali ekspresi serta menceritakan perasaannya,
mendengarkan anak, serta memberi contoh kepada anak penerapan sikap
empati, serta memotivasi anak saat menemui kesulitan.
Jika anak
diberi rasa aman, dihindarkan dari celaan dan cemoohan, berani
berekspresi dan bereksplorasi secara leluasa, ia akan tumbuh dengan
penuh rasa percaya diri dan berkembang menjadi dirinya sendiri.